
Nadira tengah duduk di meja kerja Arga setelah membereskan sedikit mejanya. Ia sedang duduk menunggu di dalam ruang kerja Arga. Sementara Arga dan Irfan beberapa menit yang lalu meninggalkan ruangan untuk mengikuti rapat.
Nadira mengambil sebuah pigura yang membingkai foto keluarga Arga. Dalam foto itu Arga masih berusia belasan dan Rasty masih kanak-kanak, ayah dan ibunya juga masih tampak lebih muda.
Nadira tersenyum menatap foto keluarga itu. Ia tahu Arga adalah sosok yang begitu peduli dan sayang pada keluarganya.
Di antara tumpukan buku dan dokumen kerja Arga, Nadira menemukan sebuah judul buku yaitu Men Without Women karya Ernest Hemingway. Nadira membuka-buka buku itu, tidak niat membacanya, karena buku itu bukan buku terjemahan. Nadira mendapati selembar kertasnya di lipat di halaman tertentu, ia berpikir itu adalah tanda baca yang di buat Arga. Nadira segera mengambil pena dan menulis sesuatu di pinggir kertas buku itu sambil tersenyum.
.
.
.
Setelah rapat selesai, Arga tak sabar ingin segera kembali ke ruangannya. Saat pintu di buka, Irfan berbisik kepadanya kalau Nadira saat ini sedang tertidur di sofa.
Irfan lalu keluar dan menutup pintu ruangan. Arga berjalan menuju sofa sambil memakai tongkatnya. Begitu sampai di sofa, ia segera meraba untuk menemukan Nadira. Gadis itu tidak terusik dalam tidurnya saat tangan Arga menyentuhnya.
“Apa yang kau lakukan di rumah pamanmu? Apa tidurmu tidak cukup?” Arga bergumam.
Saat itu Nadira segera terbangun dari tidurnya.
“Arga, maaf aku malah tidur di sini,” Nadira segera mengubah posisi untuk duduk. Ia lalu menuntun Arga duduk di sampingnya.
“Kau bosan ya menunggu di sini?” tanya Arga.
“Tidak juga. Ruanganmu ini terlalu nyaman, jadi bikin aku mengantuk,”
“Aku jadi mengganggu tidurmu,”
“Tidak, tidak. Lagipula ini juga sudah siang,” Nadira melirik arlojinya.
“Kalau begitu kita makan siang dulu.”
.
.
.
Keduanya kembali menjadi pusat perhatian ketika mereka berjalan bersama sambil bergandengan tangan menuju ke kantin gedung Rajasa Group. Irfan tetap setia mengikut mereka di belakang. Rio yang kebetulan melintas melihat keduanya, ia bisa membaca raut bahagia di muka Arga. Ia tak habis pikir Arga begitu biasa saja padahal kemarin ia baru saja gagal menjalankan operasi kornea mata.
Nadira menyuap Arga makan siang. Mereka tidak memesan menu makanan dalam dua porsi, Mereka hanya memesan menu untuk satu porsi. Mereka begitu romantis, makan sepiring berdua. Nadira sejujurnya agak malu melakukan itu di depan umum, melihat Arga begitu bahagia ia pun memilih acuh saja dengan pandangan orang-orang.
.
.
.
Sebelum pulang ke rumah, Arga mengajak Nadira mengunjungi makam almarhum ayahnya. Keduanya sedang bersimpuh di depan makam bertuliskan nama Adrian Rajasa.
“Apa kabar pa? Maaf akhir-akhir ini aku jarang menemui papa lagi,” Arga lalu memegang tangan Nadira yang bersimpuh di sampingnya.
“Pa, aku ke sini membawa istriku, Nadira. Aku yakin papa pasti bahagia dan akan merestui kami,” Arga berujar sambil mengelus nama ayahnya yang tertulis di batu nisan.
.
.
.
Begitu sampai di rumah, Nadira segera menguatkan mentalnya untuk menghadapi Rachel. Begitu mereka terlihat, ekspresi Rachel sudah bisa ditebak oleh Nadira. Kedua matanya menatap tajam pada tangan Arga dan Nadira yang saling bergenggaman. Rasty yang juga melihatnya saat itu, justru tersenyum senang melihat kakak dan kakak iparnya semakin hari begitu dekat dan mesra.
“Kau sudah pulang sayang, bagaimana pekerjaanmu hari ini?” Rachel segera mengecup pipi Arga, ia mengabaikan Nadira dan terus memandangi tangan Arga yang tak ingin lepas dari Nadira.
“Lancar mom, dan aku begitu semangat,” Arga mengungkapkan.
Rachel diam saja, menatap keduanya tak habis pikir apa yang telah terjadi antara Arga dan Nadira. Nadira hanya bisa diam, sejujurnya ia cukup takut juga melihat ekspresi dan sorot mata Rachel. Andainya Arga bisa melihat semua itu, ia pasti sadar kalau tatapan Rachel kepada Nadira sungguh mengintimidasinya.
“Mommy, aku ingin membicarakan soal kontrak pernikahan,”
Rachel menautkan alisnya.
“Ada apa dengan kontrak pernikahan? Kau mau kontrak itu dihilangkan saja?” Rachel sudah bisa menebak keinginan Arga.
“Mom, aku mencintai Nadira. Aku tidak berniat menceraikannya suatu hari nanti. Aku mohon kontrak itu dibatalkan saja,” Arga mengakui perasaannya.
Rasty yang ada di situ tersenyum senang dan merasa terharu melihat kesungguhan kakaknya dalam mengungkapkan secara langsung perasaannya kepada Nadira di depan ibu mereka.
“Arga, kamu pernah seperti ini sebelumnya, saat kamu meminta restu untuk menikahi Niken, dan setelah mommy memberikan restu, apa yang dilakukan Niken terhadapmu setelah kamu buta? Dia pergi. Dan sekarang kamu juga melakukan hal yang sama,” ucap Rachel, “tapi dengan sepupunya Niken,” Rachel menekankan.
Nadira tak bisa berkata-kata dia hanya diam saja di samping Arga sambil terus berpegangan tangan.
“Tapi perasaanku ke Nadira juga bukan main-main mom,” Arga menyangga.
Rachel tak tahu harus berkata apa lagi. Baginya tidak. Ia takkan semudah itu memberikan restunya bagi Arga dan Nadira.
“Kontrak pernikahan itu adalah peraturan yang harus tetap dijalankan karena telah kalian sepakati di awal,” Rachel menekankan.
“Kalau mommy tetap dengan pendirian mommy mengenai kontrak itu, maka aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku tetap dengan pendirianku untuk tidak menceraikan Nadira,”
Rachel tak sanggup berkata-kata lagi. Ia hanya menyorot Nadira dengan raut tak suka. Nadira berusaha tetap tenang. Arga segera memintanya untuk menuntunnya ke kamar.
Setelah berpamitan, keduanya meninggalkan Rachel dan Rasty di ruang keluarga. Rasty mengamati raut wajah ibunya yang tampak cemas. Sejak hari itu Rasty tahu kalau ternyata ibunya tidak merestui hubungan Arga dan Nadira.
Begitu mereka sampai di kamar, Nadira membantu Arga melepaskan setelan kantornya.
“Apa kau ingin mandi? Aku akan menyiapkan air,” Nadira menawari dengan senang hati.
Arga tersenyum dan mengangguk, “iya istriku,”
Nadira meninggalkan Arga dan bergegas masuk ke kamar mandi menyiapkan air hangat di bathtub. Ia membawakan handuk begitu keluar dari kamar mandi dan menemui Arga.
Nadira tidak bersikap malu-malu lagi ketika melihat Arga buka-bukaan di depan matanya. Ia justru merasa bahagia melihat sosok Arga yang nyaris sempurna itu.
Nadira lalu menuntun Arga menuju kamar mandi. Ia tidak keberatan untuk membantu Arga mandi, walaupun sejujurnya Arga cukup bisa melakukannya sendiri dalam kondisinya yang terbatas, namun Nadira merasa perlu untuk mengurus Arga, karena lelaki itu adalah suaminya dan sudah tugasnya untuk melayani dan membantunya di tengah kondisinya yang tidak bisa melihat.
Arga tersipu malu ketika ia sudah berendam di bathtub dan Nadira membantunya menggosok badannya.
“Aku merasa kau sedang memandikan seorang anak kecil,”
“Anggap saja begitu, hitung-hitung latihan sebelum punya anak sendiri,” Nadira menjawab santai sambil tetap fokus menggosok punggung Arga yang putih.
“Kau ingin segera memiliki anak?” tanya Arga sambil menoleh tersenyum kepada Nadira.
“Eh, uhm,” Nadira tersipu malu.
“Aku ingin punya banyak anak darimu,” sahut Arga penuh semangat.
“Memangnya kau ingin punya anak berapa?” tanya Nadira iseng.
“Lebih banyak lebih baik,”
Nadira hanya tersenyum dan mulai berkhayal sendiri ketika ia dan Arga memiliki anak di masa depan.
“Baiklah sayangku, kau sudah selesai,” ucap Nadira setelah membantu Arga berpakaian sehabis mandi. “Aku akan kembali ke kamarku,”
“Tidak!” Arga menahannya.
“Jangan kembali ke kamarmu. Mulai malam ini, di sini adalah kamarmu juga dan mulai malam ini kau akan tidur di sini denganku,”
“Tapi...,”
“Nad, kita ini suami istri. Mulai hari ini kita memulai segalanya dari awal.”
.
.
.
Nadira pun selesai mandi dan berpakaian di kamar Arga. Rambut panjangnya masih agak basah dan ia biarkan saja tergerai asal-asalan.
Nadira segera menghampiri Arga yang sedang duduk menunggunya di sofa.
“Aku sudah selesai,” Nadira segera duduk di samping Arga dan bersandar di bahunya. Ia masih memikirkan Rachel.
Arga menyentuh dan memainkan rambutnya yang panjang.
“Arga, apa kita bisa melalui semua ini tanpa restu dari mommy?” Nadira tiba-tiba bertanya dengan perasaan gundah. Ia tak pernah lupa bagaimana tatapan Rachel tadi kepadanya, begitu tajam dan menusuk.
Arga menyentuh wajah Nadira dan seolah sedang menatapnya dengan sorot tenang, “jadi kau takut menjalani semua ini tanpa restu dari mommy?”
“Arga, aku takut kehilanganmu setelah apa yang sudah kita nyatakan dan lakukan hari ini,” Nadira terdengar begitu cemas dan takut.
Arga tersenyum tenang. “Tidak usah terlalu memikirkan mommy, kita hanya perlu terus membujuknya tanpa bosan, sampai ia luluh dan memberikan restunya,”
Tanpa sadar, Nadira menitikkan air matanya lalu segera memeluk Arga. “Aku benar-benar takut kehilanganmu Arga, setelah semua kebahagiaan ini,” bisiknya.
“Nad, setelah semua yang telah kita lalui, seharusnya kau yakin kita memang ditakdirkan bersama. Tidak perlu memikirkan bagaimana mommy, aku yakin mommy pasti akan lebih mementingkan kebahagiaanku, dan kebahagiaanku adalah bersama kamu Nad,” ucap Arga yang balas memeluk Nadira begitu eratnya. Mereka merasa saling takut kehilangan.
“Aku sangat mencintaimu Arga,” bisik Nadira lagi.
“Aku juga sangat mencintaimu Nad,” Arga melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata Nadira. Setelah itu mereka berciuman kembali.