
Niken kembali ke rumahnya setelah ditenangkan oleh Nadira. Ia tidak menceritakan kepada Nadira juga kepada kedua orang tuanya tentang Rachel yang menamparnya di depan Arga dan orang-orang.
Niken menatap wajahnya yang basah di depan cermin. Ia baru selesai mencuci muka. Niken memandangi pipi bekas tamparan Rachel, bekasnya sudah menghilang tapi ia tak pernah lupa rasa sakitnya. Niken begitu shock, ia seperti tidak mau lagi bertemu dengan ibunya Arga apalagi jika ia akan menikah dengan Arga. Ini pertama kalinya dalam hidupnya ada orang berani menamparnya, bahkan saat ia berbuat kesalahan, orang tuanya tak pernah ringan tangan untuk menamparnya.
Niken merasa dirinya begitu rapuh dan terpuruk, apalagi mengingat Arga yang kini tidak bisa melihat, semua menyalahkan dirinya sebagai penyebab Arga menjadi buta.
Niken kembali menatap wajahnya di cermin sambil berkata, “Arga, aku benar-benar tidak yakin dengan pernikahan ini,” Niken tidak tahu harus berbuat apa, ia merasa tidak punya cukup keberanian untuk membatalkan pernikahannya, sudah terlambat pikirnya, ia sudah memesan gaun, menentukan dekorasi, memilih lokasi bulan madu, memilih desain undangan, walaupun pada kenyataan semua tidak sesuai seleranya karena semua adalah pilihan Rachel.
Niken begitu gundah, ia membuka sebuah lemari kecil dekat cermin dan menyimpan kembali sabun cuci mukanya di dalam lemari itu. Niken beralih menatap pada beberapa bungkus pembalut haid yang tertata rapi dekat sabun cuci mukanya. Ia ingat belum pernah sama sekali menggunakan pembalut itu di bulan ini.
Niken bergegas keluar dari kamar mandi dan melihat kalendernya di kamar. Niken mulai diserang kepanikan, ia sudah telat haid selama seminggu lebih. Dering ponselnya yang tak jauh dari kalender, begitu mengagetkannya, ia melihat nama Arga memanggil di layar.
Niken mengabaikan telpon itu, lalu setelah tidak berbunyi lagi, Niken mematikan nada dering ponselnya. Dan terus terbayang semalam yang telah ia habiskan bersama Desta, di motel.
.
.
.
Desta menatap lekat-lekat dua garis biru dari sebuah test pack yang digenggamnya. Ia tak tahu hendak bereaksi bagaimana.
Niken yang duduk di hadapannya, mengusap air matanya sambil meneguk minumannya.
“Aku hamil, Des,” ujarnya, ia membuka tasnya lalu mengeluarkan beberapa buah test pack dari berbagai merek yang dibelinya dengan hasil yang sama saja yaitu dua garis biru.
“Kamu sudah periksa ke dokter?” tanya Desta lalu meletakkan test pack itu.
Niken menggeleng. “Alat tes ini sudah jelas. Aku sudah mencoba berbagai merek dan membeli test pack yang mahal agar lebih akurat, kenyataannya, aku benar-benar hamil Des,”
Desta hanya menatapnya dengan sorot sejuta makna. Ia pun ingat semalam yang ia habiskan bersama Niken di motel waktu itu.
“Aku harus bagaimana Des? Hanya kamu yang tahu. Orang tuaku pasti akan membunuhku kalau tahu aku hamil. Aku bahkan tidak berani memberi tahu Nadira,” Niken begitu putus asa.
“Aku tidak mungkin mengakui ini anaknya Arga, dia bukan laki-laki seperti itu. Dia tidak pernah meniduriku, apalagi mengajakku bermalam di hotel,”
“Itu anakku, Niken,” sahut Desta.
Niken menatap Desta begitu dalam, namun kemudian ia kembali putus asa. Niken kembali menitikkan air matanya, ia benar-benar merasa masalahnya begitu banyak dan tidak ada jalan keluar. Ingin rasanya ia pergi sejenak dari semua kekacauan ini. Atau lebih baik ia mengakhiri hidupnya saja.
Sejak semalam ia mematikan ponselnya dan hari ini ia belum memenuhi janjinya untuk menjenguk Arga di rumah sakit.
Desta meraih tangan Niken dan menatapnya dalam, “Niken, kamu jangan takut. Kau tahu aku sangat mencintaimu. Aku akan bertanggung jawab. Aku tidak akan meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini,” Desta berjanji dan tak lepas menatap Niken, agar ia sadar bahwa ia tidak akan ingkar janji dengan apa yang dikatakannya.
Karena dorongan Desta, Niken akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Arga dan juga rencana pernikahan mereka. Sudah seharusnya ia pergi karena apa yang sudah ia lakukan dengan Desta.
.
.
.
Widya menatap kedua putrinya dengan rasa bahagia, sudah lama sekali sejak terakhir kedua gadis itu berkumpul dan sarapan bersama. Herman pun sudah duduk di meja makan, sedang membaca koran dan sudah tampak rapi dengan setelan kantornya.
“Rumah terasa hidup kembali ketika kedua putriku hadir lengkap,” sahut Herman dan menghampiri keduanya yang baru selesai menuruni tangga.
Herman mengecup satu per satu pipi mereka dan membantu Niken duduk di meja makan.
“Terima kasih pa,” Niken tersenyum setelah ayahnya menarikkan kursi untuk ia duduki.
Widya pun tak ketinggalan memberikan kecupan sayangnya kepada Niken dan juga Nadira.
Widya sudah menyiapkan menu sarapan tempe bacem kesukaan Nadira dan juga omelet telur kesukaan Niken.
Tiba-tiba terdengar bunyi bel rumah. Herman dan Widya saling berpandangan sejenak.
“Siapa yang datang bertamu pagi-pagi begini,” Herman hendak melangkah menuju ke pintu utama rumah.
Baru beberapa langkah ia berhenti ketika melihat pembantu rumah berjalan menuju meja makan disusul dua orang pria di belakangnya.
Semua menatap terkejut, tak terkecuali Niken dan Nadira. Kedua perempuan itu bagaikan membeku di tempatnya kala melihat kehadiran Arga dan Irfan pagi ini di rumah.
Mata Irfan melotot kaget ketika matanya melihat sosok Niken duduk di meja makan dengan raut muka yang tak bisa ditebak.
“Nak Arga, pagi-pagi sekali kamu ke sini,” Herman menyahut kaget ketika kedua lelaki itu menghampiri.
“Selamat pagi paman. Ternyata kedatanganku begitu mengejutkan, aku ke sini ingin menjemput istriku,” ucap Arga sambil tersenyum. Penampilannya begitu rapi dalam balutan jas kantornya, wajahnya begitu segar dan juga tampan.
Di rumah itu hanya Arga seorang yang tidak mengetahui kehadiran Niken.
Irfan menatap Nadira dan Niken bergantian, seakan meminta penjelasan apa yang telah terjadi.
Nadira menatap Irfan dengan tatapan memohon sambil menggelengkan pelan kepalanya. Memberinya isyarat agar tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Arga kalau Niken sudah kembali ke rumah orang tuanya.
“Apa dia ada di sini?” tanya Arga saat menyadari tak ada suara yang menyahutnya, baik Herman ataupun Irfan.
Nadira bergegas menghampiri Arga, “Arga, aku kan sudah bilang tidak usah menjemputku,”
“Aku sangat rindu padamu Nad, jadi aku datang ke sini menjemputmu,” ucap Arga dengan percaya diri.
Nadira bisa merasakan perasaan Arga yang dalam untuknya. Niken menatap keduanya dengan sorot iri, ia merasakan cemburu, bagaimana pun juga lelaki yang kini berhadapan dengan Nadira adalah lelaki yang dulu begitu sering mengatakan rindu kepadanya ketika mereka tidak berjumpa.