NADIRA

NADIRA
AMARAH ARGA



Arga berjalan, menyasar ke mana saja, mengambil benda-benda apa saja yang dicapai tangannya lalu melemparnya keras-keras ke lantai. Nafasnya memburu, wajahnya tampak menunjukkan amarah.


“Tuan, tolong tenanglah,” Irfan mendekat dari belakangnya sambil menyentuh pelan pundak Arga.


Arga menepis tangan Irfan dan membalik tubuhnya. “Sejak kapan kau tahu? Huh?” tanya Arga dengan nada meninggi.


“Maafkan saya tuan, saya hanya tidak mau anda merasa terluka dan marah,” jawab Irfan sambil menundukkan wajah di hadapan Arga. Irfan begitu tenang menghadapi amarah Arga.


“Aku benar-benar terluka dan sangat marah. Aku masih begitu berharap pada Niken, sementara kau menyembunyikan fakta kalau dia ternyata sudah menikah dengan laki-laki itu dan sekarang sedang hamil,” Arga meraba Irfan dan menarik kerah jasnya dengan kasar. “Kalau kau berniat menyembunyikannya, lalu kenapa pada akhirnya kau memberitahuku, bodoh!”


“Lebih baik anda tahu dan marah seperti saat ini tuan, karena itulah kenyataannya sekarang. Tolong anda berhenti mencari tahu apalagi berharap pada nona Niken, dia sudah jadi milik pria lain dan anda juga saat ini adalah suami dari nona Nadira,”


“Jago sekali kau berkata begitu, sampai bawa-bawa Nadira segala. Bagiku dia tidak sama seperti Niken, dan dia bukan apa-apa bagiku!”


Nadira yang sejak tadi berdiri di pintu, menatap ke arah Arga dengan sorot emosi. Irfan pun tidak menyadari kehadirannya karena ia berdiri membelakangi ambang pintu kamar Arga.


Nadira melangkah masuk sambil menatap sekeliling kamar Arga yang berantakan di segala arah, buah dari amarahnya yang meledak saat tahu kenyataan dari Irfan kalau Niken telah menikah dengan Desta dan saat ini sedang mengandung anaknya. Yang membuat Arga makin marah karena Irfan sudah lama mengetahui hal itu namun ia baru menyampaikan kebenarannya pada Arga tadi.


“Siapa yang datang?” tanya Arga begitu telinganya yang peka menangkap suara langkah kaki memasuki kamarnya.


“Aku,” jawab Nadira dengan nada dingin.


Raut Arga berubah, tangannya yang mencengkram kerah jas Irfan pelan-pelan ia lepas.


“Apa yang sudah kau perbuat? Kau benar-benar hebat ya, meski buta masih bisa membuat kamarmu sekacau ini, sama kacaunya dengan kau yang tidak bisa mengendalikan emosimu,” Nadira terdengar memaki.


“Kau sedang memakiku?” Nadira tampaknya berhasil memancing emosi Arga.


“Menurutmu apa? Aku tidak akan peduli meski kau buta, tapi lihat perbuatanmu ini tuan. Hanya membuat onar, membuat kerugian, merepotkan orang dengan membersihkan kamarmu dan menggantinya dengan perabot yang baru,” Arga tahu, bicara Nadira padanya terdengar begitu kesal.


“Hey, ini kamarku. Bukan kau juga yang akan membersihkan dan mengganti perabotnya! Kalau kau tidak suka dengan sifatku, ayo kita bercerai! Ingatlah, aku menikahimu itu karena keinginan mommy, aku tidak butuh wanita sepertimu yang tidak bisa memahami perasaan orang buta sepertiku,”


Nadira begitu terkejut saat Arga mengucapkan kata cerai dari mulutnya.


“Iya, kau benar. Aku memang tidak pernah memaklumi kondisimu yang buta, meski kau tidak bisa melihat bukan berarti kau harus terus-terusan bersikap seperti ini. Apa semua orang harus memaklumi emosimu yang buruk dan labil hanya karena kau buta, dan bisa seenaknya melukai orang lain dan melampiaskan kemarahanmu padanya?! Mungkin saja karena sifatmu ini, Niken sampai tega meninggalkanmu dan memilih dengan laki-laki lain,”


Kalimat terakhir Nadira begitu memancing amarah Arga, “Kau!” erangnya. Arga meraba, mengambil apa saja yang bisa didapatnya, ia mengambil sebuah pigura dan langsung melemparkannya ke arah Nadira, tapi tidak mengenai gadis itu. Pigura itu hanya membentur tembok dengan keras, dan serpihan kacanya terbang berhamburan melukai sebelah pipi Nadira.


Nadira menatap pigura yang pecah dan berserakan di lantai dengan perasaan campur aduk.


Goresan halus dari pecahan kaca tampak di pipi Nadira yang putih dan meneteskan pelan darahnya.


“Nona,” Irfan tampak kaget dan panik.


Nadira menatap Arga dengan emosi tertahan. “Apa kau sudah puas? Terus saja kau seperti ini dengan alasan karena kau buta!” Nadira bergegas pergi dari kamar Arga sambil menahan air matanya sebelum Irfan, bu Ruly, Rasty dan juga beberapa pelayan yang ada di sekitar, melihat air matanya.


“Sialan perempuan itu!” maki Arga dengan kesal.


“Tuan, kumohon tenanglah. Nona Nadira tidak bermaksud menghina atau merendahkan anda,”


“Tidak! Dia sudah menghinaku! Dia bahkan beraninya menilai Niken meninggalkanku karena sifatku yang seperti ini,”


“Tuan, anda pasti tidak tahu kalau sudah melukai nona Nadira,” Irfan memberi tahu, berharap kemarahan Arga akan sedikit mereda saat tahu kalau ia telah melukai Nadira dengan kedua tangannya.


“Siapa yang bodoh, huh? Kalau seperti itu seharusnya dia menghindar!”


Irfan hanya diam dan melempar tatapan ke arah bu Ruly dan Rasty yang berdiri kaget di depan pintu kamar Arga.


Air mata Nadira pun jatuh begitu ia menutup pintu kamar dan bersandar di pintu. Ia terisak pelan, kenapa hatinya begitu sakit. Ia benar-benar membenci Arga karena telah membuat hatinya terluka. Kata-kata Arga bahwa ia bukan apa-apa, kata-kata Arga bahwa ia masih berharap kepada Niken, kata-kata Arga yang dengan entengnya menyebut kata cerai benar-benar membuat hatinya begitu sakit. Dan yang paling membuat Nadira sakit hati adalah pigura yang tadi dilemparkan Arga ke arahnya adalah foto pernikahan mereka. Arga tidak tahu menahu soal foto itu, bu Ruly yang menyimpan dan menata foto itu di kamar Arga.


Nadira mendengar bunyi hujan dan menatap hujan yang turun melalui jendela kamarnya. Ia teringat Arga, apakah lelaki itu masih trauma dan merasa tidak nyaman setiap kali mendengar bunyi hujan yang turun?


Rasty dan bu Ruly menatap khawatir ke arah Arga ketika mereka mendengar bunyi hujan di luar. Rasty bergegas menghampiri kakaknya, ingin membantunya kalau-kalau traumanya kumat lagi.


“Kakak,” Rasty mengamati raut muka Arga yang tidak lagi tampak terusik setiap kali mendengar rintik hujan. Arga merasa bunyi hujan di luar tidak memengaruhi perasaannya. Ia hanya ingat kata-kata Nadira saat mereka hujan-hujanan di pantai Malimbu, setiap kali turun hujan ingatlah kenangan lain dan yang diingat Arga adalah saat ia hujan-hujanan bersama Nadira di pantai Malimbu dan gadis itu memegang kedua tangannya sambil menguatkannya.


“Kak Arga tidak takut hujan lagi?” Rasty bertanya senang.


“Hm, sepertinya begitu,” jawab Arga. Tiba-tiba ia menyesali semua perbuatannya kepada Nadira tadi.


“Syukurlah kak, mommy pasti senang saat tahu hal ini,” Rasty bergerak memeluk sang kakak.


Arga hanya diam saja, ia memikirkan bahwa ia harus segera meminta maaf kepada Nadira.


.


.


.


Nadira baru selesai mandi sore dan berganti pakaian, ia sedang menatap wajahnya di cermin. Pantulan wajahnya tergambar jelas, dengan sebuah plester luka yang menempel di pipinya yang tadi tergores pecahan kaca pigura yang dilemparkan oleh Arga.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Nadira bergegas membuka pintu, “selamat sore, nona,” sapa bu Ruly.


“Iya bu, ada apa?” tanya Nadira sambil mengukir senyum di bibirnya.


“Nyonya Rachel memanggil anda ke ruangannya, sekarang,”


“Oh, baik bu,” Nadira keluar dan menutup pintu kamarnya.


“Iya bu, tidak perlu khawatir. Ini hanya luka goresan yang kecil, dua tiga hari juga akan sembuh,”


Bu Ruly hanya mengangguk lega, meski ia tidak menyembunyikan kekhawatirannya terhadap Nadira. Wanita lima puluhan tahun itu mengantar Nadira menuju ke ruang kerja Rachel.


Nadira duduk di sofa ruang kerja Rachel sambil berpandangan dengan nyonya rumah itu.


“Aku sudah mendengar semuanya dari Irfan dan juga dari bu Ruly tentang apa yang terjadi antara kamu dan Arga hari ini,” sahut Rachel sambil menatap plester luka yang menempel di pipi Nadira. “Aku tahu maksudmu baik kepada Arga, tapi ketahuilah sebelum buta Arga tidak memprihatinkan seperti itu. Dia memang punya emosi yang buruk ketika sedang marah, tapi dia anak yang baik, keadaannya sekarang yang membuat aku, Irfan ataupun seisi rumah ini tidak ada yang tega menegur sikapnya yang mungkin sebenarnya membuat kesal,”


“Maafkan saya mom, kalau sudah bersikap berlebihan kepada Arga,” ucap Nadira.


“Tidak, aku tidak menyalahkan siapa-siapa di sini. Tidak apa-apa kau bersikap seperti itu kepada Arga, mungkin saja kau bisa membuatnya sadar kalau dia punya emosi yang buruk dan akan berusaha untuk mengontrol emosinya ketika sedang marah, kau tahukan kebiasaannya yang senang menghamburkan dan memecahkan barang-barang di kamarnya,”


Nadira hanya diam menunduk.


“Aku juga dengar dari Rasty kalau Arga tidak lagi merasa risih dan gelisah saat mendengar bunyi hujan. Apa kau yang sudah membantunya melawan traumanya?” tanya Rachel.


“Saya hanya tidak mau melihat Arga terus-terusan gelisah karena suara hujan. Walau buta, saya hanya ingin membantu dia tetap bersikap normal,”


Rachel tersenyum, “terima kasih Nadira atas kepedulianmu kepada Arga. Aku hanya minta satu hal padamu,”


Nadira menatap Rachel dengan berani ketika ibu mertuanya itu tidak melanjutkan kalimatnya.


“Jadilah teman yang baik untuk Arga. Bantu dia beradaptasi dengan kondisinya saat ini,”


Nadira mengangguk sambil berusaha tersenyum.


“Sampai sekarang aku masih belum mengerti kenapa Arga masih saja memikirkan Niken, padahal jelas-jelas gadis itu sudah pergi meninggalkannya lalu menikah dengan lelaki lain dan hamil. Aku dan Irfan sudah lama tahu hal ini, baru hari ini aku memerintahkan Irfan untuk memberi tahu Arga yang sebenarnya tentang bagaimana kehidupan wanita yang dicintainya setelah pergi meninggalkannya,”


“Mommy, apa aku boleh tahu alasan mommy tidak merestui hubungan Arga sama Niken?” tanya Nadira penasaran.


“Aku sudah punya calon istri untuk Arga. Tapi sayangnya anak itu tidak ingin mendengarkanku, malah menjalin hubungan dengan Niken sampai menjanjikannya untuk menikah. Aku benar-benar kesal anak itu jadi budak cintanya Niken, akhirnya dengan sangat terpaksa aku memberi restuku untuk mereka. Tapi beberapa minggu jelang pernikahan, Arga kecelakaan dan buta, lalu Niken tiba-tiba meninggalkannya dengan mengembalikan cincin pertunangan dan selembar surat perpisahan untuk Arga yang sudah tidak bisa membaca,” amarah Rachel belum sepenuhnya mereda tiap kali mengingat perbuatan Niken kepada Arga dan juga dirinya.


.


.


.


Rasty mengambil lembaran-lembaran kertas yang baru saja keluar dari printer. Arga di sampingnya tampak tidak sabaran.


“Kenapa sih kak sampai harus membuat draft peraturan sebanyak ini?” Rasty mengambil stapler lalu menyatukan lembaran-lembaran itu dalam satu bunyi klik.


“Berikan padaku!” Arga memintanya setelah mendengar bunyi klik dari stapler yang dipegang Rasty.


Rasty memberikan lembaran kertas itu kepada Arga.


“Semuanya sesuaikan? Tidak ada yang kamu kurangi atau lebihkan?”


“Iya kak, aku ketik seperti yang kak Arga bilang,”


“Terima kasih ya,” Arga tersenyum.


“Kak Arga mau ngerjain kakak ipar ya?” tanya Rasty tampak usil.


“Menurutmu?”


“Aku berpikir kakak membuat draft peraturan itu untuk mengikat kakak ipar di rumah ini, mungkin kakak akan membuatnya kesal setiap hari,”


“Entah kenapa aku senang sekali membuatnya kesal,” Arga tersenyum jenaka.


“Suasana hati kakak cepat sekali berubah. Bukannya tadi kakak begitu marah padanya?”


“Iya aku memang marah padanya. Tapi kurasa aku sudah berlebihan padanya,”


“Kenapa kakak merasa begitu, dia pantas diperlakukan seperti itu oleh kakak. Dia sudah berani merendahkan kakak yang buta, aku kesal melihatnya marah-marah tadi seolah dia pemilik rumah ini,” Rasty terdengar kesal.


“Rasty, kamu tidak berhak kesal pada istri kakak. Hanya aku yang berhak seperti itu padanya, kakak juga berencana untuk minta maaf secepatnya padanya,”


“Dia yang seharusnya minta maaf, bukan kak Arga,”


Arga menggeleng.


“Kak Arga tidak jatuh cinta sama perempuan itu kan?” tanya Rasty sambil mengamati raut muka kakaknya.


“Jatuh cinta?” Arga seolah bertanya pada diri sendiri.


“Aku tidak merestui kakak kalau sampai beneran suka sama kakak ipar. Aku sudah cukup membenci kak Niken, bagiku kakak ipar juga sama saja seperti kak Niken,”


Arga hanya diam mendengar kekesalan adiknya, khususnya pada Niken. Arga yang biasanya membela Niken ketika ibu ataupun adiknya menyatakan kekesalan mereka. Kini Arga tidak lagi melakukannya, sepertinya pikirannya pun sudah terbawa kalau Niken benar-benar bukan perempuan yang baik karena telah meninggalkannya di saat ia masih begitu cinta dan butuh dukungannya.


Nadira menoleh sejenak ke arah pintu kamar Arga setelah ia keluar dari ruang kerja Rachel dan hendak kembali ke kamarnya. Pintu kamar itu tiba-tiba terbuka dan Rasty keluar dari kamar kakaknya.


Kedua perempuan itu saling berpandangan, seperti biasa Rasty selalu melemparkan tatapan antagonis ke arah Nadira. Nadira tak pernah menggubrisnya, ia selalu menganggap Rasty masih kekanakan.


Rasty melangkah angkuh melewati Nadira dan sengaja menyenggol lengan kakak iparnya dengan keras lalu melangkah menuruti anak tangga.


Nadira masih tidak peduli dengan semua sikap dingin Rasty padanya. Ia hanya menatap ke arah pintu kamar Arga, seolah penasaran sedang apa lelaki itu di dalam, apakah masih marah padanya?