NADIRA

NADIRA
DI KAMAR HOTEL



Usai acara akad dan resepsi yang begitu melelahkan, Rachel mengantarkan Arga ke suite room hotel berbintang, di belakangnya Nadira dan Irfan mengekor.


Keempatnya memasuki suite room. Kamarnya begitu luas dan juga mewah. Rachel menuntun Arga ke tempat tidur, mendudukkannya di sana.


“Terima kasih mom,” ucap Arga yang tampak letih.


“Iya sayang, kamu istirahat ya,” ucap Rachel lembut.


Arga hanya mengangguk.


Rachel menghampiri Irfan yang berdiri bersama Nadira. Keduanya juga pamit keluar dari kamar pengantin.


Begitu pintu menutup, kini hanya menyisakan Arga dan Nadira berdua saja, mereka masih mengenakan baju pengantin yang lengkap.


Nadira hanya terpaku di tempatnya, menatap leluasa ke arah Arga yang juga terdiam. Tiba-tiba suasana terasa begitu canggung baginya.


Nadira menyaksikan jemari Arga mulai bergerak membuka kancing jas dan kemejanya satu per satu, dan melemparnya sembarangan. Hingga ia hanya bertelanjang dada. Memamerkan dadanya yang bidang, serta kulitnya yang putih bersih.


Nadira agak cemas, melihat pemandangan itu sambil menggigit bibir bawahnya. Ia mengalihkan pandangannya dari Arga.


“Apa kau melihat handuk?” tanya Arga.


“Uhm,” Mata Nadira mulai mencari handuk di sekitarnya. “Sepertinya ada di kamar mandi,” Nadira bergegas masuk kamar mandi mengambil handuk. Begitu ia keluar dari kamar mandi, ketika Arga mendengar langkah kakinya, lelaki itu bangkit berdiri dan menyajikan pemandangan yang tidak biasa bagi Nadira.


“Aaaaaa,” Nadira menjerit kaget melihat kondisi Arga saat ini.


“Hey, kau kenapa? Bikin kaget saja,” sahut Arga kesal tanpa rasa bersalah.


“Ke-kenapa kau seperti itu?” Nadira menundukkan pandangannya.


“Memangnya aku kenapa?” seakan tak mengerti.


“Kenapa kau tidak seperti itu di kamar mandi saja,” Nadira menyesalkan sikap Arga yang agak bugil, hanya mengenakan ******.


“Memangnya salah? Bukankah kau seorang dokter, menangani pasien yang luka pasti sudah biasa kau melihat tubuh mereka,”


“I-iya, tapi kau kan beda situasinya. Kau benar-benar tidak punya rasa malu ya,” Nadira mencela.


“Aku ini suamimu, dan kau istriku. Tidak ada yang salah dengan penampilan seperti ini di kamar. Cepat kemarikan handuknya, aku gerah mau cepat mandi lalu tidur,”


Nadira segera memberikan handuk yang dipegangnya kepada Arga.


Arga segera melilitkan handuk itu di pinggangnya. Kemudian ia meraba di meja samping tempat tidur, mencari tongkatnya.


“Katakan padaku, kamar mandinya di sebelah mana?” tanya Arga sambil memegang tongkatnya.


“Di sebelah kirimu, lurus saja,” Nadira memberi tahu.


Arga melakukannya sesuai yang disampaikan oleh Nadira. Nadira menatap punggung putih Arga hingga menghilang dibalik pintu kamar mandi.


Ia menghela nafas, belum dua puluh empat jam menjadi suami istri, Arga sudah membuatnya begitu kaget karena telanjang sembarangan di kamar.


Nadira memungut satu per satu semua pakaian yang Arga lempar di lantai. Ia melipatnya dan menyimpannya dengan rapi di lemari. Ia melihat setelan piyama dalam lemari itu, Nadira mengambilnya dan menyimpannya di atas tempat tidur, berpikir agar memudahkan Arga untuk mengambil dan mengenakannya sendiri tanpa harus bersusah payah berjalan ke arah lemari.


Nadira mulai membenahi dirinya dengan melepaskan hijabnya, menghapus riasannya dengan micellar water lalu menyisir rambut panjangnya. Selanjutnya, Nadira hendak melepaskan gaun pengantinnya, namun ia merasa kesulitan karena ritsleting gaun itu berada di punggungnya. Berkali-kali ia mencoba sendiri meraih ritlestingnya, namun tangannya tidak sampai. Ia butuh bantuan orang lain untuk melepaskan gaunnya.


Nadira menyerah, dan melempar bokongnya duduk di kursi.


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, Arga muncul dengan handuk melilit di pinggangnya sambil memegang tongkatnya.


Nadira menatap suaminya itu dalam diam. Rambutnya yang basah dan acak-acakan sehabis mandi, sialnya malah menambah ketampanannya. Membuat Nadira menikmatinya diam-diam dengan terus menatapnya.


Arga sampai di tempat tidur, ia meraba dan merasakan setelan piyama yang tadi diletakkan oleh Nadira. Dia merabanya kembali, untuk memastikan kalau itu adalah baju untuk laki-laki.


Arga meletakkan tongkatnya, lalu hendak melepaskan lilitan handuknya. Sebelum itu tercapai, Nadira sengaja berdehem keras, “ehem,” mencegah kedua matanya mendapat penampakan tubuh seksi Arga.


“Kau di sana? Sedang apa?” tanya Arga.


“Menunggu giliran untuk mandi,” jawab Nadira.


“Aku sudah selesai,”


“Uhm, tapi aku butuh bantuan,” ungkap Nadira agak ragu.


Arga mengernyitkan dahi, “bantuan? Kau butuh bantuan dari orang sepertiku?”


“Aku, agak kesulitan membuka gaun ini. Ritsletingnya di belakang dan tanganku tidak bisa menggapainya,” ucap Nadira.


“Ya sudah, kemarilah!” Arga memanggil Nadira untuk datang kepadanya.


Nadira mendekat hingga hanya berjarak beberapa centi saja, ia membalik badan membelakangi Arga sambil mengangsurkan rambut panjangnya agar jatuh semua ke depan.


Meski tak bicara, Arga sudah tahu kalau Nadira ada di hadapannya,  sebab ia bisa mencium wangi sampo yang menguar dari rambut istrinya.


Arga mengangkat sebelah tangannya, hendak mencari ritsleting gaun Nadira. Tapi ia justru menyentuh rambut Nadira dan juga tengkuk Nadira.


Nadira merasa seperti disengat ketika jemari Arga tanpa sengaja menyentuh tengkuknya yang termasuk dalam bagian tubuhnya yang sensitif.


Ia ingin menegur, namun urung. Tak mau Arga marah-marah, Nadira memaklumi kondisi Arga yang tidak bisa melihat, dia pasti tidak sengaja menyentuh tengkuknya.


Lalu apa yang dirasakan Arga? Ia merasa ada perasaan aneh yang menjalari hatinya saat tanpa sengaja menyentuh tengkuk Nadira. Ia menggerakkan jemarinya terus ke bawah hingga menemukan pengait ritsleting gaun Nadira. Arga segera menariknya turun hingga gaun itu membuka lebar dan menampakkan punggung Nadira. Sayangnya Arga tidak bisa melihat, sehingga dia tampak biasa saja.


“Ehm, iya. Sepertinya sudah tidak bisa ditarik turun lagi ritsletingnya,” jawab Arga.


Nadira membalik badan dan tersenyum pada Arga, meski ia sadar Arga tidak bisa melihatnya tersenyum.


“Terima kasih,” ucap Nadira. “Aku sudah menyiapkan piyamamu di tempat tidur,” ungkapnya lalu berjalan masuk ke kamar mandi.


Arga masih diam di tempatnya. Mengingat jemarinya yang tadi menyentuh tengkuk Nadira. Begitu pintu menutup, Nadira menyandarkan tubuhnya di pintu kenapa ia merasa deg-degan saat Arga menyentuh rambut dan tengkuknya. Nadira bergegas membuka gaunnya lalu mandi dan keramas.


Nadira membuka pintu kamar mandi, ia keluar dalam keadaan hanya melilitkan handuk di tubuhnya dan juga di rambutnya yang basah sehabis keramas. Nadira mendapati Arga sudah memakai piyama dan sudah tertidur di atas ranjang, wajahnya menampakkan keletihan.


Nadira melangkah membuka lemari, ia mencari-cari piyama, tapi tidak ada. Ia hanya menemukan sebuah lingerie berwarna hitam. Nadira masih terus mencari-cari piyama atau sesuatu yang lain yang lebih pantas dipakainya selain lingerie. Ia membuka tutup pintu lemari, membuat Arga terusik dari tidurnya karena telinganya mendengar suara ribut pintu lemari dibuka dan gumaman pelan Nadira karena tidak menemukan pakaian yang layak untuknya. Padahal Nadira melakukannya cukup pelan karena menyadari telinga Arga yang sensitif bahkan dengan suara sekecil apapun. Ia pun tidak bisa menggunakan mode senyap.


“Apa hotel ini gila, di lemari hanya ada lingerie?” bergumam kesal sambil menatap lingerie itu dengan ngeri.


“Kenapa kau ribut sekali?” suara Arga mengagetkan Nadira. Lelaki itu terbangun sambil mengucek matanya, Arga meringis sakit, ia ingat dokter melarangnya mengucek mata terlalu keras karena kornea matanya yang cidera akibat kecelakaan kemarin.


“Maaf, kau jadi terbangun ya. Padahal kukira aku tidak ribut,” merasa tak enak hati mengganggu tidur Arga.


“Ada apa? Kau sedang mencari apa di lemari?” tanya Arga penasaran namun juga agak kesal karena Nadira telah mengusik tidurnya, padahal ia sangat ingin tidur setelah prosesi pernikahan mereka yang melelahkan. Padahal dia tidak melakukan apa-apa, hanya duduk saja menyambut tamu undangan.


“Aku mencari baju,” jawab Nadira polos.


“Memangnya tidak ada baju untukmu di lemari?” tanya Arga heran.


Nadira menggeleng, sadar kalau Arga buta, ia pun menjawab, “tidak ada.”


“Ah, bagaimana bisa. Kita menginap di suite room, mana mungkin di lemarinya tidak ada baju,” Arga membantah.


“Yang ada hanya lingerie,” jawab Nadira malu-malu.


“Kau kan bisa pakai itu malam ini,” Arga tampak kesal, merasa Nadira begitu merepotkan.


“Tidak! Aku tidak mau!” Nadira menolak tegas, “itu bukan baju dan aku tidak mau memakainya!”


“Kenapa? Kau malu?”


“Uhm,” Nadira malu mengakui.


“Dasar bodoh. Kau kan tinggal memakainya, tidak perlu bilang padaku kalau kau memakai lingerie, setiap inci tubuhmu yang terbuka juga aku tidak bisa melihatnya. Kecuali kalau kau memintaku untuk merabanya,” Arga mulai usil menggoda Nadira yang polos dan kaku.


“Kau ingat kontrak kita kan?” Nadira terdengar tegang di telinga Arga.


Arga tersenyum samar. Nadira menggeram karena Arga mengatainya bodoh.


Ternyata begini sifat aslimu ya, bagaimana Niken bisa tertarik pada lelaki sepertimu?


“Pakai saja yang ada di lemari,” Arga tidak mau ambil pusing.


“Aku justru tidak bisa tidur kalau memakainya. Aku akan menelpon petugas hotel untuk membawakanku piyama,” Nadira bergegas ke arah telpon.


“Benar-benar keras kepala,” gumam Arga, merebahkan kembali badannya di kasur dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Beberapa menit kemudian ...


Petugas hotel mengetuk pintu kamar Arga dan Nadira menginap. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Arga muncul di balik pintu.


“Selamat malam tuan Arga,”


“Cepat berikan!” Arga mengulurkan tangannya hendak menerima piyama yang dibawa petugas hotel itu untuk Nadira.


“Maafkan kami jika pelayanan kami kurang menyenangkan, setiap pengantin baru yang menyewa kamar di sini, isi lemari memang hanya ada lingerie,” ucap si petugas hotel setelah menyerahkan setelan piyama kepada Arga.


“Istriku tidak suka memakainya,” ucap Arga acuh lalu segera menutup pintu.


Dengan bantuan tongkatnya, ia berjalan kembali ke tempat tidur.  Nadira duduk di atas tempat tidur sambil menutupi badannya dengan selimut yang lembut dan tebal.


“Kau di mana? Ini piyamamu,” Arga menjulurkan piyama itu ke arah yang salah.


Nadira menurunkan selimut, dan turun hati-hati dari ranjang sambil terus memegang ujung handuk yang melilit tubuhnya.


“Terima kasih,” ucapnya merasa bersyukur dan mengambil piyama dari tangan Arga.


Nadira bergegas ke kamar mandi hendak memakai piyama itu.


Nadira bernafas lega begitu keluar dari kamar mandi dengan setelan piyama. Ia mendapati Arga yang sedang duduk di atas ranjang, seperti sedang menunggunya. Arga menyadari kehadirannya.


“Apa kau akan tidur di ranjang, malam ini?” tanyanya langsung, tidak ada niat apa-apa. Tapi Nadira justru berpikiran yang bukan-bukan.


“Aku akan tidur di sofa,” jawabnya cepat.


“Oh, baguslah,” Arga segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. “Selamat malam,” gumamnya hendak menarik selimut.


“Aku akan mematikan lampu,” Nadira berlari ke arah saklar lampu utama.


“Lakukan saja sesukamu, lampu menyala atau mati seperti berpengaruh saja bagi mataku,” kesalnya.


“Maaf. Selamat malam juga,” Nadira mematikan lampu utama, yang menyala hanya lampu kecil di sisi tempat Arga tidur. Nadira lalu mengambil bantal pelan-pelan di dekat Arga lalu membawa tubuhnya yang penat ke atas sofa yang empuk.


Sejenak ia melirik ke arah Arga yang tampaknya sudah mulai tertidur.