
Arga segera menghampiri keduanya dalam kondisi tangan yang dibebat dan diberi penyangga.
“Aku ingin bertanya kenapa kalian berdua ke tempat ini bersama-sama. Apa kalian sudah saling mengakui perasaan masing-masing, huh?” Arga menatap emosi keduanya. Merasa sedang menangkap basah sang istri yang dituduhnya berselingkuh.
“Arga, apa yang kau katakan!” ujar Nadira tak senang.
Arga tak peduli, dengan tangan satunya lagi ia menarik kasar kerah jas Mirza sambil berkata, “dia masih istriku,”
“Arga, lepaskan! Apa yang kau lakukan?” Nadira segera melepaskan tangan Arga dari kerah jas Mirza. “Sebaiknya kau diam saja kalau tidak tahu apa-apa,” Nadira menatap Arga dengan marah.
Arga tak menyangka dengan sikap Nadira padanya. “Sepertinya sia-sia saja aku menjemputmu ke sini,” Arga menghela nafas untuk meredakan kesal dan marahnya. “Kalau kalian ingin bersama, setidaknya tunggu sampai kita bercerai. Atau kau pikir sudah bercerai karena sudah menandatangani surat cerai? Kau tahu, aku tidak akan pernah menandatangani surat itu kecuali jika kita pergi bersama ke pengadilan agama, mengurus perceraian,” Arga pun sama kesalnya.
Ia jadi kaget sendiri karena mengatakan tentang perceraian kepada Nadira.
Nadira hanya diam, mendengar kata cerai, ia tak tahu mau berkata apa lagi.
Dokter Mirza tiba-tiba melemparkan senyumnya kepada Arga. Arga jadi bingung sendiri dengan sikap lelaki yang terkenal sangat ramah itu.
“Aku mengerti perasaanmu Arga, aku tidak marah padamu karena kau sudah salah paham antara aku dan juga Nadira. Aku akan pergi dari sini dan selesaikanlah secara baik-baik masalah kalian. Aku hanya berpesan, perceraian adalah sesuatu yang baik namun dibenci Allah,” lelaki itu bergegas pergi meninggalkan Arga berdua saja dengan Nadira.
“Sungguh kau ingin bercerai denganku?” tanya Arga memastikan, sorotnya seolah berharap agar Nadira menggeleng atau mengatakan tidak.
“Aku tidak bisa bersamamu, Arga,”
“Kenapa? Lalu begitu saja kau melupakan janjimu? Kau bilang kau akan bersamaku bagaimana pun kondisiku. Sekarang aku sudah bisa melihat, untuk alasan apa lagi kau harus pergi?”
Nadira menatap kedua mata coklat Arga, ia sangat bersyukur lelaki itu kembali memiliki sinar mata.
“Arga, apa kau tidak ingin tahu siapa pendonor kornea matamu?” tanya Nadira tiba-tiba.
“Jadi kau tahu? Siapa?”
“Niken,” jawab Nadira.
Arga tertegun, saat tahu kenyataannya.
“Aku iri padanya, dia sudah berkorban untukmu. Mungkin kau dan ibumu beranggapan karena Niken, kau jadi buta, tapi karena dia juga sekarang kau bisa melihat kembali, dia yang memberimu cahaya itu,”
“Kenapa kau tidak jujur padaku dari awal?” Arga menyayangkan.
“Aku sudah mengingkari janjiku pada Niken, tapi kurasa lebih baik kau tahu kenyataan yang sebenarnya, agar nanti kau bisa sampaikan langsung pada ibumu kalau Niken lah yang telah mendonorkan korneanya untukmu, supaya dia membuang segala kebenciannya kepada Niken, apalagi dia sudah meninggal,"
“Nad, kenapa tidak jujur padaku dari awal,” mata Arga tampak berkaca-kaca mengingat Niken dan juga kenyataan yang sebenarnya tentang pengorbanan Niken mendonorkan kornea matanya untuknya.
“Niken bilang dia tidak mau kau menolak, makanya kami merahasiakan identitas pendonor darimu,”
“Tapi Nad, kaulah cahaya itu. Kau yang menuntunku dan menemaniku saat duniaku gelap. Walaupun aku tahu sekarang semua pengorbanan Niken, perasaanku padamu tidak berubah Nad. Aku merasa sia-sia dengan semua kesembuhan ini kalau kau tidak di sisiku. Sebenarnya aku tidak peduli lagi jika harus buta selamanya, tapi kau harus tahu Nad alasan utama kenapa aku menerima donor kornea itu, aku hanya ingin melihatmu, aku hanya ingin tahu wajahmu, tapi kau malah pergi meninggalkanku dengan selembar surat cerai sialan yang sudah kau tandatangani. Setidaknya Niken jauh lebih baik saat pergi, meninggalkan surat penjelasan kenapa kami harus berpisah,”
Nadira tertegun.
“Nad, ikutlah denganku, ayo kita pulang,”
Nadira menggeleng, “kau yang seharusnya pulang. Tempatmu bukan di sini,” Nadira bergegas pergi meninggalkan Arga. Nadira kembali ke tenda pengungsian.
Arga hanya diam, ingin rasanya ia memeluk Nadira saat melihatnya pertama kali.
.
.
.
Nadira terus terngiang-ngiang semua perkataan dokter Mirza padanya.
“Memisahkan seorang ayah dari calon anaknya, menurutmu itu adalah yang terbaik?”
Arga masih berada di tenda pengungsian ia tak bisa berbuat apa-apa karena Nadira terkesan tidak ingin ikut dengannya. Saat petugas relawan memberinya menu makan malam yang sederhana, Arga hanya diam menatapnya. Arga menatap tangan kanannya yang dibebat, bagaimana caranya dia bisa makan? Apalagi makanan itu diberikan tanpa sendok ataupun garpu. Tidak mungkin juga dia harus makan langsung dengan tangan kiri.
Nadira diam-diam mengamati Arga yang hanya diam saja menatap makan malamnya.
“Maaf, mau aku bantu makan?” tanya seorang perawat wanita yang menghampirinya.
Arga tak menjawab, tanpa sengaja ia melihat Nadira yang sekilas tampak gelisah berdiri di antara beberapa tenaga kesehatan lainnya.
“Oh iya, dengan senang hati,” Arga tersenyum.
Perawat itu segera mengambil piring makan malam Arga.
Nadira tiba-tiba muncul di antara mereka sambil berdehem keras. "Ehem,"
“Dokter, ada apa ya?”
“Maaf, berikan piringnya padaku, aku yang akan menyuapinya makan,”
“Kenapa dokter? Anda sepertinya juga belum makan, pasien ini biar aku yang urus,"
“Maaf, pasien itu adalah suamiku,” jelas Nadira sambil menatap Arga.
Arga hanya tersenyum samar. Ia tahu Nadira pasti akan datang saat melihat perawat itu mendekatinya.
“Apa?” perawat itu kaget.
Nadira menunjukkan jari manis tangannya yang dilingkari cincin pernikahan yang sama persis seperti cincin yang digunakan Arga.
“Maaf dokter saya tidak tahu,” perawat itu segera menyerahkan piring makan Arga dan bergegas pergi, niatnya untuk mendekati lelaki tampan itu tidak berhasil karena Arga ternyata sudah beristri.
Nadira segera duduk di samping Arga. Nadira tiba-tiba menitikkan air mata, “maafkan aku Arga. Aku benar-benar tidak bisa melihat kau bersama perempuan lain,”
Arga menghapus titik air mata yang membasah pipi Nadira. “Aku tahu Nad, kau mencintaiku,”
Keduanya segera saling berpelukan di tengah-tengah para korban bencana dan menjadi pusat perhatian. Menyadari hal itu, Nadira dan Arga saling melepaskan pelukan.
Nadira segera menyuapi Arga dengan menu makanan yang sederhana namun terasa begitu nikmat bagi Arga. Dan lagi ia tak pernah lepas menatap wajah cantik Nadira yang dihiasi senyum dan juga sorot penuh cinta.
“Nad, jangan pergi lagi ya,” Arga menatapnya penuh harap ketika ia sudah selesai makan.
“Maafkan aku Arga yang sudah mengingkari janjiku padamu,”
“Yang penting sekarang kau harus menyakinkanku kalau kau akan memegang teguh semua janjimu padaku,”
Nadira mengangguk sambil tak lepas menatap Arga.
“Nad, aku ingin kau jujur tentang semuanya,” Arga menyentuh pelan dagu Nadira. “Termasuk tentang mommy,”
Nadira agak ragu.
“Nad, jangan hadapi sendirian. Kita hadapi sama-sama,” Arga membujuk dengan tatapan lembut. “Mommy kan yang mendesakmu untuk menandatangani surat cerai? Dia juga yang memintamu meninggalkanku kan?”
Nadira mengangguk lemah.
“Maafkan aku sayang. Selama ini aku tidak bisa melindungimu dari semua tekanan mommy. Aku tidak mau kau dan Niken bernasib sama, merasa tertekan karena sikap mommy,”
“Arga, aku berusaha menghormatinya sebagai ibumu. Dia tidak menginginkan aku, dia hanya menginginkan Feli sebagai pendampingmu,” Nadira begitu sedih.
“Kita akan bersama Nad. Pernikahan kita tidak akan berakhir, aku tidak pernah menginginkan pernikahan kedua dalam hidupku,”
Nadira hanya menatap Arga, perasaan gundahnya belum sepenuhnya hilang.
“Kumohon, kuatlah demi diriku sayang,” pinta Arga, “ayo kita berusaha yakinkan lagi mommy kalau kau dan aku sudah saling ditakdirkan.”