NADIRA

NADIRA
TEMPAT DI HATI



Arga, Nadira, dan Irfan sedang mampir di kedai kopi di bandara. Di hadapan mereka masing-masing sudah tersaji kopi dengan pilihan rasa masing-masing. Sambil menunggu jemputan dari bandara, mampir di kedai kopi adalah pilihan terbaik.


“Di mana posisi mereka?” tanya Arga pada Irfan.


“Mereka tidak jauh lagi dari bandara, tuan,”


“Suruh mereka cepat, aku tidak mau berpapasan dengan hujan saat di perjalanan,”


“Saya akan menelpon mereka lagi, tuan,” Irfan bangkit berdiri dan berjalan keluar dari kedai kopi.


Nadira melihat sekretaris itu sedang menempelkan ponsel di telinganya.


“Arga, aku ke toilet sebentar ya, kamu tunggu di sini,” sahut Nadira.


“Hmm,” Arga tampak acuh karena sedang memasang earphone di kedua telinganya.


Kedai kopi ini sebenarnya tidak terlalu ramai, Irfan dan Nadira sengaja memilih meja paling sudut demi kenyamanan telinga Arga dari suara-suara ribut yang tidak disukainya sejak ia menjadi orang buta.


Nadira bergegas, ia berlari-lari kecil dan matanya tak lepas menatap sosok Irfan yang berdiri tak jauh dari pintu masuk kedai.


Nadira sampai ketika Irfan telah selesai berbicara lewat ponselnya.


“Ada apa nona?” tanya Irfan agak kaget, sambil melirik ke dalam, melihat Arga yang duduk sendirian di meja.


“Irfan, maaf aku bicara di sini saja, karena dia pasti tidak akan mendengarnya,” sambil melirik ke dalam, mengawasi Arga yang tengah asyik dengan musik dan earphone-nya.


Irfan menunggu dengan tatapan berwibawa.


“Kita akan menginap di mana nanti?”


“Di vila, nona,”


“Tolong ya, sediakan kamar untukku juga,” pinta Nadira.


“Kenapa nona? Bukankah semalam anda sudah sekamar dengan tuan Arga?”


“Iya, tapi ...,” Nadira terhenti.


Mana mungkin aku bilang padanya, kalau sekamar dengannya lagi di sini, aku takut khilaf karena sering memandang wajahnya diam-diam.


“Dalam kontrak pernikahan, poin satu. Tidak menuntut nafkah lahir bathin, aku takut kalau sekamar dengannya selama beberapa hari ke depan, bathinku malah bergejolak melihat dia tiap akan mandi, dengan santainya membuka baju di depan mataku,” Nadira berusaha memberi alasan yang logis.


“Anda tidak perlu khawatir sekamar dengan tuan Arga. Ingatlah, dia buta, tidak akan bisa melihat anda meskipun anda sedang buka-bukaan di kamar, jadi dia tidak akan terpancing untuk melanggar poin satu di kontrak pernikahan. Kecuali anda yang duluan menggodanya,”


Astaga, dia pikir aku perempuan macam apa, kenapa bicaranya sampai begitu.


“Nona, saya minta jangan tinggalkan tuan Arga sendirian di kamar. Dia tidak bisa melihat, susah baginya untuk beradaptasi di tempat dan suasana yang baru, kecuali di kamarnya sendiri di kediamannya. Tuan muda pasti membutuhkan anda untuk membantunya menemukan atau mengambilkan sesuatu yang dia butuhkan. Lagipula saya melihat, anda berhasil melewati semalam dengannya di kamar hotel,” Irfan teringat bantal di sofa kamar hotel, ia tahu kalau Arga dan Nadira malam itu tidak seranjang.


Nadira hanya diam, berusaha menguras pikirannya bagaimana meyakinkan Irfan dengan permintaannya.


“Kalau nona mau seperti itu, kan tidak lucu kalau saya yang menemani tuan Arga di kamar, sementara anda adalah istri sahnya,” Irfan mengingatkan.


“Hmm, baiklah,” Nadira mengalah. Irfan benar, Arga pasti akan kesusahan kalau diberikan kamar sendiri.


“Lihatlah ke dalam nona, anda hanya sebentar meninggalkannya, seorang perempuan cantik tampaknya ingin menggoda tuan Arga,” Irfan menunjuk ke dalam kedai.


Nadira menoleh ke dalam kedai. Nadira melihat seorang perempuan muda sedang duduk di depan Arga sambil tersenyum dan mengajaknya bicara. Kenapa dia merasa kurang nyaman?


Seorang perempuan berambut lurus dan berponi datang menghampiri Arga dan berdiri di hadapannya. Arga yang mengenakan kacamata hitam begitu asyik dengan musik yang didengarkannya dalam volume yang sedang.


Arga menarik kedua earphone yang menyumbat telinganya, saat hidungnya mengendus aroma parfum yang berbeda. Aromanya agak mencolok, bukan aroma parfum Nadira yang khas wangi mawar beraroma lembut.


“Siapa?” tanya Arga.


Wanita itu tersenyum, lalu menarik kursi di depan Arga dan duduk.


“Hai, sendiri saja?” tanyanya, ia menatap cincin yang melingkar di jemari manis tangan kanan Arga. Menduga-duga pria di depannya ini lajang atau bukan, atau cincin itu hanya sekedar hiasan di jemarinya.


“Menurutmu?” Arga terdengar dingin.


“Kenalkan, aku Vera,” perempuan bernama Vera itu mengulurkan tangan kanannya, berharap Arga membalas dan mau berkenalan dengannya.


Vera menduga Arga tidak mau membalas uluran tangannya. Padahal Arga tak melihatnya saja.


Karena Arga tak kunjung membalas uluran tangan dan juga tidak menyebutkan namanya, Vera menarik tangannya sambil tersenyum cantik, memaklumi sikap Arga yang seperti perempuan. Dalam hal ini dialah yang berusaha mendekati lelaki tampan itu.


Nadira tiba-tiba muncul dan berdiri tepat di samping Arga. Vera melihat di jemari manis tangan kanan Nadira, juga tersemat cincin yang sama seperti milik Arga. Akhirnya ia sadar, lelaki incarannya sudah jadi milik perempuan lain.


Vera bangkit berdiri, dan tersenyum anggun pada Nadira. “Maafkan aku, sampai jumpa,” ia melangkah pergi dengan perasaan kecewa.


“Apa yang kau lakukan sampai dia pergi begitu saja?” tanya Arga yang menyadari kehadiran Nadira.


“Aku hanya menatapnya saja,” Nadira duduk di tempat Vera tadi. “Tapi sepertinya dia sadar saat melihat cincin yang sama di jari kita.”


Arga meraba cincin kawinnya. Tidak berapa lama, Irfan muncul dan memberi kabar kalau mobil jemputan mereka sudah tiba. Ketiganya segera bergegas.


Nadira menikmati perjalanan mereka di atas mobil. Matanya terus menatap keluar, terpikat oleh kecantikan dan pesona alam Kabupaten Lombok Tengah. Arga di sampingnya hanya diam saja sambil mendengar musik melalui earphone.


Dia tidak bosan apa, seharian dengar musik terus.


“Pinjamkan aku bahumu, tadi aku sudah berbaik hati meminjamkan bahuku saat kau tidur di pesawat,” Arga tiba-tiba menyandarkan begitu saja kepalanya di bahu Nadira, sebelum gadis itu merespon.


“Kau mengantuk ya,” Nadira berbasa-basi, menutupi rasa kaget dan rasa aneh yang kembali menjalari hatinya.


Nadira diam sambil mendengarkan detak jantungnya yang semakin cepat berpacu. Irfan yang duduk di jok depan bersama sopir, melirik ke arah dua majikannya melalui spion.


Sepertinya tuan Arga tidak menyadari kalau mulai membuka hati pada istrinya.


Sepanjang perjalanan, Nadira tidak bergerak. Takut mengusik tidur Arga yang begitu terlelap di bahunya. Arga benar-benar tidur, bagaikan sedang tidur di rumahnya. Begitu lelap.


Saat mobil melintasi jalanan yang agak berlubang, kepala Arga bergeser sedikit, dengan cepat Nadira menahan kepala Arga agar tidak jatuh dari pundaknya. Arga tak bergeming, Nadira mengintip, lelaki itu masih tertidur pulas. Nadira menarik nafas, tadinya ia berpikir Arga akan terbangun saat mobil melintasi jalanan berlubang.


Sudah separuh perjalanan menuju vila, Nadira merasakan pegal di badannya. Tapi ia tidak tega membangunkan Arga.


Nadira baru bernafas lega ketika mobil berhenti karena sudah sampai, saat itu juga Arga bangun dan meluruskan punggungnya.


“Kita sudah sampai, tuan,” sahut Irfan di depan, ia segera turun dari mobil dan membantu Arga juga turun dari mobil. Nadira tidak langsung turun, ia berusaha merilekskan badannya.


“Nadira, kau di mana?” tanya Arga yang sedang bersama Irfan.


“Iya, aku baru mau turun,”


Saat turun dari mobil, Nadira tiba-tiba oleng, Irfan melepaskan Arga dan dengan sigap ingin membantu Nadira berdiri tegak, namun Nadira sudah lebih dulu berpegangan pada badan mobil.


“Nona, anda baik-baik saja?” tanya Irfan khawatir.


“Kakiku kesemutan,” jawab Nadira sambil berpegangan di badan mobil.


“Kenapa kakimu bisa kesemutan?” Arga masuk menyahut, nada bicaranya terdengar kurang nyaman di kuping Nadira.


“Mungkin karena terlalu lama di posisi yang sama,” jawab Nadira.


“Mari saya bantu nona masuk ke vila,” Irfan menawari.


“Kaki kesemutan saja sampai harus dibantu, berlebihan sekali,” ujar Arga. “Kalau kau membantunya, lalu siapa yang membantuku masuk?” Arga tidak ingin Irfan menyentuh Nadira dengan membantunya berjalan.


“Tidak usah Irfan. Aku bisa jalan sendiri. Duluan saja sama Arga,” Nadira mengangguk tenang.


Irfan hanya mengangguk lalu memberi hormat pada Nadira, kemudian menuntun Arga memasuki vila.


Nadira menatap kepergian Arga dan Irfan di belakang, “benar-benar tuan muda arogan. Kakiku kesemutan juga gara-gara kau. Tidurmu enak sekali, menganggapku seperti kasur di rumahmu,” bergumam-gumam sebal lalu melangkah masuk vila dengan langkah terseok-seok menyusul Arga dan Irfan.


Begitu sampai di kamar, Nadira langsung mendudukkan dirinya di atas sofa sambil memijat pelan kakinya yang kesemutan.


“Tuan dan nona, jika anda butuh sesuatu selama di sini, silahkan menghubungi saya saja,” Irfan berpesan sebelum ia keluar.


“Iya Irfan, terima kasih,” sahut Nadira.


Begitu mendengar suara pintu menutup, Arga melangkah dengan tongkatnya hendak menuju kepada Nadira.


“Hey, kau di mana? Tidak lihat apa, aku sedang mencarimu?”


“Kau harus ke sebelah kanan, kira-kira lima langkah,” sahut Nadira.


Arga mengikuti instruksi dari Nadira dan ia kini sudah berdiri di depan gadis itu. Nadira acuh dan masih sibuk memijat-mijat kakinya.


“Mana kakimu yang kesemutan?” Arga mengambil posisi duduk di dekat Nadira.


“Sudah tidak apa-apa,” jawab Nadira.


Arga menyentuh paha Nadira lalu turun ke kakinya, “bagian ini yang kesemutan?” ia bertanya penuh perhatian.


“Apa yang kau lakukan? Jangan cari kesempatan ya,” Nadira menepis tangan itu.


“Hey, aku kan hanya peduli padamu. Aku tahu kakimu kesemutan gara-gara aku,” Arga mulai kesal.


“Sudahlah, tidak apa-apa. Aku tahu kau mengantuk tadi di mobil,” Nadira acuh.


Arga diam. Nadira menatapnya terang-terangan tanpa takut, lagi ia menikmati memandangi wajah tampan dan mata coklat Arga yang indah.


“Maaf kalau aku sudah kasar padamu tadi. Kalau kau tidak mau bertemu laki-laki lain selain suamimu dalam keadaan tidak memakai hijab, aku berpikir kau pasti juga tidak mau kalau laki-laki lain menyentuh tubuhmu selain suamimu,”


Nadira berpikir, Arga benar. Nadira menyadari satu hal saat ini, kalau Arga masih memiliki sisi kelembutan dalam dirinya.


“Aku tahu, Irfan tadi tidak ada maksud apa-apa, hanya sekedar ingin menolongmu,” Arga menambahkan.


“Iya, aku tahu,”


“Bagaimana kakimu? Apa masih kesemutan?”


“Sudah tidak lagi,” jawab Nadira dengan jujur.


“Kalau begitu, kau bisa menata baju dari koper ke lemari,”


Raut Nadira berubah sebal. Dia benar-benar tidak berubah, masih jadi tuan muda yang suka memerintah dan menyuruh orang seenaknya.


“Baiklah tuan,” Nadira bangkit berdiri mengambil kopernya dan juga koper milik Arga. Melaksanakan titah sang tuan muda untuk menata baju di lemari.


Nadira menoleh sejenak ke arah Arga yang masih duduk di sofa. Lelaki itu senyum-senyum sendiri.


Aku ingin mengataimu gila karena senyum-senyum begitu. Tapi senyummu terlalu manis untuk dikatakan gila. Tersenyumlah, aku suka melihatmu tersenyum, Arga.


Nadira melanjutkan aktifitasnya menata baju di lemari.


“Nadira,” bisik Arga. Ia menghabiskan waktu di situ memikirkan nama itu, seperti mulai bertanya kepada hati dan dirinya sendiri, apakah gadis itu sudah mendapatkan sedikit tempat di hatinya?