
Nadira kembali ketika Arga dan yang lainnya sudah meninggalkan kamar VIP yang tadi di tempatinya. Ada rasa sesak di dadanya saat menatap ke dalam kamar yang kosong itu. Ia masih tak percaya kalau hari ini semua rencana dan harapan agar Arga bisa melihat kembali telah hilang begitu saja. Nadira segera menutup kembali pintu kamar dan ketika membalik badan ia sudah melihat dokter Mirza berdiri memandang tak jauh darinya dengan sorot penuh kekhawatiran. Ia pun tersenyum saat Nadira menatapnya.
“Dokter,” sapa Nadira sambil membalas senyuman itu, meski tampak lesu.
“Aku sudah mendengar semuanya dari dokter Aslan,” ujarnya saat menghampiri Nadira.
Nadira hanya manggut-manggut berusaha tegar dan tetap optimis.
“Aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan, Nad,”
“Terima kasih dokter, kami semua begitu sedih atas kejadian hari ini, dia baru saja kehilangan kesempatan untuk bisa melihat lagi,” Nadira kembali terisak sedih sambil menyeka air matanya dengan punggung tangan.
Dokter Mirza menatapnya prihatin, ia kemudian mengeluarkan selembar sapu tangan dari saku jas putihnya dan menyodorkannya kepada Nadira agar menggunakan sapu tangan itu untuk menghapus air matanya.
Nadira menerimanya dan segera menghapus air matanya dengan sapu tangan pemberian dokter Mirza. “Terima kasih,” gumamnya.
“Manusia memang hanya bisa berencana, dan penentu dari segalanya hanyalah Allah semata. Saat rencana tak sesuai dengan harapan, manusia harus tetap percaya bahwa apa yang terjadi hari ini adalah yang terbaik. Suatu hari, suamimu pasti bisa melihat lagi, sebagai istrinya kamu harus tetap optimis dan terus mendukungnya memberinya semangat. Dokter Nadira ini sangat luar biasa menjadi istri dari Tuan Arga,”
Nadira hanya tersenyum mendengar kalimat-kalimat penyemangat dari dokter Mirza.
.
.
.
Rio tertawa terbahak di ruang kerjanya setelah menutup sebuah telpon dari seseorang. Ia sedang duduk bersandar di kursi kebesarannya sebagai komisaris.
“Sayang sekali aku tidak pura-pura datang menjengukmu sepupuku. Seandainya saja aku datang, aku pasti akan melihat langsung bagaimana raut sedih kau dan ibumu saat tahu rencana operasimu harus gagal karena ulahku,”
Rio tersenyum puas dan merasa senang atas kesedihan yang menimpa Arga dan keluarganya hari ini.
.
.
.
Rachel masih belum bisa melupakan kesedihan dan kekecewaannya hari ini atas gagalnya operasi Arga. Dia adalah orang yang paling terpukul di sini. Rasty terus bersamanya, menemaninya mengunjungi sebuah pemakaman, makam almarhum papanya.
Rachel menumpahkan tangisnya saat bersimpuh di depan makam suaminya sambil membelai lembut ukiran nama suaminya di batu nisan, Adrian Rajasa.
“Mom,” panggil Rasty dengan lembut, ia sedang bersimpuh di sisi sang ibu sambil menatap sedih nisan bertuliskan nama papanya.
Rachel masih menangis bersedih, “Sayang, kamu pasti mengerti bagaimana sedihnya aku hari ini. Anak yang paling kamu banggakan, hari ini gagal mendapatkan donor kornea mata agar bisa melihat kembali. Sampai kapan Arga seperti ini terus,” Rachel makin terisak saat berbicara menatap nisan bertuliskan nama suaminya.
“Mommy, sudah!” sahut Rasty juga sama sedihnya, kini air matanya pun mulai menggenang di pelupuk mata.
“Setiap hari aku tidak pernah berhenti memikirkan Arga, kesedihanku dengan kondisinya sekarang tidak pernah bisa hilang. Tapi aku berusaha untuk tetap kuat demi anak-anak kita,” Rachel segera mendekap Rasty sambil terus menangis.
“Papa,” Rasty pun turut menangis mengenang sang papa semasa hidupnya.
Dulu mereka adalah keluarga yang harmonis semasa ayahnya masih hidup, tapi sejak surat wasiat sang kakek berubah dan nama ayahnya tercatat sebagai pewaris Rajasa Group, jalan hidup semua anggota keluarganya berubah. Ayah yang selalu hangat, punya waktu dengan keluarga, kini berubah begitu sibuk, apalagi waktunya banyak tersisa untuk meladeni pertikaian dengan pamannya yang seharusnya dialah pewaris Rajasa Group sebagai anak pertama.
Ibu yang penyayang dan lembut, kini tak pernah lagi memasakkan makanan kesukaannya sejak ia mempekerjakan pembantu dan sibuk mendukung suaminya untuk tetap mempertahankan Rajasa Group sesuai dengan surat wasiat terakhir.
Kakak yang sering menemaninya bermain dan suka usil kepadanya, kini sibuk ditempa dan dididik sebagai calon pewaris berikutnya.
Semua keadaan berubah karena Rajasa Group. Hanya Rasty saja satu-satunya dalam keluarganya yang bisa memilih untuk tidak terlibat dan tidak mau peduli bagaimana nasib kerajaan bisnis turun temurun milik keluarganya.
Rasty ingat saat usianya masih sepuluh tahun, ia menangis-menangis dan marah-marah sambil membanting pintu kamarnya dan menghamburkan isi kamarnya, hanya karena kedua orang tuanya tidak memberinya kejutan spesial di hari ulang tahunnya, hanya menitipkan kado lewat bu Ruly dan meminta bu Ruly mengadakan pesta untuknya dan mengundang teman-teman sekolahnya untuk hadir di rumah merayakan ulang tahunnya.
Hanya kakaknya Arga yang menemaninya saat itu, saat itu Arga baru naik kelas tiga SMA dan usianya masih tujuh belas tahun.
“Ras! Rasty!” Arga mengejar adiknya di belakang yang pergi begitu saja meninggalkan keriuhan pesta ulang tahunnya.
Rasty berlari-lari menaiki anak tangga dan langsung membanting pintu begitu masuk ke kamarnya. Arga menyusulnya di belakang dan mendengar dari balik pintu kamar kalau adik kecilnya itu begitu marah sampai membanting barang-barangnya di kamar.
“Rasty! Dek, buka pintunya, biar kak Arga masuk!” bujuk Arga sambil mengetuk pintu dari luar.
“Mama sama papa jahat, kak!!” teriak Rasty dari dalam.
Arga hanya diam, memberi waktu bagi Rasty untuk meluapkan amarah dan kecewanya. Rasty menoleh ke pintu saat menyadari tidak ada lagi suara Arga dari balik pintu.
“Kak! Kak Arga!” panggil Rasty.
Tidak ada sahutan.
Rasty mendengus sebal, lalu berbalik badan masuk ke kamarnya dan duduk di tempat tidur sambil menyeka air matanya.
Arga tahu, Rasty senang diperhatikan, yang dilakukannya tadi adalah salah satu cara agar adik kecilnya itu mau membukakan pintu kamar tanpa dia harus memaksa membuka apalagi sampai harus mendobrak.
“Wah, hebat kamu. Belajar dari mana sih sampai bisa acak-acak kamar kayak gini,” Arga melangkah masuk sambil memandangi setiap sudut kamar Rasty yang berantakan. Bonekanya menghambur di mana-mana.
“Bodoh amat!” Rasty merengut tak mau peduli, ia membuang muka dan melipat kedua tangan di depan dada.
Arga menghampirinya dan segera mencubit gemas hidung mungilnya. “Kamu ya, ngambeknya nurun dari siapa sih, mommy aja tidak pernah ngambek kayak gitu di depan papa,”
“Auw kak, sakit!” rintih Rasty sambil menepis tangan Arga agar lepas menjepit hidungnya.
Arga hanya terkekeh, Rasty masih tampak ngambek.
Arga lalu duduk di samping adiknya.
“Dek, kakak tahu kamu marah sama mommy dan papa. Dulu mereka selalu merayakan ulang tahunmu di rumah, tapi sekarang semuanya berbeda,”
“Iya kak, mommy sama papa sudah berubah,” Rasty tampak kesal dan sedih.
“Kamu benar, mereka sudah berubah sejak papa jadi pewaris bisnis keluarga. Tapi kak Arga yakin, dan kamu juga harus yakin kalau kasih sayang mereka tidak pernah berubah untuk kita. Mama sama papa ingat dengan hari ulang tahunmu, mereka sudah menyiapkan kado dan juga jauh-jauh hari meminta bu Ruly menyiapkan pesta terbaik untukmu,”
“Aku marah kak mereka tidak ada di sini,” Rasty kembali menangis.
“Kak Arga mengerti perasaanmu dek. Keadaan tidak bisa sama selamanya, pasti akan ada yang berubah. Tapi kamu harus yakin, papa sama mommy tidak pernah berubah apalagi berkurang dalam menyayangi kamu. Lagipula hari ini kan ada kak Arga, masa kamu tidak bisa menghargai kakak yang ada di sini untuk kamu,”
Rasty menatap Arga penuh rasa sayang, air matanya luruh kembali dan gadis kecil itu segera memeluk kakaknya, dan hatinya perlahan sudah merasa lebih tenang.
Arga balas memeluknya sambil membetulkan tatanan rambut Rasty yang agak berantakan.
“Kak, bukannya hari ini kak Arga mau ikut seleksi tim basket tingkat provinsi?” Rasty teringat sesuatu lalu melepaskan pelukannya.
Arga hanya mengangkat kedua tangannya sambil tersenyum penuh makna.
“Apa karena aku ulang tahun, kak Arga tidak datang?” tanya Rasty tak enak hati.
“Bukan. Kakak tidak bisa melanjutkan seleksinya lagi, karena kamu tahu kan kak Arga nanti akan seperti papa, sibuk kerja di kantor, keluar kota, keluar negeri untuk urusan bisnis,”
“Sayang sekali kak,” Rasty menyorot kecewa.
“Yah mau bagaimana lagi cuma kak Arga yang bisa. Masa kamu,” Arga terkekeh.
“Aku tidak mau! Aku tidak mau jadi seperti papa sekarang, pokoknya aku tidak mau,” Rasty menggeleng kuat.
“Iya dek. Kamu harus tetap jadi diri kamu sendiri, kejar semua impian dan cita-cita kamu. Biar kak Arga yang meneruskan mengelola bisnis keluarga,” Arga berpesan sambil mengelus lembut kepala Rasty.
“Kenapa kak Arga mau berkorban mengubur cita-cita kakak jadi pemain basket?” tanya Rasty menatap sedih.
“Kakak tidak pernah merasa berkorban dek. Itu sudah kewajiban kak Arga sebagai anak pertama yang suatu hari nanti akan menggantikan posisi papa di perusahaan,” Arga memberikan jawaban yang bijak sambil tersenyum legowo.
Rasty menatap sang kakak begitu dalam, ia kembali menghambur memeluknya sambil berkata, “aku sayang banget sama kak Arga,”
“Ya sudah, kamu turun sana. Kasihan teman-teman kamu dari tadi menunggu. Kamu belum tiup lilin, kalau masih di sini nanti kak Arga suruh bu Ruly tambah satu angka nol lagi di belakang lilin kamu,” Arga segera bangkit.
“Kak Arga, ini ulang tahun aku yang ke sepuluh, bukan yang ke seratus!” geram Rasty lalu mengejar Arga yang sudah berlari keluar kamarnya.
Rasty selalu ingat dengan baik kenangan ulangan tahunnya yang kesepuluh dan hanya ditemani Arga. Air matanya mengalir begitu deras.
.
.
.
Sedangkan Irfan sedang menemani Arga di kamarnya. Arga terlihat biasa saja, jujur ia juga merasa sedih namun ia memilih untuk tidak berlarut-larut memikirkan kejadian hari ini.
“Bagaimana mommy?” tanya Arga sambil melangkah ke arah jendela kamarnya.
“Nyonya sedang bersama nona Rasty, mengunjungi makam Tuan Besar Adrian,” jawab Irfan di belakang.
Arga menghela nafas, “aku juga sudah lama tidak mengunjungi makam papa,” gumamnya.
“Telponkan Nadira untukku, aku ingin bertanya kenapa dia belum juga pulang,” Arga memberi perintah kepada Irfan, dan pikirannya tidak bisa lepas memikirkan gadis itu.