NADIRA

NADIRA
SEBELUM KECELAKAAN



Flashback


Niken menarikan dengan lincah jemari lentiknya di atas tuts sebuah grand piano, di cafe tempat ia menjadi manajer. Ia memainkan lagu If Ain't Got You – Alicia Keys. Itu adalah lagu kesukaannya semasa SMA yang lirik lagunya begitu mewakili perasaan cintanya kepada Desta. Entah kenapa, setelah ia melewati semalam di motel bersama lelaki itu, ia tak bisa berhenti memikirkannya. Dan saat diminta untuk bermain piano, ia terpikir untuk memainkan lagu itu.


Begitu selesai, seperti biasanya ia mendapatkan tepuk tangan riuh dari seluruh pengunjung. Niken tidak menyadari, diam-diam Arga hadir malam itu duduk di antara ramainya pengunjung yang mengunjungi cafe di malam minggu.


Saat Arga baru berpikir akan menemui Niken, saat itu juga ia melihat seorang laki-laki asing berjalan lebih dulu mendekati Niken karena dibandingkan dirinya, jaraknya lebih dekat untuk sampai lebih dulu di depan gadis itu.


Perasaan tidak nyaman seketika menjalari hatinya. Menatap mereka dari jauh.


“Des, kenapa kamu ke sini lagi?” Niken menatap Desta seolah tak menginginkan kehadiran lelaki itu.


“Aku merindukanmu,” ujarnya.


“Kita tidak bisa lagi sering-sering bertemu. Hari pernikahanku semakin dekat,” Niken melangkah meninggalkan Desta, namun tiba-tiba di depannya ia melihat Arga berdiri tak jauh darinya, menatapnya dengan sorot penuh tanya.


Arga segera menatap lelaki itu, tak butuh waktu lama ia bisa mengenalinya. Dia adalah Desta, mantan pacar Niken saat SMA, Arga pernah melihat foto mereka berdua mengenakan seragam putih abu-abu di awal-awal ia berpacaran dengan Niken saat pertama kali mengunjungi rumahnya dan masuk di kamarnya.


Arga tanpa sengaja melihat ujung pigura yang tersembunyi di bawah nakas. Ia segera mengambilnya dan melihat foto Niken dengan seorang laki-laki dalam balutan seragam SMA.


Saat itu juga Niken datang sambil membawa dua gelas minuman jus. Arga tidak menghiraukan kehadiran Niken, ia terus memandangi foto itu penuh rasa curiga, hingga ia mendapati di balik pigura foto itu terdapat tulisan ‘I Love you forever, Desta'.


“Arga, apa yang kamu lakukan?” tanya Niken setelah meletakkan jus itu di atas meja dan buru-buru menghampirinya.


Arga menunjukkan foto dalam pigura itu, “siapa Desta?” tanya Arga dengan perasaan tak nyaman.


“Itu... Uhm, dia sepupuku,” jawab Niken, berbohong, ia ragu untuk mengakui yang sebenarnya.


“Kau berbohong!” Arga menatap kecewa pada Niken sambil menjukkan tulisan di balik pigura itu. Arga melempar pigura itu ke atas tempat tidur Niken dan mengambil langkah untuk pergi.


“Sayang, dia mantan pacarku saat SMA,” Niken berdiri di depan Arga, menahannya pergi.


“Kenapa kau harus berbohong bilang dia sepupumu?” Arga begitu kesal dan cemburu.


“Maaf, aku takut kamu marah kalau aku mengakui yang sebenarnya,” Niken menjelaskan dengan sorot penuh harap.


“Foto itu ada di kamarmu, berarti kamu masih mengharapkannya,”


“Sayang, aku benar-benar tidak tahu soal foto itu. Sepertinya tercecer dan aku tidak tahu, seingatku aku sudah membuangnya. Lagipula itu hanya foto lama dan aku tidak pernah melihatnya lagi setelah kami putus,”


Arga menatap Niken begitu dalam, “Niken, kamu tahu aku sangat mencintaimu,”


Niken mengangguk, “aku juga sangat mencintaimu, Arga,” keduanya lalu saling berpelukan.


Niken menatap Arga dengan rasa was-was. “Sayang, kamu ke sini kenapa tidak bilang-bilang dulu?” Niken segera menghampiri Arga dan mengabaikan Desta.


Arga tak lepas menatap lelaki itu penuh rasa curiga, ia lalu beralih menatap Niken yang berusaha menyembunyikan ketakutannya jika Arga mulai malam ini akan tahu semua pertemuan diam-diamnya dengan Desta di minggu-minggu yang lalu.


“Kita perlu bicara, Niken. Ikutlah denganku,” Arga menarik Niken pergi meninggalkan cafe.


Desta hanya bisa terdiam melihat wanita yang begitu dicintainya dibawa pergi oleh lelaki yang berstatus calon suaminya.


Begitu sampai di luar, Niken merasakan dinginnya hawa malam menusuk hingga ke tulang. Arga segera membawanya masuk ke dalam mobil sport-nya.


Ia yang duduk di balik kemudi, segera menyalakan mesin dan mengendarai mobilnya keluar dari parkiran cafe. Mengemudi dengan kecepatan tinggi menembus malam yang gulita.


Niken hanya bisa terdiam, di satu sisi ia pun merasa takut dengan gaya mengemudi Arga yang bisa dibilang gila. Arga menatap lurus ke depan dengan sorot dingin. Malam itu mereka memulai pertengkaran di mobil, hingga Niken meminta turun dan saat Arga mengejarnya, kecelakaan itu pun terjadi.


.


.


.


Setelah diberi instruksi oleh dokter Aslan, pelan-pelan Arga membuka kedua matanya. Semua menatapnya harap-harap cemas. Begitu matanya terbuka, Arga memutar-mutar bola matanya.


“Aku tidak melihat apa-apa, dokter,” ucap Arga bergetar. “Dokter, aku benar-benar buta,” ujarnya panik.


“Tenangkan diri anda, di awal saya sudah menyampaikan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi,” dokter Aslan berusaha menguatkan.


“Bagaimana aku bisa tenang, semua berubah gelap dan menakutkan!” erang Arga begitu frustasi.


Rachel segera menghampiri Arga, air matanya sudah menetes pelan di kedua pipinya. “Sayang, ini mommy,”


“Mom, aku benar-benar tidak bisa melihatmu,” rengek Arga seperti anak kecil sambil meraba-raba tubuh ibunya.


“Kenapa ini harus terjadi padamu, sayang,” tangis Rachel semakin pecah. Begitu juga Rasty.


“Benturan keras dan masuknya serpihan kaca di kedua matanya membuat korneanya luka dan cedera. Kami tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menunggu donor kornea mata untuk menggantinya,” Dokter Aslan menjelaskan.


“Kapan? Dan siapa yang mau mendonorkan korneanya untuk Arga?” Rachel begitu sedih dan putus asa. Ia hanya bisa menangis melihat nasib Arga yang kini menjadi seorang tuna netra. Sorotnya yang hangat tidak ada lagi, bola mata itu tidak lagi memiliki sinar, begitu redup dan kosong.


Nadira tak bisa menahan perasaannya melihat bagaimana rapuh dan sedihnya Arga menerima kenyataan mulai hari ini dunianya gelap gulita. Nadira segera keluar dari ruang perawatan dan duduk di depan ruang perawatan seorang diri.


Nadira merasakan setitik air matanya menetes pelan di pipi. Mengapa ia sesedih ini, padahal ia tidak mengenal Arga begitu dalam.


“Niken, kamu di mana?” Arga memanggilnya, ia masih begitu panik atas kenyataan pahit yang dialaminya hari ini, kedua matanya buta setelah kecelakaan, ia benar-benar tidak bisa melihat setitik cahaya pun.


Niken segera mendekati Arga, “Arga ini aku. Maafkan aku Arga, semua yang terjadi padamu gara-gara aku,” Niken terisak, lalu memeluk Arga.


Rachel menatapnya muak. Hatinya begitu hancur dan dipenuhi amarah ketika melihat Niken memeluk dan membelai Arga.


Begitu mereka selesai berpelukan, Rachel menarik Niken menjauh beberapa langkah dari Arga, tanpa banyak kata ia dengan mudahnya melayangkan sebuah tamparan keras di pipi Niken.


PLAK!!


Niken terkejut bukan main dan begitu ketakutan sambil memegangi pipinya yang terasa sakit karena tamparan Rachel.


Rachel balas menatapnya dengan sorot penuh murka.


Niken hanya bisa terus menangis menahan rasa malu karena ditampar di hadapan orang-orang, termasuk di depan Dokter Aslan dan juga beberapa orang perawat.


“Mom! Apa yang mommy lakukan,” Arga tampak kaget mendengar bunyi tamparan.


“Semua gara-gara kamu!” erang Rachel sambil menunjuk-nunjuk Niken dengan telunjuknya. “Kamu penyebab Arga menjadi buta!”


“Mom, tenang mom,” Rasty sama kagetnya, ia berusaha menenangkan amarah ibunya.


“Ma-maaf,” gumam Niken.


“Mom, kenapa menyalahkan Niken, dia tidak salah,” Arga segera turun dari tempat tidur dan berusaha mencari gadis itu ingin menghampirinya langsung. “Niken, kamu di mana?” Arga hanya menabrak tubuh ibunya dan juga Rasty.


“Maaf Arga, aku pergi dulu. Aku akan menjengukmu lagi nanti,” Niken segera membalik badan, lalu membuka pintu dan berlari keluar.


Nadira yang sedang duduk sendirian di depan ruang perawatan melihat Niken yang berlari keluar tanpa menyadari kehadirannya.


“Niken!” panggil Nadira menyusulnya di belakang, Nadira kaget melihat Niken berlinang air mata. Niken menghentikan langkahnya begitu mendengar Nadira memanggilnya. Ia menoleh sejenak, melihat Nadira berlari-lari mendekatinya.


Beberapa langkah sebelum Nadira sampai, tubuh Niken segera ambruk. Ia pingsan tidak sadarkan diri.


Begitu tersadar, Niken terbaring di UGD ditemani Nadira, yang menatapnya cemas. Saat itu Niken hanya bisa terus menangis sambil memeluk Nadira.