NADIRA

NADIRA
PANTAI PANGANDARAN



Kali kedua bagi mereka mengunjungi pantai bersama-sama, dulu di Pantai Malimbu, Lombok. Dan kini mereka mengunjungi Pantai Pangandaran.


Nadira dan Arga mengenakan kaos couple mereka saat berjalan-jalan di Pantai Pangandaran. Nadira mengenakan kaos bertuliskan My Wife yang dipadukan dengan hijab warna biru yang senada dengan warna kaos itu. Arga mengenakan kaos bertuliskan My Husband yang dipadukan dengan sweater hitam dan juga topi hitam yang tadi dibelikan oleh Nadira saat di pasar.


Nadira merasa mereka berdua begitu manis, berjalan bersama sambil bergandengan tangan dengan memakai kaos couple yang dibelinya kemarin di pasar. Arga tidak banyak berkomentar, ia biarkan saja Nadira melakukannya sesuka hatinya. Toh ia tak bisa melakukan protes, karena ia sendiri tak bisa menilai dan melihat penampilannya.


Mereka mengabadikan foto bersama dengan latar belakang pemandangan Pantai Pangandaran melalui kamera ponsel. Sopir mereka, pak Fildan diminta untuk jadi fotografer dalam mengabadikan momen kebersamaan mereka di Pantai Pangandaran. Tanpa mereka sadari, tak jauh dari mereka beberapa pasang mata mengawasi sambil memotret mereka juga.


Mereka berjalan bersama menyusuri bibir pantai sambil terus bergandengan tangan. Nadira menatap bahagia ke arah lautan, seolah sedang melihat ayahnya di sana. Dalam hati ia berkata,


Ayah, aku ke sini lagi dengan Arga. Kau lihat ayah, aku begitu bahagia dengannya.


“Arga, kalau Niken tidak meninggalkanmu, mungkin kita tidak akan seperti ini sekarang,” ujar Nadira tiba-tiba.


Seketika Arga menghentikan langkahnya, raut mukanya tidak bisa ditebak. Nadira meliriknya, menatapnya tak enak hati.


“Makanya, aku tidak marah lagi dengan sikapnya yang sudah pergi begitu saja, karena kepergiannya justru membawaku padamu,” sahut Arga.


“Kalau Niken tiba-tiba ingin bertemu denganmu, apa yang akan kau lakukan?” tanya Nadira penasaran.


“Nad, kenapa kita harus membahas Niken?” Arga tampak tak nyaman.


“Maaf, aku, hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu kepadanya,”


“Nad, aku sudah menyatakan seluruh isi hatiku padamu, bagaimana kau berpikir aku masih memiliki perasaan kepada Niken. Dia, sudah memilih jalannya bersama laki-laki itu dan aku juga sudah memilih jalanku bersamamu,”


“Maaf, aku tidak bermaksud merusak suasana hatimu, sayangku,” Nadira lalu memeluk Arga dan bersandar di dadanya yang bidang.


“Nad, kau tidak akan melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan Niken padaku kan?” Arga bertanya cemas.


“Arga, aku akan selalu bersamamu. Apapun yang terjadi, perasaanku padamu tidak akan pernah berubah,” Nadira berkata penuh kesungguhan.


Arga mengangguk tenang, ya dia percaya pada hati yang dimiliki Nadira untuknya. Dia percaya gadis itu jauh lebih baik dari Niken, walaupun di satu sisi kadang Arga takut jika ia akan kembali terluka.


“Arga, aku tidak akan membuatmu terluka seperti yang dilakukan Niken padamu. Aku sangat mencintaimu bahkan saat pertama aku melihatmu,” Nadira mengakui dengan jujur.


“Nad..,”


“Tapi aku belum menyadarinya karena saat itu kamu masih bersama Niken,”


“Nad, kenapa aku bertemu denganmu dalam keadaanku yang seperti ini, kadang aku merasa frustasi karena tidak bisa memandangmu. Sampai kapan aku begini terus Nad, kadang aku berpikir mungkin kau mencintaiku karena merasa kasihan padaku,”


Arga memeluk Nadira, “Nad, aku benar-benar bahagia bersamamu,” bisiknya.


.


.


.


“Ini tidak bisa dibiarkan!” Rachel begitu marah sambil memukul meja kerjanya.


Irfan yang berdiri di depannya sesekali menundukkan wajahnya.


“Dulu ayahnya begitu berani menyakiti suamiku, dan sekarang aku tidak mau dia juga menyakiti Arga. Ternyata selama ini dialah dalang yang menyebabkan kecelakaan saat donor kornea itu dibawa,” Rachel tak bisa menahan amarahnya, pipinya memerah dan matanya berkaca. “Seharusnya Arga sudah bisa melihat sekarang, tapi anak itu berani-beraninya melakukan hal kotor agar Arga kehilangan kesempatan untuk operasi transplantasi kornea mata,” Rachel tak habis pikir Rio berani melakukan semua perbuatan keji itu. Semua fakta ini disampaikan oleh Irfan setelah Rachel meminta Irfan menyelidiki kecelakaan saat donor kornea dibawa. Saat dokter Aslan menyampaikan berita buruk itu, Rachel sudah punya firasat yang tidak baik, dan firasatnya sebagai seorang ibu memang tidak pernah salah.


“Irfan selidiki Rio sebaik-baiknya, jangan sampai lengah. Kumpulkan semua rincian kegiatan dan pekerjaannya di Rajasa Group sejak ia pertama bekerja di sini. Dan paling utama adalah selidiki laporan keuangannya sebaik-baiknya. Jika kau menemukan kejanggalan, catat dan laporkan padaku,”


“Akan saya laksanakan nyonya,” Irfan mengangguk patuh.


“Aku akan menunggu waktu yang tepat untuk menendang Rio dari sini. Dia sama saja berbahaya seperti ayahnya, buah memang tak pernah jatuh jauh dari pohonnya. Lebih baik aku segera menyingkirkannya sebelum dia semakin membahayakan Arga. Karena ayahnya aku sudah kehilangan suamiku, dan aku tidak mau Rio melakukan hal yang sama kepada Arga,”


Rachel begitu kesal, dibenaknya ia sudah menyusun rencana matang-matang untuk menyingkirkan Rio dari Rajasa Group dan juga membuatnya jauh dari kehidupan Arga.


Saat itu ponsel Rachel berdering, sebuah pesan Whatsapp masuk. Rachel melirik ponselnya di atas meja kerja mengambilnya dan segera membaca pesan itu.


Orang-orang suruhannya baru saja mengirimkan foto kebersamaan Arga dan Nadira di Pantai Pangandaran. Rachel menatapnya dengan perasaan campur aduk. Irfan menatapnya curiga.


“Irfan kita harus bergerak cepat untuk menyingkirkan Rio, setelah itu aku akan mencari cara untuk membuat Nadira menjauh dari Arga,” sahut Rachel dengan sorot dingin saat memandangi foto anak dan menantunya melalui layar ponsel.


“Nyonya, Tuan Arga begitu mencintai Nona Nadira,” sahut Irfan memberi tahu.


Rachel menatapnya dengan sorot tak percaya, ini pertama kalinya bagi Irfan mengucapkan kalimat yang seolah menentang kata-katanya. Selama ini jika diberi perintah, Irfan selalu menurut dan tidak pernah menyanggah.


“Apa katamu? Irfan, jangan ikut campur! Kau memang sudah cukup lama bersama aku dan Arga, kau sudah kuanggap seperti keluarga, tapi bukan berarti kau berhak mencampuri aku dan juga Arga,” Rachel menatapnya kecewa, karena Irfan menunjukkan sikap mendukung hubungan Arga dan Nadira.


Irfan tak berkata-kata, hanya tertunduk diam di tempatnya.


“Tidak ada yang bisa mengubah keputusanku. Karena sejak awal aku tidak pernah menginginkan Nadira untuk Arga, bahkan saat dia masih bersama Niken. Karena keadaanlah aku terpaksa menikahkan mereka, dan hanya Nadira satu-satunya yang bisa menjadi pilihan, tapi ternyata aku sudah salah besar membawanya masuk dalam kehidupan Arga, saat itu aku yakin Arga tidak akan memiliki perasaan apa-apa kepada Nadira karena dia tidak bisa melihatnya dan tidak mengenalnya baik seperti dia mengenal Niken. Aku heran, ilmu apa yang dimiliki kedua perempuan itu sampai bisa membuat Arga begitu tergila-gila dan diperbudak rasa cinta,”


Rachel menatap dengan sorot dingin dan berpikiran kalau kali ini ia harus bertindak tegas terhadap Arga dan Nadira.