NADIRA

NADIRA
PERIKSA KEHAMILAN



Arga menatap lekat-lekat wajah cantik Nadira yang sedang serius menggantikan perban tangannya. Mereka berdua sedang di kamar, dan Nadira dalam keadaan tidak mengenakan hijab, rambut panjangnya ia kuncir asal-asalan tapi tak mengurangi raut cantiknya. Bagi Arga, mau bagaimana pun gaya Nadira, wanita itu selalu cantik di matanya.


"Mulai deh, kenapa akhir-akhir ini kamu sering menatapku seperti itu?" tanya Nadira tanpa melirik Arga masih serius menangani tangan lelaki itu.


"Bukannya kau juga senang menatapku?" Arga tak mau kalah.


"Itu dulu, karena kamu buta aku jadi berani seperti itu. Gara-gara lancang seperti itu akhirnya aku benar-benar jatuh cinta padamu," Nadira tersenyum sambil menatap sekilas pada Arga. Lalu kembali melanjutkan fokusnya.


"Sudah selesai?" tanya Arga.


"Sedikit lagi," jawab Nadira yang masih fokus.


"Jangan lama-lama dong dokterku sayang,"


Nadira tergelak sambil memukul pelan bisep Arga dengan kepalan tangannya.


"Jangan menggodaku dulu, aku sedang menjalankan tugasku tahu. Aku harus fokus," Nadira mengingatkan.


Arga tersenyum samar.


"Aku ingin menciummu, sangat ingin. Jangan kelamaan dong, kamu kelewat menggoda kalau rambutmu seperti itu," Arga kembali bermanja.


Nadira berhenti lalu menghela nafas, "baiklah Tuan Bucin, tolong kau diam dulu, jangan memecah fokus ku saat ini," Nadira segera menempelkan bibirnya di bibir Arga, lalu menciumnya begitu mesra. Setelah itu, ia kembali fokus pada tangan Arga.


Arga terdiam lalu tersenyum senang, melihat Nadira semakin tidak malu-malu jika ingin memulai duluan. Sebenarnya ia masih ingin menggodanya, namun kali ini ia harus biarkan dokter cantik itu menyelesaikan tugasnya.


"Nah, sudah selesai," ujar Nadira sambil melirik Arga. Lelaki itu langsung maju menciuminya lagi. "Arga, tadi kan sudah. Biar aku bereskan peralatanku dulu," ucap Nadira saat ada jeda.


"Itu tadi sogokanmu supaya aku tidak mengganggumu bekerja,"


"Tapi...,"


Arga kembali ******* bibir Nadira yang tampak ranum apalagi setelah ia memoles lip tint yang begitu kontras dengan warna kulitnya yang putih. Arga semakin tergiur dengan bibir wanita itu.


.


.


.


"Kenapa tidak diantar sopir saja, kalian?" tanya Widya yang sedang menggendong Azka, ketika kedua sejoli itu pamit ingin berkunjung ke dokter spesialis obgyn.


"Aku lebih suka menyetir sendiri bi," jawab Nadira sambil mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam tas kecilnya. "Ayo sayang," Nadira dan Arga lalu berpamitan pada Widya kemudian berjalan bersama menuju garasi tempat mobil Nadira terparkir.


"Nad, kita naik taksi online saja ya, aku tidak mau kau menyetir dalam keadaan hamil begini," Arga mencegat sebelum Nadira membuka pintu mobilnya, ia kembali membujuk wanita itu.


"Tidak apa-apa Arga, ini tidak berbahaya. Toh juga aku menyetir selalu pelan dan hati-hati,"


"Ah, seandainya saja tanganku sudah sembuh,"


"Tidak apa-apa sayang. Aku ingin menyetir karena aku sedang ngidam ingin makan sesuatu dan akan mencarinya sendiri nanti selepas kita pulang dari konsultasi di obgyn."


.


.


.


Tapi Rachel merasa begitu malu, atas ledakan amarahnya pada putra kesayangannya itu yang berujung pada pengusiran dan pemecatannya dari Rajasa Group.


Akhir-akhir ini Rachel memang banyak merenungkan sikapnya selama ini, kalau ia sudah terlalu berlebihan dan begitu jauh dalam memperlakukan Arga dan Nadira.


Rachel mengedarkan pandangannya keluar jalan, hingga ia tanpa sengaja melihat penampakan mobil putih Nadira tak jauh dari mobilnya yang hanya berjarak dengan dua buah sepeda motor yang juga sedang menunggu lampu merah.


Rachel bisa melihat jelas dari samping, wajah Nadira yang duduk di balik kemudi sambil berpandangan penuh arti dengan Arga yang duduk di sampingnya. Tak lama kemudian lampu merah berubah menjadi lampu hijau, kendaraan-kendaraan lainnya mulai tancap gas dengan sahutan klakson dari belakang, termasuk mobil Honda Mobilio milik Nadira.


"Pak, ikuti mobil putih itu ke mana mereka pergi," sahut Rachel yang memberi perintah kepada sopir pribadinya, untuk membuntuti anak dan menantunya.


"Baik nyonya," jawabnya patuh.


.


.


.


Rachel syok saat melihat mobil Nadira memasuki area parkir sebuah klinik bersalin, sementara mobil Rachel menepi di pinggir jalan. Rachel melihat anak dan menantunya segera turun dan berjalan bergandengan tangan dengan mesra memasuki klinik itu.


"Apa Nadira sedang hamil?" gumam Rachel, antara senang atau masih syok.


"Semuanya bagus. Berat janin juga bertambah sesuai kurva pertumbuhannya," ujar dokter Mira salah satu rekan kerja Nadira di rumah sakitnya dulu.


Nadira tersenyum menatap layar monitor USG 2D yang menunjukkan kondisi kehamilannya yang baru memasuki usia tiga bulan. Arga yang duduk di sisi pembaringan juga ikut tersenyum sambil menatap layar monitor itu lalu menatap wajah Nadira.


Setelahnya, Nadira segera turun lalu duduk bersama Arga untuk berbicara dengan dokter Mira.


"Aku akan meresepkan vitamin untukmu dokter Nadira," sahut dokter Mira sambil menunduk menuliskan resepnya di secarik kertas. Setelah itu menyerahkannya langsung kepada Nadira.


"Sejujurnya aku cukup khawatir saat dokter bergabung dengan tim relawan berangkat ke Sumbawa kemarin, tapi alhamdulillah kehamilan anda baik-baik saja, apalagi tidak ada keluhan macam-macam,"


Selama hamil, Nadira memang tidak pernah ngidam macam-macam, ia tidak pilih-pilih makanan, hanya penciumannya saja yang lebih sensitif, ia sampai mengganti aroma sabun mandi yang biasa ia pakai dengan wangi yang lain.


"Saya ucapkan selamat datang kembali dokter Nadira," lanjut dokter Mira sambil tersenyum juga ke arah Arga.


"Terima kasih dokter Mira, saya juga seorang dokter jadi saya pasti akan sangat berhati-hati dengan kehamilan ini,"


"Dokter, kalau hasil pemeriksaan istriku baik-baik saja, aku boleh kan datang berkunjung?" tanya Arga, sejak tadi ia sudah tidak sabar ingin menanyakan hal ini.


"Ah, maksudnya apa pak Arga?" tanya dokter Mira.


Belum Arga menjawab untuk menjelaskan, dokter Mira langsung tergelak sambil manggut-manggut.


"Baik-baik saya mengerti, tadi itu saya tidak mengerti maaf ya. Tentu boleh, karena kehamilan dokter Nadira tidak ada keluhan apa pun, silakan anda berkunjung dengan catatan setiap kali berkunjung jangan pernah lupakan bahwa istri anda ini sedang hamil, dan selalu hati-hati dalam memilih posisi," pesan dokter Mira sambil tersenyum malu.


Wajah Arga langsung berbinar mendengar penjelasan dokter Mira tadi ia menatap Nadira dengan sorot tak sabar.


Nadira pun jadi malu sendiri.