NADIRA

NADIRA
PERTEMUAN DENGAN BRAM



“Apa jadwal selanjutnya?” Arga bertanya ketika baru memasuki ruang kerjanya di gedung Rajasa Group bersama Irfan, setelah mengikuti rapat khusus bersama dewan direksi.


“Jam lima sore nanti ada jadwal pertemuan dengan direktur PT. Surya Desain, membahas tentang kerja sama kita untuk mega proyek pembangunan apartemen di Kalimantan Timur, tuan,” jawab Irfan.


“Jam berapa sekarang?”


“Jam empat sore, tuan,” jawab Irfan setelah melirik arlojinya.


“Baiklah, siapkan semua berkas yang perlu aku bawa,” Arga mengangguk.


“Tapi tuan, lebih baik jika wakil direktur saja yang mewakili perusahaan kita untuk meeting tersebut. Anda sudah berada di sini sejak pagi, lebih baik anda pulang sore ini dan segera beristirahat,” Irfan menyarankan.


“Tidak, tidak! Biar aku saja. Semoga dia tidak memandangku sebelah mata karena direktur utama Rajasa Group adalah seorang pria buta seperti aku,”


“Baiklah tuan,” Irfan kemudian membantu Arga menuju ke kursi meja kerjanya.


Irfan pun membacakan latar belakang dari direktur PT. Surya Desain, perusahaan yang menyediakan jasa arsitektur dan desain. Perusahaan mereka sangat terkenal di bidang tersebut, sehingga Arga sangat berharap mereka bisa menjalin kerja sama dalam pembangunan mega proyek apartemen yang berlokasi di ibukota Kalimantan Timur.


“Namanya Bramantyo Wijaya, lulusan S1 Teknik Arsitektur UGM, dan lulusan S2 Arsitektur di Universitas Waseda, Jepang. Ayahnya seorang pejabat terkenal di Jogja dan ibunya menjabat sebagai dewan komisaris di PT. Internusa,”


Arga mendengarkan dengan seksama latar belakang direktur PT. Surya Desain yang dibacakan Irfan. Baginya mengetahui dengan baik latar belakang calon rekan bisnisnya adalah penting.


“Tapi ada satu fakta yang saya dapat tentang masa lalu tuan Bramantyo, tuan,”


Arga menunggu.


“Beberapa tahun yang lalu, dia pernah terseret kasus percobaan pelecehan dengan salah satu teman kampusnya di UGM. Saya tidak tahu detilnya siapa, karena kasus ini sebenarnya sengaja ditutupi oleh kedua orang tua tuan Bramantyo, serta pejabat daerah setempat,"


“Sepertinya aku bisa membaca bagaimana karakter orang ini. Oh iya kau belum menyebutkan, di mana dia minta bertemu?”


“Di sebuah klub malam tuan, dia mensyaratkan pertemuannya di situ,”


Arga menghela nafas, “aku sudah tahu tipe orang macam apa dia, ajak pertemuan kerjasama bisnis di tempat seperti itu,”


“Makanya saya menyarankan lebih baik jangan tuan Arga yang ke sana, tuan Wira bisa menggantikan anda,”


“Tidak, biar aku saja,” Arga bersikukuh. Kali ini situasinya sama, Arga ingin menyibukkan dirinya dengan bekerja, agar ia tidak ingat sedikitpun apa yang sedang terjadi antara dirinya dan juga Nadira.


.


.


.


Arga dan Irfan tiba pukul tujuh malam di klub itu, Bramantyo ada urusan dadakan sehingga menunda pertemuan bisnis mereka ke pukul tujuh malam.


Arga dan Irfan tiba tepat waktu di klub itu. Suara musik yang menghentak, suara manja wanita-wanita yang berpakaian terbuka, memenuhi telinganya yang begitu peka terhadap suara-suara berisik. Arga merasa tidak nyaman, tapi ia berusaha mengendalikan diri. Aroma alkohol dan anggur menguar di mana-mana. Arga sebenarnya tidak menyukai tempat semacam ini, bisa dihitung jari sebelumnya berapa kali ia pernah mengunjungi tempat hiburan malam, itupun hanya memenuhi ajakan teman. Arga juga tidak pernah minum banyak, ia hanya pernah meminum anggur itupun hanya segelas saja, lalu bagaimana dengan wanita-wanita penghibur yang ingin mengajaknya bersenang-senang? Arga tak pernah meladeni. Di kalangan teman-temannya Arga terkenal cuek, tidak sembarangan bergaul dengan perempuan, apalagi saat ia berpacaran dengan Niken.


Seorang pelayan wanita menyambut keduanya dan menuntun Arga dan Irfan ke sebuah ruangan eksklusif di klub itu. Suasananya lebih privat, begitu mereka keluar dari lift, suara hentakan musik di lantai dasar klub hanya sayup-sayup terdengar, sehingga membuat pendengaran Arga jadi lebih rileks.


Pelayan itu membukakan  sebuah pintu ruangan dan mempersilahkan Arga dan Irfan masuk ke dalam. Saat masuk Arga mendengar beberapa suara wanita, suara lelaki yang tertawa. Ia juga mencium bau asap rokok dan juga bau minuman anggur dan whisky.


Bram mematikan puntung rokoknya begitu Arga memasuki ruangan. Ia dituntun duduk oleh Irfan, sementara Irfan berdiri tenang di sampingnya.


“Saya ucapkan selamat datang, tuan Arga,” sahut Bram sambil mengulurkan tangan.


“Tuan, tuan Bramantyo mengajak anda bersalaman,” bisik Irfan kepada Arga.


Spontan Arga pun mengulurkan tangannya. Bram tersenyum memaklumi lalu menyambut duluan tangan Arga untuk bersalaman dengannya.


“Selamat malam tuan Bramantyo,” ujar Arga saat berjabat tangan dengan lelaki itu.


“Tidak usah memanggilku Bramantyo, cukup panggil Bram saja. Orang tua dan teman-temanku, akrab memanggilku dengan nama itu,” ujar Bram setelah berjabat tangan dengan Arga.


“Ada apa tuan Arga? Kenapa bingung begitu, apa ada yang salah?” tanya Bram sambil tersenyum samar.


“Tidak,” Arga menggeleng pelan.


“Anda ingin minum apa? Aku punya botol anggur dan juga whisky di sini,” Bram menawari sambil melirik botol-botol minuman di depannya.


“Aku tidak minum minuman seperti itu. Tolong bawakan segelas jus untukku, apa saja,” sahut Arga.


Bram mengangguk pelan, kemudian memerintahkan wanita yang duduk di sisi kirinya untuk pergi mengambilkan minuman jus yang dipesan Arga.


“Aku benar-benar kagum padamu, tuan Arga. Meski punya kekurangan karena tidak bisa melihat, kau masih begitu semangat menjalankan perusahaan rintisan keluarga,”


Arga tersenyum sekilas, “justru karena punya kekurangan seperti ini aku harus bisa membuktikan, bahwa ini bukanlah halangan untuk tetap bekerja,”


Bram memerintahkan wanita di sampingnya untuk menuangkan anggur ke gelas minumannya. Ia meneguknya sedikit kemudian melanjutkan bicara.


“Aku sebenarnya tertarik menjadi partner pembangunan mega proyek apartemen di Kalimantan Timur. Di kalangan pebisnis tidak ada yang meragukan kehebatan dan kebesaran Rajasa Group, juga ketenaran Nyonya Rachel dan putranya Tuan Muda Arga,”


“Perusahaan anda juga begitu terkenal dengan kinerja yang baik dan memuaskan untuk jasa arsitektur dan desain,” balas Arga.


“Betul, aku begitu selektif memiliki arsitek yang benar-benar berbakat dan pekerja keras,”


“Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik,  mengenai upah Rajasa Group tidak pernah punya riwayat buruk dalam negosiasi kesepakatan pembayaran,” Arga menambahkan.


Wanita yang tadi diperintahkan Bram untuk membawakan jus pesanan Arga, kemudian datang dan meletakkannya di depan Arga.


“Silahkan diminum tuan,” wanita berambut panjang itu menatap tertarik kepada Arga karena ketampanannya, lalu mengambil posisi duduk di sampingnya.


“Jadi kapan rencananya mega proyek ini akan mulai dikerjakan?” Bram bertanya lebih lanjut.


“Bulan Juni tahun depan,” jawab Arga.


“Baiklah, aku akan segera mengadakan rapat di kantorku, lalu kita bisa mengatur pertemuan berikutnya untuk membahas soal desain, bahan, lama waktu pengerjaan dan anggaran biayanya. Aku akan menurunkan tim terbaikku untuk bekerja membangun mega proyek ini,” jelas Bram.


“Bulan depan kita bisa mengatur pertemuan dengan wakil direktur Rajasa Group untuk membahas soal desain gedung dan lain-lainnya. Aku tidak bisa karena aku tidak bisa melihat, jadi wakil direktur akan menggantikanku,”


“Baiklah, itu tidak masalah tuan Arga. Aku memahami kondisi fisikmu,”


Keduanya kemudian sepakat untuk segera menandatangani kontrak perjanjian kerjasama sampai batas waktu yang ditetapkan. Irfan bergegas menyiapkan dokumen tersebut. Setelah berjabat tangan karena kedua lelaki itu resmi menjalin hubungan bisnis kerja sama, Bram menyilahkan Arga untuk meminum jusnya.


Wanita berambut panjang itu membantu Arga menemukan minumannya.


“Jangan menyentuhku!” Arga berujar ketus saat menyadari kalau wanita itu sengaja mencari kesempatan untuk bisa menyentuh tangannya.


Bram menegur wanita itu, kalau ia tidak boleh berlaku kurang ajar terhadap rekan bisnisnya. Wanita itu menunduk meminta maaf dan kini hanya duduk diam di samping Arga.


“Bagaimana kabar istri anda?” Bram bertanya tiba-tiba.


Arga tampak terkejut,  sementara Irfan mulai tidak nyaman melihat gelagat Bram.


“Kenapa terkejut, tuan Arga? Pernikahan anda disiarkan di seantero negeri, jadi bukan hal yang aneh kalau aku bertanya demikian,”


“Tentu saja aneh, tiba-tiba kau bertanya tentang istriku,” jawab Arga.


“Iya, aku sangat penasaran dengannya. Dia pasti wanita yang begitu baik karena menikahi anda karena alasan cinta yang tulus meski anda buta, bukan karena harta dan jabatan yang dimiliki oleh tuan Arga,” jelas Bram.


“Apa kau mengenal istriku?” tanya Arga curiga. Tiba-tiba hatinya yakin, Bram di hadapannya ini adalah Bram yang pernah menjadi bagian dari masa lalu Nadira.


Bram diam sesaat, seperti ingin membuat Arga semakin penasaran.


“Aku cukup mengenalnya. Kami dari satu almamater kampus yang sama. Dokter Nadira Nuraini Afifa.” Jawab Bram tanpa ragu sambil menunggu bagaimana reaksi Arga selanjutnya.