NADIRA

NADIRA
CINTA YANG TAK SAMPAI



Arga mendengarkan dengan serius alunan piano yang berdenting lembut dan merdu. Ia menatap penuh cinta gadis berambut panjang mengenakan gaun biru elegan yang duduk di depan sebuah grand piano, jemarinya yang panjang dan lentik menari begitu lincah di atas tuts. Seisi ruangan bagai tersihir oleh permainan pianonya. Dialah Niken, kekasihnya.


Tak jauh dari Arga, tampak Rachel dan juga Irfan yang duduk satu meja dengannya. Rachel mengawasi Arga yang tak lepas menatap kagum ke arah Niken. Di meja lainnya juga ada Rio, sepupunya juga kedua orang tua Niken, Herman dan Widya. Tepuk tangan bergema di seisi ruangan begitu Niken selesai memainkan sebuah lagu.


Niken bangkit berdiri, memberi hormat dengan gaya anggun lalu melirik ke arah Arga. Niken segera turun dari panggung dan melangkah menuju ke meja untuk bergabung dengan Arga dan juga ibunya.


Pembawa Acara kemudian memanggil Rachel untuk naik ke panggung dan memberikan pidatonya sebagai direktur utama dalam acara ulang tahun Rajasa Group yang ke 45 tahun. Saat itu Niken dan Rachel berpapasan.


“Aku sedikit gugup,” gumam Niken begitu ia sampai dan mengambil posisi duduk di dekat Arga. “Kau tahu, memainkan sebuah lagu di depan kolega bisnis ibumu, seperti sedang konser tunggal sebagai pianis profesional, padahal aku bermain piano hanya untuk menyenangkan hatiku saja, sekedar hobi,”


“Itu sangat hebat sayang, aku senang karena bisa membanggakanmu yang begitu berbakat di depan mommy dan juga rekan-rekan bisnisnya,” sahut Arga sambil tersenyum penuh arti kepada Niken.


Niken tersenyum malu. Semuanya lalu fokus menatap Rachel yang sedang berdiri di panggung dengan gaya anggun. Mengucapkan sepatah kata di hari ulang tahun Rajasa Group. Ia banyak bercerita bagaimana ia harus bisa membawa diri dan beradaptasi memimpin Rajasa Group setelah kematian suaminya. Rachel juga mengenalkan Arga sebagai putra tertuanya yang akan menjadi pewarisnya. Ia sudah berpikir beberapa tahun ke depan akan memberikan jabatan direktur utama kepada Arga.


Arga bangkit berdiri dan memberi salam di hadapan para tamu yang hadir, ketika Rachel menyebut namanya dan juga statusnya sebagai pewaris.


“Dulu aku tidak percaya dengan kata-katamu kalau suatu hari nanti kau akan menggantikan ibumu di Rajasa Group. Tapi hari ini aku benar-benar yakin, kalau kekasihku ini akan menjadi orang yang penting,” sahut Niken setelah Arga kembali duduk.


“Apa kau ingin menyombongkan dirimu nanti di hadapan teman-temanmu tentang diriku?”


Niken tersenyum. Setelah selesai, Rachel tak ikut bergabung di meja yang sama dengan Arga dan Niken. Ia justru mengobrol dan menyapa dengan hangat rekan-rekan bisnisnya yang sempat hadir malam ini.


Saat Arga dan Niken saling asyik mengobrol, ponsel Niken tiba-tiba berdering. Ia menatap penuh tanya nama Melani yang muncul di layar ponselnya. Ia memang tidak begitu akrab dengan Melani, hanya beberapa kali bertemu setiap ia mengunjungi Nadira di Jogja, tapi mereka pernah bertukar nomor ponsel.


“Siapa sayang?” tanya Arga sambil melirik layar ponsel Niken.


“Seseorang yang kukenal,” jawab Niken lalu menjawab telpon dari Melani.


Arga terus mengamati Niken saat gadis itu menjawab telpon dan raut mukanya tampak tegang.


“Ada apa sayang?” tanya Arga penasaran setelah Niken selesai berbicara di telpon.


“Sayang, sepertinya malam ini aku, papa dan juga mama harus ke Jogja,” jawab Niken tampak panik.


“Apa yang terjadi, sayang?” tanya Arga penasaran.


“Sesuatu yang buruk terjadi kepada sepupuku. Kami harus bergegas ke Jogja malam ini,” Niken mengarahkan pandangannya ke arah kedua orang tuanya yang sedang asyik mengobrol dengan tamu undangan yang lain.


“Sepupumu yang mana?” Arga bertanya bingung.


“Nadira,” jawab Niken.


Arga berusaha mengingat-ingat, tampak bingung.


“Kalian pernah bertemu sekali, waktu mengantarku pulang. Dia sepupuku yang kuliah kedokteran di Jogja,” Niken menjelaskan tanpa peduli bagaimana reaksi Arga, ia bergegas menghampiri kedua orang tuanya hendak menyampaikan tentang telpon dari Melani yang mengabari keadaan Nadira sedang terbaring di rumah sakit.


Arga hanya duduk terdiam sambil memandangi Niken yang sedang berbicara dengan kedua orang tuanya dengan raut cemas. Arga menghela nafas, benar-benar tidak ingat tentang sepupu Niken yang bernama Nadira.


.


.


.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


“Masuk,” ujar Arga. Pintu terbuka dan Nadira masuk sambil mengalungkan stetoskop di lehernya dan juga membawa alat pengukur tekanan darah.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Nadira sambil melangkah pelan menghampiri Arga yang duduk di sofa.


“Aku tidak apa-apa,” jawab Arga datar.


Nadira segera duduk di sampingnya. “Aku periksa kondisimu ya,” sahut Nadira dengan lembut lalu memeriksa Arga dengan stetoskopnya dan juga mengukur tekanan darahnya.


Arga diam saja, seakan pasrah dengan semua yang sedang dilakukan Nadira padanya.


“Tekanan darahmu masih agak rendah, kau harus banyak-banyak beristirahat aku akan meminta bu Ruly untuk membuatkan menu makanan khusus untukmu,”


“Kau tidak ke rumah sakit?” tanya Arga masih datar.


“Aku shift malam. Aku akan berangkat sore nanti,” jawab Nadira.


Suasana hening tercipta, Nadira mengamati Arga seperti sibuk dengan pikirannya sendiri.


“Katanya, malam itu kau bertemu dengan Bram,” sahut Nadira memecah keheningan.


Arga hanya tersenyum getir, “kau tidak senang ya aku bertemu dengannya,”


“Kau tahu Arga, aku sangat membencinya. Selama beberapa bulan aku harus terus bertemu psikolog untuk memperbaiki mentalku dan mengembalikan semangatku, serta membunuh rasa malu atas apa yang sudah menimpaku. Aku meminta kepada paman, kepada Melani agar identitasku sebagai korban atas kasus pelecehan yang dilakukan Bram kepadaku tidak diungkap di berbagai media,” Nadira mulai terbuka mengungkapkan masa lalu pahitnya bersama Bram.


Arga menoleh ke arah Nadira, walau sorotnya kosong, ia seolah menunjukkan simpatinya atas kejadian pelecehan yang menimpa Nadira.


“Setelah wisuda aku segera kembali ke Jakarta, lalu bekerja di rumah sakit pelan-pelan membuatku ikhlas atas apa yang sudah terjadi, dan pelan-pelan aku bisa melupakan kenangan buruk itu meskipun tidak bisa lupa seutuhnya,” lanjut Nadira.


“Aku sangat menyesali kenapa dulu kau pernah mencintai laki-laki seperti dia,” ucap Arga kemudian.


“Iya, pertama kalinya aku jatuh cinta pada lelaki selain ayahku, dan ternyata itu adalah cinta yang salah,” Nadira tersenyum getir. “Setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk berhijab, lalu menutup hatiku. Niken sering menyemangatiku, dia juga cukup sering menceritakan tentangmu, dia sangat bahagia, apalagi saat kamu melamarnya. Saat itu aku sempat merasa iri pada Niken, dia punya kekasih yang begitu mencintainya dan menunjukkan keseriusan dengan melamarnya. Niken tidak jatuh pada cinta yang salah,”


“Kau benar, Niken tidak jatuh pada cinta yang salah. Tapi aku justru sama denganmu, jatuh cinta begitu dalam kepada Niken tapi ternyata itu adalah cinta yang salah,” ujar Arga.


Nadira menatap Arga.


“Benar-benar menyedihkan,” gumam Arga.


“Menurutmu mana yang lebih menyedihkan, cinta yang salah atau cinta yang tidak direstui?” Tanya Nadira tiba-tiba.


“Apa kau juga pernah mengalami cinta yang tidak direstui?”


“Uhm, mungkin begitu,” jawab Nadira sambil menatap Arga.


“Sepertinya paling menyedihkan itu adalah cinta yang tak sampai,” sahut Arga getir.