
Leni melemparkan tas sekolah nya tepat di hadapan sang kakak, Hero. Melihat kelakuan sepupunya yang baru saja pulang dari sekolah membuat Hero penasaran. Apa yang terjadi memangnya di sekolah sampai membuat sepupunya menjadi sekesal itu.
"Ada apa?"tanya hero dengan wajah datarnya. Dia selalu saja menanggapi semuanya dengan tenang.
"Aku kesal dengan Kenzo,"jawab sepupunya dengan wajah bersungut-sungut. Hero hanya tersenyum tipis mendengar nama orang itu disebut-sebut lagi oleh saudara sepupunya. Betapa leni begitu menggilai lelaki yang pernah menjadi sahabat nya tersebut. Sudah berulang kali Hero mengingat kan Leni untuk tidak lagi mengejar Kenzo. Tetapi sepupunya itu keras kepala juga.
"Sudahlah, lupakan saja dia,"ucap Hero kepada sepupunya namun ekspresi kesal Leni kini justru tertuju kepadanya. Dia tampak tidak terima dengan ucapan sang kakak.
"Apa kakak bilang? Lupakan? itu tidak mungkin. Kakak tahu bukan kalau aku menyukai Kenzo? Kenapa sekarang kakak justru ingin aku melupakan nya? Kakak bukankah sudah bilang akan mendukungku?"ucap Leni dengan nada kesalnya yang berapi-api. Memang Hero pernah berjanji akan mendukung cinta Leni namun itu karena Hero butuh bantuan Leni untuk mendekati Kenzo. Akan tetapi sekarang ucapan itu perlu Hero ralat kembali.
"Aku sudah tidak membutuhkan dia lagi,"jawab Hero dengan tenang.
"Maksud kakak dengan tidak membutuhkan nya itu apa? bukankah kakak bilang kalau kakak butuh Kenzo menggantikan kakak balapan? Dan kakak juga bilang kalau dia harus membayar atas apa yang telah diperbuatnya kepada kakak. Apa kakak sudah lupa?"tanya Leni kembali.
"Aku ingat, dan aku ingin mengendarai motor lagi,"jawab Hero dengan santai.
Leni memhembuskan napasnya kasar. Dia tidak menyangka akan jawaban sang kakak. Dalam kondisi dia yang lumpuh, dia masih mau balapan, itu gila bukan? batin Leni tidak mempercayai ucapan sang kakak.
"Jangan bercanda, kak, ini bukan April mop,"sahut Leni dengan nada menyindir. Dia tidak menyangka di saat seperti ini kakaknya masih saja memiliki selera humor yang tinggi.
"Kamu tidak percaya padaku?"tanya Hero dengan wajah percaya dirinya itu membuat Leni merasa jenuh menghadapi sang kakak. Mereka berdua, Kenzo dan juga Hero memang sama-sama tida waras, batin Leni semakin mendongkol.
"Tunggu,"Hero mencegah Leni pergi dari ruangan itu.
"Kamu harus melihatku sekarang,"ucap Hero sekali lagi membuat Leni dengan malas berbalik dan menoleh ke arah kakaknya. Leni membelalakkan matanya melihat apa yang dilakukan oleh kakaknya saat itu.
Pemandangan yang dia dapatkan sungguh di luar dugaan dia. Leni hanya terperangah mengetahui kenyataan yang ada di depannya. Apakah ini yang dimaksud dengan Kenzo saat di sekolah tadi. Sekarang Leni sudah mengerti atas sikap dan ucapan sinis Kenzo kepadanya di sekolah.
"Kakak...."
**
Sudah hampir dua jam Aline mengajari Kenzo pelajaran matematika. Aline kini mulai merasa lapar karena tadi siang dia hanya makan sedikit saja. Dia melihat Kenzo masih mengerjakan soal yang dia berikan barusan.
Aline mengambil air minum yang disediakan di gelas. Rupanya sedari tadi Aline sudah banyak minum sampai tidak terasa gelas air minumnya sudah kosong.
"Yah, habis..."ujar Aline pelan. Kenzo mendengar apa yang dikatakan Aline meskipun tidak keras.
"Nih, minum,"ujar Kenzo sambil menyodorkan gelas minuman miliknya. Aline tampak ragu-ragu untuk menerima pemberian Kenzo.
Kenzo melihat Aline sepertinya enggan menerima nya.
"Ya, sudah kalau tidak mau,"sahut Kenzo sambil menarik kembali tangannya. Namun Aline buru-buru mencegahnya.
"Mau, mau," Aline pun mengambil gelas minum yang tadi Kenzo pegang. Melihat hal itu membuat Kenzo tersenyum tipis.
Kenzo melihat Aline tampak meminum air mineral di gelasnya dengan terburu-buru.
"Kamu haus ya?"tanya Kenzo. Aline mengangguk mengiyakan. Kenzo menghela napas panjang.
"Ayo ikut aku ke bawah,"ujarnya sambil menarik tangan Aline.
"Eh, Kenzo, kita belum selesai belajar nya,"ujar Aline menahan diri Kenzo namun lelaki itu justru merasa cuek saja dan hanya menatap Aline dengan wajah datarnya itu.
"Kamu tidak lapar memangnya? Aku lapar, aku mau makan, ya sudah kalau kamu tidak mau ikut,"Kenzo melepaskan tangan Aline dan bergegas turun ke lantai bawah meninggalkan Aline begitu saja tanpa terlebih dahulu mendengarkan jawaban nya.
"Eh, Kenzo, tunggu,"Aline segera mengejar Kenzo yang sudah lebih dulu turun menuju ruang makan.
"Aku juga lapar tahu dari tadi,"gerutu Aline sambil mengejar kenzo. Kenzo yang mendengar gerutuan Aline hanya tersenyum tipis. Dia juga tahu Aline tidak makan dengan benar tadi siang di restoran nya. Karena tidak mungkin secepat itu dia makan.
***
Iklan Author
Bagi yang belum bergabung dengan grub. Sekarang bisa joint di grub author ya. Caranya mudah karena sudah ada di novel toon maupun mangatoon.
Setelah membaca, budayakan untuk klik tombol like dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya.
Kenapa?
Karena komentar kalian adalah penyemangat bagi author untuk menuliskan kelanjutan dari cerita nya.
Oke😃
Terimakasih 😄