
Setelah kembali dari Pangandaran, Nadira menjalani rutinitasnya seperti biasa. Bekerja di UGD, melayani Arga sebaik mungkin sebagai seorang istri dan sesekali menjenguk Niken diam-diam di rumah paman dan bibinya. Sampai saat ini Arga belum tahu soal kepulangan Niken ke rumah orang tuanya. Hanya Nadira dan Irfan saja.
Rasty memeluk Nadira sebelum ia berbalik badan melewati pemeriksaan petugas bandara di pintu keberangkatan. Cuti kuliahnya sudah selesai dan ia harus kembali menjalani rutinitasnya di Amerika Serikat sebagai seorang mahasiswa fakultas hukum.
Rachel dan Arga tidak bisa mengantarnya ke bandara karena kesibukan keduanya di Rajasa Group. Tapi Rasty sudah lebih dulu berpamitan di rumah kepada ibu dan kakaknya. Hanya Nadira, bu Ruly dan juga seorang sopir yang mengantarkan Rasty ke bandara hari itu.
“Kak Nad baik-baik ya sama kak Arga,” pesan Rasty setelah berpelukan dengan Nadira.
Nadira mengangguk, “Kamu belajar baik-baik ya di sana,” pesannya juga.
Rasty mengangguk.
“Kak Nad, terima kasih sudah menyembuhkan luka di hati kakakku. Aku belum pernah melihat kak Arga sebahagia itu bahkan saat dia masih bersama kak Niken,” Rasty tersenyum.
“Aku sangat mencintai kakakmu Rasty,”
“Iya kak, tahu kok,” Rasty tersenyum menggoda. “Kak Nadira sabar ya, jangan menyerah meluluhkan hati mommy,”
Nadira tersenyum sambil mengangguk. Rasty kemudian pamit pada semua orang yang menyempatkan diri untuk mengantarnya. Ia lalu berbalik badan menuju pintu keberangkatan sambil menyorong kopernya dan memegang tiket penerbangannya.
.
.
.
Sepulang kerja, Arga menceritakan semua kepada Nadira yang ia dengar dari Irfan dan juga ibunya, kecelakaan pengiriman donor kornea itu adalah ulah dari Rio, yang ingin menghilangkan kesempatan baginya untuk bisa melihat kembali.
“Jahat sekali!” ujar Nadira begitu marah, sambil mengepalkan sebelah tangannya. Pipinya tampak memerah menahan emosi.
“Nad,” Arga meraba lalu menyentuh wajah Nadira.
“Kenapa kau bisa punya sepupu sejahat itu, aku tidak habis pikir,” Nadira mulai terisak, bagaimana pun ia tidak tega melihat Arga terus-terusan seperti ini, menjadi buta.
“Sayangku, sudahlah tidak usah terlalu dipikirkan. Aku juga begitu sangat marah, tapi tidak ada gunanya. Hal itu sudah terjadi. Mungkin Allah ingin aku lebih sabar dengan kondisiku ini,”
Nadira menyeka air matanya, “kamu pasti bisa sayangku,”
“Aku akan selalu bisa selama kau terus di sisiku,”
“Baiklah suamiku, waktunya untuk mandi dan berganti pakaian,” Nadira mengajak Arga bangkit lalu menanggalkan satu per satu setelan kantor yang dikenakan Arga. Hingga menyisakan sempaknya saja.
“Istriku sudah lebih berani sekarang,” ujar Arga saat Nadira berbalik badan mengambil handuk di atas kasur.
“Aku kan sudah sering melihatnya,” Nadira terkekeh lalu bersiap menutup bagian intim tubuh Arga dengan handuk itu.
“Tunggu! Kau belum membuka segitiga ini,” tunjuknya.
“Aah jangan di sini, di kamar mandi saja,” Nadira segera melilitkan handuk itu di pinggang Arga. Lalu menuntunnya memasuki kamar mandi.
.
.
.
Nadira baru selesai shift di UGD sore ini, ia bergegas meninggalkan rumah sakit dan berjalan menuju ke parkiran. Ia celingak-celinguk mencari-cari di mana mobil yang biasa mengantar jemputnya. Sedan mewah itu tidak tampak di mana-mana, padahal Nadira tahu persis sedan mewah itu adalah mobil paling mencolok di parkiran rumah sakit, bisa bersaing dengan kemewahan mobil direktur rumah sakit.
Saat Nadira kebingungan dan bertanya-tanya di benaknya, dua orang wanita dengan gaya seperti bodyguard datang menghampirinya lalu memberi hormat.
“Selamat sore nona muda,” sapa salah satu dari keduanya.
“Iya, sore,” Nadira menatapnya dengan kening berkerut sampai bertanya sendiri dalam hatinya, siapa mereka?
“Mari nona ikut saya,” salah satu dari mereka menuntun jalan di depan menuju ke mobil yang berjarak beberapa meter dan satunya lagi mengikuti Nadira di belakang.
Nadira benar-benar dikawal dan dijaga oleh kedua bodyguard cantik itu. Mobil yang ditumpanginya melaju pergi dan berhenti di sebuah salon dan butik muslimah.
“Apa yang kita lakukan di sini?” tanya Nadira sambil menatap keluar, ia masih tidak tahu apa yang sedang direncanakan Arga untuknya.
“Tuan Muda Arga memerintahkan kami membawa anda ke sini nona, sebelum menghadiri acara perayaan ulang tahun Rajasa Group pukul delapan malam nanti,” jawab salah satu dari mereka yang duduk di jok depan.
Mereka bergegas turun dan membukakan pintu untuk Nadira. Nadira begitu tersanjung dengan sikap kedua wanita bodyguard itu, ia diperlakukan bak seorang putri.
Bahkan saat memasuki salon dan butik muslimah itu, kedua bodyguard itulah yang mengurus segalanya di meja resepsionis sementara Nadira duduk manis di sofa ruang tunggu. Tak berapa lama, seorang wanita yang juga mengenakan hijab sepertinya datang menghampirinya dengan senyum berseri.
Nadira segera bangkit dari duduknya saat melihat wanita itu datang mendekat dan tersenyum padanya.
“Nadira, istrinya Arga?” tanyanya memastikan, walaupun sejak awal ia sudah tahu pasti siapa wanita berhijab yang datang mengunjungi salon dan butiknya.
“Kenalkan aku Lana, teman satu SMA-nya Arga,” Lana mengenalkan dirinya sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
Nadira menyambutnya dengan ramah, “hai, salam kenal, aku Nadira,”
Setelah bersalaman, Nadira lalu mengikuti langkah Lana yang hendak membawanya ke sebuah ruangan khusus untuknya, sementara kedua bodyguard-nya duduk di ruang tunggu.
“Arga memintaku memberikanmu pelayanan terbaik di sini, pelayanan VIP. Dia juga mempercayakanku untuk menata busana dan hijabmu,” Lana menjelaskan.
“Kalian teman yang dekat saat SMA?” tanya Nadira penasaran.
“Uhm, lumayan,” Lana mengamati raut muka Nadira yang seperti sedang berpikir jauh. “Jangan khawatir, aku dan Arga hanya teman biasa, janganlah merasa cemburu di saat-saat seperti ini,” Lana tersenyum.
Nadira agak kaget, Lana seakan mampu membaca pikirannya yang tadi menebak-nebak.
“Arga adalah investor utamaku saat aku berniat membuka salon dan butik ini,” Lana melanjutkan penjelasannya sambil membuka pintu sebuah ruangan.
Di dalam ruangan, para pekerja salon sudah siap sedia dan sedang menantikannya. Lana mengajak Nadira masuk lalu menyerahkannya pada pekerja salonnya yang semuanya juga mengenakan hijab.
“Selamat menikmati ya, kalau butuh sesuatu, suruh saja salah satu dari mereka menghubungiku via telpon di ruanganku, aku siap membantu, dan tidak usah sungkan,” Lana berpesan sebelum meninggalkan ruangan.
Nadira mengangguk dan mengucapkan terima kasih, setelah itu Lana keluar dari ruangan itu. Nadira segera diberikan pelayanan terbaik. Ia diperlakukan bak seorang putri raja, ia benar-benar diberikan pelayan dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Sudah cukup lama baginya tidak pernah mengunjungi salon untuk memanjakan diri. Dulu ia cukup sering pergi bersama Niken, itupun sebelum ia berhijab, Nadira paling senang creambath dan merapikan potongan rambutnya di salon.
Kini setelah ia berhijab dan sibuk bekerja siang dan malam untuk menolong orang-orang di UGD sebagai seorang dokter, Nadira sudah jarang ke salon, bahkan sudah tidak pernah lagi, mengingat keberadaan salon khusus muslimah terbilang masih terbatas.
.
.
.
Setelah melewati semua prosesnya, Nadira pun selesai. Nadira mengenakan gaun malam yang indah yang dipadukan dengan warna hijab senada. Lana mempercayakan MUA terbaiknya untuk merias wajah Nadira dengan tampilan natural namun berani.
Lana menatapnya takjub setelah Nadira sudah selesai. “Seandainya Arga bisa melihat, dia pasti akan berterima kasih padaku sebanyak-banyaknya karena telah mengubah istrinya dari seorang dokter menjadi seperti putri raja,”
Nadira hanya tersenyum malu.
“Bagaimana menurutmu?”
“Ini bagus. Aku tidak terbiasa berdandan seperti ini, tapi kalau ini keinginan Arga, ya mau bagaimana lagi,”
“Arga pasti sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu. Dari tadi dia menelponku terus, bertanya kau sedang apa, kapan selesainya, benar-benar merepotkan,” keluh Lana sambil tersenyum.