
Nadira sudah tampak segar dan cantik dengan gamis berwarna pink lembut dan hijab warna senada. Arga pun sudah tampak rapi dalam balutan kemeja putih dengan aksen abu-abu. Rambutnya yang sudah disisir rapi jadi berantakan akibat tiupan angin. Namun tidak mengurangi aura tampan di wajahnya.
“Jadi kita sarapan di sini?” Nadira memandangi menu sarapan hotel yang tersaji di meja. Tampak lezat dan menggugah selera.
Pasangan pengantin baru itu sarapan pagi eksklusif di balkon suite room mereka dengan pemandangan gedung-gedung tinggi Kota Jakarta serta angin yang bertiup cukup kencang.
Arga hanya mengangguk.
“Kenapa tidak sarapan di restoran hotel saja? Di sini banyak angin,”
“Aku tidak suka makan di luar, kupingku terlalu malas mendengar bisik-bisik orang tentang kondisiku,”
Nadira tertegun. Ia mulai peduli dengan kondisi Arga yang tidak bisa melihat.
“Di rumah saja aku sudah tidak pernah makan bersama mommy dan Rasty, aku hanya makan di kamar,” Arga melanjutkan. “Kemarin aku benar-benar jengah berada di pesta, mereka semua berbisik-bisik menceritakan aku yang buta,”
Nadira melihat raut kesal muncul di wajah Arga.
Tangan Arga meraba meja, ingin mengambil gelas berisi air putih di samping piring makannya. Namun ia justru menjatuhkan gelas itu di lantai.
“Arga, kenapa tidak bilang, aku kan bisa bantu ambilkan,” sahut Nadira.
Petugas hotel yang berdiri tak jauh dari mereka, segera bergerak cepat membersihkan kepingan pecahan gelas yang berserakan di bawah kaki Arga.
“Aku benci jadi begini!” Arga tampak geram. Ia tampak tidak nyaman. Ia mengambil tongkatnya dan bangkit berdiri, tanpa berkata-kata ia melangkah masuk ke dalam.
“Arga!” panggil Nadira, menyusulnya di belakang.
“Tinggalkan aku sendiri!”
“Ayo sarapan dulu,” bujuk Nadira.
Arga tak menggubris. Suasana hatinya tiba-tiba memburuk, Arga sudah sering seperti itu sejak ia buta.
Arga membuang kasar tongkatnya di lantai, “aku bahkan tidak bisa melangkah dengan baik tanpa tongkat sialan ini!” ia mengumpat.
Nadira mengawasinya cemas di belakang. Pertama kalinya ia melihat suasana hati Arga yang sangat buruk. Arga melangkah sembarang arah, ia menabrak meja, lalu tersandung jatuh di dekat tempat tidur.
Nadira berlari menghampirinya, ingin membantu.
“Arga,”
“Lepas!” Arga menarik kasar tangannya dari Nadira, ia bangkit sendiri dari jatuhnya. Tangannya menarik selimut yang sudah di tata rapi di atas tempat tidur, Arga menghempaskan selimut itu di lantai.
Nadira hanya diam, menatapnya cemas. Arga tak bisa didekati ketika suasana hatinya sedang buruk.
Arga menjatuhkan dirinya duduk di atas ranjang sambil mengatur nafasnya. Ia duduk di situ untuk waktu yang cukup lama, sekitar sepuluh menit duduk diam di situ. Nadira dengan setia menunggunya sambil terus mengamati raut muka Arga.
“Bagaimana, apa kau sudah puas?” tanya Nadira yang datang menghampiri setelah memastikan badai dalam hati Arga sudah berlalu.
Arga tak menjawab, hanya diam saja. Tapi raut mukanya sudah tampak lebih tenang.
“Ayo kita sarapan, kau pasti lapar,” Nadira mengajak dengan lembut. Ia menggamit lengan kokoh Arga, membawanya kembali ke balkon untuk menikmati sarapan.
Arga tidak memberontak, ia ikut ke mana Nadira membawanya.
Nadira mendudukkannya di kursinya semula. “Mau makan apa?” tanyanya setelah menyebutkan semua jenis makanan yang terhidang di meja.
“Terserah saja,” jawab Arga acuh.
“Baiklah, kau harus menghabiskan sarapanmu, tuan,” Nadira mengisi piring Arga dengan menu yang tersedia, setelah itu membantunya menemukan sendok dan garpu.
“Selamat menikmati,” gumam Nadira.
“Apa kau juga makan?” tanya Arga.
“Tentu. Ini aku sedang mengisi piringku,”
Arga mendengar dentingan sendok yang berbenturan dengan keramik ketika Nadira mengambil menu makanan. Nadira mulai menyuapkan makanan di mulutnya, ia melirik Arga yang masih diam saja.
“Kenapa tidak makan? Mau aku suapi?” Nadira menawarkan diri.
“Aku bisa sendiri,” Arga menolak, “kau mau cari kesempatan ya?” nada bicara Arga sudah seperti biasanya.
Nadira tersenyum. Kalau boleh jujur, ia lebih menyukai Arga yang dingin, cuek dan berbicara kasar daripada Arga yang tadi, yang meraung meratapi kondisinya.
.
.
.
Arga dan Nadira turun dari mobil begitu sampai di bandara Soekarno-Hatta. Nadira berjalan sambil menggamit lengan Arga mengikuti langkah Irfan yang membawa koper serta tiket penerbangan. Arga begitu tampan dengan kacamata hitamnya, tidak ada yang tahu kalau dia buta. Pasangan pengantin baru itu mencuri perhatian saat muncul di bandara, wajah Arga yang mencolok menjadi alasan perhatian orang-orang tercurah pada mereka.
Alunan musik klasik, mengalun lembut memanjakan kedua telinga Arga lewat earphone yang dikenakannya. Arga menyandarkan kepalanya lalu melepas kacamata hitamnya. Ia menghitung sudah setengah perjalanan pesawat kelas bisnis ini menerbangkan mereka menuju Nusa Tenggara Barat.
Beberapa pramugari tampak mengintip ke arah Arga. Naik di pesawat pun, Arga lagi-lagi mampu menyedot perhatian penumpang dan kru pesawat. Mata coklat Arga mendongak ke atas ketika ia menyandarkan kepalanya. Nadira di sampingnya sedang terlelap sejak kurang lebih lima belas menit yang lalu.
Alisnya tebal. Gumam Arga dalam hatinya.
Nadira tidak bergeming. Pundak Arga terasa nyaman di kepalanya.
Arga melanjutkan perjalanannya menyusuri tiap lekuk wajah Nadira yang terlelap di bahunya. Arga mendengar jelas, suara nafas Nadira yang memburu teratur, pertanda tidurnya nyaman.
Jemari Arga menyentuh pelan kelopak mata Nadira yang menutup.
Bulu matanya cukup lentik.
Hidungnya mancung.
Pipinya tidak cubby.
Jemari Arga sampai di bibir Nadira. Ia merasakan bibir itu sangat lembut dan agak bervolume. Perasaannya mendesir, ingin rasanya ia menjamah bibir itu, **********.
Tanpa Arga ketahui, tak jauh darinya, Irfan sang sekretaris pribadi tak lepas mengawasi gerak-gerik Arga yang begitu ingin tahu bagaimana wajah istrinya.
Arga menggelengkan pelan kepalanya, mengenyahkan pikiran birahinya pada Nadira. Ia menurunkan jemarinya lalu membuang muka ke arah jendela pesawat, bahunya bergerak dan Nadira seketika terbangun.
Gadis itu menatap Arga yang sedang memandang ke arah jendela pesawat.
Apa tadi aku bermimpi dia menyentuh wajahku?
Nadira bersitatap dengan Irfan yang tersenyum samar ke arahnya.
“Kau sudah bangun?” Arga menoleh ke arah Nadira dengan sorot matanya yang kosong saat mendengar gerakan tubuhnya.
“Iya, baru saja,”
“Katakan padaku bagaimana cuaca di luar?”
Nadira mengamati ke arah jendela pesawat, “uhm, agak mendung,” jawabnya.
Seorang pramugari datang membawakan keduanya minuman dan cemilan.
“Selamat siang tuan dan nyonya,” sapa sang pramugari cantik itu dengan ramah.
Nadira bisa melihat sang pramugari yang curi-curi pandang ke arah Arga. Nadira jadinya merasa risih.
“Berapa lama lagi kita akan sampai?” Arga bertanya pada pramugari itu sebelum ia pergi ke penumpang lain.
Pramugari itu melirik sejenak arloji di tangannya, “kurang lebih empat puluh lima menit lagi tuan,” jawabnya yang bersemangat.
Arga tampak gelisah.
“Ada lagi yang ingin tuan tanyakan?” pramugari itu tampak antusias, sepertinya ia senang mendapat kesempatan bisa berbicara dengan penumpang kelas bisnis yang tampan seperti Arga. Ia seolah tidak menganggap kehadiran Nadira.
“Tidak ada. Terima kasih,”
Pramugari itu pergi ke penumpang lain untuk membagikan minuman dan cemilan.
Nadira mengamati gelagat Arga yang gelisah.
Di luar, suara petir tiba-tiba menyambar, langit seketika berubah menjadi hitam pekat, lalu hujan deras pun mengguyur. Arga buru-buru mencari earphone-nya dan memasangnya cepat di kedua telinganya, ia menambah volume musiknya hingga Nadira pun samar-samar bisa mendengarnya.
Nadira mengernyit melihat gelagat aneh Arga. Tangan Arga tampak gemetar, ia mencengkram erat pegangan kursi. Matanya terpejam. Keringat dingin menetes pelan di wajahnya. Nadira melirik pada penumpang lain yang tampak santai saja duduk di tempatnya, malah ada yang sedang tertidur, seolah hujan di luar tidak berpengaruh bagi penerbangan pesawat.
Nadira kebingungan, ia menarik sebelah earphone Arga hingga copot dari telinganya dan berkata, “Arga, kamu baik-baik saja?”
Arga justru menggeram sebal ketika Nadira sengaja melepas sebelah earphone-nya. Telinganya yang sensitif jadi bisa menangkap suara hujan di luar. Arga memasang kembali earphone-nya.
Nadira diam, menunggu Arga dan juga hujan. Beberapa menit sebelum mendarat, hujan pun reda. Arga masih dalam posisinya semula, mendengarkan musik sambil memejamkan kedua matanya. Nadira menduga lelaki itu tertidur, pelan-pelan Nadira menarik keluar sebelah earphone Arga.
Arga membuka matanya, kini tidak tampak kesal seperti tadi.
“Hujan sudah reda,” gumam Nadira.
Arga mematikan musiknya, lalu melepas earphone yang menyumbat telinganya.
“Ini minum dulu,” Nadira membantunya minum segelas air putih. Lalu mengambil selembar tisu dan mengelap pelan keringat dingin yang menempel di wajah Arga.
Arga menarik nafas lega, perasaannya sudah tampak lebih baik, tidak seperti tadi ketika sedang hujan.
“Arga, kamu sakit ya?” tanya Nadira langsung.
“Tidak. Aku baik-baik saja. Aku hanya tidak suka mendengar bunyi hujan,” jawabnya.
“Kenapa?” Nadira penasaran.
Arga menggosok wajahnya pelan. “Hujan deras selalu mengingatkan aku di malam aku ditabrak mobil. Kenangan pahit yang kulihat terakhir kali sebelum duniaku gelap, aspal yang basah, sorot lampu mobil, juga wajah Niken yang menatapku marah.”
Suasana hati Nadira langsung berubah saat mendengar nama sepupunya disebut. Nadira memilih diam. Arga pun demikian, memilih diam sambil berusaha mengenyahkan sisa-sisa traumanya gara-gara bunyi hujan.
Hingga yang terdengar oleh keduanya suara merdu pramugari yang menginfokan bahwa pesawat sebentar lagi akan mendarat di bandara Zainuddin Abdul Majid, Lombok.