
“Kenapa kau kembali?” tanya Arga yang dalam posisi membelakangi Niken. Ia menghadap ke jendela kaca di ruang kerjanya, seolah sedang memandang keluar.
Dulu Arga berpikir, jika ia bertemu Niken lagi, ia akan segera bertanya kenapa kau pergi? Tapi sekarang ia justru bertanya kenapa kau kembali?
“Arga, aku mendengar semuanya di telpon, aku hanya ingin meluruskan, kalau akulah yang meminta Nadira untuk tidak memberitahumu kalau aku sudah kembali,” jelas Niken.
“Jadi hanya demi itu, kau jauh-jauh datang kemari?” tanya Arga, dingin.
“Arga, aku ingin meminta maaf padamu,” ucap Niken bersungguh-sungguh.
Arga tersenyum getir.
“Aku yang menyebabkanmu seperti ini,”
“Sudahlah! Aku tidak pernah menyalahkanmu atas apa yang terjadi padaku di malam itu,”
“Aku minta maaf Arga, karena aku pergi meninggalkanmu,” ucap Niken penuh rasa bersalah.
Arga hanya mendesah berat.
“Lagipula sudah jelas, kau pergi karena lebih memilih bersama laki-laki itu,”
Niken tertegun, tak lama kemudian air matanya menetes, perasaannya sedih seketika saat mengingat Desta dan semua kebahagiaannya yang singkat dengan lelaki itu.
“Mungkin ini adalah hukuman buatku,”
Arga tak menyahut. Ia menahan emosinya. Ingin rasanya ia bertanya kenapa gadis itu harus menangis setelah semua yang ia lakukan padanya dulu.
“Aku pergi bersama Desta, karena aku mengandung anaknya. Dan kini, aku kehilangan Desta karena dia sudah meninggal,” tangis Niken semakin pecah, namun ia berusaha menguasai dirinya untuk tetap tenang.
Arga sangat terkejut, jadi Niken selama ini sudah hamil anaknya Desta bahkan sebelum mereka memutuskan untuk pergi bersama dan ia juga terkejut kalau Desta sudah meninggal.
“Ternyata kau mengkhianatiku, aku sudah salah mencintaimu dulu. Kau mempermainkan perasaanku Niken, aku bahkan mati-matian mempertahankanmu di depan ibuku, ternyata aku melakukannya dengan orang yang salah,”
“Arga, aku juga mencintaimu, tapi aku tahu aku telah berbuat kesalahan karena tidak bisa menahan diriku untuk datang dan bertemu Desta,”
“Kau tidak mencintaiku, Niken,” bantah Arga.
“Arga, aku juga sudah berusaha bertahan demi dirimu. Tapi, aku tidak bisa menghadapi sikap ibumu, aku merasa tertekan karenanya, aku sempat ragu dengan pernikahan kita, karena aku takut memikirkan ibumu, dia tidak pernah menyukaiku, aku sempat takut menjadi istrimu Arga. Lalu aku bertemu Desta dan dia menjadi tempat berbagi yang nyaman bagiku, lalu kami melakukan kesalahan hingga aku hamil,” Niken mengakui semua aibnya, meski itu begitu menyiksa batinnya.
“Cukup Niken! Yang jelasnya kau adalah seorang pengkhianat,”
Niken tidak berkata-kata lagi saat Arga mengatainya sebagai seorang pengkhianat. Kata-kata itu begitu menghantam di dadanya.
Arga berbalik badan, Niken menatap mata coklat yang kosong itu penuh rasa bersalah.
“Pulanglah Niken. Tidak ada gunanya aku terus marah padamu, semua sudah terjadi, aku sudah menerima kenyataan kau lebih memilih Desta dibanding aku, dan kalau bukan karena dirimu aku tidak mungkin bisa bersama Nadira,”
“Kau sangat mencintai Nadira?” tanya Niken.
“Aku sangat mencintainya, aku begitu yakin padanya, bahkan ketika aku ragu untuk membuka hatiku kembali setelah apa yang kau lakukan padaku,” Arga mengakui perasaannya.
Niken menyeka air matanya, “aku turut bahagia Arga, kali ini kau tidak salah mencintai seorang perempuan.”
.
.
.
Irfan bangkit berdiri dari meja kerjanya di depan ruangan Arga begitu melihat Nadira datang.
“Apa Niken ada di dalam bersama Arga?” tanya Nadira langsung.
“Iya nona,” jawab Irfan.
“Apa Arga begitu marah, saat tahu Niken datang?” tanya Nadira lagi.
“Saya tidak tahu nona, Tuan Arga segera meminta saya untuk keluar saat tahu Nona Niken datang untuk menemuinya,”
Nadira menghela nafas, seperti Widya, Nadira begitu khawatir dengan keadaan Niken saat ini.
“Duduklah dulu, nona,” Irfan menarik sebuah kursi dan menyilahkan Nadira untuk duduk.
Nadira terus melirik ke arah pintu ruang kerja Arga. Ia bertanya-tanya sedang apa mereka di dalam?
“Niken,” Nadira menghampirinya.
“Nad,”
“Kamu sudah bicara dengan Arga?”
Niken mengangguk, “aku lega Nad, sudah bertemu dan menjelaskan semuanya kepada Arga,”
“Kalau begitu, ayo kita pulang, bibi begitu mengkhawatirkanmu, sejak tadi dia menelponku terus,” ajak Nadira.
“Nad, kamu tidak ingin ketemu Arga?”
“Tidak perlu. Aku akan mengantarmu pulang,”
“Tapi Nad, sungguh aku tidak apa-apa kalau pulang sendiri,”
Nadira menggeleng, “aku akan pulang bersamamu, Ken. Aku sudah berjanji sama bibi,”
Niken pun mengangguk mengiyakan. Keduanya lalu pulang bersama setelah pamit pada Irfan. Mereka memasuki lift, hendak ke lobi gedung. Begitu mereka keluar, mereka berpapasan dengan Rachel yang hendak naik lift khusus bersama seorang asistennya.
Rachel begitu terkejut melihat Nadira dan juga Niken. Apalagi Niken, penampilannya begitu mencolok dengan perut yang membesar.
Niken berusaha menenangkan dirinya ketika pertemuan dengan Rachel tak bisa dihindari. Nadira terus memegangi tangan Niken begitu Rachel melangkah mendekat dengan sorot mata yang tak bisa ditebak.
“Coba lihat siapa yang datang,” ujar Rachel dan tak lepas menatap Niken.
“A-apa kabar, mom?” sapa Niken.
“Ternyata kau sudah cukup lama pergi, perutnya sudah sebesar itu,” Rachel menatap perut Niken yang membesar.
Rachel lalu menatap bergantian kedua wanita bersepupu itu, dengan sorot datar.
“Jangan bilang kalian habis menemui Arga,”
“Iya mom, aku sudah bertemu dengan Arga,” sahut Niken. Nadira hanya diam saja, entah kenapa hari ini ia benar-benar takut melihat Rachel.
Rachel tergelak, “Kau masih berani memanggilku mom, setelah kau pergi dan meninggalkan Arga,”
Kedua wanita itu hanya diam. Niken berusaha menguatkan mentalnya menghadapi Rachel. Mau tidak mau ia harus tetap menghadap semua ini.
“Nyonya, aku minta maaf karena sudah meninggalkan Arga dan membuatmu marah,” ucap Niken.
Rachel hanya tersenyum sinis dan membuang pandangan. “Niken, Niken, apa kau sadar, kau sudah membuat banyak orang begitu marah dan kecewa padamu. Sampai aku harus melibatkan sepupumu sendiri untuk menanggung semua perbuatanmu,”
Niken tak bisa berkata-kata, Rachel mulai mengintimidasinya.
“Dan aku belum bisa memaafkanmu sebagai penyebab putraku menjadi buta,” Rachel menyorot marah.
Niken masih tidak bisa berkata-kata.
“Kau lihat anakku sekarang? Dia masih sama seperti saat terakhir kau meninggalkannya, dia belum bisa melihat sama sekali. Dan hari ini kau kembali lalu meminta maaf, apa itu akan merubah keadaan?” Rachel menarik kasar cardigan rajut yang dikenakan Niken.
“Kau yang menyebabkan dia buta dan kau juga yang meninggalkan dia karena buta,” Rachel begitu marah dan kesal, ia tidak peduli meski orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka jadi berhenti dan menatap ketiganya penuh rasa penasaran.
“Nyonya, mohon tenangkan diri anda,” sahut sang asisten di belakang Rachel, tapi ia tidak menggubrisnya.
“Maafkan aku,” isak Niken.
“Mom, sudah! Tidak ada gunanya mommy tetap marah, semua sudah terjadi. Niken pun sudah berbesar hati meminta maaf kepada Arga dan juga anda,” Nadira berusaha melunakkan amarah Rachel, ia menyentuh tangan Rachel yang masih mencengkram cardigan Niken.
Rachel menatap sejenak kepada Nadira lalu melepaskan kedua tangannya dari cardigan Niken. “Aku tidak pernah mengharapkan kalian berdua di hati putraku,”
Rachel menghela nafas sejenak.
“Nadira, kau seharusnya tidak terlibat di sini. Tapi, kau juga sudah bertindak lebih jauh dengan merebut hatinya Arga,” Rachel berujar kecewa sambil menatap Nadira.
Nadira tak bisa berkata-kata.
“Mulai dari sekarang, jangan pernah mengganggu dan muncul di hidupnya Arga lagi,” ucap Rachel kepada Niken dengan sorot dingin dan angkuh.
Ia lalu melenggang masuk ke dalam lift bersama asistennya. Sementara Nadira dan Niken tampak saling menguatkan.