
Nadira masuk kembali ke kamarnya setelah dari kamar Arga. Ia melempar draft peraturan yang dibuat Arga ke atas tempat tidurnya dengan perasaan campur aduk.
“Aku tidak masalah dengan semua peraturan ini, tapi memintaku untuk berhenti bekerja di UGD, aku benar-benar keberatan,” Nadira bergumam sambil mondar-mandir, memikirkan cara bagaimana agar ia tidak harus melakukan tugas istri yang diminta oleh Arga dengan mengorbankan tugas mulianya bekerja di UGD.
.
.
.
Malam itu untuk pertama kalinya, Nadira mengantarkan langsung makan malam untuk Arga di kamarnya, yang biasanya dilakukan oleh bu Ruly, tapi sejak ia membaca draft peraturan tentang tugas istri, Nadira langsung menjalankan tugasnya walaupun ia masih begitu keberatan jika harus berhenti bekerja di UGD.
“Kau tidak makan?” Tanya Arga saat mengakhiri makan malamnya.
“Aku akan makan di bawah dengan mommy dan Rasty,” jawab Nadira yang duduk berhadapan Arga, membantu lelaki itu makan, mengambilkan menu dan menuntun tangan Arga dengan sendok dan piringnya.
Pintu tiba-tiba terbuka, Rachel muncul dan segera masuk.
“Mommy?” Arga sudah bisa menduga, siapa lagi orang di rumah ini yang berani masuk kamarnya tanpa harus mengetuk pintu terlebih dahulu.
Nadira menatap Rachel dengan pandangan ragu. Wajah ibu mertuanya tampak menyiratkan kelelahan.
“Arga, Nadira, kita perlu bicara,” sahut Rachel langsung. Ia segera mengambil posisi duduk di sofa, disusul Nadira yang menuntun Arga ke sofa.
“Mommy langsung saja. Arga, kenapa kamu harus mengikat Nadira dengan semua peraturan yang kamu buat untuknya?”
“Oh, jadi dia sudah mengadu pada mommy,” sahut Arga datar.
“Itu harus Arga, kamu tidak boleh seenaknya melanggar kontrak. Kamu tidak berhak mengikat Nadira walaupun secara hukum dan agama kamu sah mengikat dia sebagai istrimu. Kamu masih ingatkan, tujuan mommy menikahkan kalian?”
Arga mengangguk paham, tapi sorot matanya begitu tidak bersahabat.
“Dan kamu juga meminta Nadira berhenti bekerja di rumah sakit? Arga, kamu tidak boleh seenaknya. Pekerjaan Nadira bukan main-main, dia berkutat soal menyelamatkan nyawa orang-orang di UGD,”
“Mommy, aku tidak keberatan dengan tugas-tugas itu, aku hanya tidak bisa kalau sampai harus berhenti bekerja di rumah sakit,” sahut Nadira merasa tidak enak hati.
“Arga, jangan seenaknya mengatur Nadira,” Rachel memperingatkan. Arga hanya diam, Nadira mengamatinya diam-diam, raut Arga berubah dingin.
Kenapa sekarang Nadira merasa takut padanya?
Rachel bergegas pergi, seolah ada hal lain yang lebih mendesak dibanding mengingatkan Arga soal kontrak pernikahan.
Kini hanya Arga dan Nadira saja di kamar itu.
“Tinggalkan kamarku! Kau boleh keluar!” sikap Arga langsung berubah. Ia bangkit berdiri.
“Arga, aku, bukannya tidak mau melayanimu sebagai istri, tapi aku hanya meminta bantuan mommy agar kamu tidak melarangku untuk tetap bekerja di rumah sakit,” Nadira kembali menjelaskan.
“Sekarang semuanya terserah saja. Lupakan draft aturan itu, lupakan semua tugas-tugas itu,” Arga segera melangkah dengan perasaan campur aduk, kakinya tersandung di meja, ia jatuh seketika di lantai.
Nadira bergegas menolongnya, ingin membantunya bangkit dan berdiri, namun Arga menarik keras lengan Nadira hingga gadis itu ikut terjatuh di lantai. Wajah keduanya saling berhadapan dan hanya berjarak beberapa centimeter saja.
“Apa kau pikir semua selesai setelah kau mengadu pada mommy?” tanya Arga, sambil melingkarkan lengan kokohnya di leher Nadira membuat wajah gadis itu semakin dekat.
“A-Arga,” tubuh Nadira bergetar, posisinya sudah seintim ini dengan Arga.
Tangan Arga terasa kasar melilit di lehernya. “Arga, lepaskan!” pinta Nadira yang tidak mampu melawan, tenaganya kalah melawan Arga.
“Aku sudah bilang, kau adalah milikku, meski kau menganggap dirimu hanya sekedar istri, tapi kau tidak bisa membantahku,”
Seketika, Arga menempelkan bibirnya di bibir Nadira, menciuminya kasar dengan hasrat memburu. Nadira berusaha melawan dengan mendorong tubuh Arga. Namun ia kalah. Nadira melayangkan sebuah tamparan ke wajah Arga.
Arga menghentikan aksi ciumannya, sambil menyentuh sebelah pipinya yang telah ditampar oleh Nadira.
“Apa yang kau lakukan?!” Nadira setengah berteriak dengan suara parau. Wajahnya memerah menahan emosi, matanya mulai berkaca.
Arga hanya tertawa puas. Melihatnya Nadira semakin jengah.
“Kau berani menampar suamimu sendiri,”
Sebulir embun menetes pelan di kedua pipi Nadira.
“Apa aku tidak boleh mencium istriku sendiri? Apa yang salah dengan yang kulakukan?”
“Kau sudah puas?” Nadira balik bertanya dengan nada kesal.
Arga mendengar Nadira bangkit berdiri.
“Kau bisa bilang pada Niken, kalau aku telah mencium bibirmu,” sahut Arga begitu Nadira sudah sampai di pintu kamar.
Nadira tak menggubris, ia segera membuka pintu, keluar dari kamar Arga dan membanting pintu. Mendengar itu Arga jadi tahu kalau gadis itu benar-benar marah padanya.
Arga bangkit berdiri lalu tertawa puas. Baru saja ia melampiaskan semuanya kepada Nadira. Amarahnya, kecewanya dan juga hasratnya sebagai laki-laki.
Rasty terkejut saat tanpa sengaja melintas depan kamar Arga, mendapati Nadira keluar dari kamar kakaknya dengan linangan air mata dan hijab yang tampak berantakan. Nadira mengacuhkannya dan segera masuk ke kamarnya.
“Ada apa dengan kakak ipar, apa dia habis bertengkar dengan kak Arga?” Rasty mendekat ke pintu kamar Arga penuh rasa penasaran dan menempelkan sebelah telinganya, ingin tahu apa yang terjadi di dalam kamar Arga. Rasty tidak mendengar suara-suara. Saat itu bu Ruly muncul bersama beberapa pelayan, Rasty langsung salah tingkah dan melangkah pergi.
Nadira segera melepas hijabnya begitu sampai di dalam kamar, ia berlari masuk ke dalam kamar mandi, berdiri di bawah guyuran air yang jatuh dari shower. Tangis Nadira semakin menjadi sambil menggosok-gosok badan dan juga bibirnya.
.
.
.
Lima tahun yang lalu.
Nadira merapikan tatanan rambutnya sebelum turun dari taksi. Ia mengeluarkan dompet dari dalam tas dan mengeluarkan lembaran uang untuk membayar ongkos taksinya.
Begitu turun, Nadira bergegas menuju ke sebuah rumah di seberang jalan sambil menenteng sebuah termos makan berisi bubur ayam dan juga kantongan berisi obat demam.
“Kau belum sarapan, sayang?” tanya Nadira sambil meletakkan bawaannya di atas meja. Begitu berbalik badan, Nadira mendapati Bram tersenyum ke arahnya.
“Bu dokterku, demamku belum terlalu turun sejak semalam,” Bram terdengar manja sambil membuat raut wajahnya memelas.
Nadira meletakkan telapak tangannya di dahi Bram, mengecek sepanas apa demamnya.
“Aku siapkan bubur ya, lalu kau segera minum obat. Kau mau menunggu di mana?” tanya Nadira dan mengambil termos makannya.
“Aku tunggu di kamarku,” jawab Bram.
Nadira mengangguk sejenak lalu berjalan menuju ke dapur.
Bram berdiri diam di tempatnya sambil menatap Nadira yang berjalan menuju dapur dan menghilang dari pandangannya. Lelaki itu berjalan ke arah pintu rumahnya lalu mengunci pintu dan menyimpan kunci rumahnya di sela tumpukan buku yang tak jauh dari ruang tamu.
Begitu selesai menyiapkan bubur ayam buatannya, Nadira membawa nampan menuju ke kamar Bram di lantai dua. Bram juga mahasiswa UGM, senior Nadira di kampus, namun Bram kuliah di Fakultas Teknik. Bram tinggal sendirian di rumahnya selama ia kuliah di UGM sementara orang tuanya menetap di Semarang.
Dengan sebelah tangannya, Nadira membuka pintu kamar Bram dan melihat kekasihnya itu sedang duduk bersandar di atas ranjangnya. Nadira menghampiri, meletakkan nampan di atas nakas lalu duduk di ujung ranjang. Nadira segera membantu Bram untuk makan lalu minum obat.
Nadira membereskan semuanya setelah Bram selesai makan dan minum obat. Tiba-tiba Bram menarik tubuh Nadira dari belakang dan menjatuhkan tubuh gadis itu di atas pangkuannya.
“Bram, apa yang kau lakukan?” Nadira terkejut dan berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Bram.
“Biar seperti ini sayang, aku sangat merindukanmu. Kau terlalu sibuk sebagai mahasiswa kedokteran tingkat akhir. Belakangan ini kita jarang bertemu dan jalan-jalan bersama,” Bram masih mengeratkan pelukannya di pinggang Nadira.
Ia bersandar manja di pundak Nadira sambil memainkan dan menghirup aroma rambut Nadira.
“Kalau aku tidak sakit, kita mungkin tidak akan bertemu,” Bram melanjutkan.
“Bram, lepaskan aku,” Nadira tampak tidak nyaman meski nada bicaranya masih tenang, ia berusaha melepaskan lingkaran tangan Bram di pinggangnya.
Dengan sekali gerakan, Bram mengganti posisinya. Ia segera menjatuhkan tubuh Nadira di sampingnya lalu dengan cepat naik ke atas tubuh Nadira, memegang erat kedua tangan Nadira dan menindih tubuhnya.
“Bram hentikan! Lepaskan aku!” Nadira mulai ketakutan. Pikiran-pikiran negatif tentang apa yang akan dilakukan Bram padanya saat itu menghantui pikiran Nadira.
“Sayang, tidak apa-apa, tenanglah. Aku sangat mencintaimu Nad, bukankah kau juga mencintaiku? Izinkan aku mencumbumu, izinkan aku menjamahmu saat ini. Hanya ini kesempatan kita, sayang,” Bram berusaha membujuk dan merayu Nadira, berusaha meracuni pikiran gadis itu bahwa apa yang dilakukannya tidaklah salah.
“Bram, jangan begini!” Nadira berusaha sekuat tenaga melepaskan kedua tangannya yang dipegang erat oleh Bram.
“Ayolah sayang, kita melakukan ini karena saling suka sama suka, berikan aku kesempatan itu sekali ini saja,” Bram berusaha membujuk. Ia menatap Nadira penuh hasrat yang tidak terbendung.
Nadira semakin takut. Bram yang dikenalnya tidak lagi sama seperti Bram yang saat ini di depan matanya. Bram mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Nadira, Nadira segera memalingkan wajahnya. Bibir Bram hanya sejenak menyentuh bibirnya, lalu berikutnya tindakan agresif Bram untuk menciumi bibir Nadira, gagal. Nadira terus berpaling, hingga hanya pipinya yang menjadi tempat mendarat bibir Bram.
“Nad! Tolong dengarkan aku kali ini saja!” Bram setengah berteriak sambil terus mengeratkan genggamannya pada kedua pergelangan Nadira.
“Bram, kumohon lepaskan aku,” Nadira mengiba, suaranya bergetar dan kedua matanya berkaca.
“Tidak Nad, sebelum kamu menuruti keinginanku,” Bram bersikeras dan kembali berusaha menciumi bibir Nadira.
Nadira membenturkan dengan keras ujung kepalanya di pelipis Bram. Bram mengerang kesakitan, dengan refleks kedua tangannya melepaskan genggaman dan beralih menyentuh pelipisnya yang berdenyut cukup sakit akibat benturan keras dari tengkorak kepala Nadira.
Nadira tidak menyia-nyiakan kesempatan saat Bram melepaskan tangannya. Walau gadis itu merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya, namun sekuat tenaga ia menahannya. Nadira mendorong Bram sekuat tenaga dan segera turun dari ranjang, berlari cepat keluar dari kamar Bram dan menuruni anak tangga.
“Nadira!” Bram berteriak. Ia merasa kesal dengan apa yang telah dilakukan Nadira padanya tadi. Bram melangkah santai keluar dari kamarnya, sambil terus mengelus pelipisnya yang terasa sakit. Sambil menuruni anak tangga, ia berusaha meredam emosinya dan melirik ke arah Nadira yang menoleh ketakutan ke arahnya sembari berusaha membuka pintu rumah Bram yang terkunci.
Nadira menangis sejadi-jadinya begitu Bram semakin dekat dan ia tidak bisa membuka pintu, tidak tahu di mana harus mencari kunci rumah Bram.
“Sayang, tenanglah, aku tidak akan menyakitimu,” Bram berusaha membujuk.
“Bram kumohon biarkan aku pergi dari sini,” Nadira masih terus menangis mengiba.
Bram menggeleng pelan, sambil pelan-pelan ingin mendekati Nadira dan merengkuh tubuhnya kembali dalam dekapannya.
Nadira menggeleng dan semakin menjauh setiap langkah Bram berusaha mendekatinya.
“Nadira, tidak apa-apa. Bukankah kita sepasang kekasih? Aku sudah lama ingin seperti ini denganmu, tapi kau terlalu serius dan sibuk dengan kuliahmu,”
“Jangan berani dekati aku Bram!” Nadira berteriak sambil memegang tongkat baseball yang tidak sengaja ditemukannya.
Nadira memegang erat tongkat baseball itu dan mengangkatnya tinggi di udara, seolah mengancam Bram jika berani mendekat maka ia tidak segan melayangkan tongkat itu di kepalanya.
Nadira berlari di setiap sudut rumah Bram sembari terus menghindarinya yang berusaha mendekat.
“Mau lari ke mana Nad? Rumah ini terkunci. Aku akan melepaskanmu asal kau menurutiku kali ini saja,”
Nadira semakin muak mendengarnya. Ia terus berlari menghindar, Nadira menghantamkan tongkat baseball itu di kaca jendela rumah milik Bram. Ia terus berputar di ruang tamu, memecahkan semua kaca jendela.
“Nadira apa yang kau lakukan!” Bram mulai kehilangan kesabaran, nada bicaranya begitu tinggi dan sorotnya begitu antagonis.
“Tolong!! Siapa saja tolong aku!!” Nadira berteriak sekuat mungkin berharap suaranya menembus keluar dan terdengar oleh orang-orang yang lewat atau tetangga rumah Bram. Nadira berharap bunyi pecahan kaca jendela rumah Bram bisa menarik perhatian orang-orang di luar.
Usaha Nadira berhasil, beberapa orang yang melintas depan rumah Bram langsung datang mendekat saat menyadari kegaduhan di rumah itu.
“Dasar gadis sok suci, beraninya kau menentangku!” Bram begitu marah kepada Nadira begitu orang-orang banyak mulai mendekati rumahnya.
Dengan langkah cepat ia menghampiri Nadira, mengunci tubuh gadis itu dalam kekuatannya yang besar. Nadira masih tetap melawan dengan berusaha melepaskan tubuhnya.
Seketika Nadira kehilangan kesadaran dan jatuh pingsan, padahal Bram belum juga menyakitinya, baru berniat ingin memberi pelajaran pada gadis itu.
Sebelum kesadarannya habis, Nadira bisa mendengar sayup-sayup suara orang-orang yang menggedor-gedor pintu rumah Bram dan suara ribut-ribut penuh kehebohan.
.
.
.
Nadira terbangun tengah malam dari mimpinya tadi. Masa lalu pahit yang berusaha dikuburnya, tiba-tiba muncul kembali terus menghantui pikirannya saat ini, bahkan hadir dalam mimpinya.
Nadira kembali menitikkan air matanya sepanjang malam itu.