
Kenzo sedang berada dalam mobil menuju ke rumah Aline. Kenzo mulai hari itu dikawal oleh orang kepercayaan sang papa, Dion. Sejak kecil memang Kenzo lebih suka dekat dengan Dion. Maka ketika sang papa menyarankan Dion untuk menjadi penjaga dirinya maka sudah tidak ada lagi kecanggungan dalam diri keduanya. Baik itu Dion maupun Kenzo sudah sama-sama mengerti.
Kenzo mengambil secarik kertas yang dia dapatkan dari sang papa pagi tadi. Kenzo langsung meremas kertas tersebut setelah membacanya. Kenzo sudah menduga dia dipermainkan selama ini. Namun, ada rasa kecewa yang bersarang di hati Kenzo saat dia mengetahui ini justru dari papanya bukan dari orang tersebut.
"Tuan muda, kita sudah sampai,"ujar Dion karena mobil mereka sudah masuk ke halaman rumah keluarga Dirgantara.
"Ya,"Kenzo segera turun dari mobilnya dan berjalan ke depan pintu rumah keluarga Dirgantara. Kenzo mengetuk pintu rumahnya dan ketika tahu bahwa Kenzo yang datang maka dia disambut oleh nyonya rumah keluarga Dirgantara. Anita Dirgantara.
"Ayo, masuk dulu Kenzo, Aline masih sarapan, Kenzo ayo sarapan sekalian,"ajak Anita kepada Kenzo.
"Tadi sudah sih, Tante,"ujar Kenzo saat anita masih mengajaknya ke ruang makan. Ada kakak Aline juga disana, Aldo putra Dirgantara.
"Hai, zo, sini ikut gabung,"ujar Aldo mengajak Kenzo bergabung dengannya sarapan.
"Apa kabar bang?"tanya Kenzo kepada kakak Aline.
"Baik-baik, sudah lama aku tidak ketemu kamu, dengan siapa kamu kesini?"tanya Aldo antusias.
"Sama bang Dion, ada di depan,"ujar Kenzo.
"Oya? Suruh masuk saja, ayo sarapan bersama. Kita ada makanan banyak ini,"ajak Aldo.
"Biar kupanggil bang Dion kemari,"ujar Kenzo hendak berdiri namun Aldo mencegahnya.
"Biar aku saja, aku sudah lama tidak bertemu Dion, kamu duduk saja sudah,"ujar Aldo kepada Kenzo. Melihat Aldo sudah lebih dulu ke depan mengajak Dion masuk membuat Kenzo kembali diam. Melihat kediaman keduanya membuat bunda Anita meminta Kenzo untuk duduk.
"Ayolah, nak Kenzo, duduk di samping Aline saja,"ujar bunda Aline mempersilakan Kenzo untuk duduk di samping Aline. Kenzo sempat melirik Aline saat dia duduk di sampingnya.
"Lin, itu jamu Kenzo dong, kamu ini diam mulu dari tadi,"ujar bunda Anita menegur sang putri yang tidak merespon apapun.
"Iya, bunda,"jawab Aline patuh. Dia segera mengambilkan Kenzo piring dan peralatan makan lain nya. Dia juga menyendokkan nasi dan menawari Kenzo lauk yang ingin dia makan.
"Aku sedikit saja,"ujar Kenzo kepada Aline.
"Kenapa?"tanya Aline.
"Aku sudah makan tadi di rumah,"ujar Kenzo pelan.
"Ini semua lauknya Aline yang masak lho, nak Kenzo,"promosi bunda Anita kepada Kenzo.
"Tapi kalau rasanya kurang pas, maaf ya,"ujar Aline kepada Kenzo.
Sedangkan Kenzo sedang menikmati ayam krispi yang diberikan Aline di piringnya.
"Enak kok,"jawab Kenzo sambil menikmati makanan tersebut. Aline tersenyum mendengar pujian dari Kenzo.
Bunda Anita hanya diam saja sambil diam-diam tersenyum melihat interaksi keduanya.
Aldo mengajak Dion ikut sarapan pagi bersama keluarganya. Kenzo merasa tidak enak karena dilayani begitu baik di keluarga Aline. Namun, dia juga tidak berani menolak ajakan nyonya Dirgantara tersebut.
Bagaimana pun bunda Aline adalah sahabat baik kedua orang tuanya. Jadi Kenzo sudah menganggap keluarga Aline sebagai keluarga terdekatnya.
"Kenzo, jangan sungkan ya, anggap sebagai rumah sendiri,"ujar bunda Anita dengan ramah tamah. Kenzo hanya mengangguk sambil tersenyum mendengar ucapan bunda Aline tersebut.
"Iya, sering-seringlah mampir ke sini, zo, aku pengen adu main catur bersamamu,"ujar Aldo bersemangat.
"Aku tidak sehebat papa, bang Aldo,"ujar Kenzo merendah.
"Kata om keanu bahkan kamu bisa mengalahkan beliau, berarti kamu lebih jago dong, ayo kapan hari kita tanding bersama,"tantang Aldo.
"Iya, bang,"ujar Kenzo akhirnya menuruti juga keinginan kakak Aline tersebut.
Mereka berempat pun menikmati sarapan pagi itu dengan nikmat. Kenzo berterimakasih karena sudah dijamu dengan baik.
"Nanti kamu pulang sendiri, nak?"tanya bunda Anita saat Aline dan Kenzo hendak pamit berangkat ke kampus sedangkan Kenzo ke sekolah.
"Baik, Bun,"jawab Aline.
Kenzo dan Aline berangkat bersama dengan dikawal oleh Dion. Selama perjalanan ke kampus Aline, keduanya hanya diam saja tanpa ada pembicaraan apa-apa. Aline turun di halaman kampusnya.
"Terimakasih sudah mengantar,"ujar Aline kepada Kenzo dan dia hendak keluar dari mobil Kenzo namun Kenzo memegang tangannya.
"Nanti kujemput untuk les,"ujar Kenzo sambil menatap Aline.
"Tapi aku nanti masih harus ke restoran dulu,"sahut Aline karena sang bunda sudah berpesan untuk mengecek kondisi restorannya yang dipegang oleh Aline.
"Aku jemput ke restoran, berikan aku alamat restorannya,"ujar Kenzo.
"Oh, baiklah,"ujar Aline sebelum turun dari mobil.
Mobil mewah Kenzo meninggalkan halaman kampus Aline.
"Haduh, siapa tuh yang anterin,"aline menoleh dan mendapati Sisil sedang berbicara kepadanya.
"Sungguh keren deh putri kita yang satu ini,"ledek sisil kepada Aline.
"Apaan sih kamu, sil,"ujar Aline tidak menggubris ucapan temannya itu. Sisil mendekati Aline dan melihat Aline dari atas sampai bawah.
"Kamu ini kesambet apa bagaimana sih, sil. Mana ada orang dipelototin kayak begitu,"gerutu alien melihat sikap Sisil yang tidak biasanya.
"Kamu sudah nggak jalan lagi dengan vazo? Terus sudah ketemu gebetan baru gitu?"tanya Sisil penuh selidik.
"Gebetan baru siapa, dia bukan siapa-siapa,"ujar Aline sambil berjalan ke ruang dosen. Sisil menghentikan langkah Aline dan menatap tajam ke arah Aline.
"Jadi dia siapa?"tanya Sisil masih penasaran.
"Dia itu Kenzo, sil. Sudah deh, aku mau ketemu dosen dulu setor skripsi,"ujar Aline meninggalkan Sisil di depan ruang dosen.
"Jadi sekarang dia mainnya sama anak ingusan gitu, dasar,"gumam Sisil sambil tersenyum sinis.
Kenzo masih memikirkan selembar kertas yang tadi pagi diberikan sang papa dalam perjalannya ke sekolah.
"Bang Dion,"panggil Kenzo.
"Ya, tuan muda,"jawab Dion.
"Apakah selama ini papa menyelidiki kehidupan Hero?"tanya Kenzo penuh selidik. Tidak mungkin bang Dion tidak tahu apa saja yang dilakukan oleh sang papa, batin Kenzo.
"Yang saya tahu memang seperti itu,"jawab Dion jujur.
"Berarti memang papa serius mengawasi ku selama ini,"gumam Kenzo. Selama ini papanya itu memang tampak diam saja. Dia lebih banyak menunggu penjelasan dari Kenzo. Namun, dibalik semua itu sang papa ternyata memang sudah bergerak lebih dahulu. Dia tahu apa saja yang dilakukan oleh kenzo di luar rumah.
***
Iklan Author
Akhirnya bisa update tiap hari ini.
Hai, masih penasaran tidak dengan kelanjutan kisah Aline dan kenzo?
Masih menunggu adegan yang bikin baper?
Sabar ya menunggu itu memang selalu membuat jiwa penasaran seseorang meronta😆
Setelah membaca, klik tombol like dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya.
Terimakasih 😄