
“Kau ini Drakula ya? Bisa alergi bawang putih,” Nadira mengomel sambil mengoleskan tipis-tipis salep alergi yang tadi dibelinya di apotik untuk meredakan rasa gatal dan ruam kemerahan di kedua pipi Arga.
“Auw, kau tidak bisa pelan-pelan ya,” Arga mengeluh sakit saat telunjuk Nadira terlalu menekan pipinya yang gatal kemerahan.
Nadira menghela nafas, “ya sudah, kau oles sendiri sajalah,” Nadira memberikan salep itu langsung ke tangan Arga. Nadira tampak kesal.
“Kau semakin berani kurang ajar pada orang buta ya!” suara Arga yang lantang membuat sopir yang sedang fokus menyetir menoleh sejenak ke belakang, melihat pertengkaran kecil kedua majikannya.
Nadira diam saja sambil melipat kedua tangan di depan dada dan bersandar pelan di jok, mengatur laju nafasnya.
“Kenapa sih suasana hatimu cepat sekali berubah. Kalau kau tidak mau mengoleskannya, aku masih bisa menyuruh Rasty di rumah,” seru Arga dengan bicaranya yang khas.
“Aku tidak habis pikir, kalian berduaan dalam ruangan itu dan pintunya terkunci dari dalam,” Nadira menggeleng pelan, perasaan risihnya belum sepenuhnya hilang.
“Aku sudah bilang, dia menggodaku. Aku bisa berbuat apa kalau dia mengunci pintunya, aku juga sebenarnya kaget dia melakukan itu,” Arga menjelaskan dengan perasaan campur aduk.
“Apa waktu SMA, kau sedekat itu dengannya?” Nadira bertanya penasaran.
“Sama sekali tidak. Aku tidak menyukainya,” Arga mulai menceritakan mengenai surat-surat dan puisi-puisi yang dikirimkan oleh Dela untuknya dulu.
“Apa aku harus percaya, masa kau tidak menyukai perempuan secantik dia?” Nadira kedengaran sewot.
“Apa katamu? Kau bilang dia cantik?” Arga terkejut.
“Iya, dia memang cantik, dia juga langsing,” Nadira membenarkan.
“Memangnya dia secantik apa?” Arga terdengar meremehkan.
“Dia putih, wajahnya glowing, rambutnya hitam lurus, dan dia, dia punya payudara yang besar,” Nadira menjelaskan sambil memperagakan di depan buah dadanya dengan kedua tangannya sebesar apa payudara Dela.
Arga tertawa. “Ha ha ha, kau jangan berbohong hanya karena aku tidak bisa melihat. Dia punya banyak jerawat di wajahnya, rambutnya juga ikal dan seingatku dulu, dia tidak punya payudara yang besar,”
“Astaga kau benar-benar masih mengingatnya dengan baik ya. Tapi semua yang kau katakan itu tidak benar, sekarang dia begitu kelihatan cantik,”
“Sepertinya hinaanku dulu padanya benar-benar menusuk perasaannya, sampai dia melakukan make over pada dirinya agar terlihat cantik,”
“Arga, kenapa sih kau harus bersikap seperti itu padanya, hanya bagimu dia jelek di matamu,” Nadira tampak kecewa saat tahu bagaimana perilaku Arga dulu. Tuan Muda yang sombong dan juga kasar.
“Aku tahu, aku salah. Tapi aku sudah meminta maaf padanya, dia menghinaku karena aku buta, aku juga terima. Aku bisa saja meminta Irfan agar dia dipecat dari pekerjaannya sebagai manajer di restoran itu, tapi tidak perlu, apa yang dia lakukan padaku tadi aku harap bisa memuaskan kebenciannya padaku,”
Nadira melirik ke arah Arga dan tersenyum. Arga mengakui kesalahannya dulu dan begitu berbesar hati atas hinaan yang harus ia dengar dari Dela.
“Dan terima kasih, kau sudah mengkhawatirkan aku,” Arga balas tersenyum dengan sorot mata yang kosong.
.
.
.
“Mommy kan sudah bilang sama kamu, jangan makan sembarangan di luar. Seandainya Irfan ikut denganmu, dia pasti akan memastikan kalau makanan yang kamu makan tidak banyak menggunakan bawang putih,” Rachel mengamati kedua pipi Arga yang kemerahannya sudah mulai berkurang setelah dioleskan salep dari Nadira.
“Tidak apa-apa mom, ada Nadira. Biarkan Irfan menikmati waktu liburnya di hari minggu ini tanpa harus terus-terusan bekerja untukku, ya walaupun aku menggajinya dengan jumlah yang besar,”
“Mom, Nadira itu istriku,”
“Berhentilah terus menyebutnya begitu dan menganggapnya selayaknya istri, kamu harus ingat kontrak pernikahan yang sudah kalian sepakati,”
Arga tak tahu harus berkata apa jika mengingat isi dari kontrak pernikahannya.
“Mom, tapi bagaimana kalau besok lusa, aku ingin kontrak itu dimusnahkan saja,” ucap Arga kemudian.
Rachel sangat terkejut. Hal yang ia takutkan sepertinya akan terjadi, dia berpikir harus segera mengambil langkah untuk mencegah Arga memiliki perasaan yang mendalam untuk Nadira.
“Arga, kamu tidak bisa seenaknya melupakan kontrak itu. Ingatlah, suatu hari nanti Nadira berhak mendapatkan kebebasannya kembali, itu yang sudah mommy janjikan padanya,”
Arga terdiam. Ia tidak bisa memungkiri bahwa hati dan raganya sudah terlanjur nyaman bersama Nadira.
.
.
.
Nadira sudah banyak membuat perubahan bagi Arga. Dulu Arga tak pernah mau makan bersama di meja makan. Atas dorongan dari Nadira, kini ia mau bergabung makan bersama di meja makan bersama Rachel dan juga Rasty, walau kadang Nadira yang duduk di sampingnya akan membantunya dengan senang hati jika Arga menginginkan menambah lauk atau merasa kesusahan menemukan makanannya di piring.
“Rasty, kamu sudah selesai makan kan?” tanya Rachel saat Rasty sedang meneguk air putihnya setelah menghabiskan makan malamnya.
“Hmm, iya mom,” jawabnya setelah meletakkan gelas minumnya kembali ke atas meja.
“Tolong antarkan kakakmu ke kamarnya. Arga, kamu tidak mesti menunggu Nadira selesai, biarkan dia menikmati makan malamnya, dan kamu sebaiknya cepat beristirahat,”
Nadira yang sedang asyik menyuapi makanan ke mulutnya berpandangan sejenak dengan ibu mertuanya yang sorot matanya tampak datar saja.
Rasty pun bangkit dari kursinya dan segera menghampiri Arga, lalu membantunya berdiri, “ayo kak Arga aku antar ke kamar,”
“Nad, aku duluan ya,” ucap Arga saat Rasty sudah siap dengan memegangi tangannya.
“Iya, selamat malam,” Nadira tersenyum pada Arga.
Arga balas tersenyum sambil berkata, “selamat malam juga.”
Rachel mengamati keduanya dengan perasaan campur aduk, begitu pun saat mengamati senyuman Arga yang tampak tulus kepada Nadira, benar-benar mengganggu pikirannya.
Rachel mengawasi kepergian Arga dan Rasty hingga menghilang dari balik tangga menuju ke lantai dua kamar Arga.
Suasana hening dan canggung memenuhi perasaan Nadira. Ia bisa merasakan kalau Rachel malam ini tampak mengeluarkan aura negatif. Dulu-dulu Nadira sudah merasa nyaman pada Rachel karena wanita itu selalu bersikap ramah padanya, entah kenapa malam ini ibu mertuanya itu tampak menakutkan di matanya.
“Temui aku di ruang kerjaku kalau kau sudah selesai makan,” ucap Rachel dengan nada datar, kemudian meneguk setengah isi gelas air minumnya, mengambil serbet lalu mengelap dengan anggun bibirnya.
Tanpa menunggu Nadira meresponnya, Rachel segera bangkit dari kursinya dan berjalan pergi, meninggalkan Nadira sendirian di meja makan.
Nadira terdiam sambil menatap tak berselera sisa makanannya yang masih ada dalam piringnya. Ia menghela nafas dalam-dalam, sepertinya perasaannya memang benar tentang suasana hati Rachel malam ini.