NADIRA

NADIRA
MATAHARIKU



Irfan menarik nafas dalam-dalam, lalu kemudian membuka pintu dan memasuki ruangan Rachel di gedung Rajasa Group. Rachel sudah tampak menunggu di jejeran sofa besar nan mewah di ruangannya.


Setelah memberi hormat, Irfan segera duduk berhadapan dengan sang nyonya besar. Di tangannya ia membawa sebuah amplop coklat besar. Rachel menunggu Irfan untuk menyerahkan kepadanya.


"Ada apa Irfan? Kau benar-benar sudah dapat informasi tentang siapa yang sudah mendonorkan kornea matanya untuk Arga kan? Setidaknya aku bisa menemui keluarganya untuk mengucapkan terima kasih,"


Irfan lalu menyerahkan amplop coklat itu.


Rachel segera meraihnya, seperti tidak sabar untuk segera membukanya. Kedua matanya lalu membaca identitas lengkap pendonor kornea mata bagi Arga.


Kedua bola mata Rachel membelalak kaget, ia sampai menjatuhkan kertas itu dari tangannya.


"Apa ini Irfan? Kamu tidak salah kan?" Pekik Rachel begitu syok.


"Itulah kenyataannya nyonya, pendonor kornea mata untuk Tuan Arga adalah mendiang Nona Niken,"


"Tidak mungkin! Ini pasti salah!" Rachel menggeleng seolah tak percaya. "Orang yang kau tugaskan pasti salah mendapatkan informasi ini,"


Irfan tak menjawab. Ia hanya mengawasi sikap sang nyonya besar yang tampak syok berat.


Dengan tangan bergetar, Rachel mengambil kembali kertas itu dan membaca keterangan tanggal dan hari kematian Niken, hanya berselang lima hari dengan hari operasi kedua mata Arga.


"Anak itu, bagaimana bisa dia melakukan ini? Aku pikir selama ini dia baik-baik saja,"


"Nona Niken meninggal dunia setelah melahirkan putranya, nyonya. Sebelum meninggal dia berwasiat untuk memberikan kornea matanya bagi Tuan Arga," Irfan menjelaskan, ia juga sebenarnya begitu syok atas kenyataannya.


Seketika Rachel jadi teringat semua sikap dingin dan tak ramahnya kepada Niken, bahkan saat ia pernah menampar Niken benar-benar mengguncang jiwanya ketika mengingat kejadian itu. Rachel bersandar lesu di sofanya, seketika ia merasa sebagai orang yang jahat, perempuan yang selama ini ia tolak, ia benci karena menyebabkan anaknya buta, justru karena dirinya juga Arga bisa melihat kembali, kalau tanpa Niken, mungkin Arga akan buta selamanya.


Tak terasa, Rachel menitikkan air matanya karena terus terbayang wajah Niken.


"Irfan, apa aku sejahat itu?"


"Nyonya,"


Rachel pun terisak sejadi-jadinya di depan Irfan. Ia tak habis pikir dengan takdir Niken yang begitu tragis. Rasa penyesalan segera muncul dalam diri Rachel atas semua sikapnya selama ini kepada Niken. Gadis itu telah berkorban begitu besar untuk kebahagiaan Arga dan juga Nadira.


"Seharusnya memang aku tidak perlu tahu siapa pendonor Arga," isak Rachel.


.


.


.


Nadira membuka pintu kamarnya, sambil membawa baki berisikan menu makan malam keduanya. Saat ia masuk, ketika itu juga Arga sedang mencium foto hasil USG kehamilannya sambil senyum-senyum sendiri memandangi foto hitam putih itu.


Begitu melihat Nadira, Arga bergegas menghampirinya,. "Sayang, kamu kok repot-repot gitu sih. Kenapa tidak suruh pembantu untuk membawa semua ini," Arga ingin mengambil dengan satu tangannya.


"Tidak usah sayang. Tidak apa-apa," Nadira berjalan ke arah meja dan meletakkannya di atas sana, baki yang di bawanya.


Saat itu juga Arga segera memeluknya dari belakang lalu menunjukkan foto USG kehamilan Nadira.


"Menurutmu, dia akan jadi Arga atau Nadira junior?" bisik Arga tepat di telinga Nadira yang tertutup hijab.


"Mau main tebak-tebakan ya?"


Arga mengangguk.


"Entahlah, aku tidak tahu. Perempuan ataupun laki-laki bagiku sama saja,"


"Ayolah Nad, tebak saja," pinta Arga dengan nada manjanya.


Nadira jadi geli mendengarnya. Tapi sejujurnya ia suka Arga begitu padanya.


"Memang ada hadiahnya kalau tebakannya benar?" tanya Nadira sambil menatap wajah Arga di dekat pipinya lewat sudut matanya.


"Ada sayang," Arga berjanji.


"Apa?" Nadira antusias.


"Itu rahasia, nanti sajalah, kalau tebakannya benar,"


Nadira memanyunkan bibirnya.


"Jangan begitu ah, kamu jadi menggemaskan," Arga membalik tubuh Nadira lalu menciumi bibir gadis itu berkali-kali.


"Jadi, apa tebakanmu? Laki-laki atau perempuan?" tanya Arga kemudian.


Nadira tampak berpikir, "kurasa ini laki-laki," jawabnya sambil mengusap pelan perutnya.


"Kenapa menurutmu laki-laki?"


"Supaya kau punya saingan ketika manja-manja padaku," Nadira tersenyum jahil.


"Tidak! Tidak! Anak kita akan dimanja oleh granny-nya, dan aku akan tetap menjadi pria termanjamu,"


Raut wajah Nadira seketika berubah karena tiba-tiba teringat oleh Rachel.


"Mommy belum tahu kalau aku hamil anakmu, kalau dia tahu, apa dia akan senang?"


"Iya kita belum sempat menyampaikan hal ini padanya, kau tahu kan kemarin tidak ada celah, karena mommy begitu marah,"


Air mata Nadira kembali menetes di plupuk matanya.


"Sayang, tidak apa-apa," Arga berusaha menenangkan sambil menghapus air mata di pipi Nadira.


"Aku takut Arga, apakah mommy akan menyayangi cucunya karena aku adalah ibunya,"


"Kenapa berkata begitu? Mommy pasti akan menyayanginya,"


"Tapi mommy membenciku Ga. Aku takut dia juga akan membenci cucunya,"


"Tidak sayang. Aku tahu mommy. Mommy hanya terlalu berharap kita akan mematuhi surat kontrak itu, tolong maafkan mommy kalau dia membuatmu tidak nyaman. Ini hanya soal waktu sayang, sampai mommy menerima perasaan kita,"


Nadira bahagia, disaat ia merasa sedih ataupun susah Arga selalu bersikap optimis dan selalu meyakinkannya bahwa semua pada akhirnya akan baik-baik saja.


"Lusa nanti adalah ulang tahun mommy, kita akan memberinya kejutan dengan kabar kehamilanmu, aku berharap dengan begitu mommy akan luluh pada kita,"


"Benarkah? Kita mau kasih kado apa buat mommy?" tanya Nadira sambil menyeka air matanya.


"Kita akan mencari kado besok,"


Nadira mengangguk, kemudian mengajak Arga untuk makan malam bersama.


.


.


.


Saat tengah malam, Arga terjaga dari tidurnya. Nadira masih terlelap di sampingnya sambil memeluk pinggangnya dari balik selimut. Arga mendekatkan wajahnya lalu menyibakkan helaian rambut yang menutupi separuh wajah Nadira.


Aku akan berkorban apa pun demi dirimu Nad, juga demi anak kita. Karena kau memang pantas untuk diperjuangkan. Aku mencintaimu dengan seluruh jiwaku. Tidak ada hal yang paling aku inginkan di dunia ini selain bersamamu selalu.


Terima kasih telah menjadi pelita saat aku buta. Juga terima kasih telah menjadi matahariku.


Nadira tiba-tiba membuka matanya dan melihat langsung wajah tampan Arga sedang tersenyum hangat padanya.


"Jam berapa sayang?" tanya Nadira yang masih setengah mengantuk. "Apa sudah subuh?"


"Belum sayang, tidurlah lagi. Kenapa kau terbangun, padahal aku hanya menatapmu," Arga merapatkan pelukannya di tubuh ramping Nadira.


"Aku bermimpi kau sedang menciumku,"


"Benarkah?" Arga tersipu. "Kalau begitu, mimpimu akan segera jadi kenyataan," Arga lalu menciumi bibir Nadira dengan lembut, membuat rasa kantuk Nadira seketika memudar.


"Sepertinya menciumku adalah hobimu yang baru," tutur Nadira sambil menatap dalam kedua mata coklat Arga yang indah.


"Bukan hobi, tapi itu adalah kebutuhan utamaku sebagai pasanganmu,"


"Aku mencintaimu," balas Nadira.


"Aku juga mencintaimu, Nadiraku, dokter cantikku. Ayo tidur sayang, subuh masih lama,"


Nadira justru makin tidak bisa tidur, "Aku tidak bisa tidur, karena kau menggodaku,"


"Kalau begitu aku ingin mengunjungi anakku, boleh kan?" Arga tersenyum penuh arti sambil menyibakkan selimut dan mengelus lembut perut Nadira.