
Rio menatap heran kepada Rachel dan Irfan yang baru memasuki ruang rapat di Rajasa Group. Ia mencari-cari di mana keberadaan Arga sebagai direktur utama. Bukan hanya Rio, semua dari dewan direksi dan dewan komisaris mencari keberadaan Arga. Rachel pun menjelaskan dengan senyum sumringah kalau Arga selama beberapa hari ke depan tidak akan masuk kerja dulu karena sedang bersiap untuk operasi transplantasi kornea mata.
.
.
.
“Ya Allah aku hampir lupa!” seru Nadira tiba-tiba saat sedang berjalan bersama Arga sambil menggandengnya.
“Ada apa?”
“Aku harus memeriksa kondisi salah satu pasien kecelakaan yang kutangani semalam di UGD. Uhm, tidak apakan kamu menunggu di sini sebentar saja? Aku tidak lama kok,” sahut Nadira sambil mengintip ke dalam bangsal.
Arga hanya mengangguk, Nadira lalu meninggalkannya duduk sendirian di sebuah kursi tunggu depan bangsal. Arga duduk bersandar di kursi sambil melipat kedua tangan di depan dadanya, supaya tidak bosan menunggu ia segera memasang earphone di kedua telinganya, bersiap mendengarkan beberapa lagu kesukaan kesukaannya. Namun sebelum ia memutar lagu-lagu tersebut, kedua telinga Arga mengawasi beberapa suara berbisik tak jauh darinya.
“Eh, itu suaminya Dokter Nadira kan?” Tanya salah satu perawat yang baru keluar dari bangsal sambil membawa beberapa obat-obatan dan beberapa peralatan medis.
Perawat yang satunya memicingkan mata menatap lurus ke arah Arga yang tampak diam dan seperti sedang tenggelam mendengarkan musik lewat earphone-nya.
“Iya benar, itu Tuan Arga pemilik Rajasa Group,”
“Katanya dia buta ya,” gumamnya memastikan.
“Iya, kelihatan kan dia pakai kacamata hitam di ruangan terang begini,” jawabnya acuh. “Dulu aku pikir Dokter Nadira bakal berjodoh sama dokter Mirza,” lanjutnya.
“Mereka beneran pernah dekat ya?”
“Dekat begitu sih, katanya teman aja. Aku pernah tanya-tanya langsung sama dokter Nadira, kamu tahukan aku lebih sering shift bareng dokter Nadira di UGD. Dia tampak malu-malu gitu pas aku tanya kalau dia suka sama dokter Mirza, dokter Nadira tidak pernah mengaku, tapi dari gelagatnya aku yakin dia suka sama dokter Mirza, ya kagum begitulah. Siapa sih di rumah sakit ini yang tidak kagum sama dokter Mirza? Aku saja kagum, apalagi pasien-pasiennya yang anak-anak pada suka sama dia juga. Nah kaget juga pas terima undangan dari dokter Nadira kalau dia akan menikah dengan Tuan Arga, bukan dokter Mirza. Padahal aku salah satu pendukung Dokter Nadira dan Dokter Mirza di rumah sakit ini,”
“Wah, Dokter Nadira beruntung ya dapat suami tampan dan kaya raya seperti Tuan Arga, ya walaupun buta,”
Seketika Arga merasa tidak nyaman setelah mendengar pembicaraan kedua perawat itu, walaupun mereka berbicara sambil berbisik Arga tetap bisa mendengar setiap kata mereka dengan jelas. Jadi selama ini ia tidak salah menduga kalau Nadira punya rasa terhadap dokter Mirza bahkan sampai hari ini.
Tak lama kemudian Nadira muncul keluar dari bangsal dan menyapa ramah kedua perawat yang sedang berdiri di depan bangsal sambil menatap kagum kepada Arga yang sedang duduk menunggu sambil mendengarkan musik.
“Hai kalian sedang apa? Aku kira sudah jauh,” Sapa Nadira.
“Itu dok, si Wulan lihatin suami dokter terus. Katanya ingin juga punya suami cakep dan kaya raya kayak Tuan Arga,”
“Kalian bicara apa sih,” Nadira terkekeh sambil melirik ke arah Arga yang sedang duduk tenang.
“Kita duluan ya dok,” kedua perawat itu pamit pergi.
Nadira segera menghampiri Arga dan duduk di sampingnya, ia menepuk pelan sebelah pundak Arga dan memanggilnya lembut, “Arga,”
Arga menarik kedua earphone yang menyumbat telinganya.
“Ayo kita pulang,” ajak Nadira.
“Mulai dari sekarang kau tidak boleh membuatku menunggu,” sahut Arga dengan nada tak suka.
“Ke-kenapa?” tanya Nadira heran. Ia cukup kaget melihat perubahan suasana hati Arga.
“Aku tidak suka menunggu! Kau pikir aku ini apa menunggumu, rekan bisnisku saja tidak ada yang pernah membuatku menunggu,”
“Tadi kan kau sendiri yang tidak keberatan untuk menungguku,” Nadira jadi berpikir apa ia membuat Arga menunggu lama?
“Baiklah, aku minta maaf,” sahut Nadira kemudian, memilih mengalah. Jiwa sensitifmu kambuh lagi, seperti perempuan saja.
.
.
.
Nadira jadi kikuk sendiri saat di atas mobil bersama Arga, perjalanan dari rumah sakit menuju ke rumah. Lelaki itu hanya diam saja, Nadira bertanya-tanya apa karena membuatnya menunggu di depan bangsal tadi benar-benar mengacaukan suasana hatinya.
“Nad, apa kau benar-benar akan pergi setelah aku bisa melihat lagi?”
Nadira menoleh kaget, “kenapa kau bertanya begitu? Aku kan sudah menjawabnya kemarin,”
“Jujurlah padaku, Dokter Mirza adalah salah satu alasanmu kan?”
“Ke-kenapa kau bisa berpikir begitu sih,” Arga bisa menebak dari nada suaranya, Nadira begitu kaget.
Arga menghela nafas, merasa kesal atas sikap Nadira yang terkesan menutupi perasaannya. “Aku tahu kau menyukai sosok dokter anak itu kan?” tanya Arga langsung, daripada hatinya merasa tidak tenang sepanjang jalan.
Nadira menatap kaget kepada Arga, tak menyangka lelaki itu bertanya hal yang mengejutkan. Nadira bertanya-tanya dalam hatinya, dia tahu darimana soal dokter Mirza?
“Kenapa diam?” Arga bertanya dingin, “berarti kau benar-benar menyukainya,” sahut Arga seperti menyembunyikan luka dari ucapannya.
“Arga, aku dan dokter Mirza adalah teman,” Nadira menjelaskan.
“Jadi tipikal laki-laki idamanmu adalah dia,”
“Kau ini cemburu ya,” sahut Nadira merasa tidak yakin.
Arga menoleh ke arahnya, mendekatkan wajahnya hingga Nadira tersudutkan di dekat pintu. Lagi dan lagi, sorot mata coklat Arga kembali membuat jantungnya berdegup kencang, walaupun ia tahu Arga tak bisa menemukan wajahnya dalam kegelapan yang menyelubungi kedua matanya.
Arga semakin mendekatkan wajahnya. Nadira menahan nafas dan memejamkan kedua matanya ketika Arga semakin berani bersikap begitu intim kepadanya. Nadira sempat berpikir Arga akan melakukan sesuatu di wajahnya, namun tidak.
“Baiklah, aku akan melepaskanmu setelah aku bisa melihat lagi,” bisik Arga.
Spontan, Nadira membuka kedua matanya dan melihat Arga menarik diri darinya membuat jarak dengannya.
Nadira merasa kecewa, kenapa?
Keduanya saling diam. Ada perasaan tidak nyaman menjalari keduanya. Hingga mereka tiba kembali di rumah, mereka tidak saling bicara.
.
.
.
Rio sedang berbicara di telpon dengan seseorang saat sedang duduk di kursi ruangannya.
“Aku akan membayar lebih, dua kali lipat untuk tugasmu,” ujarnya sambil menatap keluar melalui kaca jendela. “Tenang saja, kalau tugasmu berhasil dan kau langsung mengabariku, maka tidak perlu menunggu satu menit, aku akan segera mentransfer pembayarannya,” janjinya. Tak lama kemudian Rio menutup telpon dengan senyuman licik.
“Arga bisa melihat lagi? Belum saatnya,” ia tertawa mengejek, “kalau perlu selamanya dia tidak usah melihat. Aku lebih suka melihatnya jadi pria malang yang buta,” Rio kembali tersenyum licik dan penuh kebencian saat membayangkan wajah Arga dan juga ibunya atas rencana licik yang sedang disusunnya.