NADIRA

NADIRA
RESEPSI PERNIKAHAN



^^^


Selamat membaca! Semoga terhibur!


Aku harap kalian menikmati ceritanya.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like dan komentar ya.


Jangan lupa vote aku juga, biar up-nya lebih semangat.


Terima kasih.


Salam hangat, Ratihyera.


^^^


Nadira berdiri gugup ketika akan bersalaman dengan tamu undangan, sambil menggamit mesra lengan Arga, suaminya. Ia akan memberi kode dengan menepuk pelan lengan Arga ketika ada tamu undangan yang naik ke pelaminan hendak memberi ucapan selamat dan jabatan tangan. Sesekali melirik pada Arga yang sorot matanya selalu kosong dan sedikit sekali tersenyum.


Nadira tidak pernah menyangka, resepsi pernikahannya dengan Arga akan semeriah dan semewah ini. Ia tahu ini pasti selera Rachel memilih dekorasi super mewah dan berkelas, khas perilaku orang kalangan atas dan berpengaruh di negeri ini. Semua tamu yang hadir adalah orang-orang penting, mulai dari rekan bisnis dalam maupun luar negeri, bahkan dari pejabat di lingkup kementerian.


Mereka hadir dengan pakaian terbaik dan terindah. Tersenyum bahagia karena turut merasakan kebahagiaan sepasang pengantin baru yang sedang malu-malu duduk di pelaminan.


Tapi tidak bagi Arga, apa yang bisa ia nikmati dari resepsi pernikahannya ini? Ke arah mana pun ia menatap, semuanya hanya satu, gelap. Ia tidak tahu bagaimana indahnya dekorasi pelaminan tempat ia duduk bersanding dengan Nadira, ia tidak tahu siapa-siapa tamu yang hadir kecuali mereka berinisiatif menyebutkan nama ketika menyalami tangannya, ia tidak tahu adanya kue tart tiga tingkat yang terletak di tengah-tengah dengan hiasan sepasang boneka pengantin dan malangnya, ia juga tidak tahu seperti apa wajah wanita yang baru saja ia nikahi yang kini berstatus istrinya.


Sekali ia pernah coba bertanya pada Rachel dan Rasty seperti apa wajahnya Nadira, mereka menjawab kalau Nadira cantik seperti Niken, mereka bisa dibilang punya kemiripan wajah karena status mereka sebagai saudara sepupu, yang membedakan adalah Nadira memilih menutup kepalanya dengan hijab.


Suara-suara keramaian para tamu sebenarnya membuat Arga kurang nyaman, terlalu ribut baginya yang sejak mulai hidup dalam kegelapan, jadi lebih suka suasana yang sunyi dan senyap. Tapi tidak hari ini, semua orang sedang merayakan pernikahannya dan ia harus bisa menguatkan dirinya.


Sesekali ia muak dan merasa geli sendiri ketika mendengar bisik-bisik para tamu undangan.


“Kasihan anaknya bu Rachel, masih muda begitu sudah buta. Untung aja cakep, kalau orang baru lihat tidak akan tahu kalau dia buta,”


“Aku yakin deh, si perempuan mau menikah dengan anak bu Rachel yang buta pasti karena hartanya, ketampanannya juga jadi nilai tambah sih,”


“Resepsinya sangat perfect, tapi sayang, pengantinnya buta. Aku jadi kasihan,”


“Beruntung sekali ya, buta tapi tajir. Perempuan mana yang tidak mau sama laki-laki tajir walaupun punya kekurangan karena tidak bisa melihat.”


Kalimat-kalimat mereka yang berbisik-bisik begitu jelas terdengar oleh dua kuping Arga yang begitu sensitif terhadap suara. Ia benar-benar ingin segera pergi dari keramaian ini, dan kembali mengurung diri di kamar.


Tiba-tiba Arga merasakan, Nadira kembali menggamit mesra lengannya. Ia pun bangkit berdiri.


“Siapa yang datang?” bisiknya pada Nadira.


“Teman-teman aku dari rumah sakit,” jawab Nadira menatap antusias pada rombongan rekan-rekan kerjanya yang berjalan menuju ke pelaminan.


Arga mendengar Nadira menyapa ramah rekan-rekannya dari rumah sakit, mulai dari dokter, perawat dan juga staf rumah sakit. Mereka semua memuji betapa cantiknya Nadira dalam balutan gaun pengantin putih muslimah. Tak lupa mereka juga memuji betapa tampan dan berwibawanya Arga sebagai pengantin laki-laki.


Hingga ketika Nadira menyapa temannya yang lain dari rumah sakit, Arga menyadari nada bicara Nadira yang terdengar begitu senang.


“Saya kan sudah janji sama kamu, akan menyempatkan untuk datang di pernikahan kamu. Sekali lagi selamat ya, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah,”


“Aamiin. Terima kasih dokter Mirza,” sahut Nadira cepat-cepat.


.


.


.


“Sayang, aku ke minimarket di depan dulu ya, beli air mineral untukmu, kamu pasti haus,” ujar Desta sambil membantu Niken duduk di kursi tunggu sebuah klinik bersalin.


Niken mengangguk sambil tersenyum. Desta segera meninggalkan Niken, menunggu sendirian bersama beberapa pasien lainnya yang hendak memeriksakan  kandungannya.


“Berita Hari ini! Anak pemimpin Rajasa Group, yang juga pernah menjabat sebagai direktur Rajasa Group baru saja melangsungkan pernikahannya pagi tadi di Mesjid Istiqlal dan menggelar resepsi super mewah di hotel berbintang,”


Mendengar suara pembawa berita di televisi, sontak Niken mengarahkan pandangannya ke layar televisi yang terpasang di ruang tunggu. Mata Niken membelalak kaget melihat dalam layar kaca suasana kemeriahan dan kemewahan resepsi pernikahan Arga dan Nadira. Niken seakan tak percaya kala melihat wajah Arga dan Nadira di layar kaca, duduk bersama di pelaminan.


“Arga! Nadira! Bagaimana bisa mereka menikah?” gumam Niken begitu terkejut.


“Arga Ibrahim Daniel, yang dulunya direktur utama Rajasa Group baru saja melangsungkan pernikahannya pagi tadi dengan seorang wanita yang berprofesi sebagai dokter di Rumah Sakit Harapan  bernama Nadira. Keduanya tampak bahagia duduk di pelaminan. Diketahui beberapa bulan yang lalu, Arga sempat melangsungkan pertunangan dengan wanita bernama Niken, namun dari keterangan juru bicara Rajasa Group, keduanya mengakhiri hubungan karena tidak ada kecocokan. Arga pun melabuhkan hatinya pada dokter Nadira, wanita yang baru dikenalnya dan tidak pernah dipacarinya. Seperti itulah jodoh, penuh misteri dan kejutan. Kita doakan semoga pernikahan mereka langgeng hingga maut memisahkan,” ucap si pembawa berita dan mengakhiri tayangannya.


Niken tiba-tiba shock, ia masih tidak percaya kalau Arga yang malang, yang telah ia tinggalkan begitu saja, kini telah menikahi Nadira, sepupunya sendiri.


“Sayang, kamu kenapa bengong begitu?”


Kehadiran Desta yang membawa air mineral yang telah dibelinya di minimarket membuyarkan sejenak rasa penasarannya tentang bagaimana hubungan Arga dan Nadira, serta alasan mereka untuk menikah.


“Uhm, tidak ada apa-apa.”


Desta menatapnya dalam, seolah menyelami isi pikiran Niken.


"Kenapa kamu memandangku begitu, Des?"


"Apa kamu sudah tahu, kalau Arga hari ini melangsungkan pernikahannya dengan sepupumu, Nadira," ujar Desta.


"Kamu juga tahu?" Niken tak menyangka.


"Aku sudah tahu tadi saat ke minimarket, melintas di depan penjual koran, foto mereka jadi headline utama pemberitaan," jelas Desta.


Niken menunduk diam.


"Kau masih mencintainya?" tanya Desta seperti menyembunyikan sakit di hatinya.


"Aku mencintaimu Desta," Niken menyatakan sambil menatap dalam kedua mata Desta, "kamu adalah cinta pertama yang tidak bisa aku lupakan."


Desta tersenyum, lalu mengelus pelan perut Niken yang masih kelihatan datar.