Oh, My Young Man

Oh, My Young Man
Memanfaatkan



"Hai, sil,"sapa Aline yang baru saja selesai melakukan bimbingan skripsi dengan salah satu dosen pembimbingnya. Sisil yang tampak bermalas-malasan itu hanya terdiam, tidak menjawab sapaan Aline. Dia asyik menghabiskan juice alpukat yang dia beli di kantin kampus.


"Ini, minuman yang kamu pesan tadi,"kata Sisil sambil menyodorkan juice jeruk yang diminta Aline sewaktu Sisil memberitahunya melalui WhatsApp jika dia akan membeli minuman ke kantin.


"Terimakasih, ini ku ganti uangnya,"kata Aline dengan menyodorkan selembar uang berwarna biru kepada Sisil. Namun, Sisil menolak pemberian Aline tersebut. Sisil justru mendorong tangan Aline yang menyodorkannya uang.


"Tidak perlu, hutangku saja masih banyak kepadamu,"ujar Sisil kemudian melanjutkan menghabiskan minuman yang dia pegang. Aline memasukkan kembali uang yang dia pegang ke dalam dompetnya. Dia tahu kalau Sisil bilang tidak mau ya berarti dia benar-benar tidak mau.


"Kalau aku butuh pinjaman uang, kamu selalu bisa meminjaminya dengan cepat. Kamu sudah banyak membantuku selama ini. Sedangkan aku belum bisa membantu apapun kepadamu,"kata Sisil.


"Sudahlah, lupakan saja. Kamu berkata seolah-olah kita baru berteman saja. Kita berteman sudah sejak masih duduk dibangki sekolah. Masak aku harus perhitungan denganmu. Kamu santai saja,"ujar Aline sambil menyeruput juice jeruk yang ada digelas plastik. Sisil hanya tersenyum simpul mendengarkan apa yang baru saja Aline katakan kepadanya.


"Sepertinya aku sedang membutuhkan bantuanmu itu, Lin. Aku butuh dana karena pekerjaan paruh waktuku sedang telat bayar gaji pegawai. Aku butuh membeli beberapa kebutuhan, tetapi uangku sudah habis untuk membayar kontrakan,"ucap Sisil dengan nada memelas. Aline menatap wajah sahabatnya itu yang tampak begitu membutuhkan bantuannya.


"Memangnya kamu butuh berapa, sil?"tanya Aline dengan memperhatikan wajah sahabatnya itu.


"Aku butuh dua juta saja, aku tidak enak meminta banyak-banyak,"ujar Sisil dengan memasang ekspresi wajah yang memelas dihadapan Aline.


"Baiklah, aku transfer seperti yang kamu katakan barusan,"kata Aline sambil mengetik tombol di handphone nya untuk mentransfer sejumlah uang yang dibutuhkan oleh Sisil.


"Terimakasih, sahabatku,"ujar sisil dengan girangnya dan juga dia memeluk tubuh Aline karena bahagianya.


"Ih, kamu ini seperti anak kecil saja,"ujar Aline melihat perilaku sisil.


Akhirnya aku memiliki uang juga untuk bersenang-senang dengan teman-temanku di klub malam hari ini. Aku bisa mentraktir mereka semua. Dasar bodoh, mau saja ditipu oleh ku. Kecantikanmu tidak sebanding dengan kecerdasan otakmu. Kamu terlalu baik dan mudah sekali dibodohi, Aline.


**


"Kita mau kemana tuan muda?"tanya Dion setelah menemani Kenzo mempelajari beberapa hal yang berhubungan dengan perusahaan. Itu sudah menjadi keputusan Keanu Darmawan sejak Kenzo berkata bersedia untuk mulai mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan perusahaan sang ayah.


"Jemput Aline saja, aku baru saja menghubungi nya,"kata Kenzo.


"Baiklah, tuan muda,"jawab Dion sambil menyalakan mobil yang dikendarainya. Dion segera meluncur ke tempat dimana Aline, putri bungsu keluarga Dirgantara itu kuliah.


"Kamu sedang janjian bertemu dengan siapa, Lin?"tanya Sisil yang melihat tampaknya Aline sedang asyik membalas pesan WhatsApp dari seseorang.


"Oh, ini Kenzo mau datang menjemputku,"jawab Aline dengan santainya.


"Sekarang hubungan kalian semakin dekat saja. Hati-hati jatuh cinta alias cinlok lho,"goda Sisil membuat Aline menjadi tersenyum dibuatnya.


"Apaan sih, sil. Lagipula aku hanya membantu dia dengan menjadi guru les matematika nya. Kenapa jadi cinlok segala?"ujar Aline setelah mendengar perkataan Sisil barusan.


"Ya, bisa saja kan, lagian kalau aku lihat-lihat, dia ganteng juga lho,"goda Sisil kembali. Sedangkan Aline justru tersenyum semakin lebar saja mendengar gurauan Sisil.


"Jangan mulai deh,"sahut Aline.


"Lalu bagaimana hubungan kamu dengan vazo? Apa kalian masih saling menjaga jarak?"tanya Sisil penasaran akan kelanjutan hubungan keduanya. Karena vazo sendiri tampaknya juga sudah mulai malas mendekati Aline kembali.


"Aline...itu dia datang,"perkataan Sisil membuat Aline mendongakkan kepalanya kembali. Aline melihat mobil kenzo sudah datang di depan pintu gerbang kampusnya.


"Itu sepertinya nona Aline, tuan muda,"ujar dion yang melihat Aline sedang berdiri tidak jauh dari mobil mereka berhenti.


Kenzo mengedarkan pandangannya kepada sosok yang ingin dia temui. Dan dia juga melihat sosok yang lain yang berada di samping Aline. Rupanya wanita itu sungguh mengerikan, batin kenzo. Dia bisa saja sedekat itu dengan Aline sedangkan sikapnya di belakang Aline justru jauh berbeda.


Kenzo segera turun dari mobil dan menghampiri Aline.


"Ya, sudah sil, aku duluan ya,"pamit Aline tetapi Sisil menahan lengan Aline saat melihat sosok Kenzo turun dari dalam mobil.


"Eh, dia menghampiri kamu ke sini, Lin,"ujar Sisil. Ucapan sisil itu seketika membuat Aline berhenti melangkah dan melihat lurus ke depan ke arah Kenzo yang kini sedang berjalan menuju ke tempat dia berada.


"Sudah selesai?"tanya Kenzo singkat. Aline sempat bingung dengan pertanyaan Kenzo yang terlalu singkat itu. Maksudnya apa coba yang dia tanyakan, batin Aline.


"Bimbingan skripsinya,"lanjut Kenzo membuat Aline mengerti kemana arah pertanyaan dari Kenzo.


"Oh...sudah,"jawab Aline dengan anggukan kepala. Sedangkan Sisil hanya diam saja di samping Aline memperhatikan interaksi keduanya.


"Oh, ya, ini teman baikku. Kenalkan namanya Sisilia Madasari. Dan sil, ini Kenzo, putra teman baik bundaku,"ujar Aline memperkenalkan keduanya.


"Hai, panggil saja aku Sisil,"ujar Sisil dengan ramah kepada kenzo. Sedangkan Kenzo tampak begitu dingin menanggapi perkataan Sisil barusan kepadanya. Kenzo yang sudah tahu bagaimana buruknya Sisil di belakang Aline. Hal itu membuatnya menjadi malas untuk bersikap ramah apalagi jika itu hanya untuk sekedar berbasa-basi. Kenzo malas sekali bersikap berpura-pura baik di depan orang yang memang tidak pantas mendapatkan kebaikan itu sendiri.


"Ayo kita segera ke rumahku, aku memiliki banyak tugas yang tidak dimengerti,"lanjut Kenzo sambil menarik tangan Aline di depan Sisil yang tampak terkejut melihat reaksi yang diberikan oleh Kenzo tersebut.


"Eh, ya sudah sil, aku duluan ya,"ujar Aline yang juga kaget dengan reaksi Kenzo tersebut. Aline melambaikan tangannya ke arah Sisil yang juga membalas dengan lambaian tangan tanda perpisahan.


Kenzo duduk di samping Aline yang sudah masuk lebih dulu ke dalam mobil.


"Jalan bang,"ucap Kenzo setelah dia sendiri duduk di bangku mobil.


"Baik, tuan muda,"jawab Dion.


Sisil melihat dari kejauhan mobil yang membawa Aline itu semakin menjauh darinya. Rupanya Sisil juga tahu jika Kenzo tampaknya menyukai Aline. Dan jelas sekali respon Kenzo tadi yang tidak menyukai dirinya. Dengan mengacuhkan keramahan yang dia berikan kepada Kenzo. Anak SMA itu mengacuhkan dirinya begitu saja.


"Tunggu saatnya nanti, aku juga malas harus berpura-pura baik di depanmu, Lin,"gumam Sisil perlahan.


***


Iklan Author


Budayakan klik like setelah membaca novel di atas. Tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Dan jika ingin promosi novel kalian silakan promosi di kolom komentar. Namun, jangan melakukan promosi itu di grub chat milik author ya. Mohon pengertiannya.


Terimakasih 😄