
Nadira dan Arga duduk berdua di sebuah meja bundar. Sesekali ia melirik ke arah Rachel, Feli, Bram dan juga Irfan yang masih berdiri di sana. Ia merasa tak nyaman begitu menyadari Bram yang selalu menatap ke arahnya di manapun ia berada di ballroom itu.
“Nad, maafkan aku,” sahut Arga di sampingnya. “Aku tidak terpikirkan kalau Bram akan hadir di sini dan jadi tamu undangan,”
“Tidak apa-apa, Arga, aku hanya terlalu kaget bertemu dengannya secara tidak terduga di sini,” Nadira mengambil segelas air putih dan meneguknya.
“Kalau kau merasa tidak nyaman, lebih baik kita pulang,” ajak Arga.
“Aku pulang sendiri saja,”
“Kenapa begitu? Kita pulang bersama,”
“Arga, ini ulang tahun perusahaan, mommy pasti ingin kau tetap di sini sampai akhir acara,”
“Nad, kamu tidak baik-baik saja,”
“Jangan khawatirkan aku, sayangku,” Nadira tersenyum lalu menggenggam tangan Arga.
“Nad, aku memintamu hadir di sini, untuk mengenalkanmu kepada orang-orang bahwa kau istriku,”
“Iya Arga. Kau bahkan repot-repot mengirimku ke salon dan butik milik temanmu,”
“Aku yakin, Lana tidak mungkin mengecewakan. Dia pasti sudah mendandanimu begitu sangat cantik, sayang sekali aku tidak bisa melihatnya,”
“Aku sudah sangat cantik sesuai dengan standar kecantikan bagi seorang istri direktur,”
“Kau yang tercantik malam ini, sayangku. Apa kau bersedia menemaniku naik berpidato?”
Nadira diam berpikir, “aku... tidak bisa Arga,” ucapnya, apalagi di sana ada Bram ia pasti tidak bisa menenangkan dirinya.
“Baiklah, aku mengerti sayang, kau perlu menenangkan dirimu,” Arga mengerti apa yang sedang dirasakan Nadira, moodnya memburuk karena kehadiran Bram. Sejujurnya ia merasa kecewa, tujuan ia membawa Nadira ke pesta ulang tahun perusahaan adalah untuk menemaninya naik ke podium dan berpidato lalu mengenalkannya secara resmi sebagai istrinya.
“Maaf Arga, aku sudah membuatmu kecewa,”
Arga menggeleng sambil tersenyum memaklumi.
Saat itu juga Irfan dan Feli datang bergabung duduk dengan mereka, sementara Bram duduk di tempat lain, namun ia tak pernah lepas melirik ke arah Nadira.
Rachel segera naik ke podium dan memberikan pidatonya. Ia menyampaikan harapan-harapannya bagi kemajuan perusahaan ke depannya. Dan setiap tahun, ia tak pernah alpa menyampaikan segala jasa baik Tirta Kusuma, almarhum ayahanda Feli yang membantunya di masa-masa sulit ketika suaminya baru saja meninggal dan ia harus mengurus dan menjalankan perusahaan.
“Aku sangat bahagia, anak dari almarhum kawanku, Tuan Tirta Kusuma, hadir di sini malam ini,” Rachel menunjuk ke arah Feli, lalu semua mata tertuju pada wanita itu.
Feli merasa terkesan saat Rachel menceritakan segala kebaikan almarhum ayahnya, ia tersanjung dengan rasa terima kasih yang begitu besar dari Rachel kepada almarhum ayahnya. Feli bangkit berdiri lalu memberi hormat dan tersenyum. Semua bertepuk tangan untuknya, Rachel dan Feli saling pandang dari posisi mereka.
Nadira menatapnya dengan perasaan bergejolak. Ia sudah bisa membaca dari gelagat Rachel kalau Feli adalah wanita yang dulu begitu gencar ingin ia jodohkan dengan Arga. Namun saat itu Arga sudah terlanjur memiliki hubungan dengan Niken dan Arga bersikeras mempertahankan Niken. Saat itu juga Feli terdengar menjalin hubungan dengan lelaki lain lalu menikah, dan Rachel beranggapan kesempatannya sudah tertutup untuk menjadikan salah satu anak Tirta Kusuma sebagai menantunya. Saat itu Arga baru saja kecelakaan dan buta, lalu dengan terpaksa dan tanpa pilihan lain, Arga pun ia nikahkan dengannya.
Tiba-tiba Nadira merasakan hatinya begitu sakit, sejak ia datang, Rachel bahkan tidak menyapa apalagi menyambutnya dengan hangat.
“Arga, aku ke kamar kecil dulu ya,” bisiknya.
Arga seakan tidak mau, ia tak bisa berkata-kata. Nadira langsung pergi begitu saja meninggalkan keriuhan dan kemegahan pesta di ballroom. Tanpa ia sadari, Bram sedang menatapnya berjalan pergi lalu tak lama kemudian ia bangkit berdiri dan berjalan keluar menyusul Nadira.
Setelah Feli duduk kembali, tiba giliran bagi Arga untuk naik ke podium, berpidato sebagai direktur utama Rajasa Group. Saat itu Rachel datang bergabung satu meja dengan mereka.
Irfan sudah siap untuk menuntun Arga naik ke podium.
“Mom,”
“Arga, Nadira tidak di sini, lebih baik Feli yang menemanimu,” Rachel melirik ke arah Feli. Ia melirik Irfan dan seolah memintanya untuk duduk kembali di tempatnya.
Feli bergegas menghampiri Arga dan segera menggamit lengannya, “ayo Arga,”
Arga tak bisa berkata-kata di situasi sekarang, akhirnya ia biarkan saja Feli menggamitnya dan menuntunnya naik ke podium. Perasaan Arga begitu campur aduk, namun saat sampai di atas podium, ia mampu menguasai diri dan memulai pidatonya dengan gaya penuh wibawa.
.
.
.
Nadira seorang diri di dalam toilet, ia sedang menangis menumpahkan emosinya. Semua perasaannya menjadi satu, keterkejutan karena tanpa diduga tiba-tiba bertemu Bram, padahal Nadira tidak ingin lagi bertemu lelaki itu disepanjang sisa hidupnya, sikap Rachel yang mengacuhkannya dan juga kehadiran Feli sebagai wanita idaman bagi Rachel. Kenapa hatinya begitu sakit karena ibu mertuanya menunjukkan sikap tidak mencintainya, tidak mendukungnya dengan Arga.
Nadira menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan perasaannya. Ia lalu meraih tasnya di dekat wastafel dan mengeluarkan selembar tisu dan menghapus pelan air matanya, ia bersyukur maskara ataupun bedaknya tidak luntur saat air matanya jatuh, Lana dan staf MUAnya benar-benar memberikan riasan yang terbaik baginya.
Setelah merasa lebih tenang, Nadira memutuskan untuk keluar dari toilet. Dan betapa terkejutnya ia melihat Bram sedang duduk bersandar di tembok, tak jauh dari pintu toilet wanita.
“Nad! Nadira!” panggilnya saat gadis itu mengambil arah berbeda, menghindarinya.
Bram menggapai pergelangan tangan Nadira,
“Lepaskan aku!” Nadira menarik cepat tangannya dan menatap Bram dengan sorot antagonis.
“Nad, aku tahu kita hanya bisa saling berbicara di sini, makanya aku mengikutimu keluar dari ballroom,” Bram menjelaskan, namun Nadira tidak menggubrisnya.
“Nad, kamu masih marah padaku?” tanya Bram begitu entengnya.
Nadira menatapnya tak habis pikir, laki-laki itu dulu hampir saja merusak masa depannya jika saja saat itu ia tak mati-matian mempertahankan diri. Nadira segera melangkah pergi, Bram mengejarnya dan mencegatnya.
“Apalagi, Bram!” Nadira setengah berteriak saat Bram menghadang jalannya, “apa belum cukup, kau merusak moodku malam ini?” Nadira berusaha mengendalikan dirinya dari emosi, ia tak pernah berlama-lama melakukan kontak mata dengan Bram, Nadira segera membuang muka.
“Nad, aku tahu kesalahanku di masa lalu,” Bram berkata dengan nada tenang, “apa salah aku menyapamu sebagai seorang teman lama?”
“Teman katamu? Aku tidak sudi punya teman sepertimu,” Nadira kembali membuang muka.
“Nad, aku adalah rekan bisnis suamimu, kita bisa menjalin hubungan baru sebagai teman,”
“Jangan mengada-ada kamu, Bram!” Nadira melangkah pergi melewatinya, Bram kembali mengikutinya.
Nadira menghentikan langkahnya dan berbalik badan ke arah Bram.
“Tolong, jangan ikuti aku!” pintanya dengan mata berkaca-kaca. “Dan kumohon, jangan mengangguku lagi Bram! Aku sudah menikah,” Nadira bergegas pergi sambil menyeka air matanya di sepanjang langkah ia menuju ke ballroom.
Bram terdiam di tempatnya, “Nadira, Nadira, karena kita bertemu lagi, aku jadi penasaran denganmu yang sekarang,” Bram bergumam sendirian sambil menatap Nadira yang semakin jauh melangkah dengan langkah yang cepat.
Nadira pun sampai di pintu utama ballroom, langkahnya terhenti saat ia menatap ke arah podium, Arga sedang berdiri di podium sambil berpidato, sementara Feli berdiri di sampingnya dengan senyum yang menawan. Lampu kamera beberapa jurnalis media cetak menyorot mereka dan memotret keduanya.
Hati Nadira kembali bergejolak, moodnya benar-benar hancur malam ini. Rasa cemburunya membuat dadanya terasa sesak. Sebelum air matanya tumpah ruah, Nadira segera berbalik badan dan memasuki lift, saat pintu lift tertutup sempurna, saat itu juga Bram melintas hendak kembali ke ballroom, ia tidak mendapati Nadira yang masuk ke dalam lift.
Nadira seorang diri di dalam lift dan ia menangis sejadi-jadinya. Malam yang begitu berat baginya.