NADIRA

NADIRA
ROOFTOP



Nadira menapaki beberapa anak tangga, membuka pintu dan langsung memandang langit biru di rooftop rumah sakit. Ia melangkah hingga ke ujung gedung dan menatap gedung-gedung tinggi lainnya yang menjulang di sekitar rumah sakit.


Nadira memejamkan kedua matanya sambil menghela nafas dan mengingat setiap hal tentang Arga dalam pikirannya. Dari awal pertemuannya saat Arga masih berstatus kekasih Niken, saat ia menangani Arga di UGD setelah kecelakaan, semua kenangannya berputar dalam benak Nadira.


Yang paling membekas dalam pikiran gadis itu adalah saat Arga memeluknya malam itu ketika mabuk. Meski ia tahu Arga berucap di bawah pengaruh alkohol, namun Nadira terus kepikiran dan bertanya-tanya dalam benaknya, apa perasaan Arga sudah berubah?


Nadira tidak menyadari, seseorang telah berdiri di dekatnya dan menatap penasaran ke arahnya, lalu kemudian mengalihkan pandangan menatap langit dan juga gedung-gedung tinggi sambil menunggu gadis itu membuka kedua matanya.


Saat membuka kedua matanya, Nadira terkejut melihat sosok yang sedang berdiri di sampingnya.


“Dok-dokter Mirza,” ujarnya kaget.


Mirza meliriknya sambil tersenyum, ia kemudian membalik badan dan berdiri sambil bersandar di pagar besi. “Aku cukup tahu biasanya kalau dokter Nadira tiba-tiba naik ke rooftop pasti lagi banyak pikiran ya,”


Nadira hanya tersenyum sambil menatap ke depan.


“Masih ingat tidak waktu kamu baru bekerja di rumah sakit ini? Kamu naik sendirian ke rooftop sambil menangis-menangis,” Dokter Mirza melirik.


Nadira kembali tersenyum saat mengingatnya, “Iya dok, aku ketemu pasien yang galak dan mengataiku sebagai dokter yang tidak kompeten,”


Dokter Mirza tertawa sambil mengangguk mengiyakan.


“Waktu itu dokter datang dan berkata, jadi dokter harus punya mental yang kuat menghadapi bermacam-macam karakter pasien dan keluarga pasien. Tugas kita itu mulia, menjadi perantara kesembuhan orang-orang,” Nadira mengulang semua kata-kata dokter Mirza kepadanya dengan baik.


“Ternyata kamu masih ingat semua itu,”


Nadira mengangguk.


“Jadi kamu tahu kan sekarang, kenapa aku lebih memilih jadi dokter anak. Menangani pasien anak-anak itu lebih menyenangkan, keceriaan mereka, kepolosan mereka, benar-benar membuat mereka tidak terbebani penyakit ataupun rasa sakit yang sedang mereka alami. Karena itu membuatku sangat bahagia menjadi seorang dokter,”


Nadira menatap Mirza sejenak, hal itulah yang menjadi alasan kenapa Nadira begitu menyukai sosok dokter Mirza. Dia terlihat seperti seorang ayah yang begitu lembut dan perhatian kepada anaknya setiap kali ia bertemu dan menangani pasiennya yang anak-anak.


“Sepertinya nanti, aku juga akan lanjut spesialis anak saja,” sahut Nadira tiba-tiba.


“Itu ide yang bagus, kita bisa berpartner nanti,” sambut dokter Mirza mendukung.


“Mudah-mudahan nanti ada rezeki dan kesempatan bisa lanjut spesialis dok,”


“Aamiin. Bagaimana kabarmu dan suami?”


“Kami baik-baik saja,” jawab Nadira, walaupun pada kenyataannya ia merasa tidak sepenuhnya baik.


“Kamu tidak ada masalah dengannya kan sampai tiba-tiba berkunjung ke sini?” tanya Mirza penasaran.


“Apa dokter mengikutiku karena ingin bertanya hal itu?” Nadira berusaha menyembunyikan rasa tidak nyamannya.


“Bukan. Dokter Aslan memintaku untuk memanggilmu ke ruangannya,” Mirza menatap senang kepada Nadira, “sepertinya ada kabar bahagia,”


Nadira bergegas turun dari rooftop rumah sakit bersama dokter Mirza. Tak lama kemudian keduanya sudah duduk berhadapan dokter Aslan, seorang dokter spesialis mata yang dulu menangani Arga.


“Alhamdulillah,” Nadira bergumam senang setelah mendengar informasi yang diberikan dokter Aslan yang sudah menemukan pendonor kornea mata bagi Arga.


Dokter Mirza dan dokter Aslan saling tersenyum begitu melihat raut bahagia terpancar dari kedua mata dan juga wajah Nadira.


“Kita atur jadwal dulu untuk medical check up bagi Arga,”


“Lusa nanti. Sore-sore saja ya,”


Nadira mengangguk senang.


“Benar-benar bahagia ya,” sahut dokter Mirza saat keduanya baru keluar dari ruangan dokter Aslan dan berjalan beriringan sambil membalas sapaan beberapa perawat yang berpapasan dengan mereka.


“Tentu saja, sudah ada harapan baginya untuk bisa melihat lagi,”


“Tuan Arga sangat beruntung punya istri seperti dokter Nadira. Bisa menemukan seorang perempuan yang bisa mencintai kita dalam kondisi seperti itu adalah suatu anugerah,”


“Dokter bisa saja. Aku hanya berusaha menjadi istri yang baik untuknya. Dulu dia sangat kasar dan semaunya hanya karena dia selalu merasa menjadi orang buta yang menyedihkan, tapi aku tidak pernah menunjukkan rasa ibaku padanya karena kondisinya itu, aku terus mendorongnya untuk tetap menjalani kehidupannya walaupun orang-orang di sekitarnya banyak yang meremehkannya,”


Mirza melirik penuh rasa takjub kepada Nadira.


“Dulu aku berpikir jadi perempuan yang tidak beruntung karena menikahinya yang kasar dan sombong, bukan karena dia buta. Dia benar-benar bukan tipikal lelaki idaman yang ingin aku nikahi suatu hari nanti...,” Nadira menghentikan kalimatnya sambil menutup rapat mulutnya, menyesali ucapannya tadi, bagaimana ia bisa seterbuka itu kepada Mirza.


“Sungguh dia kasar dan sombong?” tanya Mirza seolah tak percaya, “tiba-tiba aku jadi penasaran memang dulu seperti apa tipikal lelaki idaman yang ingin kamu nikahi?” Mirza bertanya penasaran sambil menatap menggoda kepada Nadira.


“Maaf dok, sepertinya aku sudah terlalu jauh bicara,” Nadira terkekeh.


“Jadi tuan Arga itu bukan tipikal lelaki idamanmu ya, tapi pada akhirnya dialah jodohmu,”


“Begitulah jodoh dok, benar-benar penuh misteri dari yang maha kuasa,” Nadira merasa bicaranya sudah ngawur karena salah tingkah mengatakan hal yang tidak semestinya tentang Arga kepada dokter tampan itu.


“Apa tipikal laki-laki idamanmu seperti aku?” Mirza bertanya penuh rasa percaya diri.


Nadira menghentikan langkah dan menatap sejenak dokter Mirza sampai berpikir apa Mirza tahu kalau tipikal laki-laki idaman adalah dirinya?


Mirza tiba-tiba tertawa sambil menatap jenaka kepada Nadira. “Aku hanya bercanda, ha ha,”


“Dokter tahu kan, ada banyak orang di rumah sakit ini yang menjadi penggemarmu,” Nadira melanjutkan langkahnya.


“Aku pikir kau juga salah satunya,”


“Benar-benar lelucon yang bagus, dokter,” Nadira terkekeh.


“Maaf dokter Nadira aku hanya bercanda, aku hanya ingin menghiburmu yang begitu banyak pikiran saat naik ke rooftop tadi,”


“Terima kasih dokter, aku benar-benar terhibur dengan candaan dan leluconmu,” balas Nadira.


Keduanya tertawa-tawa bersama sambil menyusuri koridor rumah sakit, sampai orang-orang yang berpapasan mengira keduanya adalah pasangan yang halal. Begitu akrab dan tampak serasi.


Hanya seperti itu sejak dulu, Nadira tidak pernah mengungkapkan dan selalu berusaha menutupi perasaannya kepada dokter anak itu. Apalagi sekarang ia telah menikah dengan Arga. Sementara Mirza, tidak ada yang tahu bagaimana isi hatinya.


.


.


.


Di ruang kerjanya di Rajasa Group, Arga sedang berdiri diam di depan jendela menghadap ke arah gedung-gedung yang menjulang tinggi di luar sana. Arga sedang berusaha mengingat-ingat apa yang dialaminya malam itu ketika sedang mabuk berat. Pelan-pelan ia bisa mengingat sedikit-sedikit apa yang sudah dikatakannya malam itu pada Nadira.