Oh, My Young Man

Oh, My Young Man
Memutuskan Hubungan



Kenzo mengantarkan Aline sampai di depan pintu rumahnya. Kenzo mengendarai motor sport yang dimilikinya. Kenzo mengelus kedua tangan Aline yang memeluk erat dirinya selama dibonceng. Memang Kenzo sengaja melajukan lari motornya agar Aline mau memeluk dirinya saat dibonceng.


"Sudah sampai,"ucap Kenzo dengan santainya. Aline seketika membuka matanya, jujur dia sebenarnya takut dibonceng oleh Kenzo. Tetapi mau bagaimana lagi, Aline tidak bisa menolak apa yang dikatakan oleh mamanya Kenzo, Tante Monita.


"Oh,"Aline segera melepaskan kedua tangannya dari pinggang Kenzo yang dipeluknya sedari tadi. Kenzo hanya tersenyum melihat wajah Aline yang tampak malu dan juga kikuk itu.


"Kalau ngebut lagi, aku nggak mau diantar sama kamu. Aku lebih baik minta diantar kak Dion saja,"ujar Aline dengan bibir manyun ke depan. Dia sungguh kesal dengan perilaku Kenzo barusan yang main kebut dengan motor sportnya itu.


"Iya, iya, maaf, nggak lagi deh,"ujar Kenzo sambil merayu Aline yang masih kesal dengan perbuatannya barusan. Aline hanya melengos saja meninggalkan Kenzo. Tetapi langkah Aline tiba-tiba terhenti saat dirinya melihat sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berada sekarang. Aline mengenali siapa pemilik mobil itu. Tetapi bagaimana mungkin dia yang datang malam-malam ke rumah, memang ada apa, batin Aline masih tidak percaya.


"Kenapa?"tanya Kenzo yang memperhatikan raut ekspresi wajah Aline saat memperhatikan mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka berdiri. Melihat dari tatapan wajah Aline membuat Kenzo mulai menyadari sesuatu.


"Ayo masuk,"ajak Kenzo langsung menarik tangan Aline untuk masuk ke dalam rumah keluarga Dirgantara tersebut. Aline sendiri menurut saja dengan tarikan tangan yang dilakukan oleh Kenzo kepadanya.


"Selamat malam,"ucap Kenzo saat masuk ke dalam rumah keluarga Dirgantara tersebut. Kenzo melihat bahwa di ruang tamu rumah tersebut tidak hanya ada keluarga dari Aline saja.


"Eh, nak Kenzo, masuk saja,"ujar bunda Aline, bunda Anita yang melihat dan menyambut kedatangan Kenzo dan juga putri bungsunya.


Kenzo masih dengan menarik Aline berjalan ke arah ruang tamu rumah keluarga Dirgantara. Vazo yang saat itu berada di sana seketika terbelalak matanya melihat apa yang terjadi. Dia melihat sendiri anak kecil itu menggenggam jemari tangan Aline dengan erat. Sedangkan Kenzo hanya tersenyum tipis melihat arah mata vazo memandang. Kenzo merasa berhasil dengan misinya untuk membuat vazo merasa kesal.


Namun, tiba-tiba saja Aline segera melepaskan pegangan tangan Kenzo. Aline merasa tidak enak dengan tatapan dari orang-orang yang ada di ruang tamu kepada mereka berdua. Apalagi jaket yang dia kenakan lagi-lagi adalah jaket milik Kenzo. Ingin rasanya Aline segera pergi ke kamarnya saja.


"Selamat malam Tante,"ujar Kenzo dengan sopan sambil mencium tangan bunda Aline tersebut. Kenzo hanya cuek saja menanggapi kepanikan wajah Aline barusan. Kenzo justru ingin membuat lelaki yang mengaku sebagai kekasih Aline itu merasa panas.


"Malam bang Aldo,"sapa Kenzo saat melihat kakak Aline juga ada di ruang tamu itu.


"Hai, Kenzo,"sahut Aldo dengan ramah. Namun, Kenzo hanya melirik saja ke arah tamu yang saat itu sedang berada di sana. Kenzo tidak ada niat sedikitpun untuk menyapa kepada vazo.


"Haduh, Kenzo, kamu sudah repot sekali mengantarkan Aline sampai rumah,"ujar Anita kepada Kenzo, putra dari sahabat baiknya tersebut.


"Tidak apa-apa Tante, itu sudah seharusnya saya lakukan,"ujar Kenzo dengan sopan.


"Jadi merepotkan terus,"kata bunda Anita.


"Tidak, Tante, tidak repot sekali jika untuk aline,"tutur kata Kenzo yang membuat aline seketika mendelik ke arahnya.


Apa-apaan maksud dari anak ini bicara seperti itu?


Wajah vazo seketika memerah mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo barusan di depan semua orang. Sedangkan Aldo hanya tersenyum simpul mendengarnya.


"Sudah...malam..kamu pulang sana gih,"ucap Aline kepada Kenzo karena dia tidak mau suasana malam ini semakin memanas kalau Kenzo berlama-lama di rumahnya.


"Tapi..."Kenzo hendak menyela tapi aline


"Besok kamu kan masih harus sekolah, nanti Tante monita bingung mencari kamu,"tutur Aline kembali. Kali ini dengan penekanan kalimat yang menyakinkan Kenzo bahwa dia sebenarnya ingin Kenzo segera pulang saja.


"Ayo sudah pulang,"bisik Aline sambil menarik-narik jaket Kenzo dengan pelan.


"Ya, ya, tidak usah tarik-tarik aku,"kata Kenzo dengan pelan ke arah Aline. Kenzo juga gemas sekali dengan perilaku Aline yang menunjukkan sekali bentuk pengusiran kepada dirinya.


"Saya permisi dulu, Tante,"pamit Kenzo kepada bunda Aline.


"Saya permisi dulu, bang Aldo,"ucap Kenzo kepada kakak Aline.


"Hati-hati ya, Kenzo,"kata bunda Anita saat Kenzo berjalan menuju pintu utama rumah keluarga Dirgantara. Bunda Anita mengantarkan Kenzo sampai depan rumahnya. Sedangkan Aline melihat ke arah vazo yang masih duduk terdiam di sofa ruang tamu rumah aline.


Melihat suasana dingin yang tercipta diantara keduanya membuat Aldo seketika bangkit dari tempat duduknya. Aldo tidak mau mencampuri urusan dari mereka berdua.


"Aku tinggal dulu ya, zo, aku masih ada pekerjaan yang harus ku selesaikan,"ujar Aldo kepada vazo.


"Oh, iya kak,"jawab vazo dengan sopan. Aline duduk di sofa di hadapan vazo. Aline tidak membuka suara dahulu sebelum vazo yang mengatakan maksud kedatangannya ke rumah.


"Aku ingin meminta maaf,"kata vazo setelah Aline menunggunya berbicara lebih dulu. Aline hanya diam, dia tidak mau menanggapi apapun terlebih dahulu.


"Aku benar-benar menyesal dengan apa yang telah aku lakukan kepadamu selama ini. Aku ke sini untuk meminta kembali hubungan kita seperti dulu. Kita bersama juga tidak hanya sebulan ataupun dua bulan. Tetapi kita sudah bersama selama beberapa tahun. Tidak bisakah kita kembali seperti dulu?"tanya vazo kepada Aline. Sedangkan Aline hanya menghela napas panjang nya. Dia tidak tahu harus menjawab bagaimana dengan permintaan yang dilontarkan oleh vazo barusan.


"Apakah sudah tidak ada lagi diriku di dalam hatimu?"tanya vazo kembali dengan tatapan memelas kepada Aline. Lagi-lagi Aline hanya menghembuskan nafas beratnya. Dia sudah tidak tahu lagi kemana hatinya yang pernah menyukai vazo itu pergi. Dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan vazo yang ditunjukkan kepada dirinya.


"Aline...."panggil vazo sekali lagi.


"Aku belum bisa menjawab pertanyaan yang kamu lontarkan itu. Karena aku sendiri juga tidak tahu harus menjawab apa. Sejak kamu bersama dengan wanita itu..."


"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan wanita itu,"potong vazo ketika Aline mulai membahas anak buah vazo yang pernah terpergok jalan berdua itu.


"Jangan memotong pembicaraan ku vazo. Aku belum selesai bicara,"ucap Aline dengan nada kesal. Vazo pun terdiam, dia sudah mulai tidak bisa menahan amarahnya di depan Aline.


"Aku...aku rasa hubungan kita tidak bisa berlanjut. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Semakin aku melanjutkan, semakin aku merasa tidak nyaman. Maaf, karena itulah perasaan yang kurasakan," jawaban Aline itu membuat vazo mengepalkan kedua tangannya. Dia tidak menyangka perempuan dari keluarga Dirgantara itu akan memutuskan hubungan dengannya. Vazo menahan amarahnya karena dia sekarang sedang berada di rumah keluarga Dirgantara.


Kamu berani menolakku? Kamu berani memutuskan hubungan diantara kita? Kamu belum tahu siapa yang sedang kamu hadapi, Aline.


***


Iklan Author


Budayakan klik like setelah membaca novel di atas. Tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Dan jika ingin promosi novel kalian silakan promosi di kolom komentar. Namun, jangan melakukan promosi itu di grub chat milik author ya. Mohon pengertiannya.


Terimakasih 😄