NADIRA

NADIRA
DOKTER RELAWAN



Gempa yang telah terjadi di Sumbawa Barat, membuat daerah itu tampak luluh lantak. Reruntuhan bangunan bertebaran di mana-mana sampai di jalan-jalan utama. Meski masih ada beberapa bangunan yang tampak tak goyah tersentuh gempa, namun banyak warga korban pengungsi masih takut menghabiskan malam-malam mereka di bawah atap bangunan. Mereka lebih memilih berdesakan di tenda pengungsian yang dibangun oleh tim relawan kemanusiaan di tengah-tengah lapangan yang luas.


Saat suasana gempa, memang jauh lebih aman berada di tempat yang lapang seperti lapangan. Beberapa warga juga ada yang memberanikan diri mengungsi di mesjid-mesjid, karena ada cukup banyak bangunan mesjid yang tidak terlalu berdampak oleh gempa. Namun kebanyakan memilih bergabung di tenda-tenda pengungsian yang dibangun oleh para relawan karena di lokasi itu ada pos kesehatan dan juga dapur umum. Bantuan pun lebih mudah mereka dapatkan langsung jika mengungsinya dekat dengan para relawan.


Sudah hampir sebulan Nadira dan Mirza bertugas sebagai dokter relawan di lokasi gempa di Sumbawa Barat. Beberapa kali mereka masih sering merasakan gempa susulan dalam skala richter yang rendah, sehingga membuat mereka dan semua pengungsi jadi was-was, apalagi saat di malam hari, tidur mereka tidak sepenuhnya nyenyak.


Nadira bersama dokter-dokter lainnya setiap hari tanpa pamrih memberikan layanan pengobatan bagi para korban pengungsi. Selain itu ia juga menangani langsung korban luka ringan, luka berat tertimpa reruntuhan bangunan, bahkan korban sekarat yang berujung pada kematian. Sementara Mirza, sebagai dokter anak ia fokus pada pemulihan mental dan juga pastinya kesehatan bagi anak-anak korban gempa.


Nadira begitu menikmati perannya sebagai seorang dokter relawan, meski tak sebanding jika ia tetap bekerja di UGD Rumah Sakit, ia akan menerima gaji setiap bulan, tapi di sini di lokasi gempa ia tidak menerima sepeser pun gaji, tapi Nadira bahagia melihat setiap senyuman dan ucapan terima kasih para korban gempa yang mendapat pelayanan kesehatan darinya.


Dokter Mirza selalu mengawasinya, selalu mengingatkannya untuk jangan terlalu memaksakan diri mengingat kondisinya yang sedang berbadan dua, karena masih banyak dokter-dokter lainnya yang siap memberikan pelayanan.


Nadira sudah sejak pagi tadi menerima keluhan-keluhan pasien korban gempa yang sakit demam, flu, batuk dan berbagai penyakit rakyat lainnya.


“Dokter, istirahatlah, jangan dipaksakan,” sahut salah seorang dokter yang duduk tak jauh dari Nadira. Ia sementara akan melayani seorang pasien.


Nadira mengangguk. Semua tim relawan cukup tahu kalau Nadira sedang hamil. Nadira menghela nafas sejenak sambil mengeluarkan sesuatu dari balik baju dan hijabnya, cincin pernikahannya yang ia kalungkan di leher, hanya itu satu-satunya yang ia miliki, yang ia simpan segala hal yang berkaitan dengan Arga. Kalau rindu, ia akan selalu memandangi cincin itu.


Tiba-tiba beberapa anggota TNI berlarian masuk ke dalam tenda pengungsian sambil membawa beberapa orang yang ditandu. Nadira bergegas berdiri dan menghampiri. Mereka membawa beberapa orang yang tertimpa reruntuhan bangunan akibat gempa susulan. Mereka adalah orang-orang yang memilih bertahan di dekat bangunan rumah mereka, menjaga barang-barang berharga yang masih bisa diselamatkan.


Nadira bergegas mengambil beberapa peralatan medisnya dan juga obat-obatan untuk menangani luka. Ia begitu cekatan membalut luka, menjahit luka menganga sambil memberi sugesti kepada pasiennya yang kesakitan agar tidak fokus pada rasa sakit yang mendera akibat proses jahitan.


Nadira pun selesai dan berujar alhamdulillah sambil melepas sarung tangan medis dan membereskan peralatan medisnya.


“Maaf dokter, masih ada satu korban lagi yang perlu ditangani,” sahut salah seorang anggota tentara.


Nadira terpaku menatap sepasang mata coklat menyorot penuh rindu ke arahnya. Kedua mata itu tak lepas menatapnya, bahkan tak berkedip. Ia meyakini diri setelah membaca name tag yang menuliskan nama dr.Nadira.


Keduanya saling melempar pandang dan saling terdiam. Nadira mengamatinya begitu lekat, mata coklat itu tidak lagi diselimuti kegelapan, tapi kini penuh cahaya dan juga sorot kerinduan.


“Arga,” gumam Nadira seolah meyakini diri kalau ia tidak sedang bermimpi. Arga telah datang, menyusulnya untuk menjemputnya.


“Dokter,” panggil si tentara, melihat sang dokter yang hanya diam saja seperti melamun.


Nadira tersadar, “maaf,”


“Dia mengaku bukan relawan, dan ke sini mencari istrinya. Tapi tadi dia bergerak cepat menyelamatkan seorang anak kecil dari reruntuhan bangunan. Tangan kanannya sepertinya patah,” jelas si tentara sambil membawa Arga mendekat ke Nadira.


Arga hanya diam saja, terus menatap Nadira, sampai si tentara jadi bingung sendiri. Melihat keduanya saling tatap-tatapan.


Nadira mengabaikan perasaannya,  ia segera memerintahkan perawat untuk membantu Arga naik ke atas brankar lalu mengambil kembali peralatan medisnya.


Saat Arga berbaring, ia melihat cincin pernikahan yang dikalungi Nadira.


“Ternyata kau masih menyimpannya,” gumam Arga merasa senang, mengabaikan rasa sakit di lengannya.


Nadira memasukkan kembali cincin itu di balik bajunya tanpa merespon Arga.


“Aku masih memakainya,” Arga melirik jari manis tangan kanannya, masih melingkar cincin pernikahan mereka.


Nadira tak menggubris ia menyibukkan diri menangani tangan kanan Arga yang katanya patah tertimpa reruntuhan bangunan. Ia bahkan tidak berusaha menenangkan Arga yang merasa kesakitan, Nadira diam saja karena Arga terus menatapnya begitu dalam.


“Akhirnya aku menemukanmu, walaupun tanganku harus patah,” bisik Arga.


Dengan tangan kirinya, Arga memegang pergelangan tangan Nadira agar ia menghentikan aktivitasnya. Arga merasa kesal, Nadira mendiamkannya.


Semua mata menatap mereka. Ada apa dengan dokter dan pasiennya, apa sudah saling kenal?


“Kau tahu kan, aku tidak suka didiamkan,”


Nadira balas menatap Arga dengan lebih berani. “Aku sedang menangani tanganmu, tolong diamlah,” Nadira melanjutkan kembali aktivitasnya.


Aku sangat rindu padamu Arga. Terima kasih sudah datang untukku, tapi tidak seharusnya kau di sini.


Kau benar-benar harus membuatku bersabar untuk bisa melihatmu. Kali ini kau tidak akan pergi dariku lagi, aku akan membawamu pulang dari sini. Kau tidak akan lepas dariku lagi.


.


.


.


Begitu selesai menangani Arga, Nadira segera keluar dari tenda pengungsian. Ia berjalan mencari tempat untuk menyendiri. Nadira melepaskan cincin pernikahan yang dikalunginya. Ia menatapnya sejenak lalu menyimpannya ke dalam saku jas putih yang dikenakannya.


Nadira tak bisa lupa tatapan mata Arga padanya, benar-benar dalam dan penuh kerinduan. Nadira menoleh saat seseorang menyodorkan sebotol air mineral dan juga camilan. Dokter Mirza tersenyum padanya. Selama di pengungsian, Mirza adalah satu-satunya orang yang begitu penuh perhatian pada Nadira, karena ia tahu gadis itu sedang hamil, dan sebagai teman ia tentu peduli pada kondisi Nadira dan janinnya.


“Terima kasih dokter, sampai repot-repot segala,” Nadira menerimanya dengan senang hati.


“Aku melakukannya untuk anakmu,” jawab Mirza.


Nadira meraba saku jasnya dan mengeluarkan lipatan sapu tangan milik dokter Mirza yang dulu diberikan untuknya.


“Terima untuk semua kebaikanmu dokter,” Nadira masih menyodorkan sapu tangan itu.


“Kenapa dikembalikan segala, aku sudah memberikannya untukmu. Pakailah sapu tangan itu untuk menghapus semua kesedihanmu,”


Nadira menurunkan tangannya dan memasukkan kembali sapu tangan itu ke dalam saku jasnya, "terim kasih," gumamnya.


“Aku tidak pernah berani bertanya langsung padamu, ada masalah apa antara kau dan Arga sampai kau melarikan diri ke sini,”


Nadira hanya diam.


“Nad, aku begitu peduli padamu, apalagi sekarang kau sedang mengandung,  apa kau memang berniat untuk memisahkan dia dengan ayahnya?”


“Ini yang terbaik dokter,” jawab Nadira.


“Memisahkan seorang ayah dari calon anaknya, menurutmu itu adalah yang terbaik?” Mirza seolah bertanya ke dalam hati nurani Nadira.


“Dokter, aku tidak tahu harus bagaimana, aku sangat ingin menjadi keluarga yang utuh bersama suamiku, tapi...,”


“Nadira, janganlah menyerah! Aku sudah tahu, aku melihat tadi kau menangani Arga, suamimu sendiri. Dia datang itu pasti demi dirimu, apa kali ini kau akan menyia-nyiakan kehadirannya?” Ujar Mirza sambil menyentuh kedua pundak Nadira.


Tak jauh dari mereka, Arga berdiri mematung menatap tajam ke arah Nadira dan Mirza yang saling berhadapan. Nadira dan Mirza sama-sama terkejut, seolah sedang tertangkap basah. Mirza melepaskan kedua tangannya dan menatap tak enak hati kepada Arga yang diam saja.