NADIRA

NADIRA
JANGAN MENGGANGGUKU



Setelah mengucapkan selamat kepada Rachel, Feli memandangi satu-satu anggota keluarga Rachel. Arga, Nadira dan juga Rasty. Ketiga sosok itu tampak diam saja, mengingat bagaimana hubungan Feli dan Rachel dulunya. Tapi Feli menyapa mereka dengan begitu hangat, juga dengan senyum menawannya yang memikat.


"Halo kak Feli, lama tidak ketemu ya," sapa Rasty duluan.


"Iya Ras, bagaimana kuliah kamu?" lanjut Feli yang tampak tertarik memulai obrolan bersama anak bungsu Rachel.


Rachel meninggalkan mereka dan bergabung dengan koleganya yang lain. Arga lalu membawa Nadira pergi sambil menggenggam tangannya. Feli menyaksikan mereka melalui sudut matanya. Ia semakin menyadari bahwa Arga benar-benar cinta mati kepada Nadira.


Arga mengambilkan segelas jus untuk Nadira. Ia cukup paham perasaan gadis itu saat melihat Feli.


Nadira menerima jus pemberian Arga sambil tersenyum. Ia mengajak Arga mencari tempat duduk untuk meminum jus itu.


"Sayang, Feli itu temanku. Dia memang cukup dekat dengan mommy, karena sejak ayahnya meninggal, dia yang mengambil alih kepemimpinan perusahaannya, jadi mommy sering membantunya. Sama seperti almarhum ayahnya Feli yang juga sering membantu mama diawal-awal ia memimpin Rajasa Group" Arga menjelaskan.


Nadira hanya mengangguk lalu kembali meneguk jusnya.


"Kalau kamu merasa tidak nyaman, kita pulang saja ya," ajak Arga sambil menyentuh perut Nadira.


Nadira menggeleng, "ini kan acara mommy, masa kita pulang duluan. Lagipula ini belum terlalu malam kok, aku tidak mau mommy kecewa sama kita," ujar Nadira sambil tersenyum.


"Aku rindu kamu," rengek Arga dengan sorot manjanya.


"Kenapa rindu? Kan aku ada di sini," heran Nadira.


"Bukan itu sayang, tapi rindu bercinta sama kamu dan bertemu calon bayi kita," jawab Arga jujur dan blak-blakan.


"Sayang, kamu jangan bahas hal itu di sini ah. Aku jadi malu," Nadira menatap sekelilingnya sambil tersipu.


"Belakangan ini aku terbiasa menghabiskan waktu denganmu di kamar. Tiba-tiba berada di situasi seperti ini, membuatku tidak nyaman saja," jelas Arga sedikit gelisah dan kurang nyaman.


"Kenapa begitu? Bagaimana nanti kalau kau bekerja?"


"Aku pasti akan merindukanmu terus," jawab lelaki itu, sedikit masam kala membayangkan ketika ia kembali memulai kesibukannya sebagai presiden direktur Rajasa Group. "Rasanya aku ingin jadi pengangguran saja, biar tiap hari bisa main sama kamu dan calon bayi kita," Arga tampak sumringah.


Nadira tergelak.


"Jangan begitu sayang, kamu tidak kasihan sama Irfan dan Wira yang terus menghandle pekerjaan kamu?"


"Kenapa juga kasihan, toh mereka digajikan," ucap Arga enteng dan tanpa rasa bersalah.


"Kalau rindu, kan bisa video call," Nadira kembali tersenyum pada Arga.


Arga hanya manggut-manggut hingga kemudian menyaksikan ibunya naik ke atas panggung untuk berpidato. Semua mata tertuju kepada Rachel saat ini, fokus mendengarkan pidatonya. Ia lalu mengenalkan Arga bersama istrinya yang hadir. Nadira tampak deg-degan ketika semua mata tertuju padanya dan juga Arga, terlebih ketika Arga mengajaknya berdiri dari tempat mereka duduk agar mudah dilihat. Rachel juga menyampaikan bahwa pada momen ulang tahunnya yang ke 51, ia bahagia mendapatkan kabar bahwa sang menantu kini tengah mengandung calon cucunya. Semua lantas memberi selamat kepada Arga dan juga Nadira, begitu juga kepada Rachel.


Feli cukup terkejut kala mengetahui soal kehamilan Nadira, mau tak mau ia pun ikut memberikan ucapan selamat kepada keduanya.


Setelah pidato itu, acara masih berlanjut. Sosok Arga yang juga sama terkenal sebagai pengusaha seperti ibunya, sedang terlibat beberapa obrolan dengan pengusaha lainnya yang turut hadir malam itu. Arga meninggalkan Nadira duduk bersama Rasty, ia mempercayakan adiknya itu untuk mengawasi istri tercintanya.


Nadira dan Rasty terlibat obrolan ringan seputar bagaimana kuliah Rasty di California, dan bagaimana pengalaman Nadira dalam menjalani kehamilan pertamanya.


Malam itu juga sepasang mata menatap dan terus mengawasi gerak-gerik Nadira. Pemilik mata itu merasa cukup dengan mengawasinya diam-diam saja tanpa harus menunjukkan dirinya, sebab ia tahu kehadirannya pasti akan menghancurkan suasana hati Nadira. Ia menatap geram ke arah Arga yang sedang asyik berbincang dengan tamu undangan, terlebih ketika sang pemilik acara mengumumkan berita kehamilan istri sang presdir.


Tanpa diminta pun, sorot mata Nadira akhirnya bertabrakan dengan sesosok laki-laki yang memandanginya dari jauh. Matanya tak lepas walau kini ia tahu, Nadira menangkap basah tatapannya.


Sontak saja Nadira gemetar, ia tampak pucat dan rasanya ingin pergi saja dari keramaian ini. Rasty mengamatinya bingung.


"Kak Nad, kenapa?"


Kenapa aku harus melihatmu lagi Bram. Batin Nadira.


"Kak Nad sakit?" tanya Rasty lagi sambil mengikuti arah pandang Nadira. Rasty mendapati sesosok lelaki yang menatap terang-terangan ke arah kakak iparnya. Rasty menatapnya curiga dan bertanya-tanya dalam benaknya.


Siapa dia? Apa dia kenal kak Nadira?


"Aku panggilkan kak Arga ya,"


"Tidak usah Ras, tidak apa-apa," Nadira jadi tidak tega jika harus mengganggu obrolan serius Arga seputar dunia bisnis.


"Memangnya orang itu siapa sih kak? Kakak ipar kenal?" tanya Rasty penasaran, sambil mengawasi sosok Bram di sana. Kini ia melihat pria itu tertunduk memainkan ponselnya.


"Uhm, aku, aku juga tidak tahu siapa Ras," jawab Nadira berusaha tenang.


Irfan tiba-tiba datang menghampiri Nadira, "nona, apa anda baik-baik saja?" sejurus kemudian Irfan juga menatap ke arah Bram, ia tampak geram melihat lelaki itu.


Sambil mengobrol, Arga sesekali menatap ke arah Nadira. Kini ia mendapati Nadira tampak tak nyaman, apalagi di sana juga ada Irfan yangtampak perhatian. Ia lantas izin meninggalkan obrolan dan menghampiri Nadira.


"Sayang, ada apa?" tanya Arga yang sedikit panik melihat hilangnya semangat Nadira malam ini.


Nadira bergegas bangkit dan menggamit lengan kiri Arga.


"Arga, aku ingin pulang," ucapnya bergetar, sorot matanya penuh harap. Seolah minta segera diselamatkan.


"Kamu capek ya sayang? Ya sudah, kita pulang ya," Arga lalu mengajak Nadira meninggalkan hiruk pikuk pesta ulang tahun ibunya.


Rasty menatap Irfan yang tak lepas menatap ke arah Bram yang masih duduk di tempatnya.


"Om Irfan, ada apa sebenarnya? Pasti tahu sesuatu kan?" tanya Rasty penasaran.


.


.


.


Nadira bersandar di bahu Arga sepanjang perjalanan mereka pulang kembali ke rumah. Arga hanya menitipkan pesan pada Rasty dan Irfan kalau ia pulang lebih dulu bersama Nadira.


Nadira begitu lengket kepada Arga sampai-sampai Arga merasa tersanjung.


"Terima kasih sayang," ucap Nadira yang masih betah bersandar di bahu Arga.


"Untuk?"


"Kamu selalu bersamaku," jawab Nadira sambil mendongak menatap Arga.


"Aku harus jadi suami siaga kan? Karena istriku sedang hamil," sahut Arga sambil mengelus perut Nadira.


"Aku sebenarnya merasa tidak enak, kau sampai meninggalkan obrolanmu karena aku minta pulang,"


"Memang ada yang lebih penting selain memenuhi permintaan istriku? Aku tidak ingin kau memaksakan dirimu di pesta itu sayang, ingatlah kau sedang hamil," Arga tersenyum penuh pemakluman.


Nadira balas tersenyum lalu memejamkan kedua matanya. Ingin mengusir jauh-jauh bayangan pertemuannya tadi dengan Bram.


Jangan menggangguku Bram, kumohon!