
Kedua gadis itu terdiam setelah Arga menutup telponnya. Keduanya merasa begitu canggung.
“Aku tidak pernah bisa melupakan rasa bersalahku karena membuat Arga menjadi buta setelah kecelakaan itu,” sahut Niken penuh rasa penyesalan.
“Arga sudah jauh lebih baik, dia sudah bisa berdamai dengan kondisinya,”
Niken mengangguk lemah, “tapi tetap saja, kebutaan yang dialami Arga adalah karena diriku. Karena terlalu fokus mengejarku, dia sampai tidak memperhatikan jalan dan tertabrak mobil,”
Nadira menyentuh pundak Niken, “kamu tahu Ken, seharusnya Arga punya peluang untuk bisa melihat lagi. Dokter mata baru saja menemukan pendonor kornea mata, tapi sehari sebelum operasi itu dilaksanakan, petugas yang membawa donor kornea itu menuju ke rumah sakit, mengalami kecelakaan di jalan dan donor kornea itu jadi rusak, tidak bisa digunakan lagi,”
Nadira tampak terluka dan kesedihannya muncul kembali. Niken bisa melihatnya dengan jelas.
“Nad, kamu mencintai Arga?” tanya Niken kemudian.
Nadira tak menjawab, ia bahkan tak mau menatap lama-lama kedua mata Niken yang sedang menyorot padanya, seakan sedang menelusuri isi hatinya lewat sinar mata Nadira.
“Jujurlah Nad, aku sangat mengenalmu. Ini pertama kalinya, kau bahkan tidak pernah memiliki sinar mata seperti itu bahkan saat kau masih bersama Bram,” Niken begitu peka bisa menebak isi hati Nadira.
Niken tersenyum, “aku sudah menduga, setelah tahu kalian menikah, cepat atau lambat kau pasti akan jatuh cinta padanya. Siapa yang bisa menolak Arga, anak ingusan sekalipun pasti bisa jatuh cinta padanya,”
Niken memegang tangan Nadira dan menatapnya dalam, “aku senang kau bersama Arga, karena sudah tidak mungkin bagiku untuk kembali padanya walaupun aku masih memiliki rasa cinta padanya. Kami cukup lama berpacaran, dan dia selalu memberiku perlakuan yang hangat. Tapi aku tahu, tidak mungkin aku mencintai dua pria berbeda dalam waktu yang sama. Pada akhirnya aku memilih Desta, karena jika terus bersama Arga dia tidak pernah bisa lepas dari ibunya. Apa ibunya Arga tidak pernah galak kepadamu?”
Nadira hanya tersenyum, “mommy sebenarnya baik, mungkin rasa sayangnya yang begitu besar kepada Arga jadi dia seperti itu,”
“Nad, tolong, jangan bilang-bilang pada Arga kalau aku sudah kembali. Aku belum siap bertemu dengannya, kalau aku sudah siap, aku akan menemuinya langsung untuk menjelaskan semuanya,”
Nadira hanya mengangguk. “Ken, kenapa kamu melepaskan Arga?” Nadira bertanya penasaran.
Niken menatap perutnya yang besar dan mengelusnya lembut, “karena anak ini,” jawab Niken. “Nad, aku hamil anaknya Desta sebelum pernikahanku dengan Arga,” Niken mengaku jujur, walaupun ia sudah bisa menebak akan seperti apa reaksi Nadira setelah mendengarnya.
Nadira sangat terkejut, ia menatap Niken dengan rasa bergejolak.
“Tega kamu mengkhianati Arga,” Nadira bangkit berdiri, menatap Niken dengan perasaan marah dan kecewa.
“Nad, aku...,” Niken tak tahu bagaimana harus menjelaskannya. Rasa stres dan tertekannya menjelang hari pernikahan, dan rasa nyamannya mencurahkan segala isi hati dan unek-uneknya hanya kepada Desta seorang, membuatnya melakukan hubungan terlarang dan sejenak lupa dengan segalanya.
“Aku tahu aku salah, Nad. Aku sudah mengkhianati Arga, makanya saat itu memilih meninggalkan Arga adalah pilihan terbaik. Karena aku tidak akan siap menghadapi amarah Arga dan juga ibunya saat tahu aku hamil anak dari laki-laki lain. Sampai detik ini juga aku masih takut Nad untuk bertemu Arga, apalagi bertemu ibunya. Cepat atau lambat dia pasti akan tahu apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Desta,”
“Aku tidak habis pikir Niken, kamu melakukan ini kepada Arga. Kamu tahu, dia sangat mencintaimu, bahkan setelah kami menikah, dia tidak bisa menerima kenyataan kamu telah pergi meninggalkan dia,”
“Aku minta maaf Nad, aku bahkan sudah melibatkanmu dalam masalahku dan Arga. Kamu harus menanggung semuanya setelah aku pergi,”
“Dia sangat marah saat tahu kamu sudah menikah dengan Desta,” ungkap Nadira mengingat di awal pernikahannya saat Arga marah-marah kepada Irfan, juga kepada dirinya, sambil melempar foto pernikahan mereka ke tembok.
Nadira duduk kembali di hadapan Niken dengan perasaan gundah.
“Niken, karena ulahmu, aku terseret masuk dalam kehidupannya Arga. Aku harus rela menebus perbuatanmu dengan menikahinya, kami menjalani pernikahan yang tidak biasa, karena pernikahan ini hanya untuk menyelamatkan kehormatan keluarganya, dan suatu hari nanti aku akan berpisah dengannya. Semua harus berjalan sesuai kontrak pernikahan yang telah kami sepakati, tapi aku tidak pernah menyangka hatiku tak bisa menurut, hatiku telah jatuh kepada Arga. Rasanya aku tidak bisa bercerai dengannya suatu hari nanti, karena sekarang aku sadar aku juga mencintai laki-laki yang pernah kau cintai,”
“Nad, kenapa kamu harus takut menyatakan perasaanmu pada Arga? Saat dia menelponmu tadi aku bisa tahu kalau dia juga mencintaimu,”
Nadira menggeleng putus asa, “tidak bisa Niken! Tidak bisa! Ibunya melarang perasaanku kepada Arga, dia memintaku untuk melupakan perasaanku padanya,”
Niken menarik nafas dalam-dalam, menatap sedih Nadira yang kini dalam posisi yang sama dengannya saat masih berpacaran dengan Arga. Niken juga merasa sedih berkepanjangan karena Rachel mengakui langsung di depannya dan juga Arga kalau dia tidak bisa merestui hubungan mereka.
Niken meraih tubuh Nadira dan mendekapnya.
.
.
.
Arga menyerahkan kembali ponsel milik Irfan yang tadi digunakannya untuk menelpon Nadira.
"Irfan, kira-kira kalau aku mengatakan yang sejujurnya kepada mommy, apa dia akan merestuiku?" tanya Arga masih menatap ke arah jendela, menebak hal apa yang akan terjadi ke depannya.
"Anda ingin mengakui kalau anda menyukai nona Nadira?"
Arga mengangguk, "aku tidak bisa lagi memenuhi perjanjian di kontrak pernikahan itu, aku ingin kontrak itu dihilangkan saja, karena aku tidak berniat untuk menceraikan Nadira,"
"Mau tidak mau, nyonya besar harus tetap tahu tentang keputusan hati anda, tuan,"
"Kamu ingatkan, dulu mommy tidak menyetujui hubunganku dengan Niken. Apa dia akan melakukan hal yang sama juga, mengingat Nadira adalah sepupunya Niken," Arga tampak ragu.
"Anda harus berani, tuan muda. Dulu anda begitu berani dan yakin dengan nona Niken, seharusnya sekarang anda lebih berani dan yakin lagi, hati nyonya besar pasti bisa diluluhkan,"
"Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai jatuh cinta padanya, aku selalu ingin bersamanya dan aku selalu merindukan kehadirannya,"
Irfan tersenyum, aku sudah lama menyadari perasaan anda itu, tuan.
"Tapi kira-kira bagaimana dengan Nadira? Apa dia mau menerima perasaan dari seorang lelaki buta sepertiku?" tiba-tiba Arga merasa minder dan tidak percaya diri.
"Nona Nadira adalah gadis yang cerdas dan baik, saya rasa dia pasti bisa memberikan jawaban yang bijak,"
Arga hanya tertegun, sembari membangun keyakinan dalam dirinya kalau dia harus segera menyatakan perasaannya kepada Nadira.