Oh, My Young Man

Oh, My Young Man
Pertaruhan Kelulusan



Sisil kembali ke apartemen dengan perasaan dongkol. Dengan perlakuan yang dia terima dari mama Vazo sungguh membuat dirinya merasa terhina. Bahkan seorang Stella Bramantyo sama sekali tidak memandang dirinya.


Selama ini Sisil mengira jika seorang stella Bramantyo adalah seseorang yang baik dan lemah lembut. Ternyata dia salah mengira. Pandangan Sisil sungguh salah selama ini. Pandangan menghina yang diberikan oleh stella sungguh membuat Sisil merasa sakit hati. Kembali teringat di benaknya akan perlakuan orang-orang yang pernah menghina dirinya dahulu. Ketika keluarganya telah jatuh bangkrut dan terpuruk dalam kemiskinan.



Sisil berjalan ke arah meja rias miliknya. Dia memperhatikan dirinya yang sekarang. Sejak seorang Vazo Aldriansyah membiayai semua kebutuhan yang dia perlukan. Sisil yang sekarang sudah jauh berbeda dengan dirinya yang jatuh miskin beberapa waktu yang lalu.


Dengan saling memuaskan satu sama lain antara dirinya dan Vazo. Lihatlah sekarang bahwa penampilan Sisil tidak kalah berbeda dengan Aline. Bahkan bisa dibilang jauh menonjol dirinya dibandingkan dengan Aline. Penampilan sederhana dari Aline tidak sebanding dengan dirinya yang modis.


Namun, kenapa Stella Bramantyo sama sekali tidak memandang baik kepada dirinya. Bahkan memandang sebelah mata pun tidak. Sebuah penghinaan yang membuat Sisil tidak akan mungkin melupakannya.


"Aku akan tetap berada disisi putramu, Vazo. Dan akan kubuat dia bertekuk lutut dihadapan ku. Lihat saja, nyonya Stella Bramantyo yang terhormat. Kamu akan menyesal pernah menghina diriku di muka umum,"ujar Sisil dengan nada penuh amarah yang terpendam.


**


Kenzo sudah sampai di kediamannya bersama dengan Aline dan tentu saja sang mama, Monita Darmawan. Kini mereka bertiga tengah berjalan menuju ke kamar baru Kenzo yang ada di lantai satu. Karena Kenzo masih dalam masa pemulihan, maka Keanu sudah menyiapkan sebuah kamar di lantai satu untuk putranya. Agar Kenzo tidak harus naik turun tangga dengan kondisi tubuhnya yang masih masa pemulihan tersebut.


"Akhirnya, sampai di rumah juga,"ujar Kenzo dengan perasaan lega karena sudah begitu lama dirinya di rumah sakit. Sebenarnya terasa bosan juga rasanya. Hanya saja ada Aline yang menjadi hiburan tersendiri untuknya saat gadis manis itu menemani dirinya di rumah sakit.


"Kamu harus banyak istirahat dulu, Ken,"ujar sang mama mulai menceramahi dirinya. Dan sebuah tatapan khusus Kenzo kepada sang mama membuat monita menengok ke arah Aline yang sedang membantu Dion membawakan barang-barang Kenzo.


"Astaga, Aline, kamu tidak perlu harus angkat-angkat seperti itu, sudah biar pelayan yang bawa ya,"ujar monita menahan Aline yang akan mengangkat beberapa tas yang ada di bagasi mobil yang sudah diturunkan oleh Dion.


"Eh, tapi Tante...."


"Sudah, non Aline, tidak perlu membantu,"ujar dion menghentikan Aline untuk membantah ucapan nyonya Darmawan.


"Ya, sudah ada Dion juga yang mengurusi ini. Eh..kamu temani Kenzo aja di kamar ya. Tadi dia minta dibuatkan jus alpukat, kamu mau minum apa, sayang? Sekalian tante akan buatkan untuk kamu,"ujar monita dengan lembut kepada Aline yang sudah dia anggap seperti anak sendiri.


"Ah, sama saja Tante,"ujar Aline ikut saja.


"Baiklah kalau begitu, kamu temani kenzo, ya, Tante ke dapur dulu,"ujar monita kemudian dia meninggalkan Aline.


Alinepun berjalan menuju ke kamar baru Kenzo. Dan sungguh Aline begitu suka dengan kamar baru Kenzo tersebut. Suasananya sungguh sederhana tetapi tampak nyaman.



"Wah, kamar kamu lumayan juga,"puji Aline saat memasuki kamar kenzo. Dan Kenzo yang mendengar pujian itu hanya tersenyum.


"Kemarilah, masuk,"ajak Kenzo karena melihat Aline hanya berdiri di depan pintu.


"Bagaimana rasanya sudah kembali pulang ke rumah?"tanya Aline kepada Kenzo.


"Cukup menyenangkan, aku bosan di rumah sakit,"jawab Kenzo jujur.


"Kabari aku jika kamu waktunya kontrol ya,"ujar Aline berpesan karena dia sendiri sudah berjanji kepada Kenzo jika dia akan menemani Kenzo.


"Iya, sayang, aku pasti mengabari kok, tenang saja,"jawaban Kenzo ini justru membuat Aline menjadi tersipu Mali dibuatnya. Apalagi sebuah panggilan sayang yang dilayangkan oleh Kenzo tersebut.


"Astaga, Kenzo, apa-apaan sih kamu ini,"ujar Aline sambil menutupi wajahnya dengan sebelah tangan. Kenzo pun menarik tangan Aline dan melihat semburat merah di wajah Aline.


"Kenzo, lepaskan tanganku,"ucap Aline karena merasa tidak enak jika ada orang lain yanb melihat kedekatan keduanya yang seperti ini. Apalagi mereka hanya sedang berduaan saja di dalam kamar meskipun pintu kamar itu terbuka lebar.


"Astaga, ini kita berduaan saja dikamar, jaga sikapmu, Ken,"ujar Aline dan hendak menarik tangannya dari Kenzo tetapi Kenzo menahan tangan Aline bahkan menghentakkannya sehingga tubuh Aline hampir saja menabrak tubuh Kenzo.


"Kenzo..."ucapan Aline tertahan melihat bahwa dirinya benar-benar dekat dengan tubuh Kenzo. Aline menatap Kenzo dengan jarak yang begitu dekat. Cowok nakal itu memang memiliki kharisma tersendiri jika dilihat dari jarak sedekat ini, batin Aline.


"Apakah kamu mulai mengagumiku?"tanya Kenzo kepada Aline dengan senyum nakalnya . Mendengar hal itu Aline seketika menjauhkan dirinya dari tubuh Kenzo.


"Astaga, jangan mulai kamu Kenzo,"sahut Aline sambil memasang wajah cemberut akan kepedean Kenzo yang sudah menganggap dirinya sedang mengagumi diri kenzo.


"Aku memang tampan, bahkan lebih tampan dari mantan kekasihmu itu, akui saja,"ujar Kenzo dengan kepercayaan dirinya yang tinggi. Namun, Aline justru tertawa kecil mendengar betapa percaya diri Kenzo mengatakan hal itu kepada dirinya.


"Kamu bisa-bisanya percaya diri sekali dihadapanku. Nilai sekolahmu saja berantakan seperti itu, jangan berlagak dihadapanku ya,"ujar Aline menantang diri Kenzo.


Jiwa Kenzo pun merasa tertantang dengan ucapan Aline barusan kepada dirinya.


"Jadi kamu meragukan diriku, ya,"ujar Kenzo.


"Ya, dengan nilaimu akhir-akhir ini, aku memang ragu,"jawab Aline sekenanya saja.


"Baiklah, kita bertaruh saja, jika aku nanti lulus dengan nilai matematika terbaik, maka kamu harus mau jadi pacarku,"ucapan Kenzo ini membuat Aline terkejut.


"Apa? Pacar?"tanya Aline tampak tidak percaya.


"Iya, kamu takut?"ledek Kenzo karena sikap Aline yang begitu terkejut saat mendengarnya.


"Tetapi hanya dengan nilai terbaik satu mata pelajaran dan kamu meminta imbalan sebagai pacar itu terlalu menguntungkan dirimu dong, juara satu umum di sekolah maka aku mau tetapi bukan pacar, melainkan nge-date terlebih dahulu,"tawar Aline. Namun, Kenzo yang mendengarnya justru syok. Bagaimana bisa untuk juara umum dengan waktu sesingkat sekarang.


"Astaga Aline, itu bunuh diri namanya,"tukas Kenzo mendengar ucapan Aline barusan. Kenzo tahu jika dia memenuhi permintaan Aline bisa kalah telak dirinya nanti.


"Permintaan kamu harus sebanding dengan usaha kamu dong,"jawab aline tidak mau kalah tentunya.


"Baiklah ! 10 besar dalam kelulusan untuk nge-date selama 3 bulan,"tawar kenzo kembali. Karena bagi dia menjadi juara umum tidaklah mudah. Tetapi untuk menjadi sepuluh besar kemungkinannya masih ada. Dan nge-date selama tiga bulan itu cukup buat Kenzo membuat Aline menyukai dirinya. Namun, Aline tidak mau kalah tentunya kali ini.


"Urutan 5 besar dalam kelulusan untuk nge-date selama satu bulan,"tukas Aline dengan tegas.


"Tidak ada bantahan lagi, jika kamu mau ayo, jika kamu tidak mau, maka lupakan saja,"kata Aline tidak mau dibantah kembali ucapannya.


Kenzo menatap kedua mata aline yang sedang menunggu jawaban darinya. Dan Kenzo tidak mungkin menolak sebuah tantangan.


"Baiklah, aku terima, kamu jangan ingkar janji ya,"ujar Kenzo dengan yakin. Aline mengangguk meyakinkan jika dia tidak akan ingkar janji.


Tanpa mereka sadari ada seseorang juga yang sedang menguping pembicaraan mereka di luar kamar. Dia diam-diam berdoa agar Kenzo bisa memenangkan pertaruhan tersebut.


***


...Terimakasih sudah mampir membaca cerita ini. Terus dukung cerita ini dengan cara klik like, vote dan tulis komentar kalian sebanyak-banyaknya. Sambil menunggu cerita ini update, silakan mampir di cerita saya yang lain....



Salam cinta dari author ❤️