
Sembilan tahun yang lalu...
Arga menggeram sebal, sejurus kemudian ia meremas kasar secarik kertas berwarna merah muda dan membuangnya kasar ke lantai.
Yudha teman sebangkunya di kelas XI IPS, yang sedang asyik mengobrol dengan teman kelas yang lain segera datang menghampiri Arga, sebenarnya sejak Arga datang dan menemukan lagi dan lagi sepucuk surat di laci mejanya, lalu membacanya dengan raut muka jijik, Yudha diam-diam mengamati.
Sebelum menyapa Arga, Yudha mengambil remasan kertas yang tadi sengaja dibuang oleh Arga di lantai. Yudha membetulkan kertas surat itu dan membaca dalam hati setiap kalimat yang merupakan susunan puisi berisi pujian yang ditujukan khusus untuk Arga.
Arga menoleh sebal begitu mendengar suara kekehan Yudha tak jauh darinya.
“Apaan sih, kau juga membacanya,” sahut Arga kesal.
“Ga, puisi seindah dan seromantis ini, kok kamu tidak suka sih,” Yudha berujar heran, namun terdengar seperti sedang mengejek Arga. Ia segera duduk di samping Arga.
“Jijik aku bacanya!” Arga masih sama kesal. “Aku seperti diteror dengan surat-surat dan puisi-puisi lebay itu,”
“Duh, segitu amat kamu Ga. Kalau aku malah senang dapat beginian, ada penggemar dong namanya,” Yudha terkekeh pelan.
“Aku harus cari tahu siapa yang berani mengirim surat dan puisi itu,” Arga tampak geram.
“Aku tahu Ga, siapa orangnya,” celetuk Yudha.
“Sial! Kenapa kamu baru mau bilang,” Arga melayangkan tinjunya ke lengan Yudha.
“Aku juga baru tahu tadi pagi. Kebetulan, pengurus pramuka kayak aku lagi menginap di sekolah untuk persiapan perkemahan di Cibubur minggu depan nanti. Pagi-pagi buta aku lihat cewek itu masuk ke kelas kita, trus aku diam-diam mengikuti dan mengintip. Pas banget, dia sambil senyum-senyum sendiri menyimpan surat itu di laci meja kamu,” Yudha menjelaskan.
“Siapa dia?” Arga makin penasaran tapi juga masih begitu kesal. Arga tidak suka tipe perempuan yang duluan mendekatinya.
Yudha mengajak Arga keluar kelas. Arga adalah bintang sekolah, terkenal karena tampan, kaya raya dan juga tipe cowok yang agak cuek. Arga tidak sembarangan dekat dengan cewek-cewek satu sekolahnya meski ia tahu nyaris seluruh kaum hawa di sekolahnya menaruh hati padanya.
Keduanya sampai di kantin. Yudha mengajak Arga memesan makanan.
“Bu Yanti, pesan nasi goreng dua ya. Satunya jangan kebanyakan bawang putih, mas gagah ini tidak bisa makan kalau kebanyakan bawang putih,” sahut Yudha sambil curi-curi pandang pada seorang perempuan berdiri tak jauh darinya yang baru saja memesan menu sarapan.
“Bu Yanti pasti sudah tahu, kalau pesanan saya sekalian tidak usah pakai bawang putih,” Arga menambahkan. Ia punya riwayat alergi bawang putih.
“Tahu dong, mas Arga ini alergi bawang putih,” jawab Bu Yanti penuh keramahan dengan logat Jawa yang kental, semua siswa ia panggil mas dan semua siswi ia panggil mbak. “Eh, mbak Del tadi pesan nasi uduk dan es teh ya?” Bu Yanti bertanya memastikan kepada perempuan yang berdiri tak jauh dari Yudha dan Arga.
“Teh hangat, Bu,” jawab gadis itu meralat sambil menggigit bibir bawahnya, menahan rasa deg-degan yang tiba-tiba muncul.
“Oh, iya, iya,” Bu Yanti bergumam sambil manggut-manggut dan membalik badan hendak menyiapkan menu pesanan.
“Hai, Dela, tidak sarapan juga dari rumah?” Yudha bertanya ketika gadis itu hendak membalik badan, pergi.
Gadis itu tampak kaget, disapa penuh keakraban oleh Yudha. Padahal ia tidak pernah berkomunikasi sebelumnya dengan Yudha. Gadis itu juga menyadari, tatapan Arga yang terang-terangan kepadanya penuh rasa penasaran, membuatnya tidak bisa menyembunyikan rasa malu.
“Jadi namamu Dela,” sahut Arga tiba-tiba sambil memandangi gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seperti menilai dengan raut yang angkuh.
Dela tertunduk sambil menelan ludah, perlahan rasa malunya menghilang, berganti rasa was-was. Tiba-tiba saja auranya berubah jadi negatif mendengar suara tidak ramah dari Arga dan juga tatapannya yang meremehkan dirinya.
“Benar-benar norak ya, kirim surat dan puisi sebagai pengagum rahasia. Mulai sekarang, berhentilah melakukan itu, aku tidak suka diperlakukan seperti itu. Aku benci cewek yang agresif dengan berusaha menarik perhatianku lebih dulu. Dan satu lagi, seharusnya kau sadar diri, dengan penampilanmu yang juga norak. Aku tidak suka dengan perempuan berjerawat dan berambut ikal,” tatapan Arga berubah jijik menatap Dela.
“Maaf kalau kamu tidak suka. Tapi semua yang kutulis di surat itu adalah ungkapan perasaanku yang tulus, aku hanya terlalu malu untuk mengungkapkannya langsung padamu,” jawab Dela memberanikan diri, meski sejujurnya ia begitu malu mengakuinya di depan umum, di depan Arga sendiri.
Arga tergelak. Suara tawanya menarik perhatian siswa siswi yang berkunjung ke kantin.
“Dengar ya, aku benci cewek yang agresif dan juga berwajah jelek,” Arga menegaskan sambil menatap kasihan kepada Dela.
Semua yang hadir di kantin menertawakan Dela. Tak ada yang peduli meski gadis itu menitikkan air mata, sedih atas penghinaan Arga, lelaki yang sudah lama ia kagumi. Bahkan tak sedikit siswi yang mengutuk sikap berani Dela mengungkapkan perasaannya lewat surat-surat yang dikirimkan untuk Arga. Selama sebulan lebih, Dela menjadi bulan-bulanan di sekolah oleh para siswi yang menjadi penggemar berat Arga di sekolah, yang menyukai lelaki itu namun tidak bisa menarik perhatiannya atau sekedar mendekatinya sebagai teman.
.
.
.
Nadira baru kembali dari apotik, saat hendak memegang gagang pintu, sayup-sayup ia bisa mendengar suara dari dalam. Suara Arga dan juga suara perempuan lain. Nadira menempelkan sebelah telinganya di pintu. Ia bisa mendengar beberapa percakapan dari dalam.
Nadira hendak membuka pintu, namun tidak bisa karena pintu terkunci dari dalam.
“Arga!” panggilnya sambil menggedor-gedor pintu.
Dela menoleh ke arah pintu. Mau tidak mau, ia pun melangkah membuka pintu. Wajah risih Nadira segera menyambutnya. Namun Dela tetap bersikap tenang, bahkan masih bisa menampilkan senyum terbaiknya.
“Kenapa pintunya terkunci? Dan apa yang kalian ...” Nadira tak bisa melanjutkan kalimatnya. Laki-laki dan perempuan yang berada dalam satu ruangan yang terkunci. Benar-benar mengganggu pikirannya.
“Aku dan Arga dulunya satu SMA. Aku hanya menyapanya saja sebagai teman lama,” Dela kembali tersenyum lalu pergi begitu saja.
Nadira segera menghampiri Arga, “benar-benar mencurigakan, sampai mengunci pintu segala,” nada bicaranya terdengar begitu risih.
“Apa kau cemburu karena dia berusaha menggodaku?” tanya Arga dengan nada datar.
Nadira menatap Arga terang-terangan. “Aku sangat mengkhawatirkanmu,” jawab Nadira lalu beranjak mengambilkan tongkat milik Arga di atas meja.
Arga terdiam, kata-kata Nadira barusan seolah menembus hatinya.
“Ayo kita pulang,” Nadira segera meraih tangan Arga dan mengajaknya pergi.