
Pagi-pagi sekali Nadira sudah sibuk di kamar Arga, ia sedang menyiapkan setelan jas untuk Arga yang akan dikenakannya berangkat ke kantor.
“Nad, kenapa kau memutus telponku semalam?” sosor Arga yang baru keluar dari kamar mandi.
Nadira menoleh kaget, melihat Arga sudah berdiri di sampingnya dengan dada terbuka dan handuk melilit di pinggang.
“Oh, tadi malam aku mengantuk sekali. Aku benar-benar butuh istirahat dengan tidur yang cukup,” jawab Nadira dengan entengnya lalu mengambil handuk lainnya dan membantu mengelap tubuh Arga yang terbuka dan tampak basah sehabis mandi.
Tiba-tiba Arga memegang sebelah tangan Nadira, membuat gadis itu menghentikan aktivitasnya yang sedang mengeringkan badannya dengan handuk. Wajah Arga tampak serius.
“Kenapa kau bersikap tidak seperti biasanya,”
Nadira menggerakkan pelan tangannya, melepaskan dari lingkaran kokoh jemari Arga yang panjang dan besar.
“Memang aku kenapa, semalam aku benar-benar mengantuk, kau marah ya aku tidak meladeni telponmu,” Nadira berujar santai sambil menyibukkan diri dengan pakaian Arga yang sudah ia siapkan di atas tempat tidur.
“Baiklah, aku memaafkanmu kali ini,”
Nadira tersentak kaget saat tangan Arga mengelus lembut puncak kepalanya. Ia menoleh sebentar dan melihat Arga mengulum senyum.
“Berhentilah memegang kepalaku seperti itu, mentang-mentang badanmu tinggi,” cerocos Nadira lalu mengambilkan kemeja Arga.
Setelah Arga selesai berpakaian dengan rapi, Nadira menuntunnya ke meja makan untuk menyantap sarapan sebelum berangkat ke kantor. Di meja makan Rachel dan Rasty sudah menunggu dan menyambut keduanya dengan sapaan yang hangat.
.
.
.
Arga baru saja berangkat ke gedung Rajasa Group bersama Irfan. Nadira sudah kembali ke kamarnya. Ia duduk terdiam di atas tempat tidurnya sambil terus terbayang bagaimana sikap Arga padanya pagi ini. Sentuhan di kepalanya dan juga senyumannya, benar-benar tulus.
Nadira menarik nafas, “Semua pasti akan baik-baik saja,” gumamnya.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Nadira bergegas membuka pintu. Dan melihat Rasty menatap senang padanya.
“Hai, kakak ipar, apa aku mengganggumu?” tanyanya sambil tersenyum manis.
“Rasty,” Nadira agak kaget, Rasty tiba-tiba menyempatkan diri mengunjunginya di kamarnya. “Masuklah!” Nadira mempersilahkan dan mengajak Rasty duduk di sebuah sofa dalam kamarnya.
“Bagaimana persiapanmu ke Amerika? Apa sudah selesai?” Nadira berbasa-basi sambil duduk di dekat Rasty.
Rasty mengangguk.
“Jadi kapan kau akan berangkat ke Amerika?” Nadira bertanya lebih lanjut.
“Lusa kak Nad,” jawab Rasty tampak bahagia namun di satu sisi juga merasa tidak yakin.
“Kenapa?” tanya Nadira melihat raut muka Rasty yang berubah agak muram.
“Aku sedih kak harus meninggalkan mommy dan juga kak Arga,”
“Kenapa harus sedih? Di rumah ini ada banyak orang yang melayani dengan baik mommy dan juga Arga,”
“Aku lebih mengkhawatirkan kak Arga. Dia satu-satunya kakakku dan saudaraku, aku sangat menyayanginya. Aku dan mommy begitu menyayanginya. Aku bahkan tidak pernah marah saat tahu mommy lebih menyayangi kak Arga dibanding aku,”
Rasty mengangguk tenang.
“Kak Nadira tahu, aku sangat bersyukur terlahir sebagai anak kedua dan juga anak perempuan dalam keluarga ini. Aku tidak mesti dibebankan menjadi pewaris Rajasa Group, sumber perselisihan keluargaku,” Rasty tampak jengah.
“Aku kasihan pada kak Arga sebagai pewaris karena statusnya sebagai anak pertama dalam keluarga. Saat papa masih hidup, dia sudah mendidik kak Arga tentang Rajasa Group dan juga mendidiknya agar menyadari statusnya sebagai pewaris. Kak Arga tidak punya pilihan, padahal aku sangat mendukung jika kakakku itu berkarir sebagai atlit basket. Sejak SMP kak Arga sudah mengasah bakatnya bermain basket. Tapi karena situasi yang tidak sejalan, kak Arga berbesar hati mengubur impiannya dan fokus sebagai pewaris Rajasa Group,”
“Aku benar-benar tidak pernah mau menjadi bagian dari Rajasa Group. Kak Arga mendukungku mengejar impianku tanpa harus mengorbankan diriku menjadi bagian dari Rajasa Group,”
“Beruntung sekali kau memiliki kakak seperti Arga,” Nadira tersenyum.
“Kak Arga juga beruntung bisa memiliki istri seperti kak Nadira,” Rasty menambahkan.
Nadira tampak malu, “kau tahu kan, aku menikahi kakakmu karena Niken,”
“Iya benar. Tapi aku tahu, kak Arga sudah mulai menaruh rasa pada kak Nadira, dan aku juga tahu kak Nadira begitu peduli pada kakakku itu,”
“Aku bukan tipe wanita yang disukai kakakmu,” Nadira membantah.
Rasty menggeleng, “kakakku bukan lelaki seperti itu, punya tipe wanita idaman. Aku tahu bagaimana kak Arga, sekali dia merasa nyaman dengan seorang wanita, maka itu sudah cukup menjadi alasan baginya,”
Nadira hanya diam.
Rasty tiba-tiba memegang sebelah tangan Nadira dan menatapnya lekat-lekat, “aku percaya kak Nadira jauh lebih baik dari kak Niken, meski kalian saudara sepupu tapi aku yakin kak Nadira tidak seburuk kak Niken yang sudah pergi meninggalkan kakakku karena dia buta. Berjanjilah padaku kak untuk menjaga dan membahagiakan kak Arga,”
Nadira terkejut, “Rasty, kenapa kau memintaku berjanji seperti itu. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa. Kalaupun kau melihatku dekat dengan Arga, itu hanya seperti rasa pertemanan di antara kami,”
Rasty berganti memeluk Nadira, gadis itu makin terkejut dengan tingkah kekanakan adik iparnya.
“Aku tidak peduli kak Nadira menganggapnya apa, tolong jaga kak Arga baik-baik selama aku di Amerika, jangan menyakiti perasaannya dan melukainya seperti yang sudah dilakukan kak Niken,”
Nadira menghela nafas, “aku pasti akan menjaga kakakmu selama kehadiranku di rumah ini masih dibutuhkan,” hanya itu yang bisa ia katakan untuk membuat hati Rasty jadi lebih tenang sebelum berangkat menuntut ilmu di Amerika.
Nadira semakin tidak enak hati saat mendengar suara isak tangis Rasty. Gadis remaja itu benar-benar serius dengan ucapannya.
.
.
.
“Irfan, bagaimana Nadira tadi?”
Irfan yang sedang sibuk dengan tabnya, kemudian menoleh dan balas bertanya, “maksud tuan?”
“Seperti apa raut wajahnya Nadira tadi saat dia mengantarku naik ke mobil,” jawab Arga begitu penasaran.
Irfan diam sejenak, membayangkan kembali pertemuannya dengan Nadira pagi tadi. Saat ia datang untuk berangkat bersama ke Rajasa Group.
“Saya rasa nona muda baik-baik saja, tuan,” jawab Irfan. “Apa terjadi sesuatu antara tuan dan nona muda?” tanya Irfan.
“Semua baik-baik saja, aku selalu merasa nyaman bersamanya. Tapi aku merasa sikapnya agak berbeda, entah kenapa. Atau mungkin dia memang seperti itu ya, sisi lain dari dirinya yang batu aku tahu,” gumam Arga sambil menoleh ke arah kaca mobil, seakan sedang menatap suasana di luar ketika mobil melaju kencang menembus jalanan ibukota yang belum terlalu padat merayap.