
Nadira menarik tangan Arga dan meletakkannya di atas perutnya.
“Arga, katakan sesuatu kepada anak kita, dia pasti senang sekali bertemu ayahnya,”
Sejenak Arga seolah tak mampu berkata-kata setelah mendengar kalimat Nadira barusan. Pria itu sangat terkejut
“Jadi kamu hamil?”
Nadira mengangguk.
Arga mengelus lembut perut Nadira, begitu terharu dan kedua matanya berkaca bahagia.
“Hai sayang, kau pasti merindukan papa,” sapanya.
“Aku juga,” Nadira menambahkan sambil menatap Arga penuh rasa cinta.
Arga beralih mencubit cuping hidung Nadira dengan perasaan gemas, “apapun yang terjadi semoga kau tidak berpikir untuk meninggalkanku lagi,” ada sorot merana saat Arga mengucapkan itu.
Nadira mengangguk sambil mengelus lembut sebelah pipi Arga.
“Seandainya aku tidak mencarimu, seandainya aku tidak menyusulmu ke sini, aku pasti akan sangat menyesal, Nad. Kita sudah begitu jauh sama melangkah, dan anak ini adalah hasil dari penyatuan kita,”
“Aku sangat bahagia mengandung anakmu, Arga,”
“Aku juga sangat bahagia karena kau adalah ibu dari anakku,” Arga tersenyum sambil menyentuh kepala Nadira.
Tak jauh dari mereka, sepasang mata menatap senang dan bahagia pada kedua sejoli yang sedang saling melepaskan rindu dan juga saling berkasih sayang. Mirza merasa begitu lega melihat Arga dan juga Nadira kini saling menguatkan perasaan masing-masing.
Mirza sebenarnya cukup tahu tentang perasaan Nadira padanya dulu, jika saja ia tak punya seseorang yang ia cintai sebagai cinta pertamanya, bukan tidak mungkin bagi Mirza untuk membalas perasaan Nadira. Namun selama ini Mirza lebih merasa nyaman menjadi seorang teman dan juga kakak bagi Nadira.
Amarah Rachel tak bisa dibendung lagi. Dengan mudahnya dengan kedua tangannya ia melemparkan selembar foto dalam pigura tepat di depan kaki Irfan yang sedang berdiri menundukkan wajah. Irfan melirik foto itu dengan rasa bergejolak. Dalam foto itu ia sedang tersenyum lebar mengenakan setelan toga yang lengkap sambil dirangkul oleh sosok lelaki yang begitu dikagumi dan dihormatinya. Almarhum Tuan Besar Adrian, yang selama ini telah berjasa membiayai pendidikan tingginya lalu menjadikannya sebagai salah satu orang kepercayaannya.
“Aku sangat kecewa padamu Irfan!” serang Rachel. “Beraninya kau menggagalkan rencanaku untuk menjodohkan Arga dan Feli. Kau harus ingat baik-baik hanya aku yang berhak mengatur Arga, karena aku adalah ibunya,”
Irfan masih diam menundukkan wajahnya, ia berusaha tetap tenang di situasi yang begitu mencekam seperti saat ini.
“Bagiku kau adalah pengkhianat,” lanjut Rachel, seakan mudah melabeli Irfan dengan kata pengkhianat, tanpa mengingat bertahun-tahun pengabdian lelaki itu pada keluarganya.
Irfan memberanikan mengangkat wajahnya dan menatap nyonya besarnya dengan sorot tenang.
“Apa nyonya tahu, setelah kematian tuan Adrian, dia berwasiat padaku untuk menjaga dan mendukung Tuan Muda Arga. Aku hanya membantu Tuan Muda Arga mengejar cintanya nyonya, menyusul istrinya, aku sangat tahu bagaimana perasaan Tuan Muda pada nona Nadira,”
“Tutup mulutmu! Lancang sekali kau berkata seperti itu!” Rachel semakin marah.
“Nyonya, anda adalah ibunya Tuan Muda, mengapa anda tidak peka terhadap perasaannya?”
“Hentikan! Aku benar-benar tidak bisa memaafkanmu. Mulai sekarang, kau kupecat! Tidak ada lagi hubungan kekeluargaan antara kita, bahkan dengan Arga kau tidak berhak lagi mencampuri urusannya apalagi bertemu dengannya,”
Irfan hanya diam sambil menarik nafas.
“Saya permisi nyonya, selamat malam, dan saya minta maaf karena sudah membuat anda kecewa dan marah,” Irfan bergegas pergi meninggalkan Rachel sendirian di ruangannya yang masih diliputi rasa marah dan kecewa.
Nadira tersenyum ke arah hamparan laut biru di hadapannya. Seperti biasa, ia seolah sedang memandangi ayahnya. Nadira kemudian menoleh pada Arga yang berdiri begitu intim di sisinya dan tidak lepas menatapnya.
“Kenapa kau terus menatapku?” tanya Nadira bingung namun juga tampak malu-malu.
“Aku sedang menikmati wajahmu. Hal yang dulu sangat ingin aku lakukan saat aku buta,” lelaki itu sedikit tertawa, tapi tampak manis.
Nadira menatap Arga begitu dalam.
“Kenapa sekarang malah kau yang terus menatapku?”
“Arga, rasanya seperti mimpi, kita seperti ini sekarang. Dulu saat pertama kali melihatmu, aku tidak pernah membayangkan bahwa kaulah laki-laki yang sangat kucintai di masa depan. Mungkin memang aku tidak akan pernah bisa melupakan kenyataan bahwa dulu kau dan Niken pernah saling mencintai, tapi aku harus berterima kasih karena Niken adalah alasan takdir membawaku padamu,”
“Iya Nad, kau benar. Aku sudah memaafkan Niken, seandainya detik ini dia masih hidup, aku pasti akan berterima kasih padanya, karena kalau dia tidak pergi saat aku buta, aku mungkin tidak akan pernah memiliki perempuan sepertimu, yang cantik hati dan juga begitu tulus pada lelaki buta sepertiku,”
Nadira lalu memeluk Arga begitu erat sambil tak lepas memandangi hamparan laut biru di hadapannya.
Sambil menggandeng Nadira, Arga kembali ke rumahnya dan segera menemui Rachel dan juga Rasty. Rasty bergegas menghampiri keduanya dan memeluk mereka satu-satu dengan perasaan lega.
Rachel begitu muak melihat keduanya, khususnya pada Nadira. Ia takkan sebenci ini pada wanita itu kalau saja Nadira mematuhi perjanjian dan larangan darinya untuk menjauh dan meninggalkan Arga.
“Mom,” sahut Arga menatap lembut ke arah ibunya yang sedang duduk anggun di sofa mewahnya sambil membuang pandangan.
Arga sudah bisa menebak kalau akan seperti ini respon ibunya begitu ia kembali ke rumah sambil membawa Nadira turut serta bersamanya.
“Mom, kak Arga sudah datang,” sahut Rasty juga sambil melangkah ke arah Rachel.
Rachel menggeleng pelan, “Aku hanya menerima kedatangan putraku saja, tidak dengan orang lain,” sahut Rachel begitu angkuh, masih tak sudi menatap ke arah Arga dan juga Nadira. Kekesalannya pada Arga kemarin belumlah reda karena Arga telah mengacaukan semua rencananya untuk memulai kembali perjodohannya dengan Feli.
“Mom, aku membawa istriku, menantu mommy di rumah ini,” Arga menegaskan.
Rachel tersenyum sinis.
“Lalu jika kau membawanya kemari, keadaan akan berubah begitu saja?” Rachel lalu menatap keduanya dengan sorot antagonisnya.
“Mom, kenapa mommy sekeras ini. Aku sangat mencintai Nadira, mommy lihat sendiri kan kemarin aku nekad pergi menyusulnya ke Sumbawa, dan meninggalkan semua rencana bodoh mommy untuk menjodohkanku dengan Feli,”
“Itu adalah kesalahan fatal yang kamu lakukan Arga! Baru kali ini mommy semarah ini padamu!”
Arga diam. Selama hidupnya ia memang tak pernah membuat ibunya begitu marah, ia selalu menurut pada apa yang diinginkan ibunya, apalagi jika itu tentang Rajasa Group.
“Kamu bilang kamu mencintainya,” Rachel menunjuk ke arah Nadira yang berdiri di sisi Arga dengan perasaan yang campur aduk.
Rachel kemudian bangkit berdiri dan menatap bergantian pada anak dan menantunya dengan sorot yang dingin, “Arga, sekarang kamu hanya punya dua pilihan. Pilih mommy atau perempuan ini?”