
Kenzo membawa Aline ke sebuah klinik. Padahal Aline sudah mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Namun, Kenzo bersikeras untuk mengobati luka Aline di klinik tempat tantenya praktek.
Kenzo tampak cemas menunggu hasil pemeriksaan dari tantenya kepada Aline.
"Bagaimana kondisi nya, Tante?"tanya Kenzo kepada sang tante yang baru saja memeriksa Aline.
"Tidak apa-apa, hanya memar saja. Jangan banyak bergerak ya dan untuk sementara waktu tidak melakukan aktifitas yang berat,"ujar dokter Sindi, adik dari papa Kenzo.
Kenzo membantu Aline turun dari ranjang pemeriksaan. Padahal ada perawat yang akan membantu aline, tetapi Kenzo lebih dulu mengulurkan tangannya. Melihat apa yang dilakukan sang keponakan membuat dokter Sindi tergelitik untuk bertanya.
"Kalian berpacaran ya?"tanya dokter Sindi kepada Kenzo dan Aline. Mendengar pertanyaan dari dokter Sindi membuat Kenzo dan juga Aline terbelalak karena kaget.
"Bukan, Tante, sudah mana resepnya?"ujar Kenzo mendesak dokter Sindi menyerahkan resep yang baru saja ditulisnya.
"Akh..."tampak Kenzo terpekik pelan karena baru saja mendapat cubitan dari Aline karena sikapnya yang tidak sopan dengan sang Tante.
"Kamu ini bisa tidak sopan sama orang tua, jangan seenak jidat kamu saja,"gerutu Aline merasa tidak enak dengan dokter Sindi dengan tingkah polah Kenzo yang seenak jidatnya saja.
"Maaf dokter Sindi, atas sikap Kenzo."
"Kenapa kamu minta....akh...jangan injak kakiku!"gerutu Kenzo karena Aline menginjak kakinya saat Kenzo ingin membantah perkataan Aline.
"Sudah, sudah, jangan bertengkar, tidak apa-apa kok, dia memang agak bandel, Oya Aline, sementara kamu jangan banyak gerak yang berlebih dan rutin olesi salepnya untuk mengurangi rasa nyeri. Kalau ada masalah kamu bisa langsung datang ke sini,"dokter Sindi menjelaskan langsung kepada Aline.
"Terimakasih dokter Sindi,"ucap Aline dengan tulus. Kenzo hanya diam saja karena merasa tidak dianggap di tempat tantenya ini.
"Ayo pulang,"ujar Kenzo langsung keluar dari ruangan sang Tante.
"Ah, anak itu masih saja seperti itu,"ujar dokter Sindi sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Kenzo.
"Dokter maaf ya, jadi merepotkan,"Aline merasa tidak enak hati.
"Sudahlah Aline,tidak apa-apa. Segera ikuti dia, hati-hati di jalan ya, sayang,"pesan dokter Sindi sambil tersenyum manis.
"Iya, saya permisi,"pamit Aline dengan sopan.
Dokter Sindi mengangguk. Melihat tingkah Aline membuat dia senang. Kalau Kenzo beneran berpacaran dengan gadis seperti Aline dia merasa tenang. Daripada gadis berandalan yang pernah datang dengan Kenzo beberapa waktu yang lalu. Aline cukup baik, terdidik dan dewasa.
"Lama sekali sih, dia,"Kenzo rupanya tidak meninggalkan Aline begitu saja. Dia menunggu Aline keluar dari ruangan sang Tante.
"Ah, itu baru nongol,"melihat Aline keluar dari ruangan dokter Sindi, Kenzo kembali berjalan dengan angkuh. Pura-pura meninggalkan Aline begitu saja.
Aline yang melihat langkah Kenzo semakin mempercepat langkahnya.
"Kenzo, tunggu..."panggil Aline ketika sudah semakin dekat dengan Kenzo. Namun, Kenzo pura-pura saja tidak mendengar panggilan dari Aline. Dia terus saja berjalan meski tidak terlalu cepat agar Aline bisa mengejarnya.
"Kenzo..."Aline memangg kembali namun Kenzo masih saja tidak ingin menoleh pada Aline.
"Akh...." suara Aline terdengar merintih karena seseorang baru saja menabrak nya saat berjalan. Mendengar suara Aline merintih membuat Kenzo seketika berpaling ke arah Aline dan bergegas melihat Aline dan seorang lelaki yang baru saja menabraknya.
"Maaf, nona..." ujar lelaki yang menabrak Aline. Lalu dia bergegas pergi meninggalkan Aline begitu saja. Sepertinya dia tampak panik sehingga berjalan dengan tergesa-gesa.
"Hei..."
"Sudah, sudah," Aline menahan laju Kenzo yang ingin mengejar lelaki tersebut. Dia tidak mau berlama-lama di tempat itu.
"Ayo, aku ingin segera pulang,"ajak Aline kembali kepada Kenzo. Melihat Aline yang masih kesakitan membuat Kenzo tidak tega. Dia pun menuruti Aline untuk segera mengantar Aline pulang ke rumahnya.
Setibanya di rumah Aline. Seorang pembantu membukakan pintu untuk Aline. Kenzo ikut mampir ke rumah Aline kali ini. Aline meminta bibi pembantu menyediakan minuman untuk Kenzo.
"Dimana kamarmu?"tanya Kenzo seketika membuat Aline terkejut.
"Di atas sana,"tunjuk Aline ke lantai dua rumahnya. Kenzo pun langsung menarik tangan Aline yang bahunya tidak sakit untuk diajak ke lantai dua tempat kamar Aline berada.
"Kenzo kamu mau apa?"tanya Aline dengan jantung berdebar-debar melihat kelakukan Kenzo itu.
Namun, Kenzo justru tidak menjawab apa-apa.
Kenzo membawa Aline ke dalam kamarnya. Tidak hanya itu saja dia juga menutup pintu kamar Aline dan juga menguncinya. Melihat tindakan Kenzo membuat Aline justru takut.
"Kenzo, apa yang kamu lakukan?"pekik Aline merasa takut. Karena mereka hanya berduaan saja di dalam kamar Aline.
"Buka kancing kemejamu,"perintah Kenzo dengan tatapan tajamnya ke arah Aline.
"Apa!"Aline membelalakkan matanya mendengar ucapan Kenzo barusan.
***
Iklan Author
Happy Wednesday
Sambil membaca novel, selalu tinggalkan like, vote dan juga kirim komentar kalian sebanyak-banyaknya.
Terimakasih 😁