
Sejak hari itu hubungan Arga dan Feli jadi agak memburuk. Rachel sangat menyayangkan dan begitu marah kepada Arga. Arga hanya meminta maaf kepada ibunya dan menyampaikan bahwa ia tidak pernah bermaksud untuk membuat Feli marah dan tersinggung. Sejak hari itu juga hubungan Arga dan ibunya jadi kurang baik, Arga jadi bingung sendiri, di satu sisi ia begitu peduli pada perasaan ibunya namun di sisi lain ia masih terus berupaya mencari di mana Nadira. Kata-kata Feli pun sempat membuatnya ragu.
Sementara itu Rachel berhasil mencari dukungan dari petinggi perusahaan untuk segera mengeluarkan Rio, bukan hanya karena perbuatannya yang sempat menggagalkan operasi kornea mata Arga, namun catatan laporan keuangannya membuktikan fakta baru kalau Rio sering menggunakan dana perusahaan untuk kepentingan pribadinya. Rio pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk tetap berada di Rajasa Group. Ia hanya menatap Rachel dan Arga penuh amarah.
Saat Arga kembali ke ruangannya ia mendapat telpon dari orang suruhannya kalau ia menemukan informasi baru mengenai Nadira. Arga pun bergegas dan meminta Irfan untuk membatalkan semua jadwal pertemuannya.
Arga bergegas sendiri menemui orang suruhannya itu di sebuah cafe.
Pria itu menyerahkan sebuah coklat besar yang berisi data-data beberapa nama tenaga kesehatan. Ia sudah memberi tanda pada nama dr. Nadira Nuraini Afifa. Arga langsung membaca nama itu.
“Itu adalah daftar nama-nama tenaga kesehatan yang menjadi relawan di lokasi gempa di daerah Sumbawa Barat,” jelasnya.
“Relawan?”
“Benar tuan. Beberapa hari sebelum resign dari rumah sakit, dokter Nadira sudah mendaftarkan dirinya menjadi salah satu relawan dari tenaga kesehatan. Karena alasan itulah dia memilih resign,” ungkapnya lagi.
Arga membaca daftar nama-nama itu, dan ia terpaku pada satu nama seorang dokter yang turut menjadi relawan tenaga kesehatan, dr. Hadi Mirza, Sp.A.
Arga langsung berpikir, dia pasti dokter Mirza. Arga ingin bergegas pergi tapi sebelumnya ia berpesan kepada orang suruhannya itu agar tetap melanjutkan pencarian Nadira hingga ke Sumbawa Barat.
Arga merasa lega karena sudah ada titik terang mengenai keberadaan Nadira, namun nama dokter Mirza yang juga menjadi salah satu relawan begitu menganggu pikirannya hingga ia harus memastikannya langsung ke rumah sakit.
Begitu sampai di rumah sakit, Arga segera mendatangi poliklinik dan berdiri di depan ruangan yang bertuliskan dr. Hadi Mirza, Sp.A.
“Maaf, anda mencari dokter Mirza?” tanya seorang perawat yang kebetulan melintas dan menduga kalau Arga sedang mencarinya.
“Iya,” jawab Arga.
“Dokter Mirza mengambil cuti selama sebulan,” jawab perawat itu.
“Kenapa?”
“Beliau ikut bergabung jadi relawan kemanusiaan untuk korban gempa di Sumbawa,” jelasnya lagi. Perawat itu pun bergegas pergi.
“Kenapa dokter itu juga ikut? Apa demi Nadira?” tanya Arga begitu bingung dan kacau. Tiba-tiba Arga berpikir kalau Nadira dan Mirza kini saling membuka hati.
Arga tak berhenti memikirkan Nadira dan Mirza yang jadi relawan bersama ke lokasi gempa di Sumbawa Barat. Arga tak bisa menikmati setiap pekerjaan ataupun hari-harinya. Pikirannya terus dipenuhi pertanyaan apa Nadira kini memilih dokter Mirza?
.
.
.
Arga reuni kembali bersama kawan-kawan tim satu basketnya sewaktu SMA. Mereka bermain di sebuah GOR, mereka semua sudah menikah dan beberapa juga sudah memiliki anak.
Bagi kawan-kawannya, Arga masih seperti yang dulu soal bermain basket. Dialah bintangnya, dialah jagoannya. Arga merasa senang bisa melakoni kembali hobi dan passionnya. Dengan bermain basket, ia bisa sejenak melupakan tentang Nadira dan juga Mirza, yang terus mengganggu pikirannya selama berhari-hari. Walaupun sebenarnya semua kejadian terus berputar dalam ingatan Arga dan cukup mengganggunya. Kenangan Niken, kenangan Nadira.
Arga merebahkan tubuhnya ketika ia berhasil memasukkan bola setelah melewati beberapa kawannya. Arga menatap langit-langit GOR dengan nafas terengah-engah.
Kawan-kawannya segera menghampiri Arga, mereka mengambil posisi duduk di sekitar Arga. Arga segera bangun dan mengambil posisi untuk duduk. Salah satu dari mereka memberi Arga sebotol air mineral dingin, Arga segera meminumnya hingga habis setengah botol.
“Kita bisa sering-sering reuni, kumpul lagi buat main basket,” ucap Jordan kawan Arga yang tadi memberinya air mineral.
“Setuju!” ujar yang lainnya.
“Gimana, Ga?” tanya Jordan.
“Terserah kalian,” jawab Arga santai.
“Yang lain setuju ya?” tanya Jordan.
Semua mengangguk setuju.
“Sebenarnya sih sudah lama kita ingin reuni begini, tapi kemarin ya kamu Ga, menutup diri dari kita-kita, nikah aja tidak undang langsung. Cuma si Irfan itu yang kirimin kita undangan,” celetuk Lukas, yang paling ceplas ceplos di antara mereka berlima.
“Tahulah gimana rasanya jadi orang buta,” ujar Arga.
“Tapi kan sekarang sudah sembuh. Seharusnya kita buat perayaan dong,” celetuk Adi.
Arga hanya diam. Setelah dunia gelapnya berakhir, apakah harus dirayakan? Sementara sosok yang selalu menemaninya saat ia dalam gelap sudah pergi meninggalkannya.
Keempat kawan Arga saling berpandangan. Mereka cukup tahu kalau istrinya Arga pergi setelah ia sembuh, mereka juga cukup tahu kalau Arga sebenarnya sedang galau.
“Kapan-kapan saja ya,” Arga segera bangkit berdiri, “aku duluan, sudah sore. Bye,” Arga beranjak pergi sambil melambaikan tangannya dari belakang, kemudian mengambil tas olahraganya dan menghilang setelah melewati pintu keluar.
Saat keluar dari lapangan indoor bermain basket, tak jauh di depannya Arga melihat dua orang perempuan keluar dari tempat bermain tenis. Ia mengenali salah satu dari perempuan itu, dia Feli yang tampak menahan sakit dan berjalan pelan dan begitu hati-hati dengan sebelah kakinya yang tampak bengkak dan memar.
“Auw, sakit!!” Feli merintis kesakitan ketika kaki kanannya yang terkilir salah mengambil langkah. Feli nyaris terjatuh, namun temannya berusaha menahan tubuhnya dengan sekuat tenaga.
Arga bergegas menghampiri Feli dan bantu memegang sebelah lengannya, membantu teman Feli yang sedang memapahnya.
“Feli, kau baik-baik saja?” tanya Arga tampak terkejut.
“Arga,” Feli pun sama terkejutnya, untuk sejenak ia melupakan rasa sakit di kakinya yang terkilir. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Feli begitu penasaran, kehadiran Arga yang tiba-tiba begitu menyenangkannya.
“Aku bermain basket dengan beberapa teman lama,” jawab Arga. “Dan kau?”
“Aku sering bermain tenis di sini,” Feli tersenyum sambil menahan rasa sakit di kakinya, “tapi aku baru kalau tahu kau juga bermain basket di sini,”
“Iya, aku baru hari ini main basket di sini,” jelas Arga.
“Senang ketemu kamu di sini,” sahut Feli.
“Dan apa yang terjadi padamu?” tanya Arga sambil memandangi pergelangan kaki kanan Feli yang membengkak.
“Kakiku terkilir, aku terlalu semangat mengejar bola. Ya, kalau punya hobi olahraga harus siap dengan kondisi seperti ini,” jelas Feli yang kembali meringis kesakitan.
“Kau akan pulang?” tanya Arga lagi.
Feli hanya mengangguk.
“Bersama sopir?”
“Tidak. Tapi aku sudah menelpon sopir di rumah untuk menjemputku pulang,”
“Tidak perlu. Biar aku yang mengantarmu pulang,” Arga tampak peduli.
Feli tersenyum senang dan tentu saja dia tidak akan menolak kebaikan hati Arga yang ingin mengantarnya pulang langsung.