NADIRA

NADIRA
DUKA MENDALAM



Arga tak lupa menghubungi Irfan tanpa ia tahu bahwa sebenarnya orang kepercayaan keluarganya itu telah dipecat oleh ibunya sendiri, ia memintanya segera datang ke kediaman Herman.


Begitu sampai, Irfan menyerahkan sebuah buku tabungan dan juga kartu debit milik Arga.


“Ini milik anda, Tuan. Tabungan pribadi anda. Saya sudah bisa menebak apa yang akan terjadi ketika nyonya besar mengusir anda dari rumah dan mencabut semua fasilitas dan jabatan anda dari Rajasa Group,”


Arga hanya mengangguk dan mengambil miliknya yang diberikan oleh Irfan. Arga membuka buku tabungannya dan menatapnya lekat-lekat.


“Anda tidak perlu takut miskin tuan, tabungan itu cukup untuk membeli seluruh saham Rajasa Group,” Irfan menimpali.


Arga hanya tersenyum getir lalu menutup kembali buku tabungannya.


“Kalau tuan butuh sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungi saya meskipun anda kini bukanlah lagi direktur Rajasa Group,”


“Tetaplah bersama mommy bantu dia mengurus Rajasa Group, aku sekarang adalah seorang pengangguran, aku tidak mampu membayar gajimu setiap bulannya,”


“Seharusnya seperti itu tuan, tapi nyonya besar juga sudah memecat saya,” Irfan mengakui.


“Apa! Mommy benar-benar... apa dia lupa kalau kau adalah orang kepercayaan papa,” Arga tidak habis pikir.


“Tidak apa-apa tuan, saya akan tetap melayani anda meski saya tidak digaji sepeser pun. Saya sudah berjanji akan selalu mendampingi anda selama saya masih hidup, sesuai dengan wasiat tuan besar sebelum beliau meninggal,”


Nadira kemudian datang ke ruang tamu sambil membawa beberapa cangkir teh hangat. Dan tak lupa menyilakan Irfan untuk meminum teh buatannya.


“Sebulan tak melihat anda, anda tampak berbeda nona muda,” sahut Irfan tampak basa-basi.


“Apanya yang beda,” Nadira sumringah lalu duduk di samping Arga.


“Mungkin karena kau sedang hamil, jadi auranya kelihatan berbeda, begitu?” celetuk Arga sambil melirik Nadira dengan senyuman menggoda.


“Jadi nona sedang hamil, aku turut berbahagia tuan muda. Apa nyonya besar juga sudah tahu?” tanya Irfan antusias.


“Tidak. Mommy belum tahu. Aku tidak sempat menyampaikan kabar kehamilan Nadira padanya, karena saat aku datang, mommy begitu tegang melihatku dan juga Nadira,”


Nadira hanya diam, dan raut mukanya tampak menunjukkan kesedihan yang dalam.


.


.


.


Rasty memasuki kamar ibunya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia tidak peduli jika ibunya akan memarahi tindakannya itu. Rasty mendapati ibunya duduk termenung di depan kaca meja riasnya yang besar. Rachel hanya melirik sejenak pada Rasty yang sedang berdiri di belakangnya melalui cermin.


“Mom, kenapa tega mengusir kak Arga?”


Rachel tak menggubris.


“Aku tidak mau kehilangan kakakku, mommy bahkan tidak peduli dengan tangannya yang patah, mommy egois terus saja memarahinya. Apa mommy lupa kalau dia anak kesayanganmu? Satu-satunya orang di dunia ini yang wajahnya paling mirip denganmu. Apa salahnya kak Arga mempertahankan kak Nadira, mommy jangan lupa dengan semua kebaikan-kebaikan kak Nadira pada kak Arga. Berkatnya, kak Arga lebih bahagia meski di satu sisi saat itu dia buta. Coba mommy pikir lagi, mereka berdua tidak salah dengan apa yang mereka lakukan, karena mereka saling mencintai,” Rasty diam sejenak sambil menyeka air matanya.


“Dan perlu mommy tahu, orang yang saling mencintai begitu kuat, mereka tidak akan goyah. Sudah waktunya bagi mommy untuk berhenti mengatur kak Arga. Biarkan dia merdeka dengan perasaannya, percayalah mom, memaksa menjodohkan kak Arga dengan Feli, akhirnya akan membuat mommy menyesal,”


Rasty menatap wajah ibunya lewat pantulan cermin. Rachel tetap diam saja tak menggubrisnya.


“Aku menyayangimu mom, tolong lunakkan hatimu untuk kak Arga dan Nadira,” Rasty lalu melangkah keluar dari kamar Rachel sambil menyeka air matanya.


Rachel menetap beberapa detik pantulan wajahnya di cermin. Ia seolah melihat pribadi yang lain dalam dirinya, yang berbeda dari dirinya yang dulu ketika almarhum suaminya masih hidup. Seorang ibu yang penyayang dan penuh kehangatan. Selalu tersenyum dan juga lembut. Ia benar-benar telah berubah 180 derajat.


Rachel melirik sebuah pigura kecil di atas nakas yang membingkai potret Arga yang begitu tampan. Rachel meraihnya lalu memeluk foto itu sambil terisak lirih.


.


.


.


Nadira dengan semangat menyuapkan makan malam untuk Arga. Ia membawa beberapa menu yang dimasaknya bersama Widya. Mereka memilih makan di kamar, soalnya Arga belum bisa makan menggunakan tangan kanannya, dan sebagai istri Nadira akan menyuapi Arga tiga kali sehari.


Arga merasa malu jika harus disuapi di meja makan di depan Herman dan juga Widya. Maka dari itu Nadira meminta izin makan di kamarnya bersama Arga.


“Senang sekali rasanya melihatmu makan begitu lahap,” ujar Nadira setelah menyuapi Arga.


“Aku tidak sepandai itu memasak. Ini lezat karena aku memasaknya bersama bibi Widya, beliau memang jagonya kalau masakan enak,”


“Selama tinggal di sini, kau bisa belajar masak sama bibimu. Memasak masakan yang enak untukku agar aku selalu ingin makan di rumah,”


Nadira mengangguk, “Iya sayang,”


“Kamu juga dong, makan,”


Nadira lantas menyuapkan sendiri makanan ke mulutnya menggunakan sendok yang sama dipakai dengan Arga.


.


.


.


Setelah makan dan saat sedang sendiri di kamar, Arga mencoba untuk menghubungi langsung ibunya via telpon. Ingin sekedar menanyakan kabarnya, ingin tahu apa kemarahannya sudah reda?


Sekali ia mencoba, ibunya tak menjawab panggilan telponnya. Arga menghela nafas, lalu sejurus kemudian memutuskan untuk menelpon Rasty saja.


“Kak Arga, kenapa? Kau baik-baik saja?” tanya Rasty di ujung telpon, terdengar begitu senang.


“Iya Ras, aku baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja selama Nadira ada di sisiku,” jawab Arga.


“Iya deh kak Arga, bucin banget sih,”


“Apasih kamu, bucin bucin. Micin maksud kamu?”


“Ih, bukan kak. Bucin itu istilah yang populer di kalangan anak muda sekarang, sebutan buat orang yang overdosis jatuh cinta alias budak cinta,” Rasty menjelaskan sambil terkekeh pelan.


“Ada-ada saja kamu,”


“Memang kak Arga bucin kan?”


“Iya deh, iya, bucinkah, micinkah, terserah kamu,”


“Aku senang kalau kak Arga bahagia bersama Nadira,”


“Aku sangat bahagia dek,”


“Kalian pasti bisa mendapatkan restu dari mommy,”


“Iya pasti bisa, setelah melewati usaha yang keras,”


“Jujur kak, aku benar-benar sedih melihat mommy seperti tadi. Apa keadaan begitu keras dan sulit setelah papa meninggal, sehingga mommy jadi keras kepala begitu? Aku rindu mommy yang dulu,” gumam Rasty mengingat-ingat masa lalu ketika keluarganya masih lengkap dengan kehadiran ayah mereka.


Suasana pun jadi hening sesaat, karena Arga pun jadi ikut-ikutan mengenang masa lalu keluarganya saat ayahnya masih hidup.


“Tadi aku menelpon mommy, tapi tidak dijawab, apa dia baik-baik saja?” tanya Arga kemudian perihal tujuan utamanya menelpon Rasty.


“Mommy sejak tadi di kamar, aku takut mengusiknya. Sepertinya mommy sedang menenangkan pikiran, karena tadi aku sempat melihat Bu Ruly masuk ke kamar mommy sambil membawa secangkir teh chamomile,”


Arga menghela nafas, “Baiklah Ras, terus pantau kondisi mommy ya, kau masih akan tinggal-tinggal di rumah kan?”


“Iya kak, aku masih ada libur di minggu ini,”


Arga lalu menutup telponnya. Ia baru sadar, sejak tadi ia sendirian di kamar Nadira, sementara sejak tadi juga Nadira keluar dari kamar hendak membawa piring makan mereka ke dapur untuk dicuci di wastafel.


Arga lalu berjalan keluar dari kamar Nadira. Sayup-sayup ia mendengar suara dari arah kamar Niken. Arga sudah bisa melihat pintu kamar Niken terbuka. Ia melangkah menuju ke kamar Niken, di ambang pintu ia berdiri dan melihat Nadira sedang menyambangi Widya yang sedang menggendong bayi laki-laki Niken yang sudah mulai tertidur dalam buaian neneknya.


Kedua wanita beda generasi itu sama-sama menitikkan air mata ketika memandangi bayi itu.


“Aku tidak pernah tidak menangis, setiap kali melihat Azka, nak,” ucap Widya yang terus mengayun pelan Azka dalam dekap tangannya. “Sejak lahir ia sudah menjadi yatim piatu,” air mata Widya pun makin deras mengaliri pipinya yang sudah nampak kendor dan keriput dan semakin bertambah setelah Niken tiada. “Entah dalam sehari berapa kali aku akan menangis, aku tidak bisa tidak mengingat Niken, karena setiap hari juga Azka berada dalam pengasuhanku,”


“Bibi, kenapa Niken secepat ini pergi,” Nadira ikut terisak di sisi Widya.


Arga yang masih mematung di ambang pintu, segera berbalik badan meninggalkan kamar Niken. Ia kembali teringat kenangannya bersama Niken. Tak terasa Arga pun menitikkan air matanya. Semua di rumah itu, masih merasakan duka yang mendalam setelah kepergian Niken dari dunia ini.


“Semoga kau tenang di surga-Nya, Niken,” lirihnya sambil memandangi potret Niken yang terpampang di salah satu sudut rumah.