
Aline segera menekan tombol pemanggil di ruangan Kenzo saat melihat pemuda itu telah membuka matanya. Aline tidak menyangka ketika dia tertidur di samping ranjang Kenzo, tiba-tiba sebuah sentuhan lembut di kepalanya membuat dia terbangun.
Ternyata itu adalah sentuhan dari tangan Kenzo yang membelai lembut kepalanya. Aline menatap Kenzo tidak percaya kalau lelaki itu sudah kembali membuka matanya. Rupanya setelah puas menangis tadi membuat Aline lelah dan tertidur di ruangan kamar Kenzo.
Aline bergegas menghubungi perawat dengan alat pemanggil di ruangan setiap pasien rawat inap. Dan juga Aline tidak lupa menghubungi orang tua Kenzo, Tante Monita dan juga bang Dion.
Dion selalu siaga di rumah sakit dan dia orang yang lebih dulu berada di ruangan rawat inap Kenzo setelah dihubungi oleh Aline. Kini seorang dokter dan perawat sedang memeriksa kondisi Kenzo yang masih terbaring di ranjang rumah sakit.
"Non Aline tidak ingin istirahat?"tanya Dion melihat kondisi Aline yang juga baru pulih dari trauma yang menimpanya. Aline hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan dari Dion.
"Tidak bang, aku tidak apa-apa,"jawab Aline dengan raut wajah tersenyum ke arah Dion. Baiklah, Dion mengerti apa yang dirasakan oleh Aline. Tentu dia ingin menjaga orang yang telah menyelamatkan nyawanya. Dengan kejadian kemarin tentu saja hubungan keduanya akan semakin dekat saja.
"Keluarga pasien,"ujar sang dokter yang telah selesai memeriksa kondisi Kenzo. Aline dan juga Dion pun mendekat ke arah sang dokter.
"Bagaimana kondisinya dokter?"tanya Dion terlebih dahulu. Aline juga penasaran akan kondisi Kenzo yang sebenarnya.
"Tidak apa-apa, kondisinya sudah mulai membaik, masa kritisnya sudah lewat,"ujar sang dokter sambil tersenyum. Dion dan juga Aline sama-sama menghembuskan napas lega mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh sang dokter.
"Kalau ada apa-apa silakan panggil perawat di ruang jaga dengan tombol pemanggil ya,"ujar sang perawat memberitahu.
"Baik, suster,"jawab Aline.
"Terimakasih, dokter,"ucap Dion kepada sang dokter dan juga perawat yang baru saja memeriksa kondisi Kenzo.
Aline tersenyum ke arah Kenzo dan juga dibalas sebuah senyuman oleh Kenzo meskipun dia masih tampak tidak bersemangat. Dion memperhatikan ekspresi kedua remaja tersebut dan memutuskan untuk undur diri dari ruangan tersebut. Dion tidak mau dia dianggap tidak mengerti kondisi yang sedang terjadi di sana.
"Aku permisi dulu,"pamit Dion kepada Aline dan juga Kenzo.
"Bang Dion mau kemana?"tanya Aline karena merasa tidak enak tiba-tiba Dion ingin pergi dari ruangan tersebut.
"Tenang saja, aku ada di sekitar sini, jika kalian ada sesuatu tinggal telepon saja,"ucap Dion dengan santainya.
"Iya, bang,"jawab Kenzo dengan perlahan. Aline yang hendak bertanya pun jadi terdiam karena Kenzo lebih dulu menjawab perkataan dari Dion.
"Baiklah, aku permisi,"pamit Dion kepada keduanya.
"Baik, bang,"jawab Kenzo kembali. Dion hanya tersenyum sekilas sambil melihat ke arah Kenzo sebelum keluar dari kamar rawat inap Kenzo.
"Kamu tidak apa-apa?"tanya Kenzo kepada Aline.
Pertanyaan Kenzo ini justru membuat Aline semakin merasa bersalah saja. Buktinya Kenzo justru yang lebih mengkhawatirkan dirinya. Padahal dia sendiri jauh lebih terluka parah ketimbang dirinya yang hanya lecet ringan saja.
Aline sengaja menarik napas panjang karena mendadak dia ingin menangis. Dia menahan air matanya yang hendak tumpah tanpa bisa dia kendalikan.
"Ah, aku tidak apa-apa, jangan mencemaskan diriku, Ken. Kamu sendiri terluka separah ini,"ucap Aline tanpa berani menatap mata Kenzo. Karena kalau dia menatapnya pasti Aline tidak bisa menahan air matanya.
"Aline..."panggil Kenzo agar Aline bersedia menatap matanya. Namun, Aline sengaja menghindari tatapan Kenzo agar lelaki itu tidak tahu jika dia ingin menangis saat ini.
"Aline..."lagi-lagi Kenzo memangil dirinya dengan suara yang lebih lembut lagi. Bahkan Kenzo berusaha memegang tangan Aline yang dekat dengan tangannya.
"Jangan bersedih, aku tidak apa-apa,"ucap Kenzo sambil memegang jemari tangan Aline berusaha menenangkan gadis itu. Bahkan Kenzo tahu jika mata Aline berkaca-kaca sedari tadi. Pasti dia merasa bersalah dengan apa yang menimpa dirinya.
"Maaf...."ucap Aline tidak mampu menahan dirinya lagi. Air mata sudah mulai membasahi pipinya.
"Maaf, seharusnya aku tidak bodoh, kalau saja aku tidak tertangkap, kamu tidak akan terluka seperti ini,"ucap Aline dengan berderai air mata.
Kenzo hanya menepuk-nepuk tangan aline. Dia sendiri juga merasa sebal dengan kondisinya yang seperti ini. Seandainya saja dia bisa memeluk gadis dihadapannya ini.
"Jangan menangis, aku justru semakin kesal dengan diriku sendiri,"ujar Kenzo dan perkataan Kenzo membuat Aline bertanya-tanya kenapa Kenzo bisa kesal. Apa yang membuat dia menjadi kesal.
"Kenapa kamu kesal?"tanya Aline penasaran akan ucapan Kenzo barusan.
"Ya, aku kesal karena aku tidak bisa memeluk dirimu sekarang,"ucap Kenzo dengan senyum tipis di bibirnya. Perkataan Kenzo ini justru sukses membuat Aline tersenyum dibuatnya. Bagaimana bisa Kenzo masih mampu membuat dia tersenyum di saat dia sedang menangis.
Dasar Kenzo, batin Aline.
***
Iklan Author
Budayakan klik like setelah membaca dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Dukung terus author ya.
Terimakasih.