NADIRA

NADIRA
ALERGI



Nadira melirik Arga yang belum merespon sepiring lasagna di hadapannya.


“Apa kau merasa kesulitan untuk memakannya?” tanya Nadira.


Arga menggeleng, “tidak,” tangannya meraba mengambil sendok dan mulai mencicipi lasagna pesanannya. Begitu pun Nadira.


Nadira tersenyum geli saat Arga sedang asyik menikmati lasagna-nya, ujung bibirnya tampak kotor karena pasta tomat yang menempel. Arga tidak menyadari, raut mukanya tampak aneh.


Seketika tangan kanan Nadira bergerak menyeka ujung bibir Arga yang agak kotor. Ia menyentuhnya pelan dan menyapu bersih dengan jemarinya hingga bibir itu kembali bersih.


Beberapa detik, Arga merasa membeku merasakan sentuhan tiba-tiba jemari Nadira di pinggir bibirnya.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Arga bingung dan kaget.


Nadira terkekeh pelan, “itu, tadi ada pasta tomat yang menempel di ujung bibirmu. Kau benar-benar lucu, tampak seperti anak kecil,”


Arga tertunduk diam. Kenapa Nadira berani menyentuhnya tiba-tiba, dan kenapa juga sentuhan di pinggir bibirnya itu justru membuatnya berdebar.


“Maaf, kau tidak suka ya aku mengataimu anak kecil?” Nadira buru-buru meminta maaf karena raut muka Arga yang tidak sesuai perkiraannya. Mungkin ia salah jika Arga akan terus ramah dan akrab dengannya.


“Arga, kenapa pipimu memerah?” tanya Nadira kaget dan juga bingung saat menyadari perubahan di kulit pipi Arga yang pelan-pelan mulai tampak kemerahan.


“Benarkah? Pantas saja aku mulai merasa gatal,” Arga tampak gelisah dan kesal, jemarinya mulai bergerak menggaruk pelan kedua pipinya yang terasa panas dan gatal.


“Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini?” Nadira bergegas menghampiri Arga dan menatap dari jarak dekat kemerahan yang tiba-tiba timbul di kedua pipi Arga.


“Sepertinya ada yang salah dengan lasagna itu. Aku memang alergi terhadap beberapa bumbu masakan,” jawab Arga yang makin menjadi menggaruk kedua pipinya.


“Hei, sudah! Jangan digaruk terus! Nanti pipimu luka,” Nadira menahan kedua tangan Arga agar berhenti menggaruk.


“Panggilkan koki restoran ini! Aku perlu tahu, bumbu apa saja yang sudah ia tambahkan dalam lasagna itu,” sahut Arga kesal sambil menahan rasa gatal di kedua pipinya.


Nadira mengedarkan pandangan, ia tidak melihat pramusaji di sekitarnya, semuanya sedang sibuk melayani pengunjung lain restoran.


“Aku akan memanggilkan langsung kokinya, kau tunggu di sini ya,” Nadira bergegas meninggalkan Arga, menuju ke dapur restoran.


“Ah menyusahkanku saja,” gumam Arga masih merasa kesal lalu menggaruk pelan pipinya lagi. Setelah rasa gatalnya sedikit reda, sebelah tangannya meraba atas meja, mencari letak segelas air putih miliknya.


Tak lama kemudian, Nadira datang bersama pramusaji yang tadi membawakan pesanan makanan mereka, bersama seorang wanita muda yang berpakaian koki dan juga seorang perempuan muda dalam balutan busana yang modis dan sedikit terbuka di bagian dadanya.


“Arga, kau baik-baik saja?” tanya Nadira begitu sampai.


“Baik apanya, ini masih sangat gatal,” jawab Arga.


“Maaf tuan, saya koki yang memasak hidangan lasagna anda, apa yang salah dengan yang anda makan sampai wajah anda bereaksi alergi?” sahut koki muda itu dengan penuh sopan dan juga hormat.


“Pakai tanya segala lagi. Kalau masakanmu benar, tidak mungkin aku seperti ini. Aku cukup sering makan lasagna, ini pertama kalinya alergiku muncul karena memakan makanan itu. Dan bagaimana bisa koki amatiran sepertimu bekerja di restoran ini? Kau tidak bisa merasakan kalau lasagna buatanmu itu bawang putihnya begitu terasa, itulah yang membuat alergiku kambuh, kau terlalu banyak menambahkan bawang putih dalam masakanmu. Aku hanya makan beberapa suap saja, alergiku langsung kambuh,” jawab Arga begitu kesal disertai nada bicara yang tidak ramah, membuat koki itu menciut.


“Maaf tuan, saya sudah memasak dengan benar dan saya selalu mencicipi rasa setiap rempah yang saya gunakan, bahkan saya merasakan kalau bawang putihnya sudah pas dan tidak berlebihan,” koki itu membela diri dengan raut keheranan.


“Sudah jelas salah, masih membela diri lagi. Coba kau rasakan sendiri masakanmu!” sahut Arga kasar.


“Arga,” Nadira menyahut lembut, berharap lelaki itu bisa mengendalikan emosinya yang muncul karena rasa gatal yang mendera kedua pipinya dan berusaha ditahannya.


Koki itu lalu mencicipi lasagna buatannya,  Arga benar rasa bawang putihnya begitu kuat.


“Anda benar tuan, rasa bawang putihnya begitu kuat. Tapi saat saya mengolahnya di dapur, rasa bawang putihnya tidak sekuat ini tuan,” ujarnya keheranan.


“Mungkin lidahmu sudah rusak. Bagaimana bisa koki amatiran sepertimu bekerja di sini, aku ingin bertemu dengan manajer restoran ini, minta kau segera dipecat!”


Koki itu berubah ketakutan, jika ia benar dipecat karena kesalahannya dalam memasak, hancurlah karirnya sebagai koki yang berharap suatu hari kelak ia bisa naik setingkat menjadi chef.


“Saya di sini tuan, saya adalah manajer restoran ini,” sahut si wanita cantik yang tadi ikut bersama Nadira.


“Mohon maafkan koki kami, tuan. Dia sebenarnya belum lama bekerja di restoran ini, baru sekitar dua bulan yang lalu, jadi mohon maafkan kalau dia berbuat kesalahan,” sahut manajer restoran dengan sopan.


Manajer restoran segera mengajak kokinya berbicara empat mata di ruangannya, sementara ia berpesan  kepada pramusajinya untuk mengantarkan Arga dan Nadira ke sebuah ruangan khusus. Nadira menurut saja membawa Arga beristirahat di sana karena semua mata sedang tertuju kepada Arga.


Nadira meraih tangan Arga setelah membantunya duduk di sebuah sofa panjang yang empuk, ia memberikan sebuah botol minuman berisi air hangat yang tadi dimintanya saat menemui koki restoran di dapur.


“Apa ini?”


“Tempelkan ini ke pipimu, itu akan sedikit meredakan rasa gatal. Aku akan keluar sebentar ke apotik untuk membeli obat agar alergimu segera sembuh,” Nadira bergegas mengambil tasnya di atas meja.


Arga mengangguk patuh sambil menempelkan botol minuman ke pipinya yang terasa gatal, dan seperti yang dikatakan Nadira, rasa gatalnya jadi lebih ringan dan tidak terlalu mengganggunya lagi.


“Gadis itu benar-benar bisa diandalkan,” Arga senyum-senyum sendiri sambil bergantian menempelkan botol minuman di kedua pipinya, begitu mendengar bunyi pintu menutup menandakan Nadira sudah meninggalkannya sendirian di ruangan itu.


Tak lama kemudian, Arga mendengar bunyi engsel pintu yang membuka.


“Nad? Ada apa? Apa kau melupakan sesuatu?” tanya Arga yang melempar tatapan kosong ke arah pintu.


Tidak ada sahutan. Arga mengamati baik-baik melalui indera pendengaranya, pintu kembali ditutup dan terdengar bunyi klik setelah kunci diputar.


“Nad, ada apa? Kenapa kau mengunci pintu?” Arga jadi penasaran.


Tapi tidak ada suara yang menyahutnya.


“Kau lupa ya, kalau aku tidak suka didiamkan ketika sedang bicara?” Arga menyahut kesal, meraba-raba di atas meja, mencari tongkatnya yang terlipat dan disimpan oleh Nadira di atas meja depan sofa tempat ia duduk.


“Kau mencari tongkatmu?” suara manajer restoran mengagetkan Arga. Wanita itu sudah berdiri di hadapannya ditengahi meja. Sang manajer restoran melirik ke arah tongkat milik Arga yang terletak di ujung meja. Sejurus kemudian ia melambaikan sebelah tangannya tepat di depan kedua mata coklat Arga yang menyorot kosong ke arahnya.


“Ya Tuhan,  aku sempat tidak percaya dengan berita yang beredar selama ini. Tuan Muda Arga sekarang adalah orang buta,” wanita itu terkekeh pelan sambil menutup mulutnya dengan gaya anggun.


“Apa aku mengenalmu?” tanya Arga bingung namun kini nada bicaranya berubah dingin, ia tahu wanita di hadapannya ini sedang begitu ingin mengejeknya karena kondisinya sekarang.


“Kau sungguh tidak ingat suaraku ya? Itu wajar karena sudah bertahun berlalu saat kita terakhir bertemu di malam pesta kelulusan SMA Bunga Bangsa,”


“Oh, jadi kita satu SMA,”


Manajer restoran berjalan mendekati Arga. “Sudah lama sekali Arga, kita tidak bertemu. Tapi takdir tiba-tiba membawamu datang berkunjung ke restoran ini bersama istrimu, aku tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menyapamu kembali. Aku minta maaf kalau caraku membawamu ke ruangan ini terlalu berlebihan. Aku sangat tahu kau alergi bawang putih, jadi semua itu adalah perbuatanku, bukan salah kokiku,”


“Sebenarnya kau siapa? Aku benar-benar tidak mengenal suaramu,”


“Arga, kenapa secepat itu kau melupakan aku. Dulu aku begitu semangat menyimpan sepucuk surat di laci mejamu sebagai pengagum rahasiamu, dan tidak cukup sebulan kau tahu kalau surat-surat itu aku yang kirim dan kau menatapku jijik sampai mempermalukan aku di hadapan satu sekolah,” ada nada kesal dalam bicara itu.


“Dela,”


“Iya, benar, aku Dela. Entah kenapa saat melihatmu tadi, aku kembali teringat obsesiku padamu dulu. Dulu kau menghinaku karena kau benci perempuan berambut ikal dan berjerawat. Sayang sekali, mata indahmu itu tidak bisa melihat, aku pasti senang setidaknya kau bisa melihat dengan kedua matamu kalau penampilanku sekarang sudah berubah,” dengan penuh percaya diri, Dela menyentuh pelan sebelah pipi Arga yang masih tampak kemerahan.


“Singkirkan tanganmu!” Arga menepis kasar tangan Dela. Ia melangkah menjauhi Dela, dan sialnya kakinya harus terantuk di kaki meja. Arga jatuh tersungkur di lantai.


Dela menarik nafas, kasar. “Setelah kau menjadi pria buta yang malang seperti ini, aku pikir sikap sombongmu itu pelan-pelan menghilang. Buta ataupun tidak, kau masih saja seperti Arga yang dulu, begitu arogan,”


Arga segera bangkit berdiri. “Apa yang kau inginkan sekarang? Kalau kau ingin menertawaiku, lakukan saja,”


Dela kembali menghampiri Arga dan berdiri tepat di hadapannya, “Arga, seandainya kamu tidak bersikap angkuh seperti ini, tentu aku tidak akan menyimpan kebencian padamu. Kau tahu, sejak SMA aku begitu tulus mengagumimu, tapi kau tidak bisa menghargai perasaanku,” Dela terisak pelan mengingat perasaannya dulu.


“Aku minta maaf atas sikap kasarku padamu, Del,”


Dela menyeka pelan titik air matanya, dan sejurus kemudian ia memeluk Arga. “Arga, kenapa kamu tidak bersikap seperti ini padaku sejak awal,” Dela kembali terisak.


“Dela, lepaskan! Aku benar-benar benci perempuan yang terlalu agresif,” Arga mendorong tubuh kurus Dela lepas dari memeluknya.