
Flashback
Nadira memasuki kamar Arga untuk mengambil pakaian dan beberapa barangnya. Begitu ia selesai memasukkan semua ke dalam kopernya, Nadira berjalan ke arah pigura yang membingkai foto pernikahannya dengan Arga.
Nadira menatap foto itu lekat-lekat sambil bergumam, “maafkan aku Arga, begitu banyak janji yang tidak kutepati denganmu. Aku tidak tahu bagaimana cara meyakinkan ibumu, cukup aku dipisahkan denganmu, tapi tidak dengan anak ini,” Nadira mengelus lembut perutnya.
Nadira lalu meletakkan kembali pigura foto itu, kemudian melihat di atas meja amplop coklat berisi surat perceraian mereka. Ternyata Rachel sudah menyusun rencana dengan sebaik-baiknya. Nadira lalu mengeluarkan jam saku pemberian Arga dari saku bajunya.
Ia menatap benda antik itu sejenak, lalu meletakkannya di atas amplop surat cerai. Kemudian melangkah keluar sambil menyeret kopernya.
Setelah menuruni tangga, Nadira bertemu bu Ruly dan beberapa pelayan yang menyertainya.
“Nona, anda benar akan pergi?” tanya bu Ruly tampak sedih.
“Iya bu, tugasku sudah selesai. Aku akan kembali menjadi diriku yang dulu, sebelum menjadi istrinya Arga,”
“Nona, kenapa pernikahan anda harus dipermainkan seperti ini oleh Nyonya Rachel,”
Nadira hanya diam.
“Aku pasti akan merindukanmu nona,” bu Ruly lalu memeluk Nadira dengan berlinang air mata.
Terakhir, Nadira berpamitan ke rumah paman dan bibinya. Widya hanya bisa menangis dengan keputusan Nadira yang akan pergi tanpa mengatakan yang sejujurnya ke mana ia akan pergi. Nadira sempat menggendong bayi Niken yang sedang terlelap ia lalu mengecupnya dan berpamitan padanya, seolah sedang berpamitan langsung kepada Niken.
Setelah dari rumah pamannya, Nadira segera ke rumah sakit untuk diam-diam menjenguk Arga. Ia tahu hari itu adalah hari perban mata Arga dibuka setelah operasi transplantasi kornea mata.
Nadira pun sampai di depan pintu ruang perawatan Arga. Semua orang sedang berkumpul di dalam, menunggu dengan antusias saat Arga membuka kedua matanya dan dunia gelapnya pun berakhir.
Nadira hanya bisa mengintip ke dalam, ia turut merasa bahagia saat melihat sorot mata coklat Arga sudah mampu melihat lagi orang-orang yang berkumpul di kamar perawatannya.
Nadira bergegas pergi, sebelum ia ketahuan. Ia datang hanya ingin memastikan kalau operasi kornea mata Arga, sukses. Walaupun sejujurnya Nadira sangat ingin masuk ke kamar perawatan Arga dan menunjukkan dirinya langsung di depan kedua mata Arga yang sudah sembuh dari kebutaan.
Nadira berbelok dari koridor dan duduk di sebuah bangku dengan perasaan penuh rasa syukur, “terima kasih Niken, kau sudah membawa Arga keluar dari dunia gelapnya,” gumam Nadira begitu bahagia, saking bahagianya ia pun menitikkan air matanya, meski kesedihan juga meliputi hatinya karena tak bisa menunjukkan dirinya di hadapan Arga.
Saat itu Nadira melihat Arga dengan langkah tergesa-gesa bahkan sesekali berlari kecil menyusuri koridor, hendak menuju ke UGD mencarinya. Sayangnya Arga tidak menyadari kehadirannya ia terlalu fokus menuju UGD.
Nadira bangkit berdiri melihat punggung Arga yang makin menjauh, ia bisa menebak kalau Arga ingin segera ke UGD. Dari jauh Nadira melihat Rasty yang sedang menyusul kakaknya menuju UGD. Nadira segera bersembunyi sebelum Rasty menangkap basah kehadirannya di rumah sakit ini.
.
.
.
Di bandara Soekarno Hatta, Nadira sudah berkumpul bersama beberapa orang tenaga kesehatan yang telah mendaftarkan dirinya sebagai relawan kesehatan untuk menangani korban gempa di Sumbawa Barat. Ada dokter, perawat dan juga bidan. Tapi yang paling banyak adalah perawat. Sebentar lagi mereka akan naik pesawat dan segera berangkat menuju ke Sumbawa Barat.
“Dokter Nadira!” panggil seseorang.
Nadira menoleh dan melihat dokter Mirza melangkah menghampirinya sambil menarik kopernya.
“Dokter Mirza!” Nadira terkejut. “Apa yang anda lakukan di sini?”
“Aku juga mendaftar sebagai dokter relawan,” jawabnya.
“Kenapa dokter?” tanya Nadira penasaran.
“Menolong korban bencana alam, apa harus ada alasan?”
“Tapi kenapa sebelumnya anda tidak pernah bilang padaku?”
Dokter Mirza tersenyum, “ini sudah menjadi keputusanku,”
Padahal sebenarnya alasan Mirza ikut menjadi dokter relawan adalah demi Nadira, ingin melindungi gadis itu yang bekerja sebagai dokter di lokasi gempa dalam keadaan sedang hamil, pasti berbahaya. Meski tidak tahu pasti apa yang terjadi, tapi Mirza tahu kalau hubungan Nadira dan Arga sedang tidak baik-baik saja.
.
.
.
“Maaf tuan muda, saya hanya bisa mengantarkan anda sampai di sini,” sahut Irfan yang sedang mengantarkan Arga ke bandara.
Arga dalam penampilan backpacker dengan gaya kasualnya.
Irfan hanya mengangguk. Arga tampak khawatir memikirkan Rachel, ia tak bilang-bilang kepada Rachel atau siapapun kecuali kepada Irfan dengan keinginannya untuk menyusul Nadira ke Sumbawa Barat.
“Aku sudah siap bagaimana pun reaksi mommy nanti. Irfan tolong kamu jaga mommy ya,” pesannya
Irfan kembali mengangguk patuh.
Sementara itu Rachel dan Feli sedang menunggu bersama di sebuah restoran mewah. Rachel sudah menyampaikan sebelumnya kepada Arga untuk menghadiri makan siang dengannya di sebuah restoran yang telah ia tetapkan. Tapi sudah lebih tiga puluh menit kedua wanita itu menunggu, Arga tak kunjung datang, batang hidungnya belum kelihatan sama sekali.
“Kemana anak itu, tidak biasanya dia terlambat,” Rachel bergumam cemas.
Setelah kebersamaan Arga dan Feli di Bandung kemarin, Rachel semakin memantapkan diri dengan niatnya untuk menjodohkan kembali Arga dengan Feli. Ia mengundang Arga dan Feli makan siang bersamanya dengan tujuan untuk membicarakan kembali perjodohan mereka.
“Tante, kurasa Arga tidak akan datang,” sahut Feli dengan ekspresi datar.
“Tidak sayang, Arga pasti akan datang, dia sudah berjanji, tante juga tidak bilang padanya kalau kamu juga tante undang untuk ikut makan siang di sini. Mungkin dia ada kendala di perjalanan, tante coba telpon dulu ya,”
Rachel segera bangkit dan melangkah beberapa langkah menjauh dari meja tempat ia dan Feli duduk.
Rachel segera menghubungi ke ponsel Arga, terdengar bunyi sambungan, cukup lama Rachel menunggu hingga Arga menjawab telponnya.
“Arga, kamu di mana? Kenapa belum datang juga ke restoran?” tanya Rachel di ujung telpon.
“Maaf, mom, aku tidak bisa datang,” jawab Arga yang baru naik ke pesawat dan sedang duduk di kursinya. Pramugari sedang sibuk menyimpan ranselnya di kompartemen.
“Kenapa? Kau tahu, sejak tadi mommy dan juga Feli menunggu kamu di sini,” Rachel terdengar geram.
“Mom, berhentilah melibatkan Feli. Aku tidak mau hubungan pertemananku dengannya menjadi rusak. Mommy harus bisa menerima kenyataan kalau aku hanya memilih Nadira,”
Tiba-tiba terdengar suara pramugari menyapa dengan menyebutkan nomor penerbangan dan tujuan penerbangan, lalu memberikan instruksi pemasangan sabuk pengaman, letak pintu darurat pesawat, instruksi pemasangan alat bantu pernapasan dan juga pemasangan pelampung dan larangan mengaktifkan perangkat seluler saat pesawat telah lepas landas.
Rachel mendengar semuanya. “Arga, mau ke mana kamu?” Rachel sangat kaget mengetahui kalau Arga sedang berada di atas pesawat.
“Mom, maaf, aku tidak bilang padamu, karena aku yakin, kau pasti akan melarangku. Aku akan mencari Nadira mom,” Arga pun jujur.
“Tidak Arga! Hentikan semua tingkahmu ini! Turun segera dari pesawat!” Rachel seperti memarahi seorang anak kecil.
“Mom, kenapa sih mommy tidak sadar juga, aku sangat mencintai Nadira. Berhentilah melarangku mencarinya, aku cukup tahu kepergian Nadira dan juga surat cerai itu adalah perbuatan mommy, karena aku tahu Nadira tidak mungkin melakukan itu padaku,” Arga begitu frustasi dengan sikap keras kepala ibunya.
“Arga, dia sudah menandatangani surat cerai,”
“Iya mom, tapi aku sampai detik ini belum menandatangani surat cerai itu. Biarkan aku mencari Nadira, kalau saat bertemu dia berkata langsung dari mulutnya benar-benar ingin bercerai denganku, maka aku akan menandatangani surat itu di depan matanya,”
“Arga, kumohon nak, jangan pergi,” Rachel mengiba.
“Maaf mom, kali ini aku tidak bisa mendengarkanmu ataupun menuruti kemauanmu. Aku akan mematikan telpon, sebentar lagi pesawatnya akan berangkat. Maaf mom, aku menyayangimu,” Arga segera mengakhiri telponnya lalu menonaktifkan ponselnya.
Arga segera bersandar lesu di kursinya sambil menatap keluar melihat suasana landasan pesawat melalui kaca jendela.
“Arga!” panggil Rachel begitu khawatir, namun sambungan telpon sudah terputus, ia mencoba kembali menghubunginya namun nomornya sudah di luar jangkauan.
Rachel menggeram sebal.
“Tante Rachel, ada apa?” tanya Feli yang datang mendekat. Ia begitu penasaran sejak tadi mengawasi Rachel yang tampak tegang dan seperti sedang berdebat dengan Arga di telpon.
“Maafkan tante sayang, Arga tidak bisa datang,” Rachel begitu sedih dan kecewa.
“Tidak apa-apa tante. Arga memang tidak akan datang,” Feli tampak pasrah.
“Sekali lagi maaf ya sayang, anak itu benar-benar...,” Rachel tak tahu hendak berkata apa lagi, hatinya benar-benar kesal.
“Tante, Arga mencintai Nadira. Dia tidak akan bisa memandang kepadaku, karena hatinya hanya milik Nadira,” Feli berusaha mengingatkan Rachel tentang kenyataan sebenarnya.
“Feli..,”
“Lupakan semua perjodohan ini tante, Arga tidak akan pernah mau. Kalaupun Arga menikah denganku, aku tidak mau dia membenciku, aku tidak mau dia tidak bahagia denganku,”
“Feli, sebelum ayahmu meninggal kami sudah sepakat untuk menyatukan dua keluarga dengan menikahkanmu dengan Arga,” Rachel begitu berharap.
“Aku tahu Tante Rachel berjanji begitu karena rasa hutang budi tante kepada ayah kan? Tapi semua tinggal rencana tante, Arga lebih memilih Nadira daripada menuruti keinginan tante. Sudahlah tante, lupakan saja semua rencana ini, aku tidak apa-apa,” Feli bergegas kembali ke meja untuk mengambil tasnya, setelah itu ia bergegas pergi meninggalkan restoran.
“Feli,” panggil Rachel, namun ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Rachel hanya bisa menelan kekecewaannya hari ini karena ulah dari Arga.