
Arga keluar dari kamarnya, hendak ke ruang makan utama untuk menikmati sarapan pagi bersama. Saat menuruni tangga, ia berpapasan dengan Rasty yang penampilannya sudah tampak segar.
"Kak Arga, bagaimana keadaan kakak ipar?" tanya Rasty sambil menuruni anak tangga bersama Arga.
"Dia tertidur sehabis shalat subuh, aku tidak tega membangunkannya, sepertinya pesta semalam membuatnya sangat lelah," jawab Arga.
Rasty tampak berpikir dan tak bisa melupakan rasa penasarannya tentang sosok lelaki yang saling tatap dengan Nadira semalam.
"Kenapa Ras? Kenapa kamu sekhawatir itu sama Nadira?"
"Semalam kak Nadira tampak gelisah dan tidak nyaman. Aku rasa karena seseorang di pesta mommy,"
Arga menghentikan langkahnya dan mengernyit menatap adiknya. "Siapa?"
"Justru karena itu kak, aku juga tidak tahu. Aku tanya kak Nadira bilangnya bukan siapa-siapa, tanya sama om Irfan akunya malah dicuekin. Aku, khawatir kak, kak Nadira seperti takut begitu melihat orang itu,"
Arga tampak berpikir sejenak. Ia langsung bisa menebak dalam benaknya, apa seseorang yang dilihat Nadira adalah Bram. Sebab karena siapa lagi Nadira bersikap takut dan tak nyaman begitu jika bukan karena lelaki bejad itu.
Arga berbalik arah, lalu kembali menaiki anak tangga hendak kembali ke kamarnya.
"Kak Arga!" panggil Rasty di belakang. Namun Arga mengacuhkannya.
Arga kembali ke kamarnya, begitu masuk, ia melihat Nadira masih meringkuk di balik selimut. Arga mendekat pelan dan menatap wajah damai istrinya yang sedang terlelap. Arga mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan singkat kepada Irfan agar lelaki itu datang menemuinya di rumah hari ini.
Tak lama kemudian, Nadira membuka mata dan mendapati senyuman merekah Arga kepadanya.
"Good morning sayang," Arga mengecup kening Nadira dengan lembut.
"Good morning," Nadira lalu duduk, "maaf, aku malah ketiduran. Sejak hamil begini, aku suka sekali tidur pagi,"
"Tidak apa-apa sayang. Ayo kita turun sarapan, mommy sama Rasty sudah menunggu," Arga membelai lembut kepala istrinya, sambil memainkan rambut panjangnya.
"Aku cuci muka dulu," Nadira bergegas ke kamar mandi. Arga geleng-geleng sendiri melihat Nadira yang kelihatan menggoda saat memasuki kamar mandi karena masih mengenakan lingerienya.
"Kau jadi suka pakai lingerie sekarang ya," gumam Arga sambil terkekeh sendiri.
.
.
.
Saat sarapan bersama, semua mata menatap kepada Nadira yang hanya diam saja di dekat Arga. Wanita hamil itu sedang menatap penuh harap kepada Arga yang sedang menikmati sarapannya masih menggunakan tangan kirinya.
"Nadira, apa kau ingin makan sesuatu? Kau bisa meminta bu Ruly untuk memasakkan makanan kesukaanmu," ujar Rachel yang sejak tadi memperhatikan Nadira yang baru beberapa sendok saja memakan sarapannya. Setelahnya ia meletakkan sendok garpunya lalu beralih menatap Arga.
Nadira menggeleng canggung kepada Rachel.
"Sayang, apa kamu ngidam ingin makan sesuatu?" tanya Arga.
Nadira mengangguk malu-malu.
Rasty sontak tersenyum melihat tingkah kakak iparnya yang malu-malu namun juga seperti begitu ingin menerkam kakaknya.
Nadira lalu menyorongkan piring makannya dan menukarnya dengan piring milik Arga. Tak lupa ia juga mengambil alih sendok yang masih dipegang oleh Arga.
Semua menatap keheranan kepada Nadira.
"Aku ngidam sisa makanan kamu," jelas Nadira sambil berusaha tersenyum penuh pemakluman.
Arga dan Rasty kompak tertawa saat mengetahui ngidam Nadira yang ingin memakan sisa makanan suaminya.
"Kak Nadira ada-ada aja ngidamnya, padahal isi piring kalian sama loh, tidak ada bedanya," Rasty berusaha meredam tawanya sambil meneguk segelas air putih. "Mom, dulu waktu mengandung kak Arga, mommy ngidam apa saja?" tanya Rasty tiba-tiba penasaran.
Arga dan Nadira pun jadi ikutan penasaran.
Seketika Rachel tersenyum lalu kemudian tampak berpikir.
"Mommy ngidam yang aneh-aneh pasti," celetuk Arga.
"Mommy dulu paling tidak bisa tidur kalau bukan di bawah ketek papa kalian," Rachel mengenang kenangan manisnya dulu saat mengandung.
Arga dan Rasty melongo saat mendengar cerita ngidam ibu mereka. Rachel sendiri pun jadi senyum-senyum sendiri mengingat hal itu.
"Iya, benar," Rachel mengangguk.
"Kak Nad, suka juga sama bau ketek kak Arga?" tanya Rasty antusias.
"Uhm, aku belum coba itu," jawab Nadira.
"Rasty, hentikan! Biarkan Nadira makan dulu. Sebaiknya kalian semua habiskan sarapan dulu baru tanya-tanya lagi," sahut Rachel yang kembali menikmati sarapannya.
.
.
.
Irfan menemui Arga di ruang kerja pribadinya. Begitu ia duduk di sofa Arga langsung melemparkannya dengan sebuah pertanyaan.
"Apa Bram semalam di undang juga ke pesta ulang tahun mommy?" Arga tampak serius.
Irfan memgangguk pelan.
"Sialan! Kenapa diundang sih? Kau tahukan, Nadira trauma sama orang itu. Aku bahkan tidak menyadari kalau dia ada di pesta itu," Arga menatap kesal pada Irfan.
"Tuan Bramantyo termasuk rekan bisnis kita tuan muda. Saya mengiriminya undangan hanya sebagai sikap formalitas saja, dan tentu saya juga berharap dia mengabaikan undangan itu, tapi ternyata Tuan Bram hadir juga malam itu,"
Arga mondar-mandir di depan Irfan sambil berpikir keras.
"Kalau begitu, aku ingin kau membatalkan semua kerjasama perusahaan dengannya. Aku tidak mau jika besok lusa ada acara perusahaan dia juga turut hadir dan mengganggu perasaan Nadira," titah Arga.
"Tuan, kita akan menderita kerugian besar jika memutuskan kontrak kerjasama dengan perusahaan desain milik Tuan Bram. Hal ini pasti akan jadi sorotan dari dewan direksi dan komisaris. Walaupun anda menjabat presdir, saya tidak mau anda dilengserkan karena tindakan anda ini,"
Arga tampak putus asa. Mudah saja baginya jika harus tidak menjadi presdir lagi yang penting dia bisa mengusir jauh-jauh sosok Bram yang mulai muncul lagi di sekitaran Nadira. Tapi, ia tidak boleh gegabah, Rajasa Group adalah amanah dari almarhum ayahnya. Tentu ia juga tak ingin Rachel kecewa kembali kepadanya.
"Aku harus bertemu dengan Bram, aku akan memberinya peringatan keras untuk tidak mengganggu apalagi menampakkan dirinya di depan istriku," ucap Arga kemudian lalu melempar bokongnya duduk di atas sofa berhadapan Irfan.
"Lalu, kapan anda akan kembali ke Rajasa Group, tuan?" tanya Irfan mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa? Kau dan Wira sudah lelah menghandle pekerjaanku?" tanya Arga ketus, ia masih terbawa suasana gara-gara Bram.
Irfan hanya diam menatap Arga.
"Minggu depan aku akan masuk. Kata Nadira tanganku sudah mulai membaik, dan beberapa hari lagi perbannya akan dia lepas," jelas Arga, "sial, kenapa sih kau menatapku begitu. Aku kan tidak mangkir dari pekerjaan, aku sakit," Arga menunjukkan tangan kanannya yang masih dibebat dan disangga akibat tertimpa reruntuhan bangunan karena menyelamatkan korban gempa di Sumbawa Barat.
Irfan menyeringai, "baik Tuan, kami sangat tidak sabar menantikan anda kembali ke Rajasa Group."