
Rachel menarik nafas dalam-dalam sebelum ia turun dari mobilnya. Irfan sudah berdiri di samping, membukakan pintu untuknya. Rachel segera turun dari mobilnya dan menatap kediaman Herman. Rachel dan Irfan segera disambut oleh seorang pelayan yang menuntun keduanya ke taman belakang rumah, di mana semua anggota keluarga berkumpul di sana menikmati senja.
Widya sedang menyiram-nyiram tanaman tulipnya yang tumbuh mekar. Azka sedang digendong oleh seorang pengasuh yang berdiri tak jauh dari Widya. Sementara Herman, Arga dan juga Nadira sedang duduk-duduk bersama sambil menikmati secangkir teh.
Ketiganya terkejut oleh kedatangan pelayan bersama Rachel dan Irfan yang mengekor di belakangnya.
"Mommy," Arga sontak berdiri menatap begitu kaget kepada sang ibu.
"Selamat sore pak Herman, maaf kalau tiba-tiba saya datang kemari tanpa memberitahu dulu," ujar Rachel yang langsung menyapa Herman. Semua bisa melihat raut wajah Rachel yang lebih tenang sambil menyunggingkan senyuman dan juga sesekali masih tampak canggung.
Widya segera menghentikan aktivitasnya menyiram tanamannya, ia bergegas menghampiri Herman.
"Selamat datang, nyonya Rachel, silahkan anda duduk," Herman pun segera menyambut Rachel dan menyilahkan wanita anggun paruh baya itu untuk duduk bergabung dengan Arga dan juga Nadira.
Rachel dan Irfan kemudian ikut bergabung, duduk bersama kedua orang tua Niken juga bersama anak dan menantunya, Arga dan Nadira.
Arga bisa melihat perubahan drastis dari ibunya. Wanita itu kini sudah tidak penuh amarah lagi, ia tampak lebih tenang.
Suasana tiba-tiba hening, tidak ada yang tahu hendak mulai dari mana untuk berbicara. Widya hanya menatap dalam ke arah Rachel dengan ekspresi wajah yang datar.
"Saya secara pribadi datang ke sini untuk mengucapkan duka cita yang mendalam atas kematian Niken," ucap Rachel memulai. "Saya benar-benar tidak mendapat kabar soal kematiannya," Rachel tampak kecewa dan juga sedih.
Herman dan Widya hanya terdiam, mereka juga kembali berkabung dengan kesedihannya atas kematian Niken yang tiba-tiba.
Rachel lalu menatap Arga dan Nadira secara bergantian. Sekilas tadi ia melihat bagaimana Arga tersenyum ke arah Nadira begitu hangat.
"Saya sangat menyesal atas apa yang terjadi kepada Niken. Gadis itu...," Rachel serasa tercekat untuk melanjutkan kata-katanya, kedua netra coklatnya mulai berkaca-kaca menatap dengan berani kedua sosok orang tua Niken. "Gadis itu benar-benar mulia, aku telah salah menilainya. Apalagi dia telah mendonorkan korneanya untuk Arga, aku sangat berterima kasih, semoga ini tidak terlambat," air mata Rachel pun menetes pelan, ia membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah sapu tangan untuk menghapus air matanya.
"Terima kasih atas kedatangan dan juga ucapan duka cita anda untuk mendiang putri kami," ucap Herman tampak legowo.
"Saya menyesal tidak mengetahui kenyataan ini begitu cepat, tapi baru sekarang," lanjut Rachel masih tampak sedih.
"Tidak perlu merasa bersalah nyonya, sebenarnya ini wasiat Niken untuk tidak memberitahukan anda ataupun Arga soal donor itu. Tapi pada akhirnya semua terungkap sendiri. Niken hanya ingin Arga bahagia bersama Nadira jika bisa melihat kembali,"
Arga mendapati Nadira juga menangis lirih di sampingnya, ia segera menghapus titik air mata Nadira sambil menatapnya dengan senyuman yang lembut.
"Apa tujuan anda datang kemari nyonya?" Widya tiba-tiba angkat bicara dengan sorot dan tatapan yang dingin kepada Rachel.
"Mama...," sahut Herman sambil menyentuh pundak istrinya.
"Mau berterima kasih atas kebaikan Niken yang memberikan korneanya untuk Arga? Mau berterima kasih karena Arga mendapatkan kebahagiaannya kembali bersama Nadira setelah dia ditinggalkan oleh Niken?" Widya melanjutkan kata-katanya sambil tak lepas menatap Rachel seolah sedang menyudutkan wanita itu. Merasa semua permintaan maafnya, sama sekali tidak ada gunanya, sudah terlambat.
Arga tak bisa berbuat apa-apa saat melihat Widya mencurahkan seluruh emosi jiwanya kepada ibunya. Perasaan ibu Niken begitu sensitif sejak kematian Niken.
"Aku tahu ini memang terlambat, aku hanya ingin menyampaikan permintaan maaf karena telah banyak melakukan kesalahan padanya," ucap Rachel sambil menengadahkan wajahnya takut air matanya kembali mengalir deras mengingat semua kesalahan juga dosa-dosanya kepada Niken.
"Memang Niken sudah berbuat kesalahan apa sampai anda begitu membencinya? Dia gadis yang baik, dia cantik, dan Arga sangat mencintainya tapi kenapa anda belum bisa sepenuh hati menerimanya sebagai calon menantumu? Dia berusaha bertahan demi cintanya kepada Arga tapi kau terus menekannya, hingga dia jadi ragu untuk melanjutkan rencana pernikahannya dengan Arga. Anda membencinya karena selalu menganggap dia penyebab Arga menjadi buta? Kecelakaan yang menimpa Arga itu sepenuhnya bukan kesalahan Niken, itu sudah menjadi suratan Arga atas kecelakaan yang menimpanya sampai membuatnya buta. Tapi kenapa kau selalu menyalahkan putriku!" Widya terisak.
Rachel tak mampu berkata-kata. Ia hanya diam menerima semua ledakan emosi Widya padanya.
"Tidak hanya itu. Semua menyalahkan Niken setelah dia pergi, kau bahkan menganggapnya seorang pengecut yang pergi meninggalkan Arga setelah dia buta. Padahal Niken pergi karena dia sudah terlanjur hamil anak laki-laki lain, daripada melanjutkan pernikahan dan membuat kau dan Arga menjadi malu karena dia hamil duluan ditambah dengan rasa bersalahnya karena menjadi penyebab Arga yang buta. Dia memilih pergi tanpa kabar tanpa tahu bagaimana harus menjelaskan semuanya. Dia hanya takut kau dan Arga marah padanya. Lalu dengan gampangnya kau meminta Nadira untuk bertanggung jawab atas semua perbuatan Niken, kau memintanya menikahi Arga supaya nama baik dan kehormatanmu terselamatkan setelah kepergian Niken. Saat anakmu mulai menemukan kembali kebahagiaannya, kau malah ingin memisahkan mereka. Sebenarnya apa yang kau inginkan nyonya Rachel, kenapa kau begitu membenci semua putriku, apa kesalahan mereka padamu,"
"Lihatlah Niken sudah menanggung semua dosa-dosanya, laki-laki yang dia cintai meninggal sebelum anaknya lahir, lalu dia pun pergi menyusulnya, meninggalkan Azka yang terlahir tanpa sosok kedua orang tuanya,"
Rachel menatap ke arah Azka yang mulai gelisah digendong oleh pengasuhnya. Sepertinya aura ketegangan yang tercipta turut dirasakan juga oleh bayi mungil itu.
"Kalau Niken, tidak meninggal, mungkin Arga akan buta selamanya dan kau juga akan membenci Nikenku selamanya. Asal anda tahu, jika tidak saling mencintai, aku tidak sudi merestui hubungan Nadira dan juga Arga, aku tidak mau Nadira bernasib sama seperti Niken," Widya segera bangkit dan beranjak mengambil Azka dari sang pengasuh dan segera menggendongnya, membawanya masuk ke dalam rumah.
Semua hanya diam, hanya terdengar tangisan Nadira yang segera dirangkul oleh Herman, lelaki paruh baya itu juga tanpa terasa menitikkan air matanya. Arga bangkit lalu mendekati ibunya.
"Mommy," Arga memeluk ibunya, ia bersyukur setidaknya Rachel sudah berani mengunjungi langsung kedua orang tua Niken untuk menyampaikan rasa duka dan permintaan maaf. Memang bukan hal yang mudah, apalagi saat ibu Niken begitu menyudutkannya.
Herman segera menyusul Widya masuk ke dalam rumah. Setelah merasa lebih tenang, Rachel memandangi Arga dan juga Nadira bergantian.
"Bukan hanya untuk minta maaf, mommy ke sini ingin menjemput kalian. Pulanglah ke rumah bersama Nadira," Rachel tersenyum sekilas ke arah Nadira.
Arga segera menemui Nadira, lalu menggenggam tangannya dan mengajaknya menemui Rachel.
"Nadira, mommy minta maaf ya sama kamu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, anak ini sudah bertekuk lutut padamu. Aku sudah merestui kalian, pulanglah ke rumah, mommy sendirian di rumah apalagi Rasty sudah kembali ke Amerika,"
Nadira tak bisa menyembunyikan kegembiraannya, akhirnya ia mendapatkan restu dari Rachel,tidak ada lagi hal yang akan membebani pikirannya.
"Terima kasih mom," ucap Nadira yang kembali berkaca-kaca.
Rachel menatapnya dalam. "Aku mempercayakan kebahagiaan Arga kepadamu,"
"Aku akan membahagiakannya, mom," ucap Nadira tak bisa membendung air matanya.
Rachel lalu mendekap menantunya, walau masih terasa agak canggung baginya. Ia sejujurnya merasa malu datang menemui keduanya atas sikap dan amarahnya saat itu.
"Mom, terima kasih," Arga pun tak kalah senang dan bahagia, ia juga sampai menitikkan air mata.
"Mommy tidak menyangka kamu menangis saking bahagianya," ucapnya setelah memeluk Nadira.
"Aku sangat mencintai Nadira ma," aku Arga.
"Iya mommy sadar, kamu sangat bucin padanya,"
Arga menyeringai, "siapa yang memberitahu mommy?" Arga heran kenapa semua orang mengatainya bucin, termasuk ibunya juga.
"Rasty yang bilang ke mommy kalau kamu sangat bucin sama Nadira," jelas Rachel.
Nadira tersenyum malu-malu menatap Arga.
"Dan juga selamat atas kehamilanmu. Aku tidak sabar untuk segera menimang cucuku," sahut Rachel yang tersenyum hangat kepada Nadira. Nadira jadi terharu, hal yang sangat ingin ia dapatkan dari Rachel adalah tatapan hangatnya.
"Loh, mommy tahu dari mana? Kami belum memberitahumu," ujar Arga menatap Nadira kebingungan.
"Mommy lihat kalian kemarin waktu ke klinik bersalin," jelas Rachel. "Mommy juga lihat saat kamu mengantri untuk beli somay," Rachel tak mampu menyembunyikan tawanya.
Arga dan Nadira tersenyum malu-malu pada Rachel.