
Arga menarik nafas sejenak begitu dirinya berdiri tepat di depan pintu ruang rapat. Irfan di sampingnya sudah dalam posisi memegangi gagang pintu, bersiap menunggu perintah untuk membuka pintu.
Setelahnya Arga mengangguk pelan, Irfan kemudian membukakan pintu, sambil mengayunkan tongkatnya Arga memasuki ruang rapat. Suara-suara obrolan di dalam tiba-tiba redam, begitu ia hadir menginjakkan kaki. Arga mengawasi keheningan lewat kupingnya.
Semua petinggi perusahaan di ruang rapat pagi itu, saling pandang sejenak, tampak kaget dan keheranan. Pertanyaannya, mana nyonya Rachel yang mestinya memimpin rapat pagi ini di gedung Rajasa Group?
“Tu-tuan Arga, senang anda hadir di sini. Mari saya bantu,” sambut salah satu petinggi perusahaan yang menghampiri Arga dan menuntunnya duduk di kursi pimpinan rapat. Dia adalah Wira, yang menjabat sebagai wakil direktur.
“Terima kasih Wira,” Arga cukup hafal suara Wira. Irfan mengambil posisi berdiri di belakang Arga. Wira pun kembali duduk di tempatnya.
“Ada apa ini? Mana presiden komisaris yang seharusnya memimpin rapat hari ini?” sebuah suara tak suka menyahut tak jauh dari tempat Arga duduk. Arga tahu pemilik suara itu, dia adalah Rio, sepupunya. Anak dari pamannya yang telah membunuh ayahnya.
“Nyonya presiden komisaris sedang sakit. Jadi aku datang ke sini, untuk menggantikannya memimpin rapat hari ini,” jawab Arga dengan tenang.
Rio tertawa sejenak lalu bertepuk tangan sendirian. “Hebat sekali! Jadi rapat hari ini akan dipimpin oleh orang buta?” Rio tergelak.
Semua petinggi perusahaan dari dewan komisaris dan dewan direksi lainnya hanya saling pandang, tidak ada yang berani bersuara kecuali Rio saja. Jika saja ayahnya tidak mendekam di rumah sakit jiwa, tentu jabatan komisaris akan dimiliki ayahnya.
Arga mengepalkan sebelah tangannya dari balik meja. Berusaha meredam amarah dan berusaha untuk tetap tenang dan sabar menghadapi situasi saat ini. Ada untungnya juga matanya tidak bisa melihat, ia tidak mesti melihat bagaimana bencinya Rio saat ini saat menatapnya.
“Apa kau lupa Rio, kalau aku adalah presiden direktur, dan presiden komisaris sudah mengamanahkan kepadaku untuk memimpin rapat pagi ini,”
Rio mengangguk, “Iya karena kau adalah anaknya. Tidak mungkin dia memintaku untuk memimpin rapat kan, meskipun aku masuk dalam jajaran komisaris,”
Arga memilih diam, mendengar setiap ocehan Rio.
“Tapi tunggu dulu, kau bilang kau presiden direktur?” Rio lagi-lagi tertawa mengejek. “Hey buta, sebenarnya kau tahu tidak tujuan diadakannya rapat hari ini?” Rio bertanya sambil menunggu reaksi Arga.
“Aku tahu,” jawab Arga datar.
“Kami semua berkumpul di sini untuk membicarakan posisi presiden direktur agar segera diganti dengan orang yang baru, setidaknya bukan dijabat oleh orang buta sepertimu. Lagipula sudah lebih sebulan kau tidak masuk kerja,”
“Aku tahu, aku buta dan juga sempat berpikir ingin berhenti saja dari Rajasa Group. Tapi, tidak akan semudah itu Rio, kehadiranku hari ini adalah bukti kalau aku masih punya tanggung jawab di sini,” Arga menyahut masih tetap tenang.
“Jadi selama sebulan kau tidak masuk kerja itu untuk mengumpulkan kepercayaan dirimu meski jadi orang buta kau ingin tetap bekerja di sini?”
“Iya, kau benar,” jawab Arga.
“Aku menolak kehadiranmu! Aku ingin posisi presiden direktur segera diganti oleh orang lain. Kau ini cacat, tidak bisa berbuat banyak tanpa harus dituntun ke mana-mana, membaca dokumen saja kau tidak bisa. Ingatlah, jabatan presdir bukan jabatan sembarangan. Sadar diri sajalah, orang buta sepertimu tidak cocok bekerja di perusahaan sebesar ini, jadi presiden direktur lagi. Bukankah orang-orang buta di luar sana, yang senasib denganmu lebih banyak bekerja sebagai tukang pijat?” Rio kembali melemparkan hinaannya kepada Arga di depan dewan komisaris dan juga dewan direksi.
“Tuan Rio, anda sudah berlebihan!” Irfan menyahut dengan sorot tak suka menatap ke arah Rio.
“Kau hanyalah anjing mereka. Kau di sini bukan apa-apa, tidak semestinya kau memasuki ruang rapat,” Rio tampak lebih garang.
Arga masih diam, mukanya agak memerah dan sebelah tangannya mengepal menahan emosi dari balik meja.
“Arga, kamu pasti bisa melalui semua ini,” kata-kata Nadira terus terngiang dalam pikiran Arga, seperti kalimat penyemangat dan penguat baginya.
“Ingatlah Rio, kau menduduki jabatan komisaris itu karena rasa penghormatan, bagaimana pun juga kau adalah keponakan dari almarhum ayahku. Dan ayahmu adalah seorang psikopat yang mendekam di rumah sakit jiwa, para petinggi di sini tidak ada yang percaya dengan dirimu, apakah kau orang yang baik-baik atau sama saja gila seperti ayahmu,” Arga membalas.
“Beraninya kau berkata seperti itu!” Rio bergegas menghampiri Arga, sebelum kedua tangannya melayangkan pukulan, para petinggi yang lain menahannya agar tidak melakukan tindakan kekerasan.
Irfan pun siap siaga untuk melindungi Arga, kalau Rio benar-benar akan melakukan tindak kekerasan kepada Arga.
Arga bangkit berdiri lalu berkata, “keputusan ada di tangan kalian, apakah masih menginginkan aku menjadi bagian dari perusahaan ini atau ikut kemauan orang ini dengan memasukkan orang pilihannya yang sama buruk dan gila sepertinya untuk menggantikan aku,”
“Diam kau buta!” teriak Rio, menatap penuh amarah kepada Arga. Rio berusaha melepaskan diri, namun ia masih dicegat dan ditahan.
“Percaya dirimu benar-benar tinggi,” Rio menimpali dengan seringai sebal. “Lepaskan tangan kalian!” Rio pun berhasil bebas dari cegatan orang-orang.
Rio segera menghampiri Arga, namun ia ditahan oleh Irfan. “Tuan, sedikit saja anda melayangkan pukulan ke wajah tuan Arga, maka hari ini juga anda yang akan dikeluarkan dan diganti dengan orang lain yang tidak bertabiat buruk seperti anda,” Irfan menyahut sopan sambil memasang badan melindungi Arga.
Rio menatap sebal ke arah Irfan dan Arga. Irfan benar, kalau ia tidak bisa menahan emosi dan melakukan tindak kekerasan di hadapan para petinggi perusahaan, maka ia punya citra yang buruk dan mereka akan menentangnya berada di posisinya sekarang sebagai komisaris.
“Aku tidak setuju, dia tetap menjabat sebagai presiden direktur. Dengan pertimbangan kondisinya yang buta,” Rio mengangkat tinggi sebelah tangannya. “Yang setuju denganku, angkat tangan kalian,” Rio melirik ke arah dewan komisaris, semuanya diam, tidak ada yang mengangkat tangan. Rio menatap ke arah dewan direksi, juga sama tidak mengangkat tangan sebagai tanda untuk mendukung penolakannya atas kehadiran kembali Arga sebagai presiden direktur.
Semuanya jelas, kalau mayoritas petinggi perusahaan masih mendukung Arga yang kembali, walaupun kini ia buta. Hanya dirinya saja yang menolak.
Rio menggeram sebal.
“Terima kasih sepupuku karena sudah begitu peduli pada orang buta sepertiku. Aku paham maksudmu, orang buta sepertiku tidak perlu repot-repot memimpin perusahaan. Tapi aku akan buktikan padamu kalau menjadi buta, bukanlah halangan,” Arga tersenyum, meski bukan ke arah Rio.
“Kau boleh berbangga diri sekarang karena orang-orang mendukungmu. Tapi ingat, suatu hari nanti aku akan menyingkirkan kau dan ibumu dari perusahaan ini,” Rio berbisik lalu bergegas meninggalkan ruang rapat dengan perasaan kesal.
Setelah meninggalkan ruang rapat, semua petinggi segera menghampiri Arga dan menyambutnya dengan ramah.
.
.
.
“Apa tuan butuh minum?” tanya Irfan setelah mengantar Arga di ruangannya.
“Tidak. Aku puas hari ini. Walaupun aku harus terima dihina oleh Rio di depan petinggi perusahaan,” ucap Arga lalu bersandar pelan di kursinya.
Ponsel Irfan berdering, Nyonya Rachel memanggil.
“Tuan, nyonya menelepon,” Irfan menyentuh tombol redial lalu menyodorkan ponselnya kepada Arga.
“Halo mom,” jawab Arga.
“Sayang, apa kau baik-baik saja? Bagaimana rapat hari ini?” rentetan pertanyaan terdengar di ujung telpon.
“Semua berjalan lancar seperti yang mommy harapkan,” jawab Arga.
“Syukurlah sayang,”
“Bagaimana keadaan mommy?” Arga balik bertanya.
“Tidak perlu mengkhawatirkan mommy sayang, ada Nadira di sini,”
Arga tersenyum senang, tentu saja gadis itu bisa diandalkan.
“Jangan lupa makan ya sayang,” Rachel mengingatkan.
“Iya mom,”
Tak lama kemudian Rachel mengakhiri telponnya.
“Irfan tolong siapkan berkas yang perlu kupahami selama kurang lebih sebulan aku meninggalkan pekerjaanku di sini,”
“Dengan senang hati, tuan,” Irfan tersenyum lalu bergegas menyiapkan dokumen yang diminta oleh Arga.