
Kenzo sedang dalam perjalanan menuju ke kampus Aline. Dia sudah berjanji dengan sang mama untuk menjemput Aline ke rumahnya.
"Tuan muda ada masalah dengan nyonya?"tanya Dion karena melihat wajah kusut kenzo. Sekarang kemana-mana Kenzo selalu diantar oleh Dion. Sebagai asisten pribadinya dan juga penjaganya.
"Tidak, bang Dion,"jawab Kenzo.
"Kita sudah hampir sampai di kampus nona Aline,"ujar Dion sambil memberikan tanda untuk berbelok.
"Aku hubungi dia dulu, bang,"ujar Kenzo sambil mencari nomor aline di handphone nya. Dion fokus dengan mengarahkan mobilnya dan mencari tempat parkir yang nyaman sambil menunggu kedatangan guru les Kenzo itu.
"Dimana?"tanya Kenzo setelah sampai di depan pintu gerbang kampus Aline. Kenzo segera menghubungi Aline untuk menanyakan keberadaannya.
"Aku di taman kampus. Kamu di mana?"
"Tunggu saja di sana,"ujar Kenzo lalu segera mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Aline.
"Bang Dion, kita lewat samping kampus saja. Dia ada di taman kampus,"ujar Kenzo kepada Dion, orang kepercayaan papanya yang sekarang mengawalnya kemana-mana.
"Baik, tuan muda,"jawab Dion lalu memutar kemudi mobilnya.
"Kamu sudah akan pergi, Lin?"tanya Sisil melihat Aline sudah mulai beres-beres barang-barang bawaannya dengan cepat.
"Iya, sil, Kenzo sudah menjemput,"kata Aline sambil buru-buru memasukkan laptopnya ke dalam tas ransel.
"Kamu kayak mau ketemu pacar saja, Lin,"sindir Sisil melihat sikap Aline yang tampak terburu-buru.
"Apaan sih, kamu jangan bicara sembarangan, sil,"tegur Aline mendengar ucapan sisil yang sedari tadi menganggap Kenzo sebagai pacar barunya. Padahal Sisil juga tahu kalau dia hanya sebagai guru les saja bagi Kenzo. Bagaimana bisa teman baiknya itu menganggap dia dan kenzo pacaran.
"Ya, kan lumayan pacar brondong, kaya raya lagi,"mulut nyinyir Sisil masih saja bernyanyi sedari tadi. Aline menjadi merasa tidak nyaman dengan ucapan sisil kali ini.
"Sudah ya, aku malas berdebat denganmu, lagipula aku tidak kepikiran untuk hal itu, aku lebih pusing mikirin revisi skripsi ini daripada hal lain, ah...itu rupanya mobil Kenzo sudah datang. Aku duluan ya, sil,"pamit Aline lalu bergegas menghampiri mobil Kenzo yang menunggunya di depan pintu gerbang samping kampus Aline.
Sisil berdecak melihat kepergian Aline barusan. "Sikap dan ucapanmu sungguh berbeda, Lin. Bagaimana aku tidak berpikir yang macam-macam tentang dirimu."
Diam-diam Sisil mengambil beberapa foto Aline saat naik ke mobil Kenzo. Sisil mengambil beberapa foto yang ada Aline dan juga Kenzo. Sisil tersenyum senang mendapatkan foto-foto yang bagus. Ini adalah sebuah berita yang besar dan sungguh menarik.
"Kamu ternyata wanita seperti itu juga ya, Lin. Vazo salah besar menilai dirimu selama ini,"gumam Sisil sambil mengirimkan foto-foto itu kepada Vazo.
"Aku ingin tahu apa reaksi kekasihmu setelah menerima foto-foto ini,"ujar Sisil sambil tersenyum penuh kemenangan.
**
"Lho, kita bukannya ke rumah kamu?"tanya Aline ketika arah mobil yang membawanya dan kenzo bukan mengarah ke rumah Kenzo.
"Kita ke klinik,"ujar Kenzo singkat sambil sibuk main gamenya di handphone.
"Ke klinik? Ngapain?"tanya Aline penasaran dengan alasan Kenzo mengajaknya ke klinik segala.
"Kamu sakit?"tanya Aline sekali lagi karena Kenzo sedari tadi hanya diam saja tidak menjawab pertanyaannya.
"Mama meminta Tante Sindi memeriksamu kembali,"jawab Kenzo tanpa menoleh ke arah Aline. Sedangkan Aline justru bingung dengan jawaban Kenzo.
"Aku baik-baik saja,"ujar Aline mengelak. Kenapa juga harus diperiksakan.
"Sudah jangan cerewet, ikuti saja,"ujar Kenzo tampak kesal karena Aline sedari tadi ribut melulu membuat dia kalah dalam bermain game.
"Huh, dasar, tukang marah,"gerutu Aline pelan. Namun, Kenzo tetap saja mendengar apa yang Aline katakan kepada dirinya.
"Astaga!"
"Aduuhh!"
Tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi mengerem mendadak. Aline yang tidak waspada jatuh menimpa tubuh Kenzo yang ada di sampingnya. Kenzo pun secara reflek memeluk tubuh Aline yang menimpa tubuhnya.
Aline mendongak merasa sakit karena kepalanya menatap dada bidang Kenzo.
"Ah, maaf,"ujar Aline dan mereka berdua pun saling berpandangan dengan jarak wajah mereka yang begitu dekat. Kenzo bahkan bisa merasakan hembusan napas dari hidung Aline. Sedangkan Aline yang terkejut juga hanya terdiam. Dia tidak menyangka dirinya akan sedekat ini dengan Kenzo.
Cantik juga dia
Aline merasa tidak nyaman karena tatapan Kenzo yang begitu dekat dengannya. Sorot mata Kenzo yang seakan menembus ke dalam matanya yang terdalam.
"Ah, maaf tuan muda, mobil yang ada di depan kita tiba-tiba mengerem mendadak,"ujar Dion sambil melihat kondisi tuan mudanya dan juga nona muda keluarga Dirgantara.
Aline seketika meminta Kenzo melepaskan pelukan erat Kenzo padanya. Kenzo pun baru tersadar kalau sedari tadi dia tengah memeluk Aline. Kalau tidak ada suara Dion yang membuat mereka tersadar. Mungkin mereka akan berpelukan terus sampai sekarang.
Astaga, apa yang aku lakukan barusan. Kenapa aku justru memandangi bibir merah muda miliknya itu.
"Ada apa memangnya di depan, bang?"tanya Kenzo mengalihkan pembicaraan agar tidak teringat akan bibir merah muda milik Aline terus.
"Sepertinya ada kecelakaan di depan,"jawab Dion.
"Kita tidak perlu ke klinik, daripada lama menunggu di sini,"ujar Aline memberikan masukan. Karena sebentar lagi pasti akan macet kalau terus bertahan di sini. Kenzo setuju dengan apa yang dikatakan oleh Aline.
"Putar balik saja, bang. Kita langsung pulang saja,"ujar Kenzo kepada Dion.
"Baik, tuan muda,"sahut Dion sambil mengarahkan kemudi mobil untuk putar balik. Sebelum banyak mobil yang berada di sana. Kalau tidak mereka akan terjebak di sana dan itu akan membutuhkan waktu lama nantinya.
Kenzo melirik ke arah Aline yang tadi baru saja menimpa tubuhnya dan sempat melihat dengan sangat dekat wajah Aline. Kenzo tersenyum mengingat kedekatan mereka barusan.
Aline justru berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdetak begitu cepat akibat kedekatan diantara mereka barusan. Aline bahkan bisa melihat kemana arah pandangan Kenzo saat itu.
Apakah benar dia menatap sambil menelan ludahnya saat melihat bibirku. Apakah ada yang salah dengan bibirku.
Aline merasa mungkin ada yang aneh pada bibirnya sehingga Kenzo tadi menatapnya begitu lama. Aline merasa bodoh selama ini tidak merawat penampilannya dengan baik. Sehingga tidak secantik wanita-wanita muda seusianya di luar sana.
Aline menggeserkan tubuhnya secara perlahan menjauhi Kenzo. Dia merasa tidak nyaman duduk terlalu dekat dengan Kenzo. Dia merasa sangat malu atas kejadian tadi.
"Kamu jangan duduk jauh-jauh,"ucap Kenzo sembari melihat gelagat Aline yang sedikit demi sedikit menggeserkan tubuhnya menjauhi Kenzo.
"Ah,"Aline tidak menyangka Kenzo melihat perbuatannya. Kenzo menarik bahu Aline dan membuat tubuh Aline dekat dengannya. Aline hanya terdiam saja dengan aksi yang dilakukan Kenzo kepadanya.
***
Iklan Author
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa. Semoga amalan ibadah kita di terima.
Budayakan klik tombol like dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Karena komentar kalian adalah penyemangat bagi author.
Terimakasih 😄