
Arga berjalan cepat di sepanjang koridor rumah sakit, ia masih mengenakan piyama rumah sakit. Ia mencari-cari di mana ruang UGD. Begitu menemukannya, ia segera masuk ke dalam. Yang terlihat hanya beberapa orang pasien yang sedang dirawat.
Beberapa orang perawat yang berjaga menatap heran kepadanya, ada juga yang mengenalinya sebagai suami dokter Nadira.
Dari pintu masuk UGD, seorang dokter berhijab datang dan menatap penasaran kepada Arga. Arga melangkah menghampirinya, “Nad,” panggilnya dan menatap lekat-lekat wajah dokter berhijab itu.
“Maaf,” sahutnya.
Arga menatap name tag yang digunakannya, tertulis nama dr. Indira.
“Maaf, aku salah orang,” ucap Arga tampak kecewa.
“Anda pasien dari ruang perawatan mana? Kenapa berkeliaran begini?” tanya dokter itu.
Saat mendengar suaranya, Arga tahu dia bukanlah Nadira. Padahal ia sempat berharap dokter itu adalah Nadira karena sama-sama mengenakan hijab.
“Aku mencari dokter Nadira, dia bekerja di sini, di UGD,” jelas Arga.
“Dokter Nadira? Oh, dia sudah resign. Aku bertugas di sini untuk menggantikannya,” jelas dokter Indira.
Arga terdiam seolah mencerna penjelasan dokter itu. Nadira berhenti bekerja, ada apa? Dan kenapa tidak bilang padanya? Terakhir mereka bertemu, gadis itu seperti tidak memiliki masalah.
Rasty muncul di pintu UGD dan bergegas menghampiri kakaknya yang berdiri diam bersama dokter Indira.
“Kak, sudah ketemu kak Nadira?” tanyanya begitu sampai.
Arga tak menjawab, ia segera keluar dari UGD dengan langkah cepat. Rasty menyusulnya di belakang sambil memanggilnya, tapi Arga mengacuhkannya.
Arga masuk kembali ke ruang perawatannya menemui Rachel yang ditemani Irfan.
“Mom, mana Nadira?” tanya Arga langsung.
“Kenapa kamu tanya sama mommy? Mommy juga tidak tahu,” jawab Rachel.
“Mom jangan bohong! Nadira sudah berhenti bekerja di UGD, dan dia pergi. Semua ini terjadi pasti karena mommy kan?”
“Arga, tega kamu menuduh mommy yang tidak-tidak. Apa katamu? Nadira pergi? Dia sama saja kan seperti Niken, pergi meninggalkanmu,” sahut Rachel begitu kesal.
Arga menggeram sebal.
“Mom, kalau sampai aku tahu kebenarannya, aku tidak akan memaafkan mommy kalau mommy yang menyebabkan Nadira pergi,”
Rachel begitu terkejut, sekarang Arga sudah berani marah dan mengancamnya.
.
.
.
Arga pulang ke rumah tidak dalam keadaan bahagia karena kini ia bisa melihat dunia lagi. Tapi ia merasa dunianya tak lengkap tanpa Nadira.
Nadira, kamu di mana? Kenapa menghilang di saat aku ingin melihatmu?
Arga langsung masuk ke kamarnya, ia mengacuhkan Rasty, Irfan apalagi Rachel. Arga masuk ke kamarnya dan segera mengambil sebuah pigura di atas meja, pigura yang membingkai foto pernikahannya dengan Nadira dulu. Wajah Nadira sangat cantik, walaupun ia hanya mampu melihatnya melalui foto.
Arga melihat di atas meja sebuah jam saku miliknya yang dulu ia berikan sebagai hadiah untuk Nadira. Arga bergegas mengambilnya dan menatapnya dengan perasaan bergejolak. Di bawah jam saku terdapat sebuah amplop coklat besar. Arga mengambilnya dan mengeluarkan isinya, selembar surat perceraian yang telah ditandatangani Nadira, hanya kolom namanya saja yang masih kosong oleh tanda tangan.
“Nad, apa yang kau lakukan,” gumamnya menatap tak percaya pada surat cerai yang kini dalam genggamannya. Arga menghempaskan surat cerai itu di atas meja, dan menatapnya penuh amarah, ia merasa air matanya ingin luruh. Wanita yang begitu dicintainya telah pergi dan memberinya kejutan dengan selembar surat cerai. Tanpa ia tahu untuk alasan apa mereka harus bercerai.
“Arga kamu mau ke mana?” tanya Rachel saat Arga selesai menuruni tangga.
“Mencari Nadira,” jawabnya ketus dan bergegas pergi, mengabaikan Rachel.
“Arga! Arga!” panggil Rachel di belakang.
Arga tak menggubris, ia terus berjalan keluar rumah dengan perasaan yang campur aduk.
.
.
.
Arga mengunjungi rumah Herman dan Widya. Herman yang menyambutnya ketika ia datang, Herman tak lepas menatapnya dan tak lupa mengucapkan selamat karena operasi transplantasi kornea matanya berjalan sukses dan ia bisa melihat lagi.
“Maaf nak Arga, kami tidak tahu Nadira pergi ke mana. Dia memang sempat pamit langsung kepada kami sebelum dia pergi, tapi dia tidak bilang pergi ke mana,”
“Paman, kumohon, jangan menyembunyikan kebenarannya dariku,” pinta Arga begitu putus asa.
“Benar nak, kami sungguh tidak tahu Nadira pergi ke mana. Dia hanya bilang bahwa dia akan baik-baik saja selama pergi. Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi antara kalian sampai Nadira memutuskan untuk pergi. Apa Nyonya Rachel tidak mengancamnya? Karena aku cukup tahu kalau ibumu tidak menyukainya, bukankah dia menikah denganmu hanya untuk menebus perbuatan Niken?”
“Paman, aku harus mencarinya ke mana lagi? Dunia ini begitu luas,” Arga tampak putus asa.
Herman diam saja, menatap prihatin kepada Arga.
Arga kemudian memasuki kamar Nadira di rumah Herman. Kamar itu tertata rapi dan begitu wangi. Kedua mata Arga menyasar ke beberapa foto Nadira yang menggantung di dinding kamar ataupun tertata rapi di atas bufet.
Arga menatap setiap foto itu begitu lekat. Foto Nadira dalam balutan busana paskibraka dengan potongan rambut pendek, foto Nadira dalam acara sumpah profesi dokter, ia tampak cantik dan anggun menggunakan hijab. Foto Nadira dan juga Niken dengan latar belakang Malioboro, di foto itu Nadira juga belum menggunakan hijab, ada juga foto Nadira dan Niken menggunakan seragam putih abu-abu yang dipenuhi pilox warna-warni di hari kelulusan mereka. Kedua gadis itu benar-benar seperti saudara kandung, senyuman mereka hampir sama, bahkan mereka sama-sama memiliki paras yang cantik.
Arga memutuskan mengambil selembar foto close up Nadira dalam balutan hijab dan jas dokter. Ingin membawanya pulang nanti. Setelahnya Arga segera keluar dari kamar Nadira, ia mendengar suara tangis bayi dari arah kamar Niken.
Arga berjalan menuju kamar Niken, suara tangis bayi semakin jelas didengarnya. Arga mengintip ke dalam kamar karena kebetulan pintu kamar Niken tidak ditutup. Di dalam terlihat Widya sedang menggendong seorang bayi laki-laki yang sedang menangis, Herman di sampingnya tampak berusaha menenangkan bayi itu bersama Widya.
Keduanya pun menyadari kedatangan Arga yang berdiri terpaku di ambang pintu, menatap penasaran ke arah bayi itu. Sejak datang Arga ingin bertanya di mana Niken? Bukankah gadis itu sudah kembali?
Widya menatap Arga begitu lekat. Hingga kemudian ia memilih untuk terus berusaha menenangkan cucunya dalam gendongannya.
Herman segera menghampirinya, karena ia bisa membaca dari muka Arga yang penuh rasa penasaran.
“Paman, apa itu anaknya Niken?” tanya Arga langsung.
“Iya nak, anak itu adalah anaknya Niken,” Herman menatap sedih ke arah bayi laki-laki yang kini mulai tenang dalam ayunan dan lantunan lirih nyanyian Widya yang sambil menangis.
“Lalu, ibunya di mana?” tanya Arga lagi.
Herman sempat terdiam sejenak, “Niken sudah meninggal, nak,” Herman pun tak bisa menahan tangisnya.
Arga menatap terkejut. Kabar kematian Niken benar-benar mengejutkannya.
“Kapan paman?” tanya Arga seakan tak percaya.
“Dia meninggal saat melahirkan anaknya,” isak Herman, “Nikenku yang malang, kasihan anaknya sejak lahir sudah jadi yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal sebelum dia bisa mengenalnya. Dan kini Nadira juga pergi entah ke mana, semua anak-anakku telah pergi nak Arga,”
Arga tak sanggup berkata-kata. Ia benar-benar shock setelah mendengar kabar kematian Niken.