
Nadira segera ke dapur untuk membuat nasi goreng, di dapurnya sudah tidak ada bahan makanan, jadi ia hanya membuat menu nasi goreng seadanya. Arga terbangun begitu mencium aroma masakan dari dapur, ia meraba-raba di sampingnya dan tidak menemukan Nadira. Arga tersenyum saat menyadari kalau Nadira sudah bangun dan sedang menyiapkan sarapan di dapur. Arga tampak bahagia kala mengingat apa yang sudah ia lakukan semalam dengan Nadira. Benar-benar bahagia karena ia telah menyalurkan perasaannya sebagai seorang lelaki tentu karena ia melakukannya dengan wanita yang sangat ia cintai.
Saat itu Nadira membuka pintu kamar dan masuk sambil membawa segelas susu hangat untuk Arga. Nadira sedikit terkejut melihat Arga yang baru bangun dan sedang duduk di atas tempat tidur sambil senyum-senyum sendiri.
“Nad?” sahut Arga saat mendengar suara pintu yang terbuka.
“Kau sudah bangun,” Nadira menghampiri lalu meletakkan susu itu di atas nakas.
Arga segera menarik Nadira turun lalu memeluknya dalam keadaan telanjang dada, tubuh bagian bawahnya dari pinggang hingga ke kaki tertutup oleh selimut.
“Terima kasih untuk semalam sayangku,” bisiknya.
“Ayo, aku bantu ke kamar mandi,” Nadira lupa kalau Arga masih dalam keadaan bugil.
Begitu Arga bangkit, Nadira berteriak kaget.
“Aaaaaaahhh,”
“Kenapa Nad? Kau kan sudah melihatnya semalam,” Arga berujar polos.
“Kau membuatku kaget,” sahut Nadira sambil memunguti baju dan celana Arga di lantai. “Kenapa sih kau suka sekali sembarangan telanjang di kamar,” Nadira mengomel sambil membantu Arga memakai baju dan celananya.
“Aku kan baru bangun, sayangku," ujarnya, "apa kau masih mau melihatnya?" goda Arga.
"Ah, sudah cepat, pakai celanamu," gerutu Nadira sambil tersenyum malu.
.
.
.
“Arga, kamu sama pak Fildan dulu ya, aku mau keluar sebentar ke pasar, bahan makanan di dapur sudah habis,” sahut Nadira sambil mengecek dompetnya dalam tas. Arga sedang duduk-duduk di teras rumah sendirian.
Pak Fildan sopir mereka baru saja tiba di teras rumah.
“Kau akan ke pasaran sendirian?” tanya Arga yang bangkit berdiri.
“Iya, aku akan ke rumah bibi Linda meminjam motornya untuk berangkat ke pasar,”
“Kalau nona bisa menyetir, lebih baik naik mobil saja ke pasar,” sahut pak Fildan sambil menunjukkan kunci mobil dalam genggamannya.
“Aku ikut denganmu ke pasar,” sahut Arga.
“Kau yakin?” tanya Nadira.
“Kenapa? Takut kalau aku akan merepotkan?” Arga tampak kesal.
“Bukan! Di pasar sangat ramai, kau pasti tidak suka suara-suara bising di sana,”
“Pak Fildan, cepat nyatakan mobil, antarkan kami ke pasar!” Arga memberi perintah.
“Siap tuan,” pak Fildan bergegas ke mobil.
.
.
.
Nadira dan Arga mengunjungi sebuah pasar tradisional sambil terus bergandengan tangan. Mereka kembali jadi pusat perhatian karena penampilan Arga yang mencolok dengan gaya pakaian yang mewah dan juga kacamata hitam, sama sekali tak cocok digunakan hanya untuk sekedar pergi berbelanja ke pasar tradisional.
“Neng pengantin baru ya?” tanya si ibu-ibu penjual sayuran ketika melihat Nadira sedang melihat-lihat dan memilih-milih sayuran hijau sementara ia sedang bergenggamam tangan dengan Arga.
Nadira menatap ke arah Arga.
“Tangannya tidak mau lepas, takut banget kehilangan,” ibu-ibu penjual sayur itu tampak tersenyum sambil mengagumi penampilan Arga yang begitu mencolok namun satu tangannya sedang menenteng kantong belanjaan.
“Iya bu, saya takut kehilangan istri saya,” Arga meladeni ibu penjual sayuran.
Setelah berbelanja sayuran Nadira mampir pada seorang pedagang topi dan kacamata.
“Mampir neng, beli kacamata dan topinya, murah saja cuma tiga puluh ribu satunya,” sahut bapak penjualnya saat melihat Nadira memilih-milih beberapa model topi, ia mencobakannya langsung di kepala Arga.
“Apa yang kau lakukan Nad?” tanya Arga.
“Membeli topi untukmu,” jawab Nadira yang masih sibuk memilih-milih warna setelah menetapkan pilihannya pada model Dad hat atau model topi ayah.
Nadira menjatuhkan pilihannya pada topi berwarna hitam polos. Lalu segera membayarnya.
Nadira lalu mampir di penjual kaos oblong ketika melihat penjualnya mempromosikan beberapa kaos oblong yang couple.
“Silahkan dipilih neng, kalau mau custom nama atau kata-kata bisa, tapi tunggu tiga hari dulu. Silahkan dipilih-pilih bahan kaosnya mau yang mana,” ujar si penjual dengan ramah sambil memperhatikan penampilan Arga yang kalau sepintas dilihat langsung terbaca aura kayanya.
“Saya pilih yang sudah jadi aja deh,” sahut Nadira sambil memilih-milih model tulisan di baju couple itu.
“Masnya ini, pacar atau suami neng?” tanya si penjual.
“Suami,” Nadira dan Arga menjawab serentak.
Si penjual hanya tersenyum, “benar-benar kompak nih eneng sama masnya,” ujarnya lalu mengambil sepasang kaos berwarna biru muda yang masing-masing bertuliskan kata My Husband dan My Wife.
“Bagaimana, kalau yang ini neng?” ia menawari.
Nadira mengangguk, “boleh,”
“Gimana mas?”
“Saya ikut pilihan istri saya saja,” jawab Arga santai. Penjualnya tidak tahu kalau ia sebenarnya tidak bisa melihat.
“Duanya berapa kang?” tanya Nadira karena menilai penjualnya masih anak muda.
“Seratus lima puluh aja neng,”
“Oke saya ambil baju yang itu ya,” ucap Nadira sambil membuka dompetnya.
Penjualnya segera ke belakang untuk membungkus baju itu dengan kresek hitam.
“Sayang sekali, uangku sisa seratus tiga puluh,” Nadira menatap pilu uang seratus tiga puluh ribunya yang tersisa di dompet. Tadinya ia hanya membawa uang pas karena berpikir hanya berbelanja bahan makanan saja.
“Bayar pakai kartu saja,” Arga menyodorkan dompet kulitnya.
“Arga, ini bukan di mall. Ini di pasar, pembayaran pakai kartu mana bisa,”
“Aku juga jarang bawa uang cash,” Arga memasukkan kembali dompetnya.
Si penjual pun datang sambil membawa kantong hitam berisi belanjaan Nadira.
“Ini neng,” ia menyodorkan.
“Kang, seratus tiga puluh ribu saja ya,” Nadira berusaha menawar.
“Loh, neng tadikan sudah sepakat seratus lima puluh ribu,” ia tampak kecewa apalagi melihat penampilan Arga, ia yakin lelaki itu memiliki dompet yang tebal.
“Seratus tiga puluh ribu aja, saya angkut deh,” Nadira masih membujuk.
“Sudahlah Nad kalau dia tidak mau. Kita bisa beli di tempat lain nanti,” bisik Arga.
“Mau ya kang,” Nadira bersikeras.
“Iya deh neng, seratus tiga puluh ribu,” si penjual pun mengalah lalu memberikan bungkus hitam itu yang ditukar dengan uang seratus tiga puluh ribu milik Nadira.
Arga bisa mendengar Nadira begitu bahagia bisa membeli kaos couple itu.
Dengan sisa uang kecil Nadira di dompet, ia sempat mampir membeli es lilin, jajanan kesukaannya semasa SD. Ia menikmati es lilinnya bersama Arga sambil tertawa-tawa bersama.