NADIRA

NADIRA
KESALAHAN



“Siapa Bram?” tanya Rachel penuh selidik setelah Irfan menceritakan apa yang telah terjadi atas pertemuan Arga dan Bram.


“Dia ternyata, mantan pacar nona Nadira,” jawab Irfan yang duduk berhadapan dengan Rachel di meja kerjanya.


Rachel tampak terkejut dan berusaha mencerna dengan baik apa yang dipikirkan Arga sampai bisa minum whisky sebanyak itu. Padahal ia sangat tahu, meski pergaulan Arga sangat luas di kalangan orang-orang berada, tapi Arga bukan tipe laki-laki yang senang meminum alkohol.


“Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan tuan Arga, sampai bisa berbuat demikian. Sepertinya tuan muda sedang ada masalah dengan nona Nadira,” sahut Irfan.


Rachel menatap Irfan sejenak. Rachel lalu bersandar di kursinya sambil memijat pelan kepalanya yang perlahan sakit karena ulah Arga malam ini.


“Lain kali kau harus bisa lebih tegas saat melihat Arga melakukan tindakan di luar kebiasaannya. Aku tidak habis pikir anak itu bisa minum sebanyak itu, segelas atau dua gelas mungkin iya,”


“Maafkan saya nyonya, suasana hati tuan begitu buruk, jadi saya tidak bisa melarangnya terus-terusan. Tuan Arga tidak bisa didekati dan dibujuk saat suasana hatinya sedang buruk,” Irfan menundukkan wajah tampak menyesal karena tadi tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah Arga terus-terusan meminum whisky hingga ia jadi mabuk.


“Tidak apa. Semua bukan salahmu, tapi yang salah adalah yang menjadi alasan kenapa Arga sampai bisa minum sebanyak itu,” pikiran Rachel menerawang memikirkan Nadira.


Rachel segera bangkit, “aku harus melihat Arga,” ia melangkah keluar dari ruang kerjanya, Irfan mengikuti dari belakang.


Begitu sampai, Rachel segera membuka pintu kamar Arga dan betapa terkejutnya ia melihat Arga sedang berbaring di tempat tidurnya sambil memeluk Nadira.


Nadira menolehkan kepalanya dan menatap terkejut kepada Rachel yang berdiri di ambang pintu kamar Arga bersama Irfan.


Rachel begitu terkejut dan tak habis pikir apa yang terjadi antara keduanya. Rachel bergegas pergi, mengurungkan niat untuk masuk ke kamar Arga dan melihat kondisinya. Irfan yang menutup kembali pintu kamar kemudian mendekati Rachel yang berdiri mematung tak jauh dari depan kamar Arga.


“Irfan, aku sudah melakukan kesalahan,” ujar Rachel tampak bingung, kecewa dan marah.


Irfan tak menyahut, hanya menunggu apa yang akan dikatakan oleh Rachel selanjutnya.


“Aku sudah salah besar membawa Nadira masuk ke rumah ini untuk menanggung semua perbuatan Niken terhadap Arga,” sambung Rachel penuh penyesalan.


“Tapi nyonya, nona Nadira sudah membawa hal yang baik bagi tuan Arga,” sahut Irfan.


Rachel menggeleng, masih dalam posisi membelakangi Irfan. “Aku tahu, tapi bukan untuk membuat Arga juga suka padanya. Kali ini Arga harus mendengarkanku, aku hanya akan menerima menantu di rumah ini jika perempuan itu adalah pilihanku. Niken dan Nadira sama sekali bukan, sejak Niken meninggalkan Arga aku tidak pernah berpikir untuk dua kali menjalin hubungan dengan keluarga besar Herman. Kau tahu kan, sekali aku merasa kecewa, tidak ada tempat untuk kesempatan kedua,”


Rachel menghela nafas, “aku harus mencari alasan agar mereka segera memikirkan untuk bercerai,” Rachel melangkah pergi hendak menuju kamarnya.


Irfan masih berdiri di tempatnya kemudian melirik ke arah pintu kamar Arga. Apa yang terjadi hari ini sudah jelas menunjukkan bagaimana perasaan Arga yang sebenarnya terhadap Nadira.


.


.


.


Arga terbangun di pagi hari dalam keadaan tidak ingat apa yang terjadi padanya malam itu. Ia hanya mengeluh kalau kepalanya masih terasa pusing. Bu Ruly datang membawakan sarapan bubur ke kamar Arga.


“Apa yang terjadi padaku mom, aku benar-benar tidak ingat,” gumam Arga sambil memijat pelan kepalanya, ia masih dalam posisi berbaring di tempat tidurnya.


“Kamu terlalu capek sayang, padahal Irfan sudah melarangmu untuk tidak usah datang, Wira masih bisa menggantikanmu,” sahut Rachel kemudian membantu Arga bersandar di tempat tidurnya.


Arga ingat pertemuannya dengan Bram, juga ceritanya bagaimana hubungannya dulu dengan Nadira. Arga juga ingat kalau ia meminta minuman whisky.


“Maaf mom, ini pasti karena aku banyak minum whisky,” ucap Arga sambil bersandar pelan.


“Lain kali jangan begitu sayang, mommy sangat khawatir. Kamu yang tidak biasa minum, tiba-tiba minum begitu banyak sampai tidak sadarkan diri. Kalau papa masih hidup, dia pasti akan murka dan menghukummu langsung,”


“Sekali lagi aku minta maaf mom,” ujar Arga menyesali perbuatannya.


Arga mengangguk lemah, menuruti perintah ibunya.


.


.


.


Malam itu Nadira baru bisa melepaskan diri dari Arga setelah lelaki itu tertidur pulas. Nadira bergerak pelan-pelan turun dari tempat tidur. Nadira membetulkan selimut menutup tubuh Arga, menatapnya sejenak lalu bergegas keluar kamar setelah mematikan lampu kamar.


Irfan memberi hormat begitu Nadira keluar dari kamar Arga.


“Bagaimana keadaan tuan Arga?” tanya Irfan.


“Dia sudah tidur,” jawab Nadira. “Uhm, bagaimana Nyonya Rachel? Aku benar-benar malu tadi,”


“Nyonya sudah beristirahat di kamarnya,” jawab Irfan, mengabaikan maksud pertanyaan Nadira.


“Beristirahatlah nona! Saya sudah bisa pulang juga saat tahu tuan Arga sudah tidur,” Irfan memberi hormat, lalu hendak pergi namun Nadira menahannya.


“Tunggu Irfan! Apa aku boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Arga? Kenapa dia bisa sampai mabuk berat seperti itu?”


Irfan menghela nafas sejenak. “Yang sebenarnya terjadi adalah, tuan Arga tanpa sengaja bertemu dengan Bram, yang diketahuinya sebagai mantan kekasih anda, nona,” jawab Irfan.


“A-apa?!” Nadira terkejut, ia bagai membeku di tempatnya. Bram dan Arga sudah saling bertemu? “Lalu apa yang terjadi, Irfan?” Nadira ingin tahu lebih banyak.


“Mungkin nona bisa menduga sendiri apa yang sudah terjadi antara mereka berdua,” jawab Irfan kemudian menunduk hormat dan bergegas pergi. Malam semakin larut, ia harus segera pulang karena istrinya di rumah pun tidak tidur karena menunggunya pulang.


Nadira belum bisa menyembunyikan keterkejutannya. Kenapa Arga dan Bram harus saling bertemu? Nadira tiba-tiba teringat ucapan Arga tadi saat memeluknya di kamar, “Aku benar-benar tidak suka masa lalumu dengannya, aku tidak suka dia menghinamu begitu saja.”


Lima tahun yang lalu ...


Nadira membuka kedua matanya perlahan sambil menatap silau cahaya lampu di atasnya. Ia merasa seluruh badannya terasa sakit.


“Nad? Syukurlah, kamu sudah sadar,” Melani yang duduk di sisi tempat tidurnya berujar penuh rasa syukur sambil menghapus titik air matanya.


“Apa yang terjadi padaku Mel?” tanya Nadira parau, sambil memutar kedua bola matanya mengamati situasi kamar perawatannya di sebuah rumah sakit.


“Kamu pingsan Nad,” jawab Melani sambil mengusap pelan kepala Nadira.


“Pingsan?” Nadira kemudian langsung teringat apa yang terjadi padanya sebelum ia jatuh pingsan. Raut Nadira berubah takut, “Mel, dia tidak ada di sini kan? Aku tidak mau ketemu dia,” Nadira berujar takut sambil menatap Melani dan segera bangun.


“Siapa Nad? Di sini hanya ada aku. Aku sudah menelpon Niken dan meminta dia memberi tahukan pada paman dan bibimu apa yang terjadi sama kamu,”


“Bram tidak ada di sini kan, Mel?” Nadira bertanya memastikan, mengabaikan kata-kata Melani yang tadi.


“Tidak ada Nad. Bram sudah dibawa ke kantor polisi,” jawab Melani.


Sontak Nadira pun terisak dan menangis sejadi-jadinya. Melani semakin sedih melihat keadaan Nadira, ia segera memeluk sahabatnya.


“Tidak apa-apa Nad, kamu aman di sini. Bram tidak akan pernah mengganggumu lagi,” Melani berusaha menenangkan.


“Mel, aku takut! Aku tidak mau bertemu siapa-siapa sekarang!”


“Iya. Sudah, jangan takut Nadira sayang! Kamu akan baik-baik saja,” sahut Melani sambil mengelus Nadira penuh kasih sayang.