
Nadira keluar dari kamar mandi setelah mengenakan handuk kimononya, rambut panjangnya yang basah ia biarkan tergerai begitu saja. Pandangnya pun bersirobok dengan kedua netra coklat Arga yang sejak tadi mengamatinya keluar dari kamar mandi. Lelaki tampan itu sedang duduk di atas ranjang, bagai seekor singa yang kelaparan. Nadira hanya tersenyum sekilas lalu berjalan ke depan meja riasnya sambil membuka laci dan mengeluarkan sebuah alat pengering rambut.
"Sedang apa di situ?" tanya Nadira sambil menatap Arga lewat pantulan cermin.
"Kukira kau cukup tahu," jawab Arga tak lepas memandangi keindahan Nadira.
"Kenapa menatapku terus sih, aku kan jadi malu," pipi Nadira bersemburat kemerahan dengan senyum malu-malunya.
Sejurus kemudian Arga turun dari ranjang lalu bergegas memeluk Nadira dari belakang dengan sebelah tangannya. Keduanya lalu saling berpandangan lewat cermin.
Arga mengecup puncak kepala Nadira sambil menikmati aroma mawar yang menguar dari rambut basah Nadira.
"Nad, kamu cantik sekali malam ini," ungkap Arga lalu membalik tubuh Nadira berhadapan dengannya.
"Oh ya? Aku bahkan belum berdandan sama sekali,"
"Jangan! Aku suka kalau wajahmu polos begitu,"
Nadira kembali tersenyum malu dan juga merasa tersanjung.
Arga menatap bibir Nadira yang agak bervolume, bibir berwarna Pink sehat itu benar-benar mengguncang hasrat seorang Arga.
"Boleh aku, melakukan itu?" tanya Arga.
"Aku milikmu, kenapa kau harus bertanya dulu," Nadira bersikap Agresif dengan mencondongkan wajahnya kepada Arga lalu mencium lebih dulu bibir Arga.
Arga sumringah, juga merasa terkesan dengan sikap agresif Nadira. Ia lalu membalas ciuman itu dengan lebih gila dan bersemangat. Sejurus kemudian ia hendak menarik tali handuk kimono yang dikenakan Nadira.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Nadira sambil menahan tangan Arga.
Arga hanya menatapnya dalam.
"Tidak! Aku sudah mandi sayang," Nadira seketika menolak, tahu apa yang sedang dipikirkan dan diinginkan suaminya saat ini juga.
"Kau berdosa menolak perintah suamimu," sahut Arga yang tersenyum penuh kemenangan. "Kau masih bisa mandi lagi sebelum shalat subuh," Arga kembali penuh gairah ingin melucuti handuk kimono yang membalut tubuh ramping Nadira.
"Tapi kau harus puasa sayang," Nadira kembali menahan tangan Arga lalu melepaskan tangan lelaki itu dari memegang handuk kimononya.
"Kenapa?" Arga tampak kecewa, baru saja ia hendak menyalurkan hasrat dan gairahnya sebagai laki-laki normal.
"Pertama, kau jangan lupa kalau aku sedang hamil muda, sebaiknya ditunda dulu untuk berhubungan karena masih rentan sayang. Dan kedua, ingatlah tanganmu belum sembuh, posisi bercinta apapun aku rasa tidak ada yang bisa membuatmu nyaman,"
Arga merengut kecewa. "Sayang, aku benar-benar menginginkanmu malam ini," rengeknya seperti anak kecil.
"Kau harus bisa bersabar sayang, tunggu sampai kita konsultasi ke dokter kandungan bulan depan nanti," sahut Nadira lalu menciumi kembali bibir Arga.
"Apa? Ini tidak adil kalau aku harus menunggu sampai bulan depan, itu kan seminggu lagi. Lalu bagaimana setelah konsultasi, tapi dokternya tidak menyarankan untuk bercinta? Kau tega melihat suamimu ini menjadi pengangguran setiap malam karena hanya bisa melihatmu sambil menelan ludah, apa kau ingin membuatku gila?"
Nadira tak bisa menyembunyikan tawanya saat melihat sisi manja dan kekanakan seorang Arga.
"Tunggulah sampai trimester satu selesai sayang. Setelah itu kau boleh berkunjung kembali," Nadira menjelaskan sambil menatap gemas kepada Arga.
Arga menarik nafas dalam-dalam lalu berkata sambil mengelus lembut perut Nadira, "baiklah papa akan mengalah padamu saat ini sayang. Dan kau sayang," jemari Arga pun bergerak menyentuh sebelah pipi Nadira, "ku pastikan kau akan membayarnya setiap malam, setelah kehamilan trimester pertamamu selesai. Begitu lama aku menantikan malam-malam indah seperti ini denganmu, dan kini aku harus lebih bersabar lagi," dengusnya.
"Jangan terlalu kecewa dengan malam ini sayang, besok malam dan besoknya lagi, hingga seterusnya kau akan melewati malam-malam yang indah denganku," Nadira berjanji.
Sejurus kemudian Arga membawa tubuh Nadira ke dalam dekapannya.
"Seluruh dunia harus tahu kalau aku sangat mencintaimu dan sangat bahagia bersamamu," sahut Arga yang begitu sumringah, walau di satu sisi ia harus bisa mengendalikan hasratnya pada Nadira.
"Barusan kau bilang apa? Bucin?"
"Iya,"
"Kenapa jalan pikiranmu sama dengan Rasty? Kemarin juga dia mengataiku bucin padamu. Apa aku ini benar-benar kuper ya sekarang, sampai tidak tahu istilah populer seperti itu di masyarakat,"
Nadira terkekeh dalam pelukan Arga. "Kita begini terus ya sayang," ujar Nadira sambil mendongak menatap wajah tampan Arga.
"Iya, nona Bucin," Arga membalas sambil mencubit gemas cuping hidung Nadira.
"Apa, kau juga memanggilku bucin,"
"Aku tidak mau kalau hanya aku saja yang bucin, kau juga harus bucin, awas kalau tidak,"
"Iya, iya, jadi sekarang kita berganti nama jadi Tuan dan Nona Bucin?" tanya Nadira.
Keduanya lalu tertawa bersama malam itu lalu kembali saling menautkan bibir masing-masing dengan penuh gairah kemesraan.
.
.
.
Rachel benar-benar merenungi dirinya selama beberapa hari ini setelah ketegangan yang terjadi antara dirinya dan juga Arga. Kata-kata Rasty dan juga Arga yang memohon padanya agar diizinkan menentukan pilihan hatinya sendiri, terus terngiang-ngiang di telinga. Rachel rasanya menyesal telah berkata agar Arga meninggalkan semua miliknya termasuk jabatan dan posisinya di Rajasa Group.
Rachel bersandar lesu di kursi kerjanya di gedung Rajasa Group. Apalagi kemarin-kemarin ia sengaja mengabaikan telpon dari Arga, sebab takut jika menjawab telponnya ia akan mengatakan hal-hal yang berlebihan lagi kepada sang anak. Rachel tahu Arga takkan jadi anak durhaka, buktinya sang anak duluan yang hendak menghubunginya.
"Arga sayang, sungguhkah kau bahagia dengan Nadira?" gumam Rachel sambil memejamkan matanya.
Beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar lalu sekretaris Rachel memasuki ruangan sang komisaris bersama seorang pria, Irfan.
"Nyonya, Irfan sudah datang,"
Rachel membuka matanya dan langsung berhadapan dengan Irfan yang langsung memberi hormat padanya.
"Terima kasih, silahkan kau keluar dulu,"
Sekretaris Rachel kemudian keluar dari ruangan.
"Duduklah Irfan," ujar Rachel agak canggung sambil memperbaiki posisi duduknya di kursi kebesarannya sebagai komisaris.
"Baik nyonya," Irfan segera duduk berhadapan nyonya besar yang keluarganya sudah lama ia layani dengan setia.
"Sebelumnya, aku meminta maaf atas apa yang sudah kulakukan padamu kemarin. Aku sangat marah dan kecewa padamu, aku berharap kau tidak akan pernah membuatku merasa begitu lagi,"
"Iya nyonya, saya cukup mengerti apa yang anda rasakan,"
"Setidaknya dari kejadian kemarin aku bisa petik sebuah pembelajaran untuk tidak mengambil keputusan saat sedang marah," walaupun meminta maaf duluan, Rachel tetap menjaga sorot mata, nada bicara dan juga kewibawaannya sebagai nyonya di hadapan Irfan.
"Kau cukup tahu kenapa aku memanggilmu bertemu empat mata. Kembalilah mengabdi di perusahaan ini. Ambil alih semua pekerjaan Arga yang menumpuk sejak ia meninggalkan kewajibannya selama seminggu ini, tidak ada yang bisa membereskan semua kekacauan dan permasalahan selain dirimu Irfan. Kembalilah, aku menarik ucapanku kemarin. Aku melakukan semua ini demi kebaikan Rajasa Group selama Arga tidak di sini,"
"Terima kasih atas kesempatan kedua ini nyonya,"
Rachel hanya mengangguk, ia takkan pernah bisa tenang sebelum ketegangannya dengan Arga mereda.