
Nadira sedang berjalan di tepi kolam renang, ia sedang asyik browser destinasi wisata yang tidak jauh dari vila tempatnya menginap. Nadira bergegas masuk, mendapati Arga yang sedang duduk berselonjor di sofa.
“Ya ampun, orang ini hobi sekali mendengarkan musik,” Nadira bergumam. Ia kemudian menghampiri Arga lalu menarik sebelah earphone-nya.
“Arga, ayo kita ke Bukit Merese, aku ingin lihat pemandangan matahari terbenam,” ajak Nadira penuh semangat.
Arga menggeleng malas.
“Ayolah Arga, bukankah kita ke sini dalam rangka bulan madu?” Nadira berusaha membujuk.
Arga melepas sebelah earphone-nya. “Bulan madu katamu? Bulan madu itu seharian di kamar, berciuman, berpelukan, bercinta...,”
“Ya sudah kalau kau tidak mau, aku pergi sendiri saja. Aku mengajakmu, biar kelihatan sopan saja. Masa kita jauh-jauh ke sini hanya mendekam di kamar,” Nadira cepat-cepat memotong kalimat Arga, ia merasa geli mendengar kata bercinta dari mulut lelaki itu.
Saat akan pergi, ponsel Nadira berdering. Pamannya, Herman memanggil. Nadira berlari kembali ke tepi kolam renang lalu menjawab telpon.
“Halo paman, assalamualaikum,” jawab Nadira dengan riang.
“Waalaikumussalam. Nadira, apa paman mengganggumu nak?” tanya Herman terdengar tidak enakan. “Paman dengar hari ini kalian berbulan madu di Lombok,”
“Iya paman, kami tiba siang tadi,”
“Apa kau baik-baik saja nak?”
“Nadira sehat-sehat selalu berkat doa paman,”
“Alhamdulillah,”
Arga diam merenung setelah Nadira mengatakan akan pergi sendiri ke Bukit Merese. Arga bangkit berdiri, ia mencari tongkatnya, namun tidak ketemu. Telinganya yang sensitif terus mengawasi obrolan riang Nadira bersama pamannya via telpon. Mengandalkan pendengarannya, Arga berusaha ingin menemui gadis itu dan mengatakan kalau dia akan ikut ke Bukit Merese dan akan memintanya untuk membantunya bersiap-siap.
Arga melangkah sambil mengangkat kedua tangannya meraba di udara. Langkahnya cukup pelan, ia bersyukur karena kakinya tidak menabrak atau menginjak sesuatu. Arga melewati pintu kaca yang terbuka yang beberapa langkah lagi dekat dengan tepi kolam renang.
Nadira masih asyik mengobrol di telpon dengan pamannya sambil berdiri membelakangi.
“Baiklah paman, salam sama bibi ya. Assalamualaikum,” Nadira menutup telpon dan membalik badan. Betapa terkejutnya ia, melihat Arga berjalan pelan menuju kolam renang. Satu langkah lagi dia akan jatuh tercebur ke dalam kolam renang.
“Arga!” teriak Nadira, ketika itu juga Arga melanjutkan langkahnya. Alhasil, dia pun jatuh ke dalam kolam renang. Nadira melempar ponselnya dan terjun bebas masuk ke kolam renang.
Arga sejujurnya bisa berenang, tapi ia nampak kesulitan karena merasakan perih pada kedua matanya. Arga terus memejamkan matanya, sementara Nadira berenang cepat ke arahnya. Menarik tangannya naik ke permukaan dan membantunya keluar dari kolam renang.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa berjalan tanpa menggunakan tongkat?” Nadira begitu khawatir.
“Aku tidak tahu tongkat sialan itu di mana,” Arga merasa kesal.
“Lagipula, apa yang kau lakukan berjalan begitu? Kau mencari apa?”
“Aku mencarimu bodoh. Aku berubah pikiran, aku akan ikut denganmu ke bukit yang kau maksud,”
Nadira menghela nafas, menyesali.
“Kau kan bisa memanggilku, tidak perlu bersusah payah menemuiku,” Nadira masih terdengar khawatir.
“Aku tidak enak memotong obrolanmu di telpon,”
“Kenapa tidak membuka matamu?” melihat Arga sejak tadi bicara sambil memejamkan kedua matanya.
“Aku tidak bisa membukanya, mataku perih kemasukan air,” jelas Arga.
“Coba aku lihat!” Nadira memegangi pipi Arga dengan kedua tangannya. Tanpa ia sadari, hal itu membawa perasaan yang aneh bagi Arga. Gadis itu menatap kelopak mata Arga yang masih menutup.
“Coba tarik nafas, hembuskan ringan, lalu pelan-pelan buka matamu,” Nadira memberi instruksi.
Arga mencobanya sesuai instruksi dari Nadira. Pelan-pelan ia membuka kedua matanya. Mata coklat indah itu kembali menyihir Nadira. Walaupun buta, seolah Arga kini sedang memandangnya, membuat gadis itu deg-degan dan malu-malu. Andai tidak buta, mungkin Arga sudah melihat pipi Nadira bersemu merah sekarang.
“Uhm, maaf,” Nadira segera menurunkan tangannya, saat menyadari tangannya masih menempel lembut di pipi Arga.
“Tunggulah di sini, aku akan mengambil handuk untukmu,” Nadira bergegas masuk dalam keadaan basah kuyup.
Setelah mengambil handuk, ia melangkah ke arah meja depan sofa, membuka tasnya dan mengeluarkan medical pen light miliknya. Di dekat sofa ia melihat tongkat Arga tergeletak di lantai. Pantas saja dia tidak menemukan tongkatnya.
“Aku periksa matamu ya,” Nadira menarik pelan kelopak mata Arga dan mengarahkan medical pen light untuk memeriksa kondisi kedua mata Arga.
Pupil matanya tidak merespon cahaya. Nadira menemukan ada sedikit kemerahan di kedua mata Arga karena kemasukan air kolam.
“Cedera kornea matamu belum terlalu pulih, kau harus lebih berhati-hati saat terkena air,” Nadira menjelaskan. Ia segera memberikan handuk untuk Arga.
Arga menerimanya lalu segera mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk itu. Nadira berbalik badan saat Arga menanggalkan pakaiannya yang basah dan berganti dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
“Aku sudah selesai,” kata Arga. Arga tahu, Nadira pasti tidak ingin melihatnya bugil lagi karena melepas baju lalu memakai handuk.
Nadira berbalik badan ke arah Arga. Dada Arga yang bidang dan putih benar-benar menggoda imannya. Ia hanya mampu menelan ludah.
Nadira menuntun Arga masuk dan mendudukkannya di tempat tidur. Ia membuka lemari dan menyiapkan baju untuk Arga.
“Terima kasih, Nad,” ucap Arga dengan lembut.
“Iya. Uhm, kau bisa memakai baju sendiri kan?”
“Iya, jangan khawatir. Kau juga, segeralah berganti baju, nanti masuk angin,” Arga terdengar penuh perhatian.
“Iya,”
Arga mendengar langkah kaki Nadira meninggalkannya dan menghilang di balik pintu kamar mandi. Arga diam sejenak, sambil menyentuh pelan pipinya yang tadi disentuh oleh Nadira.
.
.
.
Di kamarnya, Irfan sedang mengenakan setelan yang santai. Sekretaris itu sedang berbicara via telpon dengan Rachel.
“Bagaimana keadaan Arga?”
“Tuan Arga baik, nyonya,”
“Apa ada hal aneh yang dilakukannya dengan gadis itu?”
“Mereka mematuhi kontrak pernikahan dengan baik, nyonya,”
“Baguslah. Tetap awasi mereka, aku tidak mau Arga sampai jatuh hati pada Nadira,” Rachel memutus sambungan telpon.
Irfan mendudukkan dirinya di sofa. “Maafkan saya nyonya, saya tidak bisa mencegah jika perasaan tuan Arga kepada nona Nadira mulai ada. Setidaknya suasana hatinya jauh lebih baik bersama nona Nadira,” Irfan bergumam sendiri.
Ponsel Irfan berdering kembali, ia menjawab telpon.
“Halo, Irfan?” tanya Nadira di ujung telpon.
“Iya. Ada yang bisa saya bantu nona?” Irfan dengan cepat mengenali suara Nadira.
“Tolong ke sini Irfan, saya akan menyampaikan apa yang saya butuhkan di sini,”
“Segera, nona,” Irfan menutup telpon dan bergegas ke kamar Arga dan Nadira.
Irfan pun sampai dan mengetuk pintu. Nadira membuka pintu dan langsung menyodorkan kertas resep obat kepada Irfan.
“Tolong ke apotik membeli obat itu,”
“Ada apa dengan tuan muda?”
“Maaf ya, tadi di luar pengawasanku, dia jatuh di kolam renang,” Nadira tampak tidak enakan dan menyesal.
“Bagaimana keadaannya?” Irfan mengintip masuk.
“Dia sedang tidur. Aku sudah menghubungi dokter matanya di rumah sakit dan memberikan resep obat itu. Segeralah membelinya di apotik. Maaf ya merepotkanmu,” Nadira masih merasa tidak enakan.
Irfan bergegas ke apotik membeli obat yang dimaksud.