NADIRA

NADIRA
PERTUNJUKAN ANGKLUNG



Arga membantu Feli turun dari mobilnya begitu mereka sampai. Ia memapah Feli dengan hati-hati memasuki rumah dan membantunya duduk di sofa ruang tamu.


“Terima kasih sudah mengantarku pulang,” ucap Feli.


“Tidak masalah,” jawab Arga santai.


Beberapa orang yang bekerja di rumah Feli segera datang menemuinya untuk memberikan pertolongan pertama pada pergelangan kaki Feli yang terkilir.


“Bik, tolong buatkan minum, ya,” ujar Feli pada pembantu rumahnya.


“Feli, tidak perlu repot-repot, aku sudah mau pulang,” sahut Arga.


“Duduklah dulu untuk minum teh,” kata Feli.


Arga pun mengalah. Kini mereka hanya berdua di ruang tamu.


“Arga aku, mau minta maaf soal yang kemarin,” Feli memulai. “Kamu benar, aku sudah terlalu jauh ikut campur tentang kau dan Nadira, tapi itu aku lakukan karena aku begitu peduli pada tante Rachel,”


“Aku juga minta maaf soal sikapku kemarin,”


Feli sumringah, “jadi sekarang kita saling memaafkan,”


Arga hanya tersenyum. Feli menatap Arga dengan sorot kekaguman. Sebenarnya ia cukup kagum padanya saat mereka pertama kali dikenalkan oleh orang tua masing-masing. Tapi Feli kemudian menyadari kalau Arga begitu tergila-gila pada Niken. Tidak ada salahnya kalau sekarang dia berharap lagi, apalagi Rachel terang-terangan mengakui, kalau ia masih begitu berharap untuk menjodohkan keduanya.


Rachel begitu senang saat mengetahui Arga dan Feli kembali membaik karena Arga mengantarnya pulang sehabis dari GOR. Padahal Arga tidak ada niat apa-apa, hanya murni untuk menolong, apalagi ia merasa perlu meminta maaf pada Feli atas sikapnya saat terakhir mereka bertemu. Mengingat kedua orang tua mereka begitu akrab, Arg tidak mau merusak hubungan itu karena dirinya dan juga Feli.


Rachel pun semakin bertindak dengan meminta Feli ikut bersama Arga, menemaninya mengikuti meeting di luar kota bersama beberapa rekan bisnis. Arga sebenarnya merasa risih dan keberatan, ia juga tahu kalau ibunya berusaha kembali untuk menjodohkannya dengan Feli.


Arga bersikap biasa saja, setelah meetingnya selesai ia menemani Feli berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, membeli barang-barang apa yang diinginkannya. Setiap Feli memasuki toko, Arga hanya duduk menunggu dan tidak menemani Feli memilih-milih barang. Arga selalu menatap perempuan-perempuan yang berhijab di luar sana, mereka mengingatkannya pada Nadira.


“Arga, bagaimana menurutmu?” Feli tiba-tiba datang sambil membawa beberapa baju-baju mahal pilihannya dan menunjukkannya pada Arga dengan senyum antusias.


“Semuanya bagus,” jawab Arga.


“Aku ingin kau memilih mana yang paling bagus, maka itu yang akan aku ambil,” Feli berharap.


“Feli, aku tidak tahu seleramu seperti apa. Menurutku semua baju pilihanmu itu bagus, kau bisa mengambil semuanya kalau mau,”


Feli pun mengalah, ia membawa kembali baju-baju itu dan hanya memilih beberapa saja yang menurutnya paling cantik.


Sambil menunggu Feli menyelesaikan transaksi pembayarannya, Arga bangkit berdiri dari tempatnya dan melihat-lihat beberapa koleksi baju. Arga mengambil sebuah baju berwarna Pink lembut, ia teringat Nadira dan tiba-tiba saja berpikir untuk membeli baju itu.


“Jadi, kau ingin yang ini?” sahut Feli yang tiba-tiba datang sambil membawa sebuah paper bag.


“Feli, itu bukan...,”


Feli sudah mengambil baju itu, dan menatapnya senang. Namun kemudian ia sadar begitu melihat Arga sedang memegang sebuah hijab di tangannya. Feli pun tahu kalau Arga memilih baju dan hijab itu pasti untuk Nadira.


“Maaf, Arga,” Feli tampak malu dan kecewa, ia menggantung kembali baju itu dan bergegas keluar.


Arga menyusul Feli di luar, gadis itu berusaha menyembunyikan perasaannya, begitu melihat Arga datang ia berusaha tersenyum.


“Maaf Feli, aku hanya ...,”


“Arga, bagaimana kalau kita ke saung angklung untuk menonton pertunjukan. Sayang sekali kau kita jalan-jalan ke Bandung tapi tidak mampir ke sana,” ajak Feli begitu antusias.


Arga dan Feli menonton pertunjukan angklung yang begitu memukau mata dan telinga. Arga teringat dulu saat ia meminta Nadira berjanji untuk menemaninya menonton pertunjukan angklung saat kedua matanya bisa melihat kembali. Tapi kini saat ia melihat kembali, ia justru menonton pertunjukan angklung bersama perempuan lain.


Feli yang begitu antusias menonton pertunjukan, sesekali melirik ke arah Arga yang hanya diam dan tampak sedih. Tak lama kemudian Arga berbalik badan dan segera keluar dari tempat pertunjukan angklung. Perasaannya begitu sedih dan kecewa.


“Arga,” panggil Feli di belakang lelaki itu.


“Maaf Feli, aku tidak bisa menemanimu menonton angklung. Aku akan menunggumu di luar saja,” jelas Arga masih membelakangi Feli.


Feli berjalan mendekat dan berdiri di samping Arga. “Kau tidak bisa melupakan Nadira?” tanya Feli tiba-tiba.


Arga tak menjawab, ia hanya menatap lurus ke depan.


“Dulu, kau menyukai Niken, sekarang Nadira,” sahut Feli.


“Rasanya lebih menyakitkan saat dia pergi, daripada saat kepergian Niken,” jelas Arga.


Feli menatap Arga.


“Aku hanya berharap mommy mau menerimanya. Aku benar-benar mencintainya, aku tidak bisa melupakannya,”


Feli menyadari ketulusan dari perasaan Arga untuk Nadira.


“Lalu untuk alasan apa kau masih di sini, tidak mencarinya,”


“Dia pergi dengan laki-laki lain,”


Feli menatap Arga prihatin.


“Kau tinggal tanda tangani surat cerai dan membuka hatimu untuk perempuan lain,” Feli tampak menggampangkan.


“Aku tidak suka ditinggal tanpa kejelasan,”


“Kau benar-benar menyedihkan,” Feli segera pergi meninggalkan Arga yang diam terpaku.


Feli menangis saat ia berjalan pergi, Arga bahkan tidak menyusulnya, kenyataan kalau Arga begitu mencintai Nadira benar-benar membuatnya kecewa. Ia tak pernah punya kesempatan mengisi hati lelaki itu yang hanya tergila-gila pada dua orang wanita yang berstatus sepupu.


Keduanya tidak pulang bersama setelah dari Bandung. Feli pulang kembali ke Jakarta setelah dijemput langsung oleh sopir pribadinya. Sementara Arga pulang bersama Irfan. Arga menyerahkan kunci mobilnya pada Irfan agar dia yang mengendarai mobil.


Feli terus menangis sepanjang perjalanan pulang kembali ke Jakarta, ia memangisi dirinya yang begitu menyedihkan, menaruh harapan pada Arga. Ia takkan pernah bisa memiliki Arga selama Nadira masih ada di hatinya.


^^^


Selamat membaca! Semoga terhibur!


Aku harap kalian menikmati ceritanya.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like dan komentar ya.


Jangan lupa vote aku juga, biar up-nya lebih semangat.


Terima kasih.


Salam hangat, Ratihyera.


^^^