
Rasty membantu Rachel meminum obat yang telah diresepkan oleh Nadira sehabis sarapan. Di kamar nyonya rumah itu, hadir lengkap anak dan menantunya. Arga, Nadira dan juga Rasty. Bu Ruly juga hadir, sebab dia yang membuat sarapan dan mengantarkannya ke kamar Rachel. Begitu mendapat telpon kalau nyonya rumahnya sakit, bu Ruly bergegas kembali ke rumah majikannya.
“Nyonya beruntung sekali punya menantu seorang dokter, penanganannya begitu cepat,” Bu Ruly berujar sambil tersenyum ke arah Nadira.
Rachel tak begitu menanggapi ia justru bertanya hal lain, “jam berapa sekarang?” tanyanya gelisah sambil melirik ke arah jam dinding di kamarnya.
Rachel menyibakkan selimutnya, hendak turun dari tempat tidur.
“Nyonya mau ke mana?” bu Ruly menahannya.
“Mommy istirahat saja, jangan banyak bergerak dulu,” Rasty menambahkan.
“Jam sembilan nanti mommy ada rapat penting di kantor, dan mommy harus hadir,” Rachel bersikeras walaupun jam menunjukkan pukul 08.05 pagi.
“Mom, kenapa masih memikirkan kerjaan sementara mommy sedang sakit. Mommy ingatkan kak Nadira bilang kalau mommy harus bed rest selama kurang lebih seminggu. Mommy terlalu sibuk bekerja sampai lupa sama Rasty di rumah,” ucap Rasty yang tampak sedih karena merasa kehilangan ibunya di rumah.
“Mom, Rasty benar,” Arga menyahut, dibantu Nadira, Arga menghampiri ibunya yang masih duduk di atas tempat tidurnya. “Mommy harus istirahat dulu,”
“Mommy sudah mendingan sayang, lagipula ini kan baru gejala, Nadira sudah memberi penanganan yang terbaik untuk mommy,” Rachel berujar lembut kepada Arga, sambil mengelus pelan tangan Arga yang sedang menggenggam sebelah tangannya.
“Tapi mom...,”
“Rapat ini penting bagi mommy, sayang. Dan mommy harus hadir, tenang saja, Irfan selalu setia di samping mommy,” potong Rachel.
“Tidak! Pokoknya mommy istirahat di rumah, tidak boleh ke mana-mana dulu, apalagi ke kantor!” Arga bersikeras menentang keinginan Rachel.
“Sayang, mommy adalah pimpinan sekarang,”
Arga menggeleng, “kalau memang bagi mommy rapat ini penting, biar Arga saja yang ke sana, menghadiri rapat itu. Apa bedanya mommy sama Arga, dulu sebelum buta, akulah presiden direktur,” Arga memberi solusi terbaik menurutnya.
“Sayang, kamu mau kembali ke Rajasa Group?” Rachel begitu terkejut dengan keputusan Arga namun juga khawatir.
“Iya mom,” jawab Arga sambil mengangguk.
“Tapi sayang, kamu yakin?” Rachel seakan tak tega membiarkan anaknya yang sedang sakit (maksudnya buta) harus merepotkan diri mengurus perusahaan turun temurun milik keluarga almarhum suaminya.
“Apa mommy yang tidak yakin sama Arga, karena Arga buta?”
“Bukan sayang. Mommy sangat memahami perasaanmu sayang, sejak kamu buta kamu sendiri yang bilang sama mommy kalau kamu tidak mau lagi berurusan dengan Rajasa Group. Mommy tidak mau membebani kamu dengan kondisimu sekarang sayang,”
“Mom, aku masih bisa mengurus perusahaan walau aku buta. Otakku, pendengaranku, kaki dan juga tanganku masih berfungsi dengan baik. Irfan bisa menjadi mataku saat di kantor,”
“Sayang,” Rachel membelai lembut kepala Arga, tampak terharu melihat Arga mulai menunjukkan semangatnya menjalani hidupnya walau kini ia harus hidup sebagai seorang tuna netra.
“Pokoknya mommy harus istirahat total. Aku akan kembali pada kehidupanku yang dulu. Aku tidak mau mommy terus-terusan sakit karena mengurus perusahaan, sementara aku baik-baik saja, fisikku begitu sehat, hanya mataku saja yang buta,”
“Tapi mama tidak tega kalau mereka meremehkan dan menghina kondisimu sekarang, sayang,” Rachel tak pernah lupa bisik-bisik orang dan juga para bawahannya di kantor saat membicarakan kondisi Arga yang kini buta, hal itu benar-benar menyakiti hatinya sebagai seorang ibu.
“Itu sudah pasti mom, diremehkan dan juga dihina karena aku punya kekurangan, tapi aku akan buktikan pada mereka kalau aku masih seperti yang dulu, bahkan bisa lebih dari yang dulu,”
Rachel segera memeluk Arga penuh kasih sayang, “Semoga sukses sayang, mommy selalu mendoakan kamu. Mommy bahagia sekali dengan keputusan kamu hari ini,” sahut Rachel dengan mata berkaca dan senyuman tulus ke arah Arga, walau anaknya itu tidak bisa melihatnya.
Arga pun tersenyum, senyum yang mengingatkan Nadira dengan senyuman Arga kemarin. Ia pun sama bahagianya melihat apa yang sudah dikatakan dan diputuskan Arga hari ini. Kasih sayangnya kepada ibunya membuatnya benar-benar bangkit dari keterpurukannya yang terus meratapi dan merasa malu karena kondisinya yang buta.
Arga bangkit berdiri dan mencari Nadira, “Nad, tolong bantu aku bersiap-siap,” ujar Arga penuh semangat.
“Iya,” Nadira tersenyum bahagia dan menyambut lengan Arga, menuntunnya keluar dari kamar Rachel menuju ke kamarnya sendiri.
.
.
.
Nadira meletakkan setelan jas yang diambilnya dari lemari pakaian di atas tempat tidur Arga. Hari ini Nadira pun ikut bersemangat karena Arga pun sudah bersemangat menjalani kehidupannya seperti sediakala.
Pintu kamar mandi terbuka, Arga muncul seperti biasa. Bertelanjang dada dengan lilitan handuk di pinggang. Wajah Arga masih basah, rambutnya yang basah tampak acak-acakan namun justru menambah kesan maskulin.
Ya Allah, kenapa aku harus kembali diuji dengan pemandangan seperti ini. Nadira menelan ludahnya dan menatap Arga diam-diam.
“Nad, kamu masih di situ kan?” tanya Arga memastikan.
“I-iya,” jawab Nadira sambil mendekati Arga, “aku sudah siapkan jasmu,”
Nadira memberikan pakaian Arga sambil membelakangi lelaki itu saat melepas lilitan handuknya. Saat berbalik, Nadira sudah melihat Arga dalam balutan kemeja dan celana panjang. Nadira bergegas mengambilkan ikat pinggang, membantu Arga memakainya.
“Tolong pasangkan juga dasiku,” ujar Arga setelah Nadira selesai membantunya memakai ikat pinggang.
“Baik,” Nadira mengambil dasi dan memasangkannya di kerah kemeja Arga. Saat sedang asyik memasang dasi, Nadira mendapati kedua mata coklat Arga yang kosong menyorot ke arahnya. “Kenapa melihat kepadaku?” tanya Nadira agak malu.
Arga tergelak, “kau ini polos atau bodoh, lupa ya kalau aku ini tidak bisa melihat,” Arga sebenarnya sengaja mengarahkan sorot matanya ke arah wajah Nadira, ingin menggoda gadis itu.
Nadira hanya tersipu malu, sepertinya kupingnya sudah terbiasa tiap kali Arga menyebutnya bodoh.
“Nah, sudah selesai,” Nadira bergegas mengambil jas dan membantu Arga memakainya. Ia menuntun Arga duduk di sebuah kursi depan cermin dan menata rambutnya menggunakan gel.
Setelahnya, Nadira mengambilkan sepatu kulit Arga yang mahal dan mengkilap, memakaikannya.
Arga bangkit berdiri saat Nadira bergegas mengambilkan tongkatnya. Nadira begitu terkesima melihat penampilan Arga yang formal dalam balutan setelan jas. Penampilan Arga sungguh luar biasa, kenyataan bahwa dia buta bukanlah hal yang bisa menurunkan nilai pesonanya.
Kenapa dia makin menggoda begini.
“Hey, kau di mana? Sudah dapat tongkatku?” tanya Arga yang merasa agak lama menunggu.
“Iya,” jawab Nadira dan bergegas menghampiri. Meraih tangan Arga dan menyematkan tongkatnya di jemari panjang dan besar itu. “Ayo, aku akan mengantarmu menemui mommy, melihatmu rapi dan tampan begini pasti bisa membuatnya semakin sembuh,” Nadira sangat antusias dengan menggamit lengan Arga.
“Hey, jangan lupa kacamataku. Aku tidak mau terlihat bodoh di depan orang-orang karena mataku tidak bisa melihat mereka,”
“Oh iya,” Nadira membuka sebuah laci di dekat cermin dan mengeluarkan sebuah kacamata hitam. Nadira menghampiri dan segera memakaikan kacamata itu, menutup kedua mata Arga yang buta.
Sial, kenapa dia tampan sekali.
Nadira kembali menggamit lengan Arga, hendak menuntun langkahnya. Namun Arga menahan diri.
“Ada apa?” tanya Nadira bingung. Apa melupakan sesuatu lagi selain kacamata?
Arga melepaskan tangannya dari Nadira dan mengangkat tangan itu ke udara, lalu meletakkannya tepat di atas kepala Nadira yang tertutup hijab.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Nadira agak kikuk. Arga yang meletakkan tangan di kepalanya entah kenapa membawa perasaan yang aneh dan juga mendebarkan bagi Nadira.
“Tolong jaga dan rawat mommy selama dia sakit,” Arga berpesan.
“Tentu saja, di-dia kan ibu mertuaku,” jawab Nadira kikuk. Ia menyesali kenapa begitu sepenuh hati menyebut Rachel sebagai ibu mertua.
Arga kembali tersenyum tulus dan mengucapkan terima kasih.
Dan Nadira semakin tidak bisa menahan perasaannya kali ini.
.
.
.
Kemegahan gedung kantor Rajasa Group sudah bisa menggambarkan bahwa itu adalah sebuah perusahaan multinasional yang besar. Rajasa Group bergerak di bidang properti.
Sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di depan pintu utama gedung Rajasa Group. Arga turun dengan penuh rasa percaya diri, Irfan yang satu mobil dengannya segera berdiri di sisi Arga agar bisa menjadi petunjuk jalan.
Arga mulai melangkah sambil mengayunkan tongkatnya, melangkah pelan menaiki beberapa anak tangga sebelum melewati pintu utama gedung. Arga cukup hafal situasi gedung kantor Rajasa Group, jadi tidak susah baginya untuk beradaptasi.
Sudah pasti semua mata tertuju kepada Arga. Dari yang jabatannya paling kecil sampai yang jabatannya paling tinggi di perusahaan itu. Mereka tidak menyangka, sang presiden direktur kembali bekerja di kantor setelah hampir nyaris sebulan, kepemimpinan dijalankan oleh presiden komisaris, yaitu Rachel, ibunya Arga.
“Selamat pagi, pak Arga. Senang melihat anda kembali bekerja di sini,” Sapa salah satu karyawan wanita yang kebetulan melintas.
Arga hanya tersenyum, ia sama sekali tidak hafal suara setiap karyawannya.
Semua menyapa Arga, bahkan setelah menyapa mereka berbisik-bisik yang menurut Irfan adalah bisikan-bisikan yang tidak baik.
Arga dan Irfan memasuki lift, seperti kebiasaannya Arga tak pernah naik lift khusus menuju ke ruangannya. Ia lebih suka naik lift yang biasa digunakan oleh para karyawannya. Arga terkenal sebagai direktur utama yang ramah dan suka membaur dengan para bawahannya.
Saat lift berjalan melewati beberapa lantai, beberapa orang karyawan menaiki lift sehingga Irfan dan Arga semakin mundur di belakang. Ada karyawan yang cuek bebek saja, mengira bahwa orang yang berada di lift biasa saja, hanya sekelas manajer. Ada juga yang naik lift dan langsung mengenali Arga juga Irfan dan menyapa mereka dengan ramah.
Lift mulai sesak, sebelum Arga sampai di ruangannya di lantai paling atas.
“Tuan, saya sudah bilang lebih baik kita pakai lift khusus, anda tidak mesti berdesakan begini dengan para karyawan, mengingat kondisi anda,” Irfan berbisik pelan, karena tahu pendengaran Arga yang begitu peka.
“Aku tidak apa-apa. Aku memang sengaja, aku ingin membiasakan telingaku dengan suara-suara lain. Aku sekarang sudah kembali bekerja, jadi aku harus siap dengan semua keriuhan ini, aku tidak bisa bekerja kalau berharap setiap jalan yang kelewat harus hening.”
Irfan pun sampai mengantarkan Arga kembali ke ruangannya sebagai direktur utama. Arga sudah duduk nyaman di kursinya sambil bersandar.
“Jam berapa sekarang?” tanya Arga.
“Lima belas menit lagi rapat akan segera dimulai, tuan,” jawab Irfan sambil melirik arlojinya.
“Lima menit sebelum rapat, kita akan segera ke ruangan. Jangan lupa ingatkan aku,”
“Baik tuan,” Irfan mengangguk hormat.
“Keluarlah! Kau boleh kemari jika memanggilku untuk ke ruang rapat. Kau tidak perlu setiap waktu berdiri di situ,”
“Tidak apa-apa tuan, saya di sini saja,” Irfan menolak sopan.
“Keluar saja. Telpon anakmu, telpon istrimu di rumah. Aku butuh waktu sendiri, menguatkan mentalku sebelum menghadapi mereka,” ujar Arga.
“Baik, tuan,” Irfan mengangguk patuh.
Begitu terdengar pintu tertutup, Arga berdiri dari tempatnya. Ia mulai berjalan sambil memakai tongkat, berusaha mengenali kembali ruang kerjanya sebagai direktur utama dalam kondisinya yang buta. Ia menghitung langkah menuju ke sofa, rak buku, meja kerjanya, jendela, kamar kecil dan juga pintu ruangannya.